Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 66; Our Story



“A..ayahmu yang melakukannya?” Seo Jin masih tidak bisa mempercayai ucapanku.


“Ya, Ayahku berniat menikahkanku dengan keluarga Hwang, tak peduli aku mau dijadikan istri yang keberapa. Hari ini...kami berniat untuk menghentikan Ayah, yang tidak kami duga adalah kedatangan Hoon”, aku menatap Seo Jin lekat-lekat, “aku tidak tahu dia akan datang dan berdiri di sana. Ia menatapku dengan putus asa. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi aku tahu bahwa dia di sana bukan karena keinginannya, jadi...”


Aku tidak bisa memohon Seo Jin untuk memaafkan Hoon. Aku bisa melihat tatapan Seo Jin yang dibakar api cemburu saat melihat Hoon berdiri di atas podium bersamaku sebagai kekasihku. Aku bisa mengerti kalau Seo Jin marah kepadaku.


“Kau sudah memaafkannya?” pertanyaan Seo Jin membuatku terkejut. Pikiranku tidak sampai sana.


“Dia tidak memiliki salah apapun padaku Oppa. Ia pergi atas keinginannya dan dia tidak memiliki kesepakatan apapun denganku. Dari awal, tidak ada ikatan dalam hubungan kami.”


“Kalian tidak memiliki niatan bersama? Sama sekali?” aku masih heran dengan keterkejutan Seo Jin. Bukankah dia seharusnya cemburu atau tidak membahas hubunganku dan Hoon?


“Aku sudah menanyakannya”, kataku jujur, “tapi Hoon menolaknya. Dulu aku tidak tahu kenapa ia menolakku, lalu aku paham bahwa dari awal Hoon sudah mengetahui bahwa hubungan kami tidak akan berjalan lancar tanpa menyakiti orang lain.”


Aku mulai menceritakan bagaimana kepulanganku ke Korea, apa yang terjadi padaku, pertemuan dengan Hoon, dan pelarian yang aku lakukan. Aku tidak akan menutupinya lagi, ia berhak tahu dengan apa yang terjadi padaku selama ini.


Seo Jin mendengarkannya dengan seksama walau sesekali ia seperti tidak mempercayai drama yang aku jalan selama berberapa bulan ini. Pentanyaannya terjawab namun gurat di wajahnya semakin terlihat seiring dengan bertambahnya kekhawatirnanya padaku.


“Tidak adakah yang bisa aku lakukan untuk menolongmu?”


“Jangan lakukan apapun, itu sudah sangat menolongku. Kau harus tahu siapa dirimu, kalau terjadi sesuatu padamu, akan ada banyak orang yang terluka dan aku jelas tidak menginginkannya Oppa”, aku menyentuh luka di wajah Seo Jin dengan jemariku. Melihatnya saja masih membuatku terluka, aku merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya, “Oppa tak pantas menerimanya...”


“Perlu kau tahu, aku tidak pernah menyesalinya”, Seo Jin menyingkirkan tanganku dari wajahnya dan menggenggamnya, “itu keputusan besar yang aku pilih dengan kesadaranku sendiri. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu...”


“Jangan seperti itu...” aku mengecup punggung tangannya pelan, “jangan pertaruhkan nyawamu untukku lagi. Berjanjilah...”


“Aku tidak akan menjanjikan apapun jika aku tidak bisa menjamin untuk menepatinya...” aku terkejut saat Seo Jin menarik pinggangaku ke arahnya. Aku sudah bisa merasakan hembusan nafasnya yang menyapu wajahku, “apa kau bisa berjanji untuk tidak menempatkan dirimu dalam bahaya hingga aku tidak perlu mempertaruhkan nyawaku?”


Aku membisu mendengar pertanyaannya. Itu hal yang sangat tidak mungkin. Aku tidak bisa menjaminnya.


“Lihat, kau dan aku sama saja, kita...” Seo Jin mengecup bibirku dengan hati-hati. Aku sempat terkejut dengan perlakuannya namun aku diam saja dan hanya tersenyum sambil memalingkan wajahku yang mulai terasa hangat.


Sikapku ternyata diartikan lain oleh Seo Jin. Seolah ia mendapatkan ijin dariku, ia meletakkan tanganku dibahunya dan mulai menarikku ke dalam dekapannya. Ciuman yang awalnya lembut dan malu-malu berubah menjadi panas dan penuh dengan gairah. Aku tidak bisa mengikuti ritmenya hingga tanpa aku sadari aku melangkah mundur hingga menyentuh tembok ruangan.


“Lihat aku baik-baik dan bernafaslah...” bisiknya pelan saat menyadari bahwa aku mulai kehilangan kesadaran akibat pasokan oksigen ke otakku mulai menipis. Aku mengikuti sarannya dan menarik nafas dalam-dalam sebelum Seo Jin kembali mendaratkan ciumannya.


