
Sesampainya di rumah Hardian, Raka turun terlebih dahulu lalu seperti biasa dia membukakan pintu mobil untuk sang pujaan hati setelah itu Pinkan pun turun kemudian wajahnya langsung di sambut bibir nakal yang mulai mendekatinya.
Brugh!
"Aw.!" Raka berkeluh mendapati tas milik Pinkan berbahan jelly mendarat di bibirnya.
"Sakit Yank." Dia mengelus bibir sensualnya, memelas.
"Udah di bilang jangan seenaknya! Bisa tidak si hargai cewek, main nyosor aja!" Rutuk Pinkan judes.
"Hehe," Nyengir Raka "Kan udah di bilang aku kangen rasanya Yank." Dengan suara mesra pria itu berucap.
"Dasar messum, inget ya, aku gak gampangan kaya Rani mantan kamu si nenek lampir itu, jadi jangan biasakan memperlakukan ku seperti kamu memperlakukan nya!" Sambung Pinkan lalu berjalan mendahului Raka memasuki teras rumah minimalis modern milik ayahnya.
Raka mengernyitkan dahi seraya mengikuti langkah gadis itu "Siapa yang memperlakukan mu sama dengan Rani, cuma sama kamu ajah aku begini Yank, cuma sama kamu aku berasa haus ajah gitu pengen ipok ipok kamu terus." Ungkapnya dengan bibir yang manyun manyun menyebalkan.
"Hiighh." Pinkan bergidik ngeri menoleh sekilas ke arah pria itu "Omongannya udah cap kadal buntung banget, 'aku cuma kaya gini sama kamu,' ... Cih. Buaya!" Desis nya.
"Kamu gak percaya lagi hm? Baru tadi kamu minta maaf, katamu maaf sudah menyakiti ku dengan tuduhan mu, ini mulai lagi!." Protes Raka.
"Ya iyalah, mana aku percaya si? Hubungan sepuluh tahun gak cium ciuman, gak ***** grepean? Gak mungkin! Sedangkan sama aku baru di kasih dikit aja kamu mau nambah lagi!" Tampik Pinkan.
"Kok kamu tahu?" Raka berkerut kening memiringkan kepalanya berusaha melihat wajah cantik gadis itu "Dari mana kamu tahu hubungan ku sepuluh tahun sama Rani?" Tanyanya penasaran.
"Emm, ..." Pinkan salah tingkah ketahuan deh kalo selama ini dia cari informasi tentang Raka "Ya tau lah, itu si Kania yang heboh banget cerita dari tadi pagi. Padahal gak penting banget bahas kamu!" Kilahnya.
"Oh, ..." Tak terasa kini langkah mereka sudah memasuki rumah bercat putih abu-abu itu, dan hawa sejuk dari AC mulai menyengat tubuh keduanya.
"Loh. Kamu ngapain ikut masuk?" Pinkan baru menyadari kalau sedari tadi pria tampan itu mengiringi langkahnya "Pulang sana!" Usir nya lalu memberhentikan langkahnya.
"Hah?" Raka terhenyak mendengar usiran Pinkan "Belum juga kamu kasih aku kiss Yank, gimana aku mau pulang? Kiss dulu baru setelah itu aku pulang." Pria itu bernegosiasi.
"Ogah, apaan sih!"
"Pliiiis, hum." Tangan kiri Raka menekan punggung bawah Pinkan mendekat padanya, lalu memiringkan kepala ke kanan, perlahan-lahan bibirnya mendekati wajah gadis itu, sedang Pinkan menolak ke belakang sedikit demi sedikit tapi Raka terus mengejar berusaha menyatukan bibir mereka dan Pinkan memejamkan matanya saat hembusan napas Raka sudah menabrak pipi lembutnya.
"Ekm ekm!!" Dahaman yang terdengar dari arah kanan membuat keduanya menoleh ke arah suara.
"Eh Om." Raka menggaruk tengkuk yang tidak gatal sambil nyengir "Sore Om." Angguk nya tak nyaman.
"Pah!" Pinkan juga menggaruk tengkuknya.
"Yah elah, belum juga dapet, udah ada calon mertua ajah."
"Ini anak bener-bener keturunan Baskara, suka banget nyosor anak orang."
"Kalian pulang bareng?" Setelah sahut sahutan dalam batin Hardian bertanya, dia menatap Raka dan putrinya bergantian.
"Iya Pah, dia yang maksa!" Pinkan menjawab ketus lalu menatap Raka jutek "Udah sana pulang!" Usir nya.
"Loh, kok di usir Pink, ..." Suara Martha terdengar beriringan dengan suara dentuman sendal nya "Ini udah mau Maghrib loh, Raka biar sekalian mandi di sini ajah, terus shalat bareng di sini, abis itu sekalian makan malam, Mamah baru ajah bikin siomay loh. Yuk nak Raka cicipi." Ajak nya menawarkan dengan senyum ramahnya.
"Eh, iya Tante, dengan senang hati." Ucap Raka tersenyum nyengir.
Pinkan mengernyit seakan protes tapi tak menjawab sepatah katapun lagi, gadis itu lalu melanjutkan langkah menuju kamar miliknya.
Sedang Hardian mulai merangkul bahu calon menantunya "Sekarang ikut Om, kamu mandi, ganti baju, terus shalat, sebentar lagi sudah mau adzan." Ucapnya.
"Iya Om."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selang beberapa saat, Martha memasuki kamar putrinya yang baru saja selesai dari kamar mandi "Pink, ..." Panggil nya.
"Iya, Mah."
"Ini, baju sama handuk baru buat calon suami mu, antar gih ke kamar tamu sanah." Ucap Martha.
Pinkan mengernyit "Ih calon suami? Apaan sih Mamah, dia bukan calon suami Pinkan." Tampik gadis itu dengan bibir cemberut.
"Loh memangnya kamu belum mau menerima nya Pink?" Tanya Martha.
"Belum lah."
"Terus kenapa kalian pulang bareng? Sampe mobil kamu di antar sama asisten pribadi Raka segala?"
"Dia yang maksa!"
"Ya udah sekarang Mamah yang maksa, kamu antar ini ke dia, kasian Raka, pasti udah lengket seharian di kantor, gih cepet sayang, Mamah mau nyiapin sesuatu di dapur." Martha menyodorkan helaian kain yang ia bawa.
Meskipun mendengus Pinkan tetap mengambil alih handuk dan baju ganti untuk Raka lalu membawanya ke kamar tamu, di pertengahan jalan Tito si adik rese nya terus meledek dengan berdehem kecil sembari berkata ciyeeee membuat Pinkan semakin geram.
Tiba di kamar tamu ternyata Raka tengah asyik berselancar dengan gawai persegi miliknya dan suara pintu yang terbuka membuat pria itu menoleh padanya.
"Sayang, ..." Panggil Raka tersenyum dan entah kenapa Pinkan tak pernah protes dengan sebutan itu, justru terdengar nyaman di sanubarinya.
"Nih, handuk sama baju ganti kamu!" Pinkan menyodorkan helaian kain yang ia bawa pada Raka.
"Oh, terimakasih sha_yank." Raka meraihnya sekaligus meraih tubuh si pemberi.
"Jangan macam-macam kamu!" Pekik Pinkan melotot membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya.
"Hehe, ... Dikit aja Yank, yang tadi kan gagal." Rengek nya sambil manyun manyun tak jelas.
"Kita ini bukan muhrim Raka! Kamu paham enggak sih?"
"Ya udah kita nikah malam ini juga, biar halal."
"Nikah aja sendiri!" Dengan ujung bibir yang naik sebelah Pinkan meninggalkan tempat itu dengan hentakan kaki judesnya.
