Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 47; Press Conference dan Gyeonggi Retirement Home



“Zoey-ssi...”


Aku mengerjapkan mataku saat tangan dingin Hye Sung menyentuh lenganku. Aku membuka mata perlahan dan melirik sekilas ke arah jam dinding. Sudah pukul 9 pagi. Aku duduk dengan mata setengah terpejam. Masih berusaha untuk mengumpulkan kesadaranku.


“Lihat ini...” Hye Sung meraih remote TV dan langsung mencari saluran berita pagi ini. Mataku yang tadinya setengah terpejam kini sepenuhnya terbuka melihat Seo Jin yang ada di sana. Ia terlihat sedang melakukan konferensi pers di depan awak media.


Aku tidak menyangka ia harus sampai sejauh ini menanggapi berita gosip itu. Jika perusahaannya merasa perlu melakukan hal ini, berati Seo Jin termasuk artis yang cukup berpengaruh baik di dalam perusahaan atau di dunia entertaiment. Aku menajamkan telingaku untuk mendengarkan konferensi persnya.


“Ya, benar, orang yang ada di foto itu adalah saya. Bagi saya menolong orang lain itu adalah hal yang sudah sepantasnya saya lakukan terlebih lagi orang ini adalah orang yang istimewa bagi saya...” pernyataan Seo Jin membuatnya di hujani oleh  flash kamera dan suara wartawan mulai berdengung bertanya banyak hal.


“Saya tidak bisa mengatakan bahwa wanita ini adalah kekasih saya karena memang dia bukan, atau belum menjadi kekasih saya. Tentunya saya berharap ia akan mempertimbangkan saya dan menerima perasaan saya. Jadi saya tidak  bisa menjawab dengan pasti karena jawaban yang tuan-tuan semua harapkan juga saya harapkan dari wanita ini.”


“Yang paling penting adalah, wanita ini bukanlah public figure seperti saya. Jadi saya mohon dengan sangat untuk tidak menjadikan informasi pribadinya menjadi konsumsi bagi public. Saya akan sangat menghargai jika Tuan-tuan bisa menghormati privasinya. Kedepannya, jika memang wanita ini adalah jodoh saya, saya akan memperkenalkannya secara resmi terutama kepada fans-fans saya. Terima kasih...” Seo Jin lalu berdiri dan pergi meninggalkan lokasi konferensi pers.


Spekulasi-spekulasi dari pengakuan Jin kemudian muncul dengan berbagai riset yang dilakukan oleh wartawan. Walau wajahku tidak terlihat jelas di sana, foto-foto kami  berdua muncul bersamaan dengan opini-opini dari pembawa acara.


Klik


Aku menoleh pada Hye Sung yang tiba-tiba mematikan TVnya.


“Waktunya kita sarapan...” Hye Sung kemudian mendahului keluar. Orang ini kupikir lama-lama semakin kurang ajar.


***


Aku berdiri tidak nyaman dengan sepatu flatku saat menyambut direktur dan beberapa dewan direksi yang hadir di acara amal siang ini. Tamu undangan juga sudah hampir semuanya hadir, jajaran direktur dari Perusahaan JM pun sudah hadir. Kecuali Mo Tae Dong. Aku memanjangkan leherku untuk mencari keberadaannya, namun aku tidak bisa menemukan sosoknya.


“Kau baik-baik saja?” suara Seo Jin mengagetkanku. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di sampingku sambil mengatur nafasnya, “maaf aku terlambat, aku harus mengurus wartawan infotainment yang ingin masuk ke wilayah panti...”


“Acaranya belum di mulai kok...” aku menggigit bibirku sambil diam-diam memperhatikan penampilan Seo Jin yang terlihat lebih formal dari biasanya. Ia menggunakan kaos turtelneck berwarna coklat dengan jas hitam yang cukup panjang sampai ke pahanya. Rambutnya pun ditata dengan belahan dua banding delapan yang menunjukkan kesan maskulin yang kuat, tidak seperti biasanya yang terkesan fresh dan lembut.


“Ada apa?” tiba-tiba Seo Jin menunduk dan memperhatikan wajahku. Aku buru-buru menggeleng dan menjauhkan wajahku darinya. Aku tidak menggunakan high heals sehingga tinggi kami terlihat begitu kontras.


“Kakimu baik-baik saja?” Seo Jin kembali menunduk untuk melihat kakiku.


“Tidak apa-apa...” jawabku lirih.


“Kau baik-baik saja Zoey?” Direktur Ahn mendekatiku saat Seo Jin masih bernyanyi di atas panggung.


“Saya baik-baik saja...”


“Aku kaget sekali dengan berita tadi pagi. Pasti kau kan yang ada di dalam foto itu?” wajah Direktur Ahn terlihat khawatir dengan pemberitaan yang melibatkan putranya itu.


“Maafkan saya karena telah membuat Oppa dalam kesulitan Eomoni...”


“Tidak, bukan itu maksudku Nak. Eomma menghawatirkanmu, Eomma takut media akan mengejar dan menyebarkan informasi pribadimu. Ditambah lagi Eomma melihat wajah murammu dari tadi pagi yang dan anakku itu tidak pernah menjauh darimu. Kakimu kenapa?” Eomoni ternyata memperhatikan dengan benar sikap Seo Jin sepanjang acara ini. Seo JIn sebisa mungkin berdiri dalam jangkuanku. Ia juga selalu mengulurkan lengannya setiap kali jalan yang kami lalui cukup sulit, baik ketika naik turun panggung atau saat berada di taman tempat berlangsungnya acara. Benar-benar sikap seorang gentlemen


“Ah... saya menginjak pecahan vas...” jawabku sambil mengerakan kakiku untuk menyakinkan Direktur Ahn bahwa aku sudah baik-baik saja.


“Ya Tuhan...kau sudah ke dokter?” aku hanya menjawabnya dengan anggukan mantap. Direktur Ahn lalu pergi meninggalkanku saat namanya di panggil oleh rekannya. Aku kembali sendiri sambil mengamati sekitar. Syukurlah acara ini berlangsung dengan lancar, tidak ada satu masalah apapun yang terjadi.


“Direktur Park, mohon maaf sekali karena Direktur utama kami tidak bisa hadir lagi. Saya merasa tidak nyaman karena hal ini...” Direktur Im dari Perusahaan JM menghampiriku dan meminta maaf atas keabsenan Mo Tae Dong. Aku sendiri tidak paham kenapa Mo Tae Dong tidak ada di sini saat ini padahal jelas-jelas aku melihatnya tadi malam di cottage.


“Tidak masalah, kami hanya melayani dan kehadiran Anda sudah cukup, tidak perlu sungkan seperti itu...” kami melanjutkan percakapan tentang kemanjuan perusahaan dan rencana pengerjaan proyek bersama antara Mirae dan JM di rumah sakit utama Mirae Grup. Aku tidak tahu akan hal ini dan memutuskan menyimak pembicaraan ini dengan hati-hati.


“Belum ada keputusan final terkait dengan pengelolaan rencana pembangunan Rumah Sakit Herbal Tradisional ini. Sangat disayangkan sekali jika rencana ini tidak bisa final...” secara gartis besar aku memahami proyek pembangunan ini. Hanya saja aku tidak menyangka bahwa Mirae Grup mau bekerja sama dengan tingkat seserius ini dengan Perusahan JM.


“Semoga tidak ada masalah ke depannya...” gumam Direktur Im sambil kembali menikmati pertunjukan di atas panggung yang semakin seru. Kali ini penghuni panti mulai ikut menyumbangkan lagu dan berjoget bersama di sekitar panggung.


Aku pamit undur diri dan berjalan mengelilingi taman untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Aku berjalan ke ujung taman yang langsung menghadap lereng yang tidak terlalu terjal. Terdapat pagar setinggi pinggang yang memagarinya. Saat aku mendekati pagar, ternyata ada jalan setapak turun yang sengaja di buat untuk jalan-jalan atau olahraga di balik rindangnya pepohonan di bawah sana.


Mataku lalu menangkap sosok jangkung yang sedang berdiri sambil menyesap rokoknya di ujung pagar. Ia tersembunyi di balik semak-semak. Aku sampai hapal dengannya walau hanya punggungnya yang aku lihat saat ini. Ya, tidak salah lagi, laki-laki itu adalah Mo Tae Dong. Kali ini aku yang berjalan mendekatinya.


“Oh, perkembangan yang luar biasa. Sebelumnya kau seperti kucing kecil ketakutan setiap kali melihatku. Tapi lihatlah siapa yang datang kali ini...” Mo Tae Dong menyadari kehadiranku. Ia menyandarkan tubuhnya di pagar sambil memperhatikanku dengan tajam.


Aku bohong kalau aku tidak takut. Tapi sepertinya percuma juga aku menghindar. Laki-laki ini akan selalu muncul dan menunggu aku untuk mendekatinya lebih dulu. Aku tidak tahu kenapa ia merubah strateginya seperti ini.


“Kenapa kau ada di sini?”


***