
Di dalam apartemen yang sekarang aku dan Seo Jin tinggali, sudut sofa yang langsung menghadap ke sungai Han telah menjadi favoritku. Waktuku aku habiskan di sana, entah sambil mendengarkan lagu, mulai mendesain lagi, membaca, atau hanya sekedar duduk sambil menghabiskan secangkir kopi ataupun teh hangat. Aku memilih untuk tidak banyak memikirkan apapun dan fokus untuk memulihkan diri sambil istirahat.
Aku lebih sering sendiri di rumah karena Seo Jin sibuk menyiapkan konsernya. Konser yang membuatku berada di dalam sebuah mimpi yang tidak ingin aku akhiri.
“Ajak Hye Sung bersamamu. Eomma juga akan datang, kau bisa menghubunginya untuk datang bersama...” pamit Seo Jin subuh-subuh hari sambil mengusap rambutku.
“Aku akan mengantarmu ke depan...” aku beranjak untuk bangun namun Seo Jin menyentuh dahiku sehingga aku tidak bisa menegakan badanku.
“Tidak perlu. Ini masih terlalu pagi. Oppa berangkat...” Seo Jin mengecup pelan dahiku lalu bibirku sebelum pergi untuk melakukan persiapan konsernya. Walau dia mencegahnya aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak mengikutinya. Aku mengantarnya sampai depan pintu.
“Hati-hati...”
“Aku sudah menyuruhmu untuk kembali tidur kan?” ia lalu melambaikan tangannya, menyuruhku untuk mendekat dan menyambut pelukannya sebelum ia benar-benar pergi.
Hari ini adalah hari dimana konser pertama dari tur dunia SG Idol di mulai. Konser ini sempat tertunda karena kecelakaan yang menimpa Seo Jin dan akhirnya hari ini konser yang sudah mereka persiapkan dengan matang ini dapat dilaksanakan. Konser Seo Jin akan digelar di KSPO Dome pukul tujuh malam.
Ini kali pertama dalam hidupku aku menyaksikan sebuah konser musik. Hal yang sangat menarik namun di sisi lain aku juga khawatir karena ini konser Seo Jin. Aku takut kalau fansnya akan marah dan kecewa dengan kedatanganku ke sana.
Tapi kekhawatiranku itu tak berarti. Saat aku datang dengan Eomma, petugas langsung membawa kami di ruang tunggu VIP khusus keluarga. Semua tamu undangan yang mayoritas berasal dari keluarga member SG Idol ada di sana. Beberapa idol junior juga berlalu lalang untuk memberi selamat ataupun untuk menyapa sebelum konser di mulai.
“Sayang...” aku terkejut saat tiba-tiba Seo Jin muncul di sampingklu. Ia sudah menggunakan kostum panggung dengan make up full yang membuatku pangling. Member SG Idol pun muncul satu persatu tak lama kemudian.
“Oppa membuatku kaget!” aku mencubit perutnya pelan. Banyak orang yang melihat ke arah kami dengan penuh ketakjuban. Aku bisa merasakan kelegaan yang terpancar dari wajah mereka. Eomