
📥"Jadi mantan suami lu, udah punya pacar ya Mis? Gue liat tadi."
Pesan dari Pinkan yang Miska baca, saat ini Miska sendiri tengah duduk santai di balkon apartemen sewaan nya.
"Pasti, Pinkan liat si congkak Rani." Gumam Miska.
📤"Iya, tu cewek yang rebut Raka dari gue Pink. Kenapa gak lu kerjain aja sekalian." Tulis Miska sambil menaikkan ujung bibirnya.
📥"Kalo gue godain mantan suami lu gak papa kan Mis? Tenang, gue gak akan rebut dia dari lu kok, gue bakal tinggalin dia setelah dia ninggalin cewek knalpot racing itu! Lalu, setelah itu Raka, bisa lu deketin lagi, gue kasian sama bayi lu, di usianya yang masih dua bulan bokap nyokap nya harus pisah." Lanjut Pinkan.
Miska tersenyum miring membaca itu "Semoga saja akan seperti itu Pink." Gumamnya berharap.
📤"Gue ikut permainan lu aja Pink, gue tau lu bisa di andalkan 😘" Balas Miska.
📥"Eh udah ya, gue harus kasih Baby Zee susu dulu." Jawab Pinkan.
📤"Ok! selamat berjuang Pink🤗😘, gue titip bayi gue ke lu ya."
Mata Miska melirik tajam ke arah depan, alisnya naik sebelah, pikirannya penuh dengan siasat, sudah pasti Pinkan yang mempunyai otak encer, berhasil melakukan misinya, dan senyum setan wanita itu mulai mengembang.
Miska sendiri sebenarnya masih seumuran dengan Pinkan, kuliah di universitas yang sama hanya saja semesternya sedikit lebih tua dari Pinkan, dan satu tahun yang lalu wanita itu magang di kantor milik keluarga Raka, menikahi laki-laki kaya dan tampan sudah menjadi bagian dari mimpinya, hingga suatu kesempatan menuntunnya ke jalan belok yang mengharuskan Raka tidur dengannya.
Flashback
Malam itu Miska diminta lembur, sebab devisi keuangan tangah mengalami rancu yang mengharuskan seluruh karyawan bagian itu lembur.
Miska yang saat itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, memiliki rencana menggoda Raka sang direktur, sebab di kantor sebelumnya saat ia cuti kuliah dan mengikuti kerja paruh waktu Miska berhasil menjalin hubungan dengan direkturnya meskipun hanya sebagai simpanan, jadi wanita itu bertekad akan mencoba menggoda direkturnya lagi.
Tapi kali ini agaknya sulit, karena Raka yang terlalu setia dengan kekasihnya, tak pernah bisa melirik wanita lain. Hingga saat itu tiba, Miska membuatkan kopi yang di bumbui dengan obat perangsang, rencana itu, ia tiru dari adegan novel yang ia baca sebelumnya, di mana Tuan muda yang ia jebak pasti akan menikahi nya.
"Pak, bapak kenapa?" Tanyanya pada Raka yang kini duduk sembari mencengkeram bantal sofa di ruang kerjanya sesaat setelah meminum kopi buatan Miska, pekerja magang memang sudah biasa membuatkan minuman untuk para seniornya, tidak terkecuali direkturnya.
"Saya, gak papa." Jawab Raka mengernyitkan wajah, dengan sesekali memejamkan matanya, ada rasa lain yang tiba-tiba membuncah di sekujur tubuhnya.
"Sssssshhh!" Raka semakin mere mas bantal sofa miliknya, mencoba menyeimbangkan rasa aneh dalam dirinya.
Miska yang melihat itu tersenyum miring saat tahu obat yang ia berikan pada Raka berhasil bereaksi "Saya bantu Bapak boleh kan?" Wanita itu mendekat kemudian duduk di pangkuan lelaki tampan itu.
Raka terkesiap matanya melotot menatap wajah senyum wanita itu tapi rasa di tubuhnya mengkhianati tak menolak wanita itu "Apa yang kau lakukan hh!" Napasnya bergemuruh saat berucap demikian, dada bidangnya berkembang kempis terlihat jakunnya rajin menelan saliva saat merasakan sentuhan tangan Miska di dadanya.
"Aku cantik kan Pak?" Tanya Miska menggigit bibir bawahnya menggoda, tangannya mulai meraba-raba area sensitif milik Raka.
"Hentikan aku bilang!" Pekik Raka dan tiba-tiba saja wajah cantik Rani menari-nari di hadapannya, senyum Miska terlihat seperti senyum Rani kekasihnya.
"Sayang." Panggil Raka membelai rakus tengkuk Miska, dengan gemuruh napas yang memburu, tatapannya sayu, menginginkan sesuatu.
"Gimana, kalo kita, check in hotel?" Bisik Miska dengan siasat bulus nya.
"Kita belum menikah Yank." Raka berucap lirih penuh hasrat menatap lekat wajah Miska yang terlihat seperti Rani kekasihnya. Kita semua tahu salah satu efek obat itu memang berhalusinasi.
"Aku mau di nikahi setelah itu." Jawab Miska sambil menggerakkan pinggulnya di atas pangkuan Raka, berusaha mempercepat reaksi obat itu.
"Janji!" Raka memangkas jarak, hingga kini wajah keduanya saling bertaut, tangannya merengkuh posesif tubuh Miska.
"Emmh, janji." Jawab Miska.
Setelah itu, dengan langkah tertatih keduanya menuju halaman parkir, dan sempat di saksikan oleh beberapa karyawan yang masih belum pulang.
Miska mengambil alih setir sebab tidak mungkin Raka menyetir dalam keadaan seperti itu. Setibanya di hotel mereka langsung menuju ke kamar 101, karena sebelumnya Miska sudah memesan lewat online.
Keduanya bergumul di atas ranjang king size di kamar itu. Raka yang sudah di penuhi halusinasi, mulai tak sabar, kini lelaki itu mengungkung tubuh Miska serakah.
"Apa boleh Yank?" Bisiknya tak sabar, sentuhan lembut mulai menyisir setiap lekuk tubuh wanita itu, matanya berbinar penuh gairah.
"Lakukan lah."
Cup!
Mendengar jawaban Miska, Raka mulai memagut rakus bibir wanita itu, dan langsung mendapat balasan, keduanya berperang memporak porandakan sprei putih di ranjang yang mereka tiduri.
"Mimpi apa aku, bisa bercinta dengan laki-laki setampan pak Raka, ahh, sentuhannya, kamu luar biasa Pak!" Batin Miska di tengah-tengah aktivitas Raka memanjakan tubuh intinya.
...SKIP!!!...
Pagi harinya, dengan memegangi kening yang mengerut Raka membuka matanya, menyisir seluruh sudut tempat yang terasa asing baginya "Dimana aku?" Gumamnya.
Dan alangkah terkejutnya saat mendapati seorang wanita bergelayut di dadanya "Kau!" Raka berjingkrak, sontak wanita itu terbangun dan keduanya saling menatap duduk di balik selimut yang sama.
"K-kau! Kau di sini? Dimana aku? Di mana kekasih ku?" Bentaknya menatap tajam Miska.
Miska mengiba "Hiks hiks!" Menundukkan wajah sambil pura-pura menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.
"Bukanya Bapak yang meminta ku check in di sini, lalu kau merenggut kesucian ku, apa Pak Raka tak mengingat nya?" Tanya Miska berakting.
"Apa? Kau? Aku merenggut kesucian mu? Jangan sembarangan kamu!" Ketus Raka melotot dan seketika itu juga kepalanya terasa berdentum "Aaakk!" Keluhnya memegangi kepalanya.
"Hiks hiks, gimana kalo saya hamil Pak? Kenapa Bapak tak mengingat nya setelah semalaman memaksa ku melayani mu?" Bual Miska dengan siasat licik nya.
Raka memejamkan matanya. Perlahan satu persatu ingatan nya kembali saat dirinya memacu tubuh wanita itu dengan ganasnya.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi!" Raka meraup wajahnya dengan dua tangan, gulana.
Hening setelah itu. Kemudian tak lama dari itu, Raka meraih satu persatu pakaian yang masih tercecer di lantai, ia pakai dan meraih dompet yang masih terselip di saku celananya "Kita lupakan kejadian ini, anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita! Mengerti!" Lelaki itu membayar cash wanita yang ia tiduri semalaman.
"Tapi Pak!"
"Kau tidak ku paksa, kau juga melayani ku dengan senang hati, jadi anggap kau tak rugi!"
"Pak! Jangan pergi! Ku mohon! Bagaimana kalo aku hamil?" Miska yang masih hanya memakai pakaian dalam saja beranjak dari duduknya, mencoba mencegah kepergian lelaki itu, tapi Raka menghempas tubuhnya hingga jatuh ke lantai.
"Kau di pecat!" Raka pergi keluar dari kamar setelah mengucapkan itu dengan tegas.
"Hiks hiks"
...SKIP!!!...
Satu bulan setelah kejadian, Miska mendatangi rumah kediaman Baskara, dan mengiba pada calon kakek dari janin yang ia kandung, pak CEO tampan ayah dari tiga putra tampan.
"Bisa saja itu bukan bayiku, kita hanya pernah melakukannya satu kali!" Raka sempat berujar demikian.
"Kalo begitu, kita lakukan tes DNA setelah anak ini lahir." Sebab Miska yakin hanya melakukan dengan Raka saja.
Tentunya jika sudah begitu, mau tidak mau, Raka harus bertanggung jawab, dan Raka memberikan syarat hitam di atas putih, bahwa jika setelah menikah, ia tidak bisa menyukai Miska, Miska harus rela di cerai kan dan tanpa pikir panjang, Miska setuju, selama delapan bulan ini, sudah berbagai macam cara wanita itu lakukan demi membuat Raka berpaling padanya, tapi tak berhasil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Aneh gak sih ceritanya?? Kasih pendapat donk! temani aku menulis novel ini 🤗.