Setelah mandi, shalat, dan menikmati jamuan dari calon mertuanya di meja makan panjang keluarga Hardian, Raka pamit undur diri pergi ke toilet tapi setelah itu tak sengaja Raka melihat pintu bertuliskan Pinkan, tak mau menyia-nyiakan kesempatan, ia pun masuk ke dalam kamar tersebut, apa lagi dari semenjak dia selesai mandi Raka belum melihat wajah Pinkan lagi padahal setelah ini ia sudah harus pamit pulang.
Tiba di kamar bibirnya tersenyum menatap seorang gadis yang sudah menenggelamkan tubuhnya di balik selimut tebal berwarna pink, Pinkan memang punya kebiasaan tidur sore saat kedatangan tamu bulanan.
"Sayang, ..." Panggil nya seraya mendekat namun sepertinya gadis itu sudah lelap dalam tidurnya apa lagi hari ini hari pertama dia bekerja, mungkin dia lelah.
Tepat di sisi ranjang, Raka tersenyum lebih manis lagi kala menatap lekat bibir Pinkan yang sedikit terbuka dengan sensualnya, sontak keserakahan mulai merasuki pikiran, ia lantas membungkukkan tubuhnya yang perlahan mengikis jarak di antara wajah mereka. Kedua tangannya sudah bertumpu pada bantal yang menyangga kepala Pinkan.
Kepalanya ia miringkan berusaha sekali lagi menyatukan kedua benda kenyal itu. Sudah tinggal satu jengkal lagi saja keduanya bersatu namun tiba-tiba Pinkan membuka matanya terbelalak.
"Aaaaaa.!!"
Bugh!
Teriakan Pinkan bersamaan dengan keluhan Raka sambil memegangi pusaka milik nya yang tak sengaja Pinkan tendang.
"Aaakk ahh aw!" Raka meringis berguling guling di tepian kasur.
"Kamu! Mau ngapain kamu hah!" Pekik Pinkan.
"Sayang, .. kau membunuh nya, ah, sakit, kamu barusan membunuh nya Yank." Raka terbata bata sambil meringis menahan rasa nikmat yang begitu dahsyat nya, menghantam sang junior.
"Hah?" Pinkan berkerut kening mulai panik menatap wajah Raka yang tampak sangat kesakitan "Kamu kenapa? Kamu gapapa kan hh?" Tanyanya lalu berusaha menyentuh Raka yang terus berguling tak jelas.
"Burungku Yank, kayaknya burungku udah gamau bangun lagi Yank, sakit." Keluh Raka.
"Hah? Gak bangun lagi? Apanya? Yang jelas!" Pinkan gusar namun sedikit banyak sudah mulai tahu apa yang di maksud pria itu.
"Anu ku Yank, kamu barusan menendang nya, sekarang sudah tidak mau bangun lagi hiks hiks!" Raka berlebihan.
"Masa sih? Coba aku liat, ..." Pinkan memaksa meraih resleting celana bahan pria itu. Tapi tangan Raka menepis.
PLAK!
"Kamu yang bilang kita bukan muhrim, jadi gimana bisa kamu memeriksa nya? Selain istri tidak boleh Yank!" Tolak Raka mengernyitkan dahinya.
"Nah itu kamu tau kita bukan muhrim, terus kenapa kamu mau cium aku? Di kamar tidur lagi! Sudah jelas kamu yang salah kan!"
"Aku cuma mau cium kening kamu sebelum pulang, kamu malah matiin burung ku! Hiks hiks, sakit nya." Kilah Raka masih dengan ringisan wajahnya sedang tangannya terus memegangi pusaka sakti sang junior.
"I-iya maaf, aku gak sengaja, lagian kamu sih bikin aku kaget! Makanya sekarang coba aku mau liat dulu, dikit aja, aku mau pastikan burung kamu gak kenapa kenapa! Pliiiis, jangan buat aku merasa bersalah." Bujuk Pinkan.
"Nikah dulu, baru boleh liat. Aku takut kamu dosa nanti!"
"Ih apaan sih!" Pinkan memukul pelan paha Raka "Aku mau liat bukan mau berbuat messum, cuma memastikan doang Raka!" Ucapnya.