“Oppa...” aku kembali merasa pusing dengan perubahan perasaan yang aku alami dalam waktu singkat. Sebagian hatiku ketakutan namun sebagian lainnya aku merasa bahagia bisa merasakan bahasa cinta Seo Jin dari sentuhannya.


Entah sejak kapan kami sudah berpindah tempat dan masuk ke dalam kamar. Aku baru sadar saat jemariku menyentuh dada bidang Seo Jin. Aku terkejut dan tanpa aku sadari aku memalingkan wajahku dan menutup mataku rapat-rapat.


“Tolong...selamatkan aku... aku...tolong...” mulutku bergumam membayangkan apa yang pernah terjadi padaku di masa lalu. Air mataku seketika mengalir dari sudut mataku.


“Aku...” kata-kata tak bisa keluar dari mulutku, aku mencengkeram kemejaku dengan erat. Tiba-tiba saja aku merasa takut. Takut jika Seo Jin tidak akan menerima masa laluku yang kotor itu.


“Lihat aku baik-baik...” Seo Jin melepaskan cengkraman tanganku dan menarik tanganku untuk menyentuh wajahnya, “Ini aku. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi padamu. Bagiku semua itu sudah menjadi masa lalu. Aku hanya menginginkan dirimu mulai saat ini dan seterusnya...”


“Aku tidak tahu...aku tidak tahu apa aku sudah melakukannya atau belum...”


Seo Jin tertawa mendengar ucapanku, “kalau kau tidak mengingatnya itu berarti kau belum pernah melakukannya. Ini bukanlah sesuatu yang mudah dilupakan begitu saja, aku akan memastikan kau tidak akan melupakannya...” dan Seo Jin kembali mendaratkan ciumannya di pipi, bibir, leher, dan entah bagian mana lagi.


Aku merasakan panas di seluruh tubuhku, dan itu membuatku tidak bisa berpikir dengan jelas. Tubuhku merasakan sakit dan bahagia dalam waktu bersamaan. Seo Jin benar, bagaimana mungkin aku melupakan sesasi yang sangat kuat ini?


Aku menyerahkan segalanya pada Seo Jin malam itu. Dia seutuhnya mengambil kendali atas diriku dan melupakan siapa aku dan bagaimana latar belakangku. Hanya aku dan dia, tiada lagi ada penghalang atau jarak yang memisahkan kami. Malam ini adalah malam pertama yang akan selalu aku ingat sebagai penawar rinduku padanya suatu hari nanti.


***


Saat aku membuka mataku, kenyataan itu kembali menyadarkanku. Seo Jin masih terlelap di sampingku saat aku perlahan-lahan turun dari tempat tidur. Aku bisa merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku saat aku bergerak untuk mengambil bajuku.


Di luar masih gelap saat aku selesai mengemasi barang-barangku. Aku kembali berjalan masuk ke kamar Seo Jin sebelum meninggalkan apartemenya, “Oppa sampai bertemu lagi. Aku mencintaimu...” aku mencium bibirnya sekali lagi dan berjalan keluar dari apartemennya.


“Kau di mana?” tanyaku begitu sambungan telponku dijawab oleh Hye Sung.


“Apa ini kurang pagi Nona? Tentu saja saya di homestay saya...” Hye Sung menjawabnya dengan kesal.


“Aku ke sana...” aku langsung mematikan sambungan teleponku dan berjalan keluar apartemen. Aku langsung mencari taksi dan menyuruhnya untuk mengantarkanku ke salon yang sudah buka, “aku harus melakukan sesuatu dengan rambut ini.”


Tidak sulit menemukan salon yang sudah buka di pagi hari. Sopir taksi itu langsung paham dan membawaku ke salon tempat para selebriti yang harus bersiap-siap untuk syuting pagi. Saat aku masuk ke dalam salon, beberapa orang sempat terkejut melihatku. Aku memang sudah menutupi memar di wajahku dengan kaca mata yang aku ambil di apartemen Seo Jin tapi tatap saja tidak bisa menutupi seluruhnya.


“Tolong lakukan sesuatu dengan rambutku. Oh iya, dan hati-hati dengan lukaku, itu baru tadi malam menjahitnya...”


“Baik Nona...” jawab pegawai itu dengan hati-hati, “Anda ingin memotongnya seperti apa?”


“Pendek, yang penting rapi...” aku menjawabnya asal.


Aku akan kembali ke medan perang dengan tampilan yang mengesankan. Zoey yang dibutuhkan saat ini adalah Zoey yang kuat dan tangguh. Aku tidak boleh lama-lama berendam di air hangat yang ditawarkan oleh Seo Jin padaku.


Walau aku tahu cara ini tidak akan menghentikannya, aku memutuskan untuk memblokir nomornya sementara.


“Maafkan aku Oppa...”


***