Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 52; Ciuman Pertama



“Eomoni...” aku melangkah pelan memasuki kamar inap Seo Jin. Aku sempat berundi di depan pintu kamar, urung ingin berbalik dan mengunjunginya lain kali. Tapi begitu melihat Direktur Ahn yang terlihat lelah, aku memutuskan untuk masuk.


“Zoey!” Direktur Ahn langsung memelukku begitu ia melihat kedatanganku. Ia menepuk-nepuk tubuhku dan menelitiku dengan seksama, seolah memastikan aku  baik-baik saja, “Nak, kami sangat menghawatirkanmu, Jin terus saja mengigau memanggil namamu dan ia terus bilang kau sedang dalam bahaya. Dari mana saja kau?”


“Maafkan Zoey, Eomoni. Ini semua gara-gara Zoey...” aku menatap Seo Jin yang masih berbaring tidak sadarkan diri. Dia terlihat sangat tidak baik dan itu semua karena aku.~~~~


“Tidak Nak, kau di sini dalam keadaan baik-baik saja sudah membuat Eomma lega. Setidaknya tidak terjadi apapun pada dirimu.” Direktur Ahn menarikku agar bisa melihat Seo Jin lebih dekat.


“Zoey tidak baik-baik saja Eomoni, di sini juga sakit rasanya...” aku menekan dadaku yang terasa ngilu. Tidak ada yang baik-baik saja di sini. Semuanya berantakan dan kacau. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika aku ataupun siapapun apabila terjadi sesuatu pada keluarga ini. Aku tak akan sanggup untuk menebus kesalahan ini seumur hidupku.


“Semua akan baik-baik saja...” Direktur Ahn mengusap air mataku dan meraih tanganku. Ia menggenggamnya dengan erat sebelum meletakkan tanganku di atas tangan Seo Jin, “lihat Jin, dia sudah ada di sini, Zoey baik-baik saja, begitu juga dengan dirimu Nak...”


“Ini semua salahku...”


“Tidak, ini bukan salahmu. Kalian hanya mengalami nasip yang kurang baik.” Direktur Ahn menepuk punggungku dengan lembut. Beliau berusaha untuk meyakinkanku berulang kali. Benteng pertahananku luruh dengan sempurna. Aku menyadari bahwa semua benteng aku bangun tidak hanya melindungiku selama ini tapi juga telah menutup segala akses rasa, karsa, dan kenyataan yang seharusnya aku ketahui. Benteng ini juga membodohkanku sehingga aku memutuskan untuk menghancurkan segalanya kali ini. Aku akan bertidak sesuai dengan kemauan dan kemampuanku untuk menghadapi segalanya.


“Eomoni, biar Zoey yang menemani Oppa di sini...” aku menawarkan diriku untuk menjaga Seo Jin begitu melihat Direktur Ahn sempat terlelap di atas sofa. Aku bisa melihat lelahnya dari raut wajah beliau.


“Apa tidak apa-apa seperti itu?” ia melihat jam tangannya. Saat ini sudah hampir jam 12 malam dan Seo Jin belum juga siuman setelah operasi. Ia masih belum sadar dan seseorang harus memantau perkembangannya.


“Biarkan Zoey, Eomoni.”


“Kau juga terlihat begitu lelah...” aku menggeleng sambil tersenyum menyakinkan  beliau. Daripada aku, beliau lebih membutuhkan istirahat di tempat yang lebih nyaman.


“Baiklah, Eomma akan menghubungi supir untuk menjeput kemari.” Aku membantu Direktur Ahn membereskan barangnya. Aku tertegun saat tanganku mengemasi baju Seo Jin yang robek dan kotor. Aku mencengkramnya erat dan rasa bersalah itu kembali mengusik hatiku.


“Zoey...” aku terkejut saat Direktur Ahn memanggilku, aku buru-buru memasukan baju Seo Jin ke dalam paperbag dan memberikannya pada supir yang sudah muncul di pintu kamar, “Eomma minta tolong padamu ya, terima kasih.”


“Tidak Eomoni, ini tidak seberapa...” Direktur Ahn lalu memelukku sekali lagi sebelum pergi meninggalkan kami. Aku menghembuskan nafas dengan berat dan beranjak duduk di samping tempat tidur Seo Jin.


Aku kembali meraih tangan kanannya dan mengusap jamarinya. Masih ada sisa tanah dan lumpur yang menempel di kuku-kukunya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang ia pikirkan begitu ia jatuh dari lereng. Aku mengambil tisu basah dan mengusap tangannya dengan hati-hati. Keadaan tangan kirinya tidak jauh lebih baik, lengannya di gips dan paling tidak membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan hingga tangannya bisa ia gunakan dengan normal.


“Zoey...” aku mengangkat kepalaku begitu aku mendengar suara lirih Seo Jin memanggilku.


“Oppa...” Seo Jin yang awalnya hanya mengigau sambil menyebut namaku kini perlahan mulai membuka matanya. Mata itu terlihat begitu redup ketika memandangku. Aku nyentuh pipinya dengan tanganku agar tatapan matanya fokus ke arahku, “Oppa sudah sadar?”


“Zoey, akh...” Seo Jin mengerang saat ia mencoba menggerakan tubuhnya. Tangannya sampai mencengkeram tanganku dengan kuat saat ia menahan rasa sakitnya.


