
"Jangan tunjukkin kalo lu grogi Pink, plis pelis peliiiisss! Biasa aja, jalan yang anggun seperti putri, oke, keep calm." Pinkan terus memekik dirinya sendiri. Dengan sesekali mengelus dadanya sembari mengatur napas, berusaha setenang mungkin dan tidak terlihat grogi oleh Raka.
Sampai di meja kerjanya Pinkan duduk lalu menggeser kursinya mendekati meja, sambil diam-diam ekor matanya mengamati gerak tubuh lelaki yang kini melewati mejanya sebab pintu ruangan direktur memang berada di sisi kiri meja Pinkan.
Raka masuk ke ruangan yang hanya tersekat dinding kaca transparan, membuat Pinkan bisa melihat dengan jelas meskipun sudah berada di dalam ruang kerjanya.
"Ya ampun, kenapa kok bisa kebetulan begini? Kenapa meja gue harus di sini? Boro-boro bisa kerja, yang ada mati kutu gue di sini!" Mulut Pinkan berkecumik merutuki nasibnya sendiri.
"Halo, salam kenal." Seseorang yang duduk tepat di sebelah kiri meja kerjanya mengajak berkenalan.
"Eh, ..." Pinkan menoleh dengan ekspresi kagetnya "Salam kenal ya, siapa nama mu?" Ulang wanita itu.
"Salam kenal juga kak, saya Pinkan, kakak sendiri siapa namanya?" Tanya balik Pinkan.
"Kania, saya yang akan menjadi tutor mu, semoga kamu betah di sini bersama ku ya." Ucap wanita itu tersenyum sangat ramah.
"Oh, iya kak, .."
"Panggil Kania saja, terus gak usah saya kamu deh, capek, lu gue aja, biar lebih akrab gitu." Timpal Kania.
"Oh, gitu, ok, Kania, salam kenal, semoga setelah ini kita jadi temen deket."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Pinkan berkenalan, di ruangannya Raka sudah duduk di kursi kebesaran miliknya, matanya menatap ke arah Pinkan, jelas, sebab meja Pinkan dan meja kerjanya hanya di sekat dengan dinding kaca transparan saja, maka saat ini mereka saling berhadap-hadapan.
"Jadi dia benar-benar magang di perusahaan ini?" Raka berucap lirih tapi Arjuna masih bisa mendengar.
"Memangnya dia siapa Bro? Dari tadi gue nanya!" Arjuna menimpalinya dengan ketus lalu duduk di kursi putar di sebelah kanan meja Raka.
"Dia, Marni nya Baby Zee, ..."
"What?! Yang bener Bro?" Arjuna tersentak kaget hingga mengeluarkan suara pekikan yang lumayan keras.
"Ck! Berisik! Kecilin volume suara lu! Dia bisa tahu kalo kita lagi bahas dia di sini!" Pekik Raka kesal.
"Iya, ..." Lalu, Arjuna mendadak mengamati lekat-lekat wajah Pinkan dari kursinya, kecantikan wajah dan kemolekan tubuh gadis itu memikat mata dan hati Arjuna.
PLAK
Buku tebal nan besar mendarat di kepala Arjuna "Lu ngapain ngeliatin dia hamm!" Raka melototi pria yang kini mengelus kepalanya memelas.
"Gue penasaran sama tu cewek, jelas jelas Marni berbeda sama Rani, selama ini bukannya lu gak pernah naksir sama cewek yang modelnya begitu, yang itu sih tipe idealnya gue banget Bro!" Sambung Arjuna.
Tak mau lama-lama berkonfrontasi dengan asisten playboy nya Raka mulai menyibukkan tangan dan matanya dengan berkas yang sudah tertumpuk di mejanya "Lu balik ke ruangan lu gih! Pusing gue dengerin lu ngomong!" Usir nya.
Arjuna mendengus meskipun ujungnya menurut karena biasanya pun begitu, Arjuna hanya di panggil saat Raka butuh saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Detik demi detik berganti menit menuju jam, sudah sekitar lima jam Pinkan dan Raka duduk di meja kerjanya masing-masing, di sela-sela kegiatan mereka, sering sekali mata keduanya tak sengaja saling bertemu tatap, dan canggung setiap kali itu terjadi.
"Hiihii Bhi-bhi, haooo..."
