
“Are you okay? You look so bad Zoey!” Aku menggeleng menjawab pertanyaan Elsa. Kami sudah ada di basement rumah sakit tempat Seo Jin dirawat.
“No, Im not okay...” aku meraih handle pintu untuk keluar.
“Apakah aku perlu mengantarmu?” tanya Elsa lagi. Aku melambaikan tanganku menolak tawarannya. Aku lansung masuk ke dalam rumah sakit dan naik ke lantai dasar. Aku pergi ke meja resepsionis sebelum ke kamar Seo Jin.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas jaga begitu melihatku berdiri di depan mejanya.
“Saya tadi menitipkan ponsel saya di sini.” Petugas itu langsung paham dan memberikan ponsel berserta kabel carger. Aku sengaja meninggalkan ponsel itu di meja resepsionis untuk mengurangi resiko nomorku di lacak lagi oleh Juna, “terima kasih.”
Aku lalu menaiki lift menuju lantai tempat Seo Jin di rawat. Aku menyandarkan diriku di dinding lift sambil memejamkan mataku. Pergerakan lift membuatku pusing. Begitu pintu terbuka aku langsung keluar dan berjalan menelusuri lorong ruangan dan berhenti sejenak di depan pintu kamar Jin.
“Zoey-ssi!” aku mendengar suara terkejut dari Manajer Jo saat melihatku membuka pintu ruangan. Ia berjalan menghampiriku untuk mengamati wajahku dengan seksama, “Anda baik-baik saja?”
“Zoey kenapa?” Seo Jin memanjangkan lehernya agar bisa melihatku begitu mendengar suara manajernya yang panik.
Manajer Jo membimbingku untuk masuk dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Seo Jin, “aku akan memanggil dokter, bisa berikan kartu identitasmu?”
Aku memberikan kartu identitasku tanpa bantahan apapun. Kepalaku sakit sekali dan melihat betapa khawatirnya wajah Seo Jin, aku yakin bahwa wajahku terlihat sangat buruk. Seo Jin mengulurkan tangan kanannya, menyuruhku untuk menyambutnya.
“Ada apa?” tanya Seo Jin lirih saat Manajer Jo sudah keluar dari ruangannya.
“Aku cuma banyak pikiran, aku tidak tahu harus memulainya dari mana...” Seo Jin tidak lagi bertanya dan hanya mengusap rambutku pelan. Aku sangat menghargai usahanya untuk menahan rasa penasarannya dan memilih memberiku waktu untuk beristirahat daripada menjelaskan sesuatu yang di rasa tidak perlu.
“Bagaimana denganmu?” aku memperhatikan Seo Jin dengan seksama. Ia kini sudah bisa duduk bersandar di tempat tidurnya. Perban diwajahnya juga sudah di ganti dengan ukuran yang lebih kecil. Tanpa sadar aku menatap luka itu lagi dengan perasaan bersalah.
“Im good. Lebih baik lagi jika kau tidak melihatku seperti itu...” Seo Jin menutup mataku dengan tangannya.
Tak beberapa lama kemudian Manajer Jo kembali ke dalam ruangan bersama seorang dokter dan juga perawat. Mereka langsung mendatangiku dan reaksi pertama yang mereka berikan adalah terkejut. Seo Jin tidak melepaskan tanganku sedetik pun walau tahu orang lain melihatnya.
“Ada keluhan Nona?” tanya perawat sambil mengecek suhu tubuh, tekanan darah dan juga nadiku.
“Kepalaku sangat sakit...”
“Apa Anda rutin makan?” aku menggeleng. Aku bahkan lupa kapan terkahir kali aku makan, “Anda kekurangan cairan tubuh dan juga malnutrisi, saya akan memberikan Anda infus dan obat. Anda juga perlu berbaring untuk tidur. Apa Anda kesulitan untuk tidur?”
Aku mengangguk lagi. Dokter itu lalu memberikan intruksi obat kepada perawat dan pergi meninggalkan ruangan.
“Saya akan menyiapkan kamar untuk Anda...”
“Saya tidak akan ke mana-mana.” Aku menatap dokter itu tegas. “Anda boleh melakukan apapun pada saya kecuali menyuruh saya keluar dari ruangan ini...”
“Tapi Anda harus beristirahat agar pulih...”
“Aku bisa tidur di atas sofa atau di tempat tidur itu...”
“Tapi...”
“Jangan paksa dia...” Seo Jin ikut bicara begitu melihatku yang keras kepala, “biarkan dia di sini...”
“Dok...” dokter itu menoleh begitu suster yang tadi keluar ruangan masuk kembali sambil menatapku dengan tatapan aneh. Ia membisikkan sesuatu pada dokter itu yang tak lama kemudian membuatnya menatapku tak percaya.
Suster itu sempat terkejut saat mendengar perintah dokter yang memeriksaku lalu keluar ruangan dengan terburu-buru. Entah apa yang mereka bicarakan yang membuat mereka terkejut dan panik seperti itu.
Tak beberapa lama kemudian suster tadi sudah kembali bersama rekannya. Ia mendekatiku dan mulai memasang selang infus di tangan kananku. Aku duduk bersandar pada kursi sambil memejamkan mataku menahan rasa perih saat jarum itu masuk ke dalam pembuluh darahku.