“Sebentar...” aku menekan tombol panggilan darurat beberapa kali dan tak lama kemudian satu orang dokter masuk bersama dengan dua orang perawat. Mereka terlihat terkejut saat melihatku dan menyuruhku untuk menyingkir terlebih dahulu.


Aku beralih ke ujung tempat tidur, walau kini dokter dan perawat itu sibuk memeriksa Seo Jin, namun mata laki-laki itu tidak beralih dan terus menatapku. Ia seolah khawatir jika aku akan menghilang begitu ia mengalihkan padangannya.


“Syukurlah, Anda sudah melalui masa-masa kritis Anda. Jangan terlalu banyak bergerak dulu dan jangan sungkan untuk menghubungi kami jika ada menginginkan sesuatu. Sekarang mungkin Anda masih sedikit bingung, tapi tidak apa-apa itu hanya pengaruh dari obat bius.” Dokter itu lalu pamit.


“Dok...” Seo Jin memanggil dokter itu lirih.


“Ya?”


“Dia ada di sana dari tadi Tuan.” Dokter itu pergi meninggalkan kami dan aku buru-buru mendekati Seo Jin yang hendak bangun dari tempat tidurnya.


“Akh...”


“Apa yang Oppa lakukan! Dokter kan bilang jangan bergerak dulu!” aku membantu Seo Jin untuk kembali berbaring. Tangan kanan Seo Jin merangkul punggungku, ia berusaha untuk memelukku dengan sisa tenaga ya ia miliki.


“Oppa...” aku sebisa mungkin menyangga tubuhku sendiri agar tidak menimpanya. Walau badanku bisa dikatakan lebik kecil daripada dirinya, tapi ia dalam keadaan terluka. Tulang rusuk yang awalnya retak bisa patah jika tertimpa tubuhku.


“Syukurlah...” bisiknya pelan, “syukurlah kau tidak apa-apa...”


Aku melepaskan pelukannya dan duduk di tepi tempat tidur, “aku sudah mengatakannya kan? Aku akan baik-baik saja.” Aku meraih tangan Seo Jin dan menggenggamnya dengan erat. Aku ingin dia tahu bahwa tidak ada yang perlu ia khawatirkan dariku. Cukup percayakan semuanya padaku.


“Maafkan aku, aku hilang kendali atas diriku sendiri. Seharusnya aku tidak meluapkan semua kekesalan itu padamu. Aku yang tidak bisa melindungimu, tapi justru aku menyalahkan dirimu seperti itu...”


“Untuk orang yang baru sadar, Oppa terlalu banyak mengingat semuanya...” aku tertawa dan mengatakan kalau aku sudah tidak memikirkannya. Justru karena dirikulah ia harus mengalami semua ini.


“Bagaimana aku melupakannya, aku benar-benar menyukaimu Zoey...”


Aku menggigit bibir bawahku mendengar penyataannya. Walau aku sudah mengetahuinya, mendengar pernyataanya seperti itu membuat hatiku terasa hangat dan serasa diberkati. Tanpa aku sadari tanganku sudah menyentuh pipinya yang tertutupi oleh perban putih. Masih ada bengkak di sekitaran luka yang dijahit sebanyak enam belas jahitan itu.


“Jangan melihatnya dengan penuh rasa bersalah seperti itu...” katanya lirih, “it will disappear in no time.”


Aku mengangguk mengiyakan. Walau aku tahu perawatan di Korea sudah sangat canggih dan luka itu bisa hilang dengan operasi, tapi sakitnya akan tetap ada di sana. Membekas selamanya.


Keberanian dalam diriku mulai tumbuh bersamaan dengan keserakahanku. Maafkan aku Tuhan, tapi aku ingin terus melihat tatapan Seo Jin yang begitu teduh. Aku berharap agar bisa melihat senyumnya yang lembut dan aku ingin terus mendengar suaranya yang berat namun hangat. Dengarkan permintaanku ini Tuhan, berapa pun harga yang harus aku bayar nantinya.


Aku mendekatkan wajahku dan mengecup hidung Seo Jin dengan hati-hati. Aku menatap matanya yang kini membulat karena terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba seperti itu. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang ikut memburu melalui hembusan nafasnya yang terasa di wajahku.


Mulai saat ini aku akan mencintainya.


Aku sudah memutuskan, inilah keegoisan pertamaku. Aku menginginkan bintang itu menjadi milikku seorang. Aku sudah terlalu lelah mencari cahaya dalam gelapnya hidupku hingga aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah selama ini. Biarkanlah aku menjadikan cahayanya sebagai petunjukku untuk pulang, Tuhan.


Dulu aku hanya ingin hidup.


Tapi kini aku ingin bahagia Tuhan.


Air mataku menetes saat bibirku bergetar menyentuh bibirnya. Ini pertama kalinya aku merasakan gejolak di dalam diriku. Kata-kata seolah tak mampu untuk mewakili apa yang aku rasakan saat ini hingga aku mengubur semua luka itu dengan keberanian. Aku ingin ia tahu sebesar itulah tekadku untuk melepaskan diriku dari belenggu masa lalu.


Ciuman pertamaku.


Bukan ciuman untuk menyampaikan bahwa aku mencintaimu.


Aku ingin mengatakan bahwa aku akan belajar mencintai diriku lagi agar bisa mengatakan aku mencintaimu, suatu hari nanti, jika Tuhan mengijinkan, dan dengan penuh kebanggaan.


***