Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 12; How Desperate I am



Aku jeri menatap bayanganku di kaca lebar yang ada di hadapanku.


Rambutku yang semalam ditata rapi kini terlihat berantakan dan kacau seperti singa. Saat aku hendak menyentuhnya dengan tanganku, aku merasakan nyeri di kedua bahu dan lenganku. Aku terus merintih sambil melepas beberapa ikatan dan jepit rambut yang digunakan untuk menatanya. Begitu rambutku terurai, rasa sakit di pangkal rambutku saat aku mencoba menyisirnya dengan jari begitu menyiksaku. Tubuhku bergetar mengingat kejadian tadi malam.  Kepalaku kembali berdenyut membayangkannya.


“Bernafas Zoey, semua sudah berlalu...” aku menguatkan diriku sendiri. Aku mencengkeram erat pinggiran wastafel untuk menyangga tubuhku. Aku tak bisa membayangkan seperti apa tubuhku saat aku membuka mantel yang diberikan Hoon tadi malam.


Aku kembali menghirup nafas dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan udara segar. Menghalau semua pikiran buruk itu.


Tanganku gemetar saat membuka mantel hitam itu. Aku melihat gaun hitamku yang semalam terlihat elegan kini kusut penuh dengan kenangan buruk. Aku buru-buru melepasnya dan melemparkan gaun itu ke tempat sampah. Tiba-tiba saja aku merasa marah dengan apa yang terjadi padaku.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku harus mengalami kejadian ini?


Lihatlah, tubuhku yang kurus itu kini penuh dengan lebam di banyak tempat. Wajahku, lenganku, pergelangan tanganku, bahuku, betisku, dan perutku. Dan yang paling menyakitkan dari semua itu adalah berkas ciuman laki-laki brengs*k itu di leher dan dadaku.


Bulu kuduku meremang, sensasi menjijikkan itu kembali mengaliri setiap sel dalam tubuhku. Aku berlari masuk ke dalam bathup dan menyalakan shower yang membanjiri tubuhku dengan air panas. Air mataku kembali mengalir saat aku mengusap seluruh badanku dengan sekuat tenaga. Berharap rasa sakit yang aku rasakan mampu mengusir semua kenangan itu.


Aku menangis untuk kesekian kalinya.


Ah, aku pikir aku sudah tidak apa-apa. Aku pikir aku akan baik-baik saja.


Semakin lama aku semakin tergugu, tangisku semakin menjadi. Aku lelah sekali. Aku sudah membenci kehidupanku, kini aku mulai membenci diriku sendiri.


***


Tuk...tuk...tuk...


Dok...dok...dok...


Suara ketukan pintu yang awalnya lirih itu berubah semakin lama semakin kencang. Aku mengacuhkannya. Tidak berkeinginan untuk membukanya.


“Zoey!” teriak seseorang dari luar sana.


“Zoey!” begitu panggilan kedua tidak terjawab, orang itu langsung membuka pintu kamar mandi tanpa peduli.


“Ya Tuhan apa yang kau lakukan!” teriakan itu membuatku sadar. Aku mendongak dan kini melihat Hoon yang berlari ke arahku. Tangannya bahkan sempat menyambar handuk di atas wastafel. Dengan cekatan ia mematikan shower dan merentangkan handuknya hingga sempurna menutupi tubuhku yang meringkuk di bawah guyuran air.


Aku tersenyum menatapnya.


“Apa yang kau lakukan!” ia menghandrikku marah. Wajahnya memerah, ia terlihat kalut sambil mengedarkan pandangannya di dalam kamar mandi. Lantai kamar mandi itu penuh dengan potongan rambutku yang tadi aku potong asal dengan gunting yang aku temukan di rak wastafel.


“Ma...af...” kataku lirih, suaraku tidak mau keluar. Hoon memandangku dengan putus asa. Ia tak mengatakan apapun.


“Apa kau berencana mati di sini!” ia kembali berteriak.


“Ti...ti..dak”, aku tidak mampu menjawab pertanyaannya dengan benar, tiba-tiba saja aku merasakan kedinginan. Tubuhku menggigil.


“Apa kau tidak tahu bahwa kau bisa mati kedinginan!” Ia masih berteriak, membuatku hatiku ciut melihat wajahnya yang begitu marah.  Aku menggeleng sebisaku.


Hoon menatapku kesal. Tanpa mengatakan apapun ia memegang bahuku dan menarikku berdiri. Aku terhuyung dan menubruk tubuhnya.


“Maaf...” kataku lagi. Hoon hanya diam dan mengangkatku ke samping. Ia mendudukanku di atas toilet kemudian meraih handuk lain untuk mengeringkan rambut dan tubuhku. Hoon juga meraih gunting yang lebih besar dan merapikan rambutku. Ia diam membisu. Tidak mengatakan apapun saat melakukan semuanya itu.


“Pakai bajumu...” katanya sambil meletakkan baju di atas pangkuanku dan keluar dari kamar mandi.


Aku menatap punggungnya dengan penuh penyesalan. Tidak seharusnya aku seperti ini bukan? Tapi aku bisa apa dengan diriku yang seperti ini?


Beberapa jam yang lalu, tiba-tiba saja aku merasa diriku sangat kotor dan aku gelap mata mencari sesuatu di dalam rak wastafel. Pikiran buruk itu juga sempat terlintas di benakku, tapi aku tak memiliki keberanian untuk mengakhiri hidupku sendiri. Aku melampiaskannya dengan memotong rambutku, rambutku yang awalnya sepinggang itu kini tinggal sebahu. Dengan potongan yang sangat jelek tentunya.


Aku keluar setelah memakai baju yang di berikan Hoon, aku melihatnya duduk di atas kasur dengan penuh amarah. Aku mengalihkan pandanganku, “ada sapu?”


“Duduk!” perintahnya.


“Aku akan membersihkan kamar mandi...”


“Aku bilang DUDUK!” ia menunjuk kursi di hadapanya. Aku berjalan pelan ke arahnya sambil menarik baju yang aku kenakan ke depan. Aku merasa tidak nyaman karena aku tidak memakai baju dalaman. Tentu saja Hoon tidak memilikinya kan? Kalau ia sampai punya justru aku yang akan terkejut.


“Apa kau tidak tahu kau bisa mati kedinginan di bawah air panas itu? Atau kau pingsan karena panasnya?” tanyanya sambil menatapku lurus. Aku menggeleng.


“Apa begitu caramu membalas budi orang yang menolongmu? Berniat menjadikannya tersangka pembunuhan?” aku kembali menggeleng, “aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu, Zoey!”


“Aku...”


“Diam!” ia kembali memotong kalimatku, “aku tak membutuhkan penjelasanmu, kau jelas-jelas melakukannya karena kejadian buruk ini...” intonasi suara Hoon sudah mulai menurun. Ia kemudian mengelurakan kotak P3K dan mulai mengoleskan obat di wajahku, “tapi kau tidak seharusnya melakukan semua itu Zoey...”


“Tegakkan badanmu, apa yang kau takutkan? Toh aku sudah melihat semuanya!” tanpa sadar aku mengkerucutkan bibirku mendengar kata-katanya.


Aku bisa melihat Hoon tersenyum, “fokus pemulihan dirimu dulu, aku akan menampungmu sementara, nanti Ibuku akan ke sini mengurus semua yang kau perlukan. Termasuk ‘desain interior’mu, Ibuku akan membawakannya nanti...”


“Kenapa harus Ibumu?” tanyaku panik.


“Apa kau ingin Ayahku yang mengurusmu? Atau kau berharap aku yang akan membelikannya?” Hoon melotot saat mengatakannya.


“Bukan begitu maksudku...”


“Lalu apa? Aku tidak akan tahu kalau kau tidak mengatakannya.”


“Aku tidak ingin melibatkanmu lebih jauh dari ini...” kataku lirih.


“Kalau begitu pulanglah...” Hoon menatapku tajam, “apa kau yakin akan pulang saat ini?” Hoon tiba-tiba berdiri dan menarik lenganku ke arah jendela. Ia menyibak tirainya, “kau tahu kau ada di mana?”


Aku tahu, pemandangan ini tidak asing bagiku. Aku menoleh ke arah Hoon, “hotel?”


“Ya, kau masih ada di hotel yang sama dengan tempat pestamu dan juga tempat kejadian itu...” Hoon menatapku tajam, “kamar itu di sewa atas nama Dany Park, kau pasti mengenalnya kan?”


Aku tertegun, aku sudah menduga keluargaku ada sangkut pautnya dengan kejadian ini. Tapi aku tidak menyangka bahwa mereka akan setega ini padaku.


“Aku tahu ini berat bagimu, tapi kau harus tahu dan harus memutuskan apa yang akan kau lakukan setelahnya. Dua hari, aku rasa itu cuku puntuk menangisi kejadian yang menimpamu, setelahnya kau harus memikirkan apa yang akan kau lakukan. Aku bukan orang kaya, aku tidak bisa menampungmu selamanya...” Hoon berkata tegas. Aku hanya mengangguk pasrah.


“Ibuku akan menemanimu selama kau di sini, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri...lagi...” Hoon mengajakku keluar kamar dan menyuruhku duduk di kursi dapur.


“Aku bisa membantumu...”


“Duduk!” perintahnya lagi tanpa menoleh padaku.


“Aku juga bisa masak...”


“Aku bilang duduk...” ia melirikku dengan ekor matanya lalu mulai sibuk menyiapkan makan siang.


“Hoon-ah, kau pemilik hotel ini?” tanyaku penasaran. Kalau dipikir-pikir tempat ini telalu bagus untuk di sebut apartemen, selain itu lokasinya ada di lantai atas hotel berbintang lima layaknya penthouse.


“Apa kau sudah gila? Aku terlihat sekaya itu?” Hoon mengulurkan sendok dan garpu padaku.


“Aku tidak tahu, kan?” mataku masih mengekorinya. Ia mengangkat panci berisi kimchijigae dan menaruhnya di depanku.


“Makanlah...”


“Kau belum menjawab pertanyaanku...”


“Bukan...”


“Lalu kenapa kau tinggal di sini?” tanyaku lagi.


“Makan...” perintahnya, ia sendiri mulai menyendok nasinya, “aku kerja di sini...”


“Kerja?” ah aku juga tidak tahu apapun tentangnya selain nama dan rupanya.


“Ada resto dan cafe di lantai paling atas, aku kerja di sana...” katanya sambil terus menikmati makan siangnya, “dan ini milik mereka, aku hanya sementara di sini...”


“Hebat, mereka bisa memberikan karyawannya tempat tinggal seperti ini...”


“Hmm, begitulah...” Hoon tak berbicara lagi, ia diam sepanjang makan siang itu.


Aku mencoba menikmati makanku, rasanya enak, tapi kondisiku membuat makanan ini juga terasa hambar. Aku hanya memakannya karena aku butuh makan dan menghargai kebaikan hati Hoon. Aku mencuri pandang ke arah laki-laki di hadapanku ini.


Ia jauh lebih pendiam daripada Hoon yang aku temui dulu.


Ting tong!


“Nah, ibuku datang...” katanya lalu meninggalkanku di meja dapur dalam keadaan gugup.