Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 20; Apakah ini Akhir Segalanya?



“Apa kita coba untuk pacaran saja?” kalimat Hoon membuatku tertegun. Bagaimana ia bisa mengatakannya dalam suasana seperti ini?


“Apa kau sudah gila?” hanya kalimat itu yang terpikirkan olehku.


“Ya, aku sudah gila! Aku gila karenamu!” aku bisa melihat wajah Hoon yang frustasi. Ia mengacak rambutnya asal.


“Kalau begitu lain kali, lain waktu jika kalau akal sehatmu sudah kembali, aku akan mempertimbangkannya...” aku berbalik dan menarik handle pintu.


Brak!


Aku terkejut saat Hoon mendorong pintu hingga kembali menutup. Aku terjepit antara pintu dan Hoon yang berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan nafasnya yang begitu gemuruh. Entah apa yang membuatnya begitu marah. Apa karena aku menolaknya?


Aku menelan ludahku perlahan. Bohong kalau hatiku juga tidak luruh mendengar pernyataannya. Ini kali pertama aku mendengar dan mengalaminya, namun aku menyadari keputusan ini tidak bisa diambil dalam kondisi seperti ini.  Emosi kami sama-sama tidak stabil dan terkesan terburu-buru.


“Jangan pergi...” bisiknya.


“Katakan padaku, kalau kau terus seperti ini, tidak ada gunanyakan aku di sini?” aku berbalik dan melewatinya, kembali duduk di sofa ruang tamu. Hoon mengikutiku sambil menundukkan kepalanya.


“Terus terang, aku menyukaimu...” kata Hoon tiba-tiba. Aku menatapnya sambil terdiam, menunggu lanjutan kalimatnya.


“Awalnya aku menyukaimu, pertemuan kita di Paris mengubah hidupku. Aku pikir aku menyukaimu tapi... hanya sebatas itu. Aku tak berani berharap lebih padamu Zoey...” Hoon mengatakannya sambil menatapku lurus.


“Aku kenapa?”


“Kau jelas-jelas Zoey Park, bagaimana bisa aku menyukai seorang Zoey Park?”


Tiba-tiba hatiku terasa perih mendengarnya. Lagi-lagi keluargaku yang menjadi alasan dari semua kekacauan ini.  Setiap kali nama keluargaku disebut, aku merasa sangat tidak berguna dan tidak berdaya. Seolah-olah aku tidak pernah ada, seolah-olah perasaanku tidak ada artinya, yang mereka pikirkan sama. Harta, kedudukan, dan keturunan. Mereka tidak pernah menilai dan memandangku sebagai orang.


“Kalau begitu pembicaraan kita selesai...” kataku tegas sambil berdiri. Aku harus segera pergi, aku tidak ingin terjatuh di sini, aku tidak ingin menangisi diriku sendiri lagi. Sudah cukup.


“Zoey, pembicaraan kita belum selesai!”


“Pembicaraan ini sudah selesai ketika kau membawa keluargaku!” aku menghempaskan tangannya, menatapnya dengan terluka, “kau sama saja!”


“Darah Park akan selamanya mengalir di tubuhku selama aku hidup! Lalu kau menganggap bahwa keluargaku adalah penghalang dari hubungan kita? Kau ingin aku mati dulu baru kau akan benar-benar menyukaiku?!”


“Zoey aku...”


“Aku juga muak Hoon! Aku muak karena semua orang melihat nama keluargaku! Mereka tidak pernah melihat diriku, mereka tidak mempedulikan perasaanku. Aku pikir kau bisa melihatnya, aku pikir kau berbeda...”


“Aku...” air mataku tanpa seijinku mengalir begitu saja mengingat kenangan buruk itu, “Aku pernah mencoba mengakhiri semua ini, aku pernah mencobanya TAPI! Tapi aku ingin hidup Hoon... karena aku ingin hidup, aku tidak mau mati seperti itu. Ini semua terlalu tidak adil... aku...” suaraku tercekat.


“Zoey-ya, maafkan aku...” Hoon mendekap kepalaku dan memelukku seerat mungkin, “sungguh maafkan aku...”


“Zoey jangan seperti ini...ini semua salahku...maafkan aku...” Hoon tidak melepaskanku begitu saja.


“Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan, kau menutupi sesuatu dariku. Aku bisa merasakannya dan bagian terburuknya, kau selalu menyalahkanku...”


“Kau bertanya kepadaku kenapa aku muncul di kehidupanmu. Bagaimana aku muncul dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Kau bahkan bertanya kenapa aku harus menjadi seorang Zoey Park...” aku berhasil melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya lurus, “aku akan menjawabnya...”


“Pertama, bukan aku yang muncul dihadapanmu. Tapi kau! Kau yang mengajakku bicara waktu itu dan waktu kita bertemu di Paris. Kedua, aku juga tak menginginkan pertemuan itu. Aku korbannya Hoon! Wanita mana yang mau mengalami kejadian itu! Dan terakhir, sebenci-bencinya diriku, aku tidak bisa membuang darah keluarga Park...”


“Jika itu semua yang paling penting bagimu, tidak usah kita mulai hubungan ini. Tak perlu kita mencoba berpacaraan karena bagiku semua itu tidak penting. Bagiku, perasaankulah yang paling penting...” aku berjalan cepat menuju pintu keluar.


“Ah satu lagi...” aku berbalik teringat sesuatu, “Dalam setiap pertemuan kita, aku tidak pernah menyesalinya...” Hoon menoleh dan menatapku yang berdiri dibalik pintu, “Ya, benar, aku menyukaimu... melebihi yang kau kira tapi... aku lebih menyukai dan mencintai diriku, jadi...” aku memilih tidak menyelesaikan kalimatku dan menutup pintu.


“Kerja bagus Zoey, setidaknya kau sudah pernah mengatakannya, kerja bagus, kau luar biasa...” aku tak henti-hentinya menghibur dan menguatkan diriku sendiri saat berjalan keluar dari hotel. Air mataku kembali mengalir dari sudut mataku, hal ini membuatku terlihat semakin menyedihkan.


Aku menghentikan taksi di depan hotel dan langsung pergi dari sana. Lagi-lagi aku membutuhkan waktu untuk menyembuhkan diriku sendiri. Selalu saja seperti ini, tidak berubah. Setiap aku mengalami hal menyakitkan, aku harus menyembuhkan diriku sendiri. Tak beda saat aku bahagia, aku harus menekan kebahagiaan itu agar aku tidak mengalami hal yang menyakitkan saat tiba-tiba ia hilang. Keduanya sama, datang dan pergi tanpa bisa kita duga dan yang bisa aku lakukan hanya menerimanya.


“Anda tidak apa-apa?” sopir taksi itu memberikan tisu padaku. Ia melihat dari kaca sepion dengan gelisah saat menyadari penumpangnya malam ini menangis tanpa suara di jok belakang mobilnya.


“Tidak, saya tidak baik-baik saja, maafkan saya...” kataku jujur, percuma jika aku bilang aku baik-baik saja jika aku jelas-jelas menangis seperti ini.


“Kalau begitu silahkan menangis sepuasnya Non, saya berharap begitu taksi ini sampai, Anda merasa lebih baik...” mata kami bertemu di kaca spion tengah. Laki-laki yang sudah cukup tua itu tersenyum lembut, “semua kehidupan memang seperti itu. Semuanya akan baik-baik saja...” aku mengangguk cepat sambil mengusap air mataku yang lagi-lagi mengalir. Tidak menyangka akan mendapatkan penghiburan seperti itu.


Duapuluh menit kemudian taksi yang aku kendari sampai di kompleks studio tempatku bekerja. Aku meminta sopir taksi untuk menurunkanku di persimpangan sebelum masuk ke gang. Aku ingin membeli beberapa minuman dan makanan. Lucunya, setelah menangis seperti itu pun aku masih bisa merasakan kelaparan.


Aku membeli cup ramyeon di minimarket dan memakannya di sana. Saat aku duduk di dekat jendela aku melihat pergerakan yang mencurigakan. Seketika aku sadar bahwa aku masih dalam pelarian. Aku memutuskan untuk menghabiskan ramyeonku dan membeli beberapa air minum. Selama aku ada di dalam minimarket, aku aman dan aku perlu menyiapkan tenaga untuk melarikan diri nanti.


“Satu...dua...” aku mulai menghitung. Ada empat orang yang mengawasiku dari berbagai sudut yang berbeda. Mereka tidak menggunakan pakaian formal seperti biasanya. Perlahan mereka mulai bergerak merapat, membuatku terpaksa membuat strategi untuk meloloskan diri. Studioku masih ada 300 meter dari sini dan aku perlu menyeberang jalan.


Aku berdiri dan membeli beberapa soju, sebisa mungkin bersikap normal dan berpura-pura tidak menyadari keberadaan mereka.  Aku berjalan ke arah sebaliknya, ada halte bus beberpa meter dari sini. Aku memutuskan untuk menjauh dari studio.


“Kau harus ikut kami...” seseorang berbisik di telingaku. Sebuah benda tajam menusuk pinggangku. Semakin lama-semakin terasa menyakitkan. Bulu kudukku meremang, tidak berani menoleh saat menyadari benda yang dipegang oleh laki-laki itu adalah sebilah pisau. Aku hanya mencengkram erat tas pastikku dan merapat pada seseorang yang ada di sampingku.


Aku menendang betis laki-laki itu begitu melihat bus datang. Aku hendak berlari menaiki bis namun ada seseorang lagi yang datang dari samping. Ia menarik lenganku. Kejadian itu terjadi begitu cepat, orang-orang di sekelingku belum sempat menyadari situasinya sampai orang yang menarik lenganku itu tersungkur saat aku memukulnya.


Begitu kesempatan itu tiba, aku berlari ke depan bus yang berhenti, berharap bus itu dapat menghambat mereka lalu menyebrang jalan dan menghilang dibalik gang. Namun perhitunganku salah, tepat saat aku berhasil melewati bus, sebuah sedan melanju dengan kecepatan medium menyambar tubuhku.


Suara teriakan, suara tubuhku yang terpental, dan bunyi berdecit dari mobil yang terpaksa berhenti terdengar bersamaan. Kesadaranku sempat hilang saat mobil itu menabrakku. Aku terguling beberapa meter di depan mobil itu.


Apakah seperti ini akhir dari segalanya?


***