
Paris, musim panas tahun ke-empat setelah aku tinggal di Jerman
Aku mengunjungi Paris di sela libur kuliahku. Apalagi kalau bukan untuk belajar lebih banyak lagi tentang dunia fashion. Festival internasional baru saja selesai diadakan, aku sengaja meluangkan waktu untuk berkunjung dan turut andil dalam berbagai event yang diadakan. Lumayan untuk menambah pengalaman dan portofolioku nantinya.
Aku mengenggam erat kameraku dan berjalan menelusuri Boulevard Raspail, tak jauh dari tempatku menginap. Aku memutuskan untuk tinggal di dekat pusat kota karena aku lebih suka berjalan kaki untuk menikmati kota. Selain itu, aku juga suka mengambil gambar dengan kamera mirrorlessku. Entah kenapa kegiatan ini membuatku lebih tenang dan damai, membuatku merasakan rasanya hidup.
Aku membidikan kameraku ke berbagai objek yang tertangkap mataku. Entah itu pemandangan, hewan, orang atau apapun yang menarik perhatianku. Sore ini setelah lelah berjalan, aku berniat mencari makan malam di sana sekaligus menikmati suasana kota.
Klap!
Suara shutter kameraku berbunyi. Aku tersenyum sambil mengamati hasil jepretanku. Aku melihat dengan teliti barisan orang-orang yang menyebrangi jalan. Ada satu hal yang menarik perhatianku. Aku kembali mengangkat lensa kameraku yang sudah aku ganti dengan lensa 55-210 mm dan mencari sosok itu. Ujung kameraku mengikuti gerakan laki-laki itu. Ia kini duduk di salah satu kursi kafe dan klap! Aku kembali mengambil gambarnya.
Melihat warga Korea di negeri asing membuatku hatiku senang, rasa femiliar yang aku rindukan. Aku mengamati foto laki-laki itu. Ia laki-laki namun matanya bulat dan lebar di balik frame tipis kaca matanya. Sangat kontras sekali dengan ciri khas mata orang korea. Garis wajahnya tegas, sangat tidak cocok dengan sorot matanya yang lembut.
Aku kembali mengangkat kameraku dan Klap!
Aku menurunkan tanganku dan otomatis berbalik. Laki-laki yang tanpa sadar sedang aku nikmati itu seolah melihat ke arahku. Hatiku berdegup cukup kecang saat mata lensa kameraku tak sengaja bertemu dengan pandangan matanya. Aku mengecek kameraku untuk memastikan apakah aku hanya berlebihan menanggapinya.
Dan dugaanku tidak keliru, laki-laki itu benar-benar melihat ke arahku saat aku mengambil gambarnya. Perlahan aku berbalik untuk memastikannya, setidaknya aku harus meminta maaf kalau ia tidak berkenan.
Tidak ada, laki-laki itu menghilang.
Aku menoleh ke kanan ke kiri dan berjalan ke arah tempatnya duduk beberapa menit yang lalu. Tidak ada, aku menghela nafas antara lega dan juga kecewa.
Kecewa?
Aku mengernyitkan dahiku terkejut. Kenapa aku harus kecewa? Aku kan tidak mengenalnya?
Aku memutuskan untuk duduk dan memesan segelas coffelatte. Sambil menunggu pesananku, aku kembali melihat fotonya tadi. Hmm, matanya indah, sangat berkesan sekali, seperti mata bocah itu. Aku menggeleng, bisa-bisanya aku mengingat bocah tengil itu. Aku berkata aku tak akan mengingatnya, namun mata itu adalah mata yang tak bisa dilupakan dengan mudah. Seolah aku sudah terlanjur jatuh ke kedalaman matanya.
“Not bad...” kata seseorang dengan bahasa Inggris dari belakang kepalaku. Sontak aku berdiri dan berbalik. Aku mendapati lelaki yang aku amati itu berdiri kurang dari satu meter di belakangku. Aku menahan nafas saat mata kami berdua bertemu. Benar-benar indah. Aku buru-buru meyadarkan diriku sendiri dari pikiran-pikiran gila itu.
Ia menelengkan kepalanya sambil menatapku dengan manik matanya itu. Tanpa aku sadari aku mundur selangkah karena aku harus mendongak menatap wajahnya dengan jarak yang telalu dekat seperti ini.
“Sorry...” kataku akhirnya. Aku masih memberanikan diri untuk menatapnya karena aku adalah orang yang harus meminta maaf di sini.
Laki-laki itu tak bergeming dan terus menatapku. Aku menggigit bibir bawahku, merasa tidak nyaman dengan posisi ini, “ehmm, I said I’m sorry, I just...”
“I think I know who you’re...” ucapnya memotong kalimatku. Sudut bibirnya terangkat saat ia tersenyum.
De javu!
Aku seolah pernah melihat senyum seperti itu dengan mata itu. Tapi tidak mungkin kan? Ini di Prancis bukan Korea. Tanpa aku sadari aku menoleh ke kanan kiri untuk memastikannya kembali.
Tanpa aku duga, laki-laki itu menarik kerah leherku dan mejajarkan pandangan kami. Aku menelan ludahku sendiri saking kagetnya. Orang-orang mulai memandangi kami berdua. Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak panik.
“Aku anggap kita impas...” katanya dengan bahasa Korea dan tersenyum lagi.
“Tidak mungkin kan?” aku melotot kaget. Ia melepaskkan tanganku dari lehernya. Dulu, aku yang memperlakukannya seperti ini.
“Apa yang tidak mungkin?” tanpa memperdulikanku ia duduk di kursi yang ada di hadapanku.
“Kenapa kau di sini?”
“Ah, katanya kau tak sudi mengingatku...” ia memperhatikanku dengan senyumnya yang jahil. Bagaimana aku bisa melupakannya?