"Gak boleh! Kita nikah dulu baru setelah itu boleh kamu liat! Lagian kalo burungku mati pasti gak akan ada yang mau menikahi ku, jadi kamu harus mau aku nikahi, kan kamu yang matiin burung ku! Tanggung jawab dong!"
Mendengar itu Pinkan menautkan alisnya mulai sangsi dengan ucapan laki-laki itu "Kok aku curiga sih, kamu lagi modus ya hah?" Tuding nya.
"Ah aw akk, sakit, aku serius, kamu malah tuduh aku macem-macem." Tampik Raka yang tiba-tiba menambah keluhannya.
Dan suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan, terlihat Tito berkerut kening menatap Raka dan Pinkan bergantian "Bang Raka, lu di sini? Lu kenapa?" Tanyanya mencecar.
Raka mendongak menatap calon adik ipar playboy nya "Eh, kebetulan To, lu bisa nyetir kan hmm?" Tanyanya.
"Bisa-bisa." Angguk Tito siaga.
"Lu antar Bang Raka pulang ya, kayaknya bang Raka gak bisa nyetir, barusan burung bang Raka di lumpuhkan sama ononoh." Raka mencuatkan wajahnya ke arah Pinkan yang masih terlihat cemas.
"Hah?! Yang bener aja lu kak! Lu main-main sama burung orang! Itu pasti nyeri banget tu!" Bela Tito yang membuat Pinkan semakin merasa bersalah.
"Gue gak sengaja, lagian dia yang mulai, dia yang ngagetin Kaka!" Sela Pinkan membela diri.
"Udah, gapapa, udah terjadi juga, sekarang lu tolongin bang Raka ya, .." Raka meminta bantuan pada calon adik iparnya, lalu dengan langkah tertatih Tito memapah tubuh tinggi Raka keluar dari kamar, berlanjut ke teras, lalu ke mobil milik Raka tak berpamitan dengan calon mertuanya.
"Raka, maafin aku, beneran aku mau liat bentar aja, aku mau pastikan burung kamu gak kenapa kenapa." Rengek Pinkan yang mengekor di belakang pria itu.
"Udah kamu masuk gih, baju tidur kamu tipis begitu, nanti ada tamu Om Iyan. Masuk gih!" Usir Raka posesif.
"Tapi, ..."
Brugh!
Raka menutup pintu mobilnya lalu Tito mengambil alih kursi kemudi, setelah sama-sama duduk di dalam mobil, Tito menoleh penasaran ke arah Raka "Lu serius bang, burung lu mati beneran hh?" Tanyanya memastikan.
"Ya enggak lah! Yakali burung sejenis elang harpy mati cuma karena tendangan cewek cantik! Yang ada malah kekar dia!"
"Ha ha ha! Sialan lu bang! Gue kira beneran!" Tito terbahak.
"Udah sekarang jalan! Biar kakak lu merasa bersalah, gak bisa tidur sampe subuh!" Raka dan Tito tergelak renyah bersamaan.
"Ok let's go!" Tito melajukan mobil hitam itu berlalu dari rumah minimalis modern milik ayahnya membelah jalanan ibukota yang sudah bertabur kelap kelip lampu perkotaan di iringi musik remix by DJ Dinar candy.
"Uuuuhhuuuw. Akhirnya, gue dapet abang ipar yang satu server sama gue. Cakeeeeep!" Tito berujar puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Oya jangan protes sama karakter Raka yang ku buat lebay, konyol, tapi berwibawa, ya, itu memang karakternya begitu, kembali lagi sesuai judulnya, duda Bucin.
Sekali lagi ini bukan novel Tuan muda berkuasa terus dingin dan arogan bukan ya kakak. Harap maklum.
Dan ini novel yang aku buat seringan mungkin, aku pusing saking udah kebanyakan novel berat di NT yang bisa kalian nikmati, jadi yang merasa kurang dapat greget nya, gpp, aku gak maksa😁
Aku gak pelit loh, gak itung-itungan sama kata perbab nya, jadi jangan pelit Like nya 😍 see you next episode.