
“Kau tidak berniat kembali ke sini?” Seo Jin bertanya begitu Hoon tetap diam dan tak menjawab pertanyaannya.
“Entahlah...”
“Kau melarikan diri lagi kan?”
Aku beringsut di atas sofa sambil memeluk kakiku. Aku memejamkan mata dan memilih fokus untuk mendengarkan, tatapan mata Seo Jin membuatku takut. Laki-laki itu mulai menanyakan banyak hal yang tidak aku mengerti dengan tatapan penuh peringatan padaku. Alaram di telingaku sudah dari tadi berdenging, mengirimkan rasa gelisah.
“Kenapa Hyung jadi membahasnya sih?” suara Hoon terdengar begitu dingin saat mengatakannya.
“Waktu itu aku tidak tahu kau melarikan diri dari siapa. Tapi kali ini aku tahu kau melarikan diri dari Zoey kan?”
“Kenapa kita jadi membahas Zoey sih?”
“Karena wanita itu bukan orang yang bisa aku abaikan atau aku tinggalkan begitu saja...” ucapan Seo Jin membuatku membuka mata. Tatapan mata kami seketika bertemu, membuat jantungku tiba-tiba bergejolak.
“Hyung benar-benar tertarik padanya?”
Aku seketika berdiri, aku ingin pergi dari tempat itu. Aku tidak ingin mendengarkan percakapan ini. Entah kenapa tiba-tiba nyaliku hilang dan aku ingin kabur saja. Aku tidak pernah membayangkan aku akan di hadapkan dalam kondisi seperti ini.
Seo Jin ikut berdiri dan ia merentangkan tangannya, menghalangi langkahku. Aku mendorong bahunya agar ia menyingkir tapi Seo Jin justru menjawab tepat di telingaku, “Ya, bahkan sebelum aku tahu kalau ia dekat denganmu...”
Aku mendongak dan wajah kami hanya berjarak sejengkal tangan, bola mataku bergetar menatap matanya. Apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini! Aku bisa merasakan seluruh aliran darah dalam tubuhku dipompa jantungku secara upnormal ke kepalaku. Telinga dan wajahku mulai terasa panas, menunjukkan bahwa wajahku sudah bersemu merah saat ini.
“Hoon-ah...” Seo Jin menangkap bahuku dengan tangannya, “Aku bukan tipe orang yang akan mencuri startmu, aku melihatmu berlari padanya lebih dulu, tapi kini apa yang harus aku lakukan jika kau berhenti dan berbalik arah seperti itu?”
“Hyung, kita sudahi saja pembicaraan kita...”
“Kau!”
“Aku sudah memutuskan untuk pergi ke sini. Apa kau pikir keputusanku ini mudah? Aku tidak punya cukup keberanian untuk bersamanya. Kalau Hyung mau, ambil saja! Aku...”
Ah kenapa aku harus mendengarkan kalimat menyakitkan itu. Ia pikir aku barang yang bisa seenaknya ia buang dan diambil orang!
“YA!” teriakan Seo Jin menghentikan ucapan Hoon dan anehnya juga menyurutkan amarah dalam hatiku. Aku sampai terlonjak kaget mendenger suaranya yang biasanya dalam dan lembut itu, kini terdengar menggelegar marah. Aku bahkan bisa merasakan tangannya bergetar menahan amarah dan tanpa ia sadari, cengkramannya di bahuku semakin kuat.
“Kenapa kau jadi seperti ini?” tanya Seo Jin begitu ia bisa mengendalikan intonasi suaranya.
“Aku sudah memutuskan untuk pergi Hyung. Tidak mudah untuk berada di sisi Zoey. Aku tidak bisa melindunginya tanpa menyakiti hati ibuku. Aku mohon, lindungilah dia...” suara Hoon terdengar begitu putus asa.
“Jika aku melindunginya, itu bukan karena permintaanmu tapi karena aku bisa melakukannya. Bahkan jika aku tidak bisa melindunginya pun tidak masalah, aku akan selalu di sisinya. Hoon-ah... kita tidak harus menjadi Iron Man atau Superman agar bisa melindungi seseorang...” Seo Jin perlahan-lahan kembali duduk di sofa. Tangannya yang semula memegang bahuku kini berpindah menggenggam tanganku.
“Zoey tidak pernah meminta siapapun untuk melindunginya, ia hanya butuh kau atau seseorang yang akan selalu mendukungnya...” lanjutnya.
“Pikirkan baik-baik Hoon, tapi ingat ini. Kau mungkin menemukan jawabannya nanti, tapi jangan sampai kau membuat dirimu sendiri menyesal. Zoey tidak akan diam saja menunggu, ia juga akan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat hingga ia tidak memerlukan orang lain lagi untuk melindunginya... “ begitu Hoon hanya diam saja, Seo Jin mengakhiri sambungannya.
Aku membuang nafas dengan perasaan bersalah, Seo Jin seharusnya tidak perlu terlibat dalam hal ini. Keputusanku menghubunginya mungkin saja salah, tapi aku juga berterimakasih karena ia ikut kesal mewakili diriku. Tapi saat ini yang paling penting, apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan kecanggungan yang seakan membunuhku ini?
Aku menggigit bibirku saat Seo Jin masih saja diam dan tidak mengatakan apapun untuk waktu yang cukup lama. Aku sudah kembali duduk di sampingnya dan menatapnya dengan penuh harapan, ayolah katakan sesuatu.