Suara cuitan riuh lucu terdengar menggemaskan dari kereta dorong bayi yang sangat sangat akrab di ingatan Pinkan. Hingga tanpa di buat-buat gadis itu menoleh ke arah nya. Di lihatnya bayi mungil yang tubuhnya sudah semakin berisi dari pipinya, lengannya, bahkan rambutnya pun sudah panjang, yang lebih membuat Pinkan ternganga adalah bayi mungil itu melambaikan tangannya sambil tersenyum manis padanya.
"Haaooo, ..." Tentu saja, Zee sudah bisa bicara karena sekarang usianya sudah sembilan bulan, apa lagi Zee termasuk bayi yang cepat tanggap dan lebih cepat berkembang dari bayi pada umumnya.
Tik...!
Satu bulir bening meluncur menyusuri pipi Pinkan hingga ke bibir "Baby Zee, ..." Kelu bibirnya hingga itu hanya terucap dalam hatinya sahaja, rindu, entah kenapa, Pinkan sangat rindu pada bayi mungil itu.
"Pink, lu kenapa?" Suara itu membuyarkan lamunannya. Kania bertanya sambil memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah Pinkan namun dengan cepat gadis itu menyeka jejak air mata di pipinya.
"Emm gapapa, ..."
"Kamu melamun? Laper?" Tanya Kania memastikan karena ini sudah memasuki jam makan siang, lalu Pinkan mengangguk sambil menunjukkan senyumnya.
"Ya udah setelah ini lu boleh istirahat makan, tapi sebelumnya lu antar ini dulu ke meja pak Raka ya, gue masih banyak laporan yang belum gue garap, masih rancu semua." Sambung Kania.
Dan Pinkan terkesiap mendengar perintah gadis itu "Gue? Masuk ke dalam? Ke ruangan duda, eh maksud gue pak Raka?" Tanyanya dengan ekspresi protes.
"Iya, kenapa? Lu gak mau kerjasama Pink? Gue kan minta tolong, ..." Kania memelas.
"Emm iya, gue yang anter, lu tenang aja, gue bukannya nolak, cuma sedikit takut aja sama atasan, maklum baru pertama kalinya magang." Kilah Pinkan.
"Oh gitu toh alasannya, udah gapapa, hadapi aja, pak Raka baik kok orang nya, gih cepet, terus lu boleh istirahat makan setelah itu."
Pinkan pun masuk seiring dengan terbukanya pintu "Permisi Pak!" Ucapnya menundukkan wajahnya sekilas tapi Raka masih sibuk dengan dokumen yang bejibun di atas meja kerjanya.
Sejenak Pinkan menunggu sampai Raka menanyakan sesuatu padanya, karena begitulah etika saat berhadapan langsung dengan atasan. Sedang di sofa ruang itu Baby Zee sudah asyik bermain dengan babysitter nya, sofa yang dahulu menjadi tempat makan siang Pinkan bersama Raka.
Seperti terhipnotis pada batita cantik itu, Pinkan lantas berjalan menuju sofa menghampiri batita milik direkturnya "Hai Baby Zee, ..." Sapa nya tersenyum dan batita itu menyambutnya girang.
"Haooo." Zee tergelak saat membalas sapaan Pinkan sedang pengasuhnya tersenyum, tak biasanya semudah itu Zee akrab dengan orang.
"Oh, udah bisa ngomong yah sayang, hm, pinter." Senda Pinkan tersenyum sambil menggeleng, mencubit lembut pipi chubby Zee yang terus menerus tergelak seakan senang melihat Pinkan.
Raka yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaan nya, kini mulai beranjak dari duduk lalu berjalan menghampiri sofa dengan ciri khas kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana bahannya, tatapan matanya mengarah ke pengasuh bayi nya, memberi kode pada wanita itu "Kamu ke ruangan Arjuna sekarang Ra." Titahnya singkat pada Nara.
"Hm, ..." Sejenak Nara terdiam sebelum kemudian ia beranjak dari duduk "Baik Tuan." Angguk nya lalu keluar dari ruangan tersebut menuju ruangan Arjuna seperti yang Raka perintahkan padanya.
Pinkan sempat melirik ke arah Nara dan Raka secara bergantian, sekaligus menyimak percakapan keduanya "Ngapain tu orang nyuruh pengasuh Baby Zee pergi?" Pinkan mulai curiga, namun posisi tubuhnya masih sama yaitu duduk berjongkok di bawah sofa menghadap ke arah Baby Zee.
