
Aku berteriak kegirangan saat Ibu memberikanku kamar baru. Aku sudah merengek dari tahun lalu tentang kamarku sendiri. Selama ini aku sekamar dengan adikku Juna yang masih berumur 7 tahun.
Awalnya aku tidak keberatan sama sekali, aku justru senang. Walau kami sering bertengkar, namun aku tidak pernah kesepian. Sampai saat teman-temanku mulai menceritakan tentang kamar mereka, tentang kebebasan mereka untuk mendekorasi kamar sesuai dengan kesukaan mereka, dan aku mulai malu ketika aku masih satu kamar dengan adik laki-lakiku. Ada memang dari mereka yang tinggal sekamar dengan kakak atau adik mereka, namun sama-sama perempuan. Aku merasa diriku sendiri yang berbeda.
Aku sudah berbaring di atas kasur berukudan queen size saat Dany Oppa masuk ke dalam kamar, “aku dengar kau mendapat kamar baru Zoey?”
“Oppa!” aku meloncat dari tempat tidurku dan berlari memeluk Oppa, “kenapa Oppa baru pulang! Kan Oppa janji sama Zoey mau mengajari Zoey berenang!”
“Kau tahu kan tugas kuliah Oppa sangat banyak...” Oppa membalas pelukanku dan mengajakku untuk kembali berbaring.
“Tapi kan Oppa udah janji!”
“Wah kamarmu bagus, tempat tidurnya besar!” Oppa mengalihkan pembicaraan.
“Iya, aku yang memintanya!” kataku semangat sambil meloncat-loncat di atasnya.
“Kau tidak tahu Zoey?” wajah Oppa berubah serius, “kalau kau tidur di tempat tidur yang ukurannya tidak sesuai denganmu dia akan menelanmu...bukankah tempat tidur ini terlalu besar untukmu?” Oppa menatap tampat tidur itu dengan ngeri.
“Oppa kalau bercanda nggak lucu! Mana mungkin!” aku masih tidak menghiraukannya.
“Apalagi kalau kau mengompol di atasnya, dia akan marah, dan HAP! Kau akan ditelannya!”
“Oppa!”
Dany Oppa hanya tertawa dan meninggalkanku setelah mengucapkan selamat malam. Ia terlihat puas sekali menggodaku.
Dan malam itu, aku mengompol setelah sekian lama tidak melakukannya. Dany Oppa yang mengetahuinya tertawa tanpa henti.
Malam berikutnya, setelah aku tertidur, aku mengalami sleep paralysis yang membuatku tidak bisa bergerak walau aku sepenuhnya sadar. Aku merasakan rasa takut yang belum pernah aku alami sebelumnya. Kamarku terasa begitu besar serasa mereka akan menelanku bulat-bulat, membuatku menghilang tanpa meninggalkan bekas.
“Oppa!” begitu aku bisa menggerakan tubuhku, aku berlari menuju kamar Dany Oppa yang ada di sebelahku.
“Oppaaa...” aku menangis sejadinya, membuat Oppa panik dan buru-buru memelukku.
“Ada apa? Kamu mimpi buruk?” Oppa mengelus punggungku sambil mendengarkan cerita disela isak tangisku.
“Oppa pengen ketawa, tapi nggak tega...”
“Oppa jahat...”
“Tidur sama Oppa saja sini...” Oppa menarikku ke dalam pelukannya.
Setelah kejadian itu, aku kembali merengek untuk meminta tempat tidur yang lebih kecil. Ibu dan Ayah tentu memarahiku habis-habisan. Mereka menolak mengganti tempat tidurku.
Aku sudah mencoba meletakkan banyak bantal dan boneka di tempat tidurku agar aku bisa tidur lebih nyenyak. Tapi mimpi buruk itu masih datang sesekali dan jika hal ini terjadi, aku menyelinap di tengah malam ke kamar Oppa atau ke kamar Juna jika Oppa tidak pulang ke rumah.
Waktu itu aku tidak tahu jika meloncat-loncat itu menambah resiko anak kecil mengompol saat tidur.
Waktu itu aku tidak tahu bahwa sleep paralysis itu bisa terjadi pada siapa saja.
Tanpa aku sadari, kebiasaan itu terus terbawa hingga aku dewasa.
***
Saat aku membuka mata, aku melihat pemandangan yang sangat aneh di depanku. Aku melihat Hoon sedang mencengkram kerah Dany Oppa yang masih setengah sadar. Kami berdua sama-sama terkejut dengan apa yang Hoon lakukan.
“Kau...” kalimat Hoon menggantung di udara. Ia terkejut saat melihatku tidur dalam pelukan orang lain dan tanpa pikir panjang ia menarik orang itu. Ia baru sekali bertemu dengan Dany Oppa tapi aku yakin ia sudah bisa mengenalinya.
“Oh Annyeonghasaeyo...” Hoon melepaskan tangannya dari kerah Dany Oppa dan buru-buru memberikan salam.
“Ah kau...” Dany Oppa bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
“Ini, apa yang sebenarnya terjadi?” Hoon bertanya pada Oppa, kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya, “saya ke kamar Zoey tapi kamarnya begitu berantakan, dan begitu saya bertanya pada perawat yang berjaga, mereka mengarahkan saya ke kamar ini...”
“Be...begitu banyak orang yang berjaga di luar...” suara Hoon menghilang. Ia berusaha melihat ke arahku.