“Aku lapar...” kata Seo Jin lirih.
“Perutmu, aku bisa mendengarnya dengan jelas, kau lapar kan?” Seo Jin terkekeh sambil menatapku. Matanya seperti bulan sabit saat tersenyum seperti itu.
“Oh iya...” aku mengucapkan terima kasih karena perutku telah menyelamatkan aku kali ini.
“Tak apa-apa, semua akan baik-baik saja...” kata Seo Jin sambil menatapku dengan mantap, “maaf karena aku emosi tadi...”
“Tidak! Tidak, aku justru yang seharusnya minta maaf karena telah melibatkanmu, Oppa. Tapi, lebih dari itu, terima kasih...” aku mengantakannya dengan sungguh-sungguh. Setidaknya aku tahu di mana Hoon sekarang dan alasannya pergi. Aku harus mengubur keinginanku untuk mengetahui kenapa dulu ia menyuruhku untuk melarikan diri dan kenapa ia melakukannya.
“Apa yang akan kau lakukan dengan Hoon?”
“Nothing...” Seo Jin menuntut jawaban yang lebih jelas dariku, “ehmm, itu keputusan Hoon, dan aku harus menghormatinya...” aku berdiri tapi Seo Jin kembali menarik tanganku.
“Kau tidak sedih? Kecewa? Marah? Kau menyukai Hoon kan?”
“Wait! Wait...” aku hanya bisa tertawa mendengar pertanyannya.
“Sedih, jelas karena ia pergi begitu saja. Kecewa, tidak terlalu sih. Hoon selalu punya alasan untuk pergi dan aku tidak punya alasan untuk menahannya. Perasaan kami tidak cukup besar untuk menanggung semua resiko yang harus kami hadapi...” aku menatap jauh ke langit, aku sudah memiliki firasat bahwa tangan kami tidak saling bersambut. Hoon seolah mempunyai beban di pundaknya dan ia tidak mau membaginya denganku atau mungkin saja Hoon merasa aku tidak akan mampu menanggung beban itu bersamanya. Entahlah...
“Aku tidak marah, aku tetap ingat bahwa ia adalah orang yang menolongku selama di Korea dan semua orang tahu, kebaikan tidak boleh dibalas dengan amarah...” aku menoleh dan menatap Seo Jin, “terima kasih, Oppa benar, aku munafik kalau aku berkata aku tidak membutuhkan seseorang untuk melindungiku. Tapi aku akan semakin kuat sehingga aku bisa melindungi diriku sendiri...”
“Ah aku lapar, apa Oppa tidak punya makanan?” aku sengaja berdiri secepat mungkin untuk menghindari tatapan Seo Jin.
“Let me hug you...” permintaan Seo Jin tentu saja membuatku terkejut, aku mematung di tempatku berdiri.
“NO!” jawabku tegas. Aku membalikkan badan dan memberinya ancaman dengan mataku.
“Kemarilah...” ia melangkah mendekatiku. Aku berjalan menuruni anak tangga beranda untuk menghindarinya.
“No, stop there!” Seo Jin tidak menghiraukan ancamanku dan berlari mengejarku. Ia lalu menangkap bahuku dan menarik tubuhku ke arahnya.
“Please, lepaskan aku...” aku mencoba mendorong tubuh Seo Jin. Aku bisa saja memukul perutnya atau bahkan membanting tubuhnya. Tapi itu berarti aku menyakitinya dan aku tidak menginginkannya.
“Oppa...” ucapku di dadanya.
“Ssstttt...” Seo Jin mengeratkan tangannya di bahuku dan menepuk-nepuk pundakku pelan.
Aku membenci ini!
Aku mengindarinya karena aku tahu maksud dari pelukannya. Ia ingin memelukku bukan karena ia ingin melakukannya tapi karena ia tahu bahwa aku membutuhkannya. Aku tidak ingin lemah di hadapannya, aku tidak ingin dikasihani olehnya. Tembokku masih sebening kaca hingga ia tahu bagaimana perasaanku sebenarnya.
“Aku benar-benar tidak menyukai diriku yang seperti ini. Aku tidak boleh lemah saat ini tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku benar-benar tidak cocok tinggal di Korea, sejak kepulanganku ke sini mataku selalu penuh dengan air mata. Aku seolah-olah membongkar tabungan air mataku selama belasan tahun...” aku mengusap air mataku dan mendongak. Aku tidak bisa melihat wajah Seo Jin karena terhalang oleh dagunya, “aku sudah hampir mati beberapa kali dan aku tidak punya nyawa cadangan untuk berhadapan dengan fans Oppa. Jadi, bisakah kau melepaskanku sekarang? Aku sudah tidak apa-apa...”
“Fansku sudah jinak, mereka tidak akan menentang jika aku menikah...” Seo Jin melepaskanku, “Yuk, kita makan. Asisten rumah tangga Eomma sudah berdiri gelisah di sana sejak tadi...” aku menoleh dan melihat orang yang di sebut Seo Jin menatap kami dengan perasaan tidak nyaman.
“Kenapa Oppa tidak mengatakan apapun?”
“Buat apa?” Seo Jin mendahuluiku berjalan masuk ke rumah, “kita makan dulu setelah itu aku akan mengantarmu pulang...”
***