
"Kenapa dunia sempit bener sih? Jadi Eric yang Tito ceritain itu, Eric putra bungsu keluarga ini? Kenapa gak kepikiran sama gue sebelumnya sih! Aduh! Semakin mendekati gagal ini usaha gue!"
Pinkan terus berkecamuk dalam hatinya menatap ke arah kedua pemuda itu, cemas, takut, khawatir, sambil terus memikirkan bagaimana cara menghindari Tito sang adik, sebab selama ini yang keluarganya tau, Pinkan tengah merantau ke luar kota, bekerja mencari pengalaman, berabe jika sampai Tito melihat nya di rumah itu, Hardian sudah pasti murka, putrinya bekerja sebagai baby sitter.
"Ayok dong otak encer gue kemana ini? Kerja kerja, gimana caranya Pinkan, Tito udah makin deket tu!"
Racau Pinkan dalam batinnya, dan Raka sempat melihat raut panik gadis itu, tapi tak berani menanyakan nya.
Tito dan Eric sudah dua meter lagi dari tempat duduk mereka dan Pinkan mulai terpikirkan cara jitu yang mampu membuat langkah kedua pemuda tampan itu berputar arah.
Cup!
Pinkan menenggelamkan wajahnya bersembunyi di balik kepala Raka, menyatukan bibir mereka, sedang Raka membelalakkan matanya terkejut, saliva tiba-tiba saja meluncur ke tenggorokan, menggerakkan jakunnya.
"Maaf bang duda, cuma dengan cara ini mereka bisa pergi dari sini. Belum saatnya gue ketauan, belum, gue masih harus berada di sini sampai misi gue berhasil."
"Kali ini gak mimpi kan gue? Kali ini, Marni bener bener nyium gue?"
Mereka hanya berucap dalam hati saja, sebab saat ini bibir keduanya saling mengunci satu sama lain.
Mata Pinkan sempat mengamati raut wajah lelaki tampan itu yang terlihat menikmati ciuman darurat nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang di tempatnya, mata Tito dan Eric juga tak kalah terbelalak melihat kejadian live streaming afternoon kiss kedua mahluk indah tersebut.
"Bang Raka!" Eric baru mau melangkah hendak melabrak abangnya tapi dengan cepat Tito menarik bahunya.
"Ric!" Cegah Tito. Lalu membawa paksa Eric pergi dari tempat itu. Eric meronta tapi tubuh tinggi gagah Tito lumayan membuat Eric kewalahan.
"Lepas To!" Eric menghempas tangan Tito lalu menatap protes pemuda itu.
"Lu ngapain cegah gue To! Gue mau labrak tu bang Raka, berani beraninya nyium Marni di depan gue!" Kesal Eric lalu melengos lagi mau kembali ke tempat Raka.
"ET, tunggu dulu Ric!" Tito menarik kembali kerah bagian belakang Eric, mencegah temannya yang mungkin akan meninju abangnya hingga kini keduanya saling bertatap muka kembali.
"Kayaknya lu salah paham deh, bukan bang Raka yang nyium tu Baby sitter lu, tapi Baby sitter cantik lu yang nyium duluan, gue liat tadi, dia yang begini..." Tito meraih tengkuk Eric mempraktekkan gestur Pinkan barusan hingga kini wajah keduanya hampir tak berjarak.
"Cuih! Sialan lu!" Eric sedikit membuang ludah ke samping saat tak sengaja bibir Tito mengenai bibir nya.
"Sialan lu, kenapa jadi lu yang nap su sama gue!!" Pekik Eric menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Hehe! Sorry sorry, gue cuma praktek doang Ric!" Pemuda itu terkikik geli setelah menyadari ke anehan dirinya.
"Jadi menurut lu, Marni yang lebih dulu nyium bang Raka gitu?" Tanya Eric memastikan.
"Yang gue liat tadi si begitu, siapa namanya Marni? Ya, Marni yang nyerang bang Raka lebih dulu, lagian ngapain si lu saingan sama bang Raka hh? Udah jelas dia direktur, sebentar lagi jabatan CEO dia duduki, ya udah pasti lu kalah lah! Lu ajah masih suka buang ingus di ketek Tante Irma." Cibir Tito.
"Sialan lu! Gue gak gitu lagi sekarang!" Eric melotot tak terima sambil menendang kecil kaki Tito.
"Ok ok! Gue percaya." Sambung Tito merangkul bahu pemuda itu, sedikit mencoba menenangkan Eric yang masih terlihat cemburu.