Sreeek!!
Suara hordeng otomatis di ruangan Raka yang tertutup serentak membuat mata Pinkan membulat, Pinkan lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh hordeng yang sudah tertutup rapat tanpa celah, hanya dengan menekan satu tombol saja.
"Kenapa ditutup semua pak?" Pinkan berkerut kening mendongak menatap curiga pada Raka yang berdiri di samping nya.
Kemudian Raka duduk tepat di sebelah Baby Zee, dalam waktu kurang lebih dua menit pria itu menatap Pinkan dalam diam.
"Bapak tidak menanyakan untuk apa saya datang ke sini seperti karyawan yang lain?" Pinkan mulai berani angkat bicara.
"Kenapa tiba-tiba kamu magang di perusahaan ku? Apa, kau merindukan ku?"
Pinkan menatap heran pria itu, kenapa itu pertanyaannya? Kenapa bukan tentang pekerjaan nya? Aneh! Tapi dengan ketus Pinkan menjawab.
"Ini bukan mau ku, ini mau kampus ku, aku, ..."
Belum rampung ucapan Pinkan Raka lebih dulu menimpali "Kamu kan bisa protes, aku rasa si, kamu memang sengaja magang di sini supaya bisa menggoda ku lagi! Lihatlah, rok mu bahkan sempit begitu. Apa lagi coba kalo bukan mau menggoda direkturnya seperti teman sundal mu itu." Tuding nya.
"Aku, ..."
"Sudahlah, pergi saja dari ruangan ku, suruh Kania saja yang datang ke sini, aku tidak suka berurusan dengan karyawan magang." Raka mengibaskan tangannya mengusir dengan smirk sombong nya tanpa mau mendengar jawaban dari gadis itu.
Pinkan mendengus "Apa-apaan ini? Kenapa jadi dia yang marah? Kenapa dia menuduh ku begitu? Gara-gara dia persahabatan gue sama Miska renggang, lalu sekarang dia menuduh ku yang tidak-tidak." Batinnya.
"Bhi-bhi, no Bhi-bhi!" Zee menyambar ayahnya menepuk paha Raka dengan kekuatan bayinya membuat Raka melirik ke arahnya.
Terlihat gadis mungil itu berkecak pinggang sambil melototi ayahnya "Bhi-bhi nooooo!" Pekik nya lagi, melolong kan suaranya, sepertinya Zee tak terima dengan cemoohan Raka pada Pinkan.
"Tidak apa-apa sayang, tidak perlu membuang tenaga mu membela Tante, Daddy mu memang maha benar dengan segala pemikiran nya sendiri!" Pinkan menyindir halus pria itu.
"Ya sudah, Tante keluar dulu ya, sampai ketemu lagi." Cup! Pinkan mengecup bibir Zee hingga meninggalkan bekas lipstik di bibir mungil itu.
Lalu beranjak dari jongkoknya keluar dari ruangan tanpa permisi, sungguh, Pinkan masih sakit hati dengan ucapan Raka barusan, meski menyukainya tak pernah sedikitpun Pinkan berpikir untuk menggoda laki-laki.
Dan Raka hening menatap punggung gadis itu yang perlahan berlalu dari pandangan, kemudian kembali menatap putrinya "Apa ucapan Daddy barusan keterlaluan? Apa menurutmu Daddy terlalu menghinanya hm?" Tanyanya.
"Yas! Bhi-bhi." Jawab gadis itu mengangguk.
Bibir Raka melengkung ke bawah, menyesal, sedang matanya menatap bibir putrinya yang masih nampak jelas sisa lipstik dari bibir Pinkan.
"Sayang, boleh bagi bibirnya? Sudah lama Daddy gak mencicipi nya, jadi lupa rasanya, boleh yah, hm hmm hmm? Boleh kan?" Raka memelas.
Cup!
Zee menautkan bibirnya ke pipi ayahnya, dan sekarang cap lipstik Pinkan berpindah tempat.
"Anak pinter, ..." Raka dan Zee tergelak renyah bersamaan "Baby, gimana kalo Daddy usaha lagi buat jadiin Tante cantik yang tadi Mommy kamu hm? Kamu setuju?" Raka bertanya dengan alis yang naik turun.
"Yas, Bhi-bhi." Zee mengangguk setuju.
"Bagus. Sepakat! Sekarang tos dulu kita!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Jangan kabur.... pantengin terus 😍