“Ya! Jangan mengalihkan pembicaraan...” teriakku kesal menyadari ingatanku yang terlalu tajam untuk mengingat hal-hal yang tidak penting seperti ini.
Aku ikut duduk dan menyesap kopiku, berharap kafein ini bisa menenangkan pikiranku. Bisa-bisanya aku mengenalinya dalam sekali lihat! Ya, ia sama sekali tidak keliru. Saat aku melihat fotonya tadi, yang aku ingat untuk pertama kalinya juga sosok bocah menyebalkan itu.
“Aku hanya senang karena kau masih ingat padaku...” laki-laki itu jelas-jelas masih kurang ajar. Ia selalu menggunakan banmal saat berbicara padaku.
“Tidak bisakah kau lebih sopan padaku? Setidaknya aku kan lebih tua darimu?” protesku.
“Pada akhirnya kita juga akan menggunakan banmal bersama-sama, apa salahnya memulianya dari awal?” ia kembali tersenyum. Siapa juga yang ingin berakrab ria denganmu?
“Dari mana kau dapat kepercayaan diri setinggi itu?” aku akhirnya ikut menggunakan banmal. Lelah berdebat dengannya.
“Dari lahir...” ia menyesap kopinya, “senang bertemu lagi denganmu, Zoey...” tanpa aku sadari aku tersenyum saat ia masih mengingat namaku.
“Setidaknya dibandingkan dengan pertama kali aku bertemu denganmu, pertemuan ini jauh lebih baik...” aku menyetujui kalimatnya.
“Jalan-jalan?”
“Tuan putri punya banyak waktu luang untuk berjalan-jalan rupanya? Hingga Paris?”
“Tidak, aku hanya tiga hari di sini, setelahnya aku kembali ke Jerman. Aku masih kuliah di sana...” tanpa sadar aku membeberkan informasi padanya. Kenapa denganku hari ini? Aku seolah tidak menjadi diriku sendiri. Apa suasana romantis Paris membuatku lebih terbuka?
“Kau belum selesai kuliah?” tanyanya kaget.
“Kenapa kau melihatku seperti itu? Suka-suka aku lah, aku mau lulus kapan! Lalu apa yang dilakukan bocah sepertimu di sini?” ah dia dengan mudahnya menganggu kestabilan emosiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat menyebalkan. Komposisi yang aku bangun seolah tak berguna untuk menghadapinya.
“Apa aku masih terlihat seperti bocah di matamu?” matanya memandangku lurus saat menanyakannya. Ia acak sekali mencomot topik pembicaraan yang membuatku tak bisa membaca jalan pikirannya.
“Ya, kau pikir aku akan langsung menganggapmu lelaki walau kini kau lebih tinggi dariku?” aku mencoba membuat garis yang tegas di antara kami berdua.
“Baguslah kalau begitu!” aku terkejut dengan responnya, “tampung aku dua hari ke depan!” katanya dengan semangat.
Aku tertegun mendengarnya. Ia tidak hanya kurang ajar tapi dia juga gila, “apa kau gila?”
“Katanya kau tidak melihatku sebagai seorang laki-laki, kalau begitu aku akan aman bersamamu karena kau tidak akan menyerangku...” katanya dengan matanya yang membulat. Seolah-olah dia laki-laki polos dan aku adalah wanita yang siap menodai kepolosannya itu.
Aku tak bisa berkata-kata.
Aku memukul bahunya keras, ia meringis sambil mengusap bahunya.
“Ayolah, please...” katanya lagi, “anggap ini balas budi karena dulu aku pernah memberitahumu informasi penting. Kau tak jadi menikah kan? Kau harus berterima kasih padaku...”
“Kenapa harus?” tanyaku sambil melotot. Lama-lama naik darah juga aku.
“Hanya kau orang Korea yang aku kenal sekarang, ayolah...” ia kembali memohon.
“Why!” aku meminta penjelasan.
“Dompetku hilang, dan aku harus menunggu pasportku kembali. Aku membutuhkan tempat tinggal...” aku mencoba mencari kejujuran di matanya.
“Kau kan bisa mencari kamar sendiri...”
“Katamu aku kan masih anak-anak. Aku takut sendiri...”
“Kalau takut kenapa pergi sendiri?”
“Aku kan tak akan menyangka kalau dompetku akan hilang...”
“Apa kau tidak memiliki...”
“Tidak...”
“Kenapa harus aku...”
“Karena aku tidak mengenal orang Korea lain selain dirimu. Ayolah Zoey...”
Aku tidak bisa berdebat lama-lama dengannya. Ia tidak penah kehabisan kata-kata dan aku sendiri mulai lelah menanggapinya. Aku menatapnya sekali lagi dan menghela nafas pasrah.
“Siapa namamu?”
“Oh kau belum tahu ya?” ia mengusapkan tangannya di jaketnya dan mengulurkan tangan itu ke arahku. Aku menyambutnya dengan setengah hati.
“Lee Hoon...” ia menjabatnya dengan erat. Aku hendak melepaskan tangannya saat ia kembali mengeratkan tangannya, “kali ini ingat aku baik-baik, Zoey...”
Aku menatapnya.
Bagaimana mungkin aku akan melupakannya?
***
Ya! : artinya sama seperti Hey. Namun ada penekanan saat mengucapkannya karena ada rasa amarah saat mengatakannya
Banmal: singkatan dari bahasa setengah. Di Korea kata ini merujuk pada pengunaan bahasa yang setengah formal atau informal. Biasanya digunakan oleh teman seumuran atau oleh orang-orang yang sudah akrab. Penggunaan banmal pada orang yang tidak di kenal, tidak dekat, lebih tua, atau senior di korea dianggap tidak sopan.