"Sekarang, mending kita cari cewek lain ajah, tu cewek udah di sikat sama bang Raka, udah biarin aja, lu ngalah aja udah, masih banyak ikan di laut Ric! Mending lu pancing salah satunya lagi, tinggalin yang udah kecantol kail Abang lu." Usul Tito yang sok bijak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedang bersamaan dengan itu Pinkan yang melihat kedua pemuda itu pergi menjauh mulai menarik kembali wajahnya dari Raka mulai melepas tautan bibir mereka.
Baru saja terlepas Raka menarik kembali tengkuk leher Pinkan dan kali ini lelaki itu yang menyatukan bibir mereka, bahkan Raka berani memagut lembut bibir sensual gadis itu dengan mata yang terpejam.
Membuat Pinkan membelalakkan matanya lebih terkejut dari Raka beberapa saat yang lalu.
"Emm!!" Gadis itu memukuli bahu Raka dengan sebelah tangan karena tangan kirinya masih merengkuh tubuh kecil Baby Zee yang kini tertawa bahagia melihat penyatuan bibir mereka.
"Happhhhhh..." Pinkan bernapas lega setelah sekian detik tak bisa menghirup oksigen sedang Raka tersenyum menatapnya.
"Apa Tuan sudah gila? Tuan membuat ku tidak bisa bernapas!" Pekik Pinkan mengerutkan keningnya menatap tajam Raka yang masih tersenyum menatapnya.
"Maaf." Ucap Raka enteng.
"Lagian ngapain Tuan muda mencium ku hah?" Pekik Pinkan lagi dan Raka membuang senyum kilas tanda bingungnya.
"Bukanya kamu yang memulai nya? Kamu yang lebih dulu mencium ku. Lalu kenapa aku tidak boleh?" Tanya baliknya.
"Emm..." Pinkan kalang kabut. Benar yang Raka katakan lalu kenapa? Dasar payah! Hardiknya, merutuki dirinya sendiri. Kemudian mengambil tissue dari boks nya lalu memalingkan wajahnya membelakangi Raka, menyeka bibir basahnya.
"A-aku, maaf, t-tapi Marni cuma lagi praktek saja, tadi malam Marni nonton film yang ada adegan begitu, jadi, sedikit kebawa suasana, sore sore begini, maaf Tuan, jangan marah, jangan pecat saya Tuan." Ucapnya berkilah, tak berani menatap wajah tampan lelaki itu.
Baru saja Raka mau menjawab tapi Pinkan memukuli kepalanya sendiri "Bodoh kamu! Mana itu ciuman pertama lagi! Ahh! Bodoh bodoh bodoh!" Rutuk nya pelan tapi Raka masih bisa mendengar nya dengan jelas.
Membuat lelaki itu tersenyum puas sembari mengusap bibirnya "Jadi aku ciuman pertama mu Marni?" Tanyanya sedikit mengintip wajah Pinkan dari samping.
"Eh?!" Pinkan membulatkan matanya "Ya ampun ngapain gue ngomong! GR kan tu cowok! Aduh!" Batinnya.
Pinkan mendengus.
"Mending sekarang, gue pergi ajah dari sini deh." Batinnya lagi.
Kemudian membalikkan badannya menghadap ke arah Raka kembali sedang Raka lebih fokus menatap Baby Zee masih berceloteh bahagia, mungkin bayi mungil itu menganggap Pinkan Mommy nya yang baru saja bercumbu mesra dengan Daddy nya.
"Emm, maaf Tuan Marni permisi dulu Tuan. Marni belum mandi." Pinkan pamit memberi tundukkan kepala sopan tanpa berani menatap wajah tampan lelaki itu.
"ET." Raka menarik lengannya, mencegah "Biar Baby Zee sama saya saja, kamu mandi saja, gak mungkin kan kamu mandi sambil gendong Baby Zee hm?" Ucapnya.
"Emm, iya T-tuan, t-terimakasih." Pinkan menyerahkan baby Zee ke Daddy nya, lagi-lagi tanpa berani menatap wajah tampan Raka yang terus menerus menatap raut gugup Pinkan yang kian memerah kan pipinya.
Kemudian Pinkan segera berlalu dari tempat itu, tangannya masih gemetar, jantungnya masih berdegup kencang.
"Mentang mentang udah biasa ciuman, tu cowok gak keliatan canggung sama sekali, dasar cowok! Gak bisa di kasih ati mintanya jantung! Baru di kasih dikit mau nambah!"
"Lagian ngapain si Tito ke sini, bikin jantung gue makin gak karuan aja!" Dalam langkahnya Pinkan merutuki semua orang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Terimakasih Like nya ♥️