“Apa Anda mau makan terlebih dahulu?”
“Ya!” Seo Jin menjawab pertanyaan perawat itu lalu memandangku tegas. Ia memberikan sinyal bahwa ia tidak akan mendengarkan alasan apapun dariku. Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Perawat itu kemudian keluar setelah selesai memasang infusku.
“Saya memberi sedikit obat tidur agar Anda bisa beristirahat dengan cukup. Sekali lagi, saya menawarkan untuk kamar lain atau paling tidak tempat tidur lain...”
“Baiklah kalau begitu...” Dokter itu kemudian keluar bersama Manajer Jo. Aku menatap punggung manajer Seo Jin itu dengan perasaan bersalah. Aku tanpa sengaja merepotkannya. Padahal ini jelas-jelas bukan pekerjannya.
“Apa yang kau takutkan?” pertanyaan Seo Jin membuatku menoleh padanya, “kau takut tidur sendiri?” tanyanya lagi.
“Aku hanya ingin di sini...”
“Aku tahu kau mencintaiku, tapi aku bisa melihat kekhawatiran lain saat kau menolak saran dokter itu.” Aku menatapnya tak percaya, bisa-bisanya kata itu keluar di saat seperti ini.
“Apa Oppa keberatan?” aku berusaha mengalihkan pembicaraannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang menyebabkan aku takut tidur sendiri. Entah ruangan, entah tempat tidur, atau justru karena tempat yang asing. Semenjak pulang ke Korea, masalah tidurku ini semakin memburuk. Tidurku tidak nyenyak dan aku sering terbangun dengan mimpi buruk.
“Mana mungkin kan?”
Seorang perawat masuk dan membawakanku makanan. Ia juga memberikanku selimut yang lebih tebal. Aku menatap makanan itu dan mulai memakannya saat Seo Jin sudah berisap untuk memberiku ceramah.
Hambar.
Aku tidak bisa merasakan rasa apapun dari makanan yang aku makan saat ini.
“Enak?”
“Saya tidak bisa merasakan rasa apapun...”
“Apa?” tidak hanya perawat tapi Seo Jin juga terkejut mendengar perkataanku.
“Sudah berapa lama Anda mengalaminya?”
“Dua minggu ini...” aku kembali menyuapkan makanan itu ke mulutku banyak-banyak agar cepat habis. Seo Jin berkali-kali mengingatkanku agar tidak tersedak.
“Kemarilah...” Seo Jin menggeser duduknya dengan susah payah lalu memberikan separuh tempat tidurnya padaku. Tanpa berkata apapun aku langsung naik dan membuat diriku senyaman mungkin berbaring di sana.
“Aku pikir kau akan menolaknya...” Seo Jin justru bingung saat melihatku sudah meringkuk di sampingnya. Aku menarik selimutku sampai leher dan memejamkan mataku. Aku menguji diriku sendiri. Apa aku bisa tidur nyenyak di samping laki-laki ini.
“Oppa tidak boleh menarik kata-kata Oppa...” jawabku lirih tanpa membuka mataku. Aku merapatkan kepalaku di dekat lengan kanannya agar aku bisa merasakan kehangatan laki-laki ini.
“Apa kau tidak menanganggapku laki-laki?”
“Oppa bahkan tidak bisa bergerak. Apa yang bisa Oppa lakukan padaku saat ini?” aku terkekeh sendiri. Aku membuka mataku dan melihat wajah Seo Jin yang telihat tersinggung. Ia lalu mendekap kepalaku dengan tangan kanannya yang bebas.
“Aku masih bisa melakukan ini.” Seo Jin mencium puncak kepalaku dengan kuat lalu mengusap dan menepuk-nepuk bahuku lembut, “tidurlah...”
“Kepalaku masih sakit...” kataku lirih.
“Wow...” aku mendengar suara Manajer Jo. Aku bisa mendengar langkah kakinya yang mulai mendekat, “Zoey-ssi sudah tidur?” Aku memilih diam dan terus memejamkan mataku.
“Aku tidak menyangka kehadiran Zoey di sini bisa membuat rumah sakit ini kebakaran jenggot. Apa Hyung tahu kalau dia adalah salah satu pewaris Mirae Grup? Orang-orang rumah sakit begitu melihat nomor identitasnya langsung panik. Bahkan atasan mereka sediri yang hendak memeriksa Zoey...”
“Aku tahu...” Seo Jin kembali membelai rambutku agar aku terlelap.
“Bagaimana ini, aku harus menjagamu tapi aku tidak tahan melihat kalian berdua seperti ini? Apa kau tidak takut kalau teman-teman atau atasan kita tiba-tiba datang dan melihatmu bersamanya?”
“Kau boleh pergi juga kalau kau muak. Tinggalkan pesan di resepsionis lantai ini bahwa aku tidak menerima tamu kecuali Ibu. Kalau kau mengatakan bahwa Zoey punya kekuatan sebesar itu, tidak akan sulit untuk membuat orang-orang itu menutup mulutnya.”
Aku masih bisa mendengar Manajer Jo memberesi barangnya kemudian keluar dari ruangan. Setelah itu aku sudah tidak mendengar apa-apa lagi karena anehnya, aku tertidur setelah beberapa menit berbaring di samping Seo Jin.
“Jangan sakit lagi, Sayang...”
***