“Zoey!” bergitu ia menyadarinya, aku menyembunyikan wajahku di punggung Oppa. Aku tidak mau ia melihatku dalam keadaan sepert ini.
“Zoey...lihat aku...” aku terus mengabaikan Hoon. Aku tak mau bertemu dengannya, setidaknya untuk saat ini. Keadaanku sangat berantakan dan aku tidak ingin menjelaskan apapun. Aku hanya ingin melupakan semuannya.
“Tenangkan dirimu...” Dany Oppa menyentuh bahu Hoon, “sepertinya Zoey tidak ingin bertemu denganmu untuk saat ini, kita bicara di luar...”
“Mau Oppa panggilkan Juna?” tawarnya. Aku tidak menjawab dan Dany Oppa langsung menghubungi Juna untuk ke rumah sakit sekarang juga.
“Kau bisa tunggu di luar sebentar? Aku akan menjelaskan semuanya setelah adik laki-laki ku sampai di sini...”
“Zoey...hubungi aku secepatnya...” Hoon meletakkan barang-barang yang diambil perawat dari kamar sebelumnya di atas nakas lalu keluar dari kamar.
“Orang itu salah satu alasanmu kabur dari rumah?” tanya Oppa begitu Hoon keluar dari kamar.
“Bukan...”
“Kalian tidak pacaran?”
“Tidak...”
“Kau menyukainnya kan? Dan dia juga sepertinya menyukaimu...”
“Aku tidak mau membahasnya sekarang...”
“Permasalah perjodohanmu se...”
“Aku tidak ingin mendengarnya!” aku memotong kalimat Oppa. Aku tidak ingin membahasnya saat ini.
“Kau tidak tahu...” Oppa menghentikan kalimatnya saat melihat Juna datang
“Hyung!” Juna masuk ke dalam kamar dengan penuh keributan. Aku melihat wajahnya yang pucat dan aku sampai bisa mendengar deru nafasnya. Ia pasti berlari untuk sampai di kamar ini secepat mungkin.
“Juna-ya, bisa tolong temani Zoey hari ini?” kalimat Oppa membuat Juna menoleh padaku, ia baru sadar bahwa akulah orang yang ada di samping Dany Oppa.
“Nuna!” ia berlari dan langsung menangkap wajahku dengan tangannya, “kau kenapa? Kau operasi kah? Kau gila?! Apa yang kurang darimu? Kau itu sudah cantik!” aku melotot mendengar ucapannya. Bisa-bisanya ia berfikir aku operasi plastik.
“Kau yang gila!” Oppa memukul kepala Juna dengan tangannya.
“Lalu apa yang terjadi padanya?”
“Nunamu itu masih harus berlatih lebih lama agar ia tidak babak belur sepert itu...” Dany Oppa pergi ke kamar mandi setelah aku melepaskan pegangan tanganku darinya.
“Kalian bertengkar?!” Juna masih saja tidak percaya, “jawab! Kenapa kau diam saja sih...”
Aku melirik ke arah Dany Oppa. Memohon untuk tidak mengatakan kejadian malam tadi.
“Percuma kalau kau memintaku untuk menutupi apa yang terjadi padamu, bocah ini pasti akan tahu...” Oppa mengenakan kembali jasnya setelah mencuci muka di kamar mandi, “Kau ingat Tae Dong dari Keluarga Mo? Dia yang melakukannya pada Zoey!”
“APA!” Juna berdiri, “aku akan menghancurkannya!”
“Diam!” Oppa memandang Juna dengan tajam, “yang harus kau lakukan adalah menjaga Zoey! Kau tidak melihat Nunamu seperti itu?”
Aku merasa risih saat Juna memperhatikanku lebih detail. Matanya membulat saat menyadari sesuatu, “Hyung...” panggilnya lirih. Mereka berdua saling bertatapan tanpa mengatakan apapun.
“Jaga dia, kau bisa melakukanya kan?”
“Tentu saja...”
“Jangan katakan apapun pada orang rumah...” pesan Dany Oppa, “satu lagi...” Dany Oppa menarik Juna lebih dekat, “Nunamu masih takut tidur sendirian di tempat tidur selebar ini, dan kita tidak mungkin meminta pihak rumah sakit untuk mengganti kasurnya. Sangat merepotkan!”
“Serius?” Juna menatapku tak percaya. Ia juga tahu karena aku juga sering menyelinap ke dalam kamarnya.
“Zoey, aku akan memberitahu laki-laki itu. Aku rasa setelah apa yang ia lakukan padamu sampai saat ini, ia berhak tahu apa yang terjadi padamu...”
Tanpa menunggu persetujuanku, Dany Oppa keluar dari kamarku.
Aku merasakan ketakutan mulai merembes ke dalam hatiku.
“Nuna...” tangan Juna memegang tanganku. Tanpa aku sadari, tanganku terkepal hingga buku-buku jariku memutih. Juna yang menyadarinya langsung meraih tanganku dan melepaskan cengkramannya.
“Semua akan baik-baik saja...”
***
Sleep paralysis : Kelumpuhan tidur paling sering terjadi pada orang yang menderita narkolepsi atau gangguan tidur, namun kondisi ini dapat menyerang siapa saja. Ketika serangan terjadi, penderita tidak mampu berbicara atau bergerak saat tidur atau setelah bangun. Ini biasanya berlangsung satu atau dua menit, dan sering menakutkan.