Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 18; Antara Karir dan Passion



Kring...


Aku terkejut saat bel pintu masuk berbunyi, menandakan ada seseorang yang masuk ke studio. Aku masih berusaha mengumpulkan kesadaranku saat kulihat Lucas muncul dari balik pintu. Otomatis aku melihat jam di dinding ruangan. Masih pukul delapan pagi.


“Kenapa kau pagi-pagi sekali ke sini?” aku kembali berbaring di sofa dan menarik selimutku, “ada masalah apa?”


“Tidak ada...” ia melepas mantelnya dan mulai berjalan mengelilingi studio, ia terlihat mengecek baju yang terpasang di beberapa manekin yang ada di studio, “kau sudah menyelesaikan semuanya!?” ia terlihat terkejut saat melihat sebelas manekin itu sudah mengenakan baju.


“Belum, masih banyak yang belum dijahit...” aku menarik selimutku dan kembali memejamkan mata.


“Kau tidur jam berapa?”


“Jam enam...” Aku menguap karena belum ada dua jam aku tidur setelah menyelesaikan semua desain itu.


“Tidurlah lagi. Aku akan menyelesaikannya. Aku akan membangunkanmu nanti. Kita ada meeting saat makan siang...” aku memilih tidak menjawab Lucas dan memaksa diriku untuk kembali tidur. Sudah beberapa hari ini tidurku kurang karena proyek ini.


Aku sengaja tinggal di semi-basement studio ini agar pekerjaan kami lebih cepat selesai. Walau deadline kami masih cukup panjang, memberi jeda di akhir adalah keputusan yang paling tepat daripada menyelesaikannya sesuai deadline. Ditambah lagi dengan statusku yang sepenuhnya menjadi seorang desainer, berbeda saat aku masih ada di Paris yang harus membagi waktu antara karirku sebagai pebisnis dan desainer. Jujur aku lebih menyukai pekerjaan ini. Aku merasa bisa hidup dalam karya-karya yang aku hasilkan.


Karya-karya itulah bukti keberadaanku selama ini. Hidupku terasa lebih bermakna dan berwarna. Berurusan dengan banyak dokumen dan lelang sangat membosankan dan penuh dengan tekanan. Berbeda dengan desainer, aku merasa bebas ketika mendesain dan membuat karya itu dari gambar ke bentuk nyata.


Sangat menyukai saat-saat ini hingga aku lupa kalau aku sedang hidup dalam pelarian.


Beberapa kali Lucas mengatakan padaku bahwa ia melihat beberapa orang yang mondar-mandir baik di studio atau di homestay-nya. Aku tak bisa memberikan penjelasan apapun tentang hal tersebut. Mereka belum pernah mendatangiku secara langsung sehingga aku tidak memiliki alasan untuk beramah tamah dengan mereka.


“Kau tidak bisa selamanya lari Zoey...” Lucas tidak hanya mengatakan hal ini satu kali, beberapa kali malah.


“Sayapmu tidak akan pernah bisa terbuka lebar di ruang tertutup, kau harus membuka ruang itu dengan kekuatanmu sendiri sebelum kau bisa melebarkan sayapmu dan terbang menuju kebebasanmu, Zoey!”


Aku tahu aku lari dari masalah, aku tahu aku tidak bisa selamanya seperti ini selama darah keluarga Park masih mengalir di darahku. Aku bagian dari mereka, hanya saja aku belum ingin kembali. Ketidaktahuanku membuat otakku tumpul, namun aku tidak bisa menemukan awal dari benang kusut ini. Aku hanya ingin istirahat sebentar dan memilih mengabaikannya.


“Tunggu setelah proyek ini selesai...” hanya itu satu-satunya alasanku dan setelah ini aku tak bisa lari lagi. Setidaknya itu yang dipercayai oleh Lucas dan yang ingin aku percayai.


“Zoey...”


“Zoey...” Lucas menepuk pipiku pelan. Setelah memastikan aku bangun ia memberikanku sebotol air mineral.


“Jam berapa ini?”


“Sudah jam satu...” Lucas terlihat membereskan studio, “bersihkan dirimu, client kita akan datang sebentar lagi.


“Mereka akan ke sini?” tanyaku bingung.


“Ya...”


“Bukankah kita akan meeting sekaligus makan siang?” aku berdiri dan ikut membersihkan sofa tempatku tidur.


“Benar, mereka akan ke sini untuk melihat pekerjaan kita baru setelah itu kita akan makan siang...” jawab Lucas tanpa melihat ke arahku.


Aku pergi ke kamar mandi dan mencuci mukaku yang kuyu. Melihat bayanganku di cermin membuatku terkejut, siapa wanita yang ada di sana? Aku mencuci wajahku beberapa kali lalu mandi.


“Apa kau tak memiliki baju yang lebih bagus?” tanya Lucas saat melihatku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana jeans belel dan kaos yang longgar.


“Kau ingat aku dalam pelarian dan aku tak memiliki banyak uang?” aku melihat tampilanku di cermin. Tidak terlalu buruk sebenarnya.


“Pakai ini...”


“Apa kau gila?” aku melihat jumpsuit berwarna coral itu dengan tatapan ngeri. Lucas tertawa melihat ekspresiku dan mengulurkan paperbag lain.


“Oh maaf, itu punya Mia...”


Aku masuk ke dalam kamar mandi dan memakai blouse panjang tanpa lengan berwarna putih gading dan di balut dengan blazer berwarna dark maroon. Aku tak perlu mengganti celanaku karena jeans yang aku kenakan berwarna hitam. Tak lupa aku memakai bedak dan lipstik tipis agar penampilanku lebih manusiawi.


“Kau terlihat luar biasa...” aku tersenyum puas mendengar pujian Lucas. Ia benar-benar tahu bagaimana seleraku. Ia lalu memberikan satu paperbag lagi, “bonus...”


“Terima kasih!” teriakku saat aku melihat sepatu angkle boot berwarna cokelat.


“Sempurna!” ia juga puas dengan hasil make over-nya. Ia berulang kali memprotes caraku berpakaian selama di Seoul. Ia bilang aku terlalu kumuh untuk disebut sebagai desainer.


Suara bel membuatku menoleh. Lucas berjalan mendekati pintu dan menyilahkan tamunya masuk. Ada enam orang yang datang, dan dari enam orang itu ada satu orang yang terlihat berbeda baik dari style, gaya rambut, ataupun caranya berjalan. Aku diam mengamati sambil bersandar di salah satu meja jahit.


“Boleh aku coba bajuku?” tanya laki-laki setinggi lebih dari 180 cm itu.


“Zoey!” Lucas memanggilku.


“Tolong kau bantu Tuan Han Seo Jin untuk mencoba pakaiannya...” aku mengangguk dan mengajak laki-laki itu ke arah baju yang di desain untuknya. Aku melepas baju itu dari manekin dan memberikannya pada laki-laki itu. Tanpa mengatakan apapun aku menunjuk ruangan tempatnya berganti.


“Apa mereka tidak bisa mengganti warnanya? Dan bagaimana memakai baju ini dengan benar?” laki-laki itu terdengar protes di balik kain penghalang. Aku mengetuk daun pintu, menawarkan bantuan.


“Masuk...” katanya pelan.


Aku menghela nafas saat masuk ke dalam ruangan itu dan mendapatinya hanya menggunakan celana pendek. Bagi seorang artis, mungkin sudah sangat biasa berganti baju di hadapan banyak orang, tapi bagiku, aku belum terbiasa melakukannya.


Aku meraih celana yang dipegangnya dan membuka resleting yang ada di samping sebelum memberikannya pada laki-laki itu. Tanpa membukanya, kakinya tidak akan muat masuk ke sana. Aku sengaja mendesainnya ketat di bagian bawah.


“Apa tidak ada cara yang lebih mudah untuk memakainya?” aku diam saja mendengar pertanyaannya. Begitu ia selesai memakai celananya, aku memberikan blouse hitam panjang dan membantunya menurunkan reslting di samping ujung celananya. Setelah itu aku memakaikan blazer padanya dan merapikan bagian bawah blouse kemudian menarik kerahnya yang terlipat ke dalam.


Aku menahan nafasku saat aroma segar khas pegunungan tropis membelai hidungku. Aku mendongak dan mata kami bertemu. Deg, jatungku terhenti. Aku memalingkan wajah dan melihat sosoknya dari pantulan kaca samping. Walau pikiranku masih terpecah, tapi aku bisa melihat hasil karyaku dan hasil karya Tuhan itu terlihat begitu sempurna. Tanpa sadar aku tersenyum melihat bayangan laki-laki ini di cermin.


“Saya sengaja memberikan beberapa bagian yang longgar untuk Anda karena Anda main dancer. Ini akan menambah kesan gerakan Anda yang lembut dan indah di konsep album ini...” kataku untuk memecah keheningan ini. Ia terus saja menatapku dari cerimin tanpa mengucapkan kata apapun. Hal ini membuatku sesak.


“Kau bisa bicara, dan kau berbahasa Korea...” ia menatapku tak percaya, sudut bibirnya sedikit terangkat.


“Ya...”


“Kau bilang kau yang sengaja memberikan? Kau yang mendesain baju ini? Bukan Lucas?” tanyanya terkejut.


“Anda tidak tahu kalau desainer brand kami dua orang?” tanyaku tanpa memedulikan ekspresinya yang terkejut.


“Siapa namamu tadi?”


“Zoey...”


“Aku Seo Jin...”


“Ya...” aku kembali memperhatikan kembali penampilannya, “warnanya akan bagus nanti ketika dipakai bersama, jangan khawatirkan itu. Anda bisa keluar sekarang...”


“Wuaa....” teriak manajer dan beberapa stylistnya, “aku sangat menyukainya...”


Aku menyingkir dan mendekati Lucas, menanyakan apakah ada keluahan. Ia mengangkat jempolnya sambil menggeleng. Tidak ada masalah apapun.


“Zoey...” aku menoleh begitu Seo Jin memanggilku. Aku mendekatinya dan membantunya melepas baju itu.


“Apa Anda ikut kami makan siang?” tanyanya dengan lebih sopan begitu keluar dari ruang ganti.


“Tentu saja...” aku mengembalikan baju itu ke manekin kemudian mengikuti rombongan keluar dari studio.


“Anda orang Korea?” tanya Seo Jin sambil menjajari langkahku.


“Ya, saya orang Korea yang tinggal di Prancis...”


“Apa Anda tau grup saya?” tanyanya lagi.


“Ya...” aku menoleh pada Seo Jin, “Apa semua grup idol akan mengecek bajunya seperti ini?” tanyaku penasaran.


“Tidak, hanya aku selalu memastikan bahwa baju untuk konsep kami nyaman saat digunakan. Kami sudah tidak muda lagi dan kenyamanan yang paling penting. Terlebih lagi karena aku yang paling banyak bergerak nantinya...” aku menganggukan kepala paham.


“Nona Zoey bisa berbahasa Korea?” tanya Manajer Jo padaku.


“Saya orang Korea...” berapa kali aku harus mengatakannya?


“Benarkah?” aku mengangguk mengiayakan. Kami banyak berbincang dan bertukar informasi tentang banyak hal. Mulai dari Kpop, style dan fashion Korea sampai tanpa aku sadari mobil yang kami kendarai sampai di sebuah Hotel.


Hotel yang tidak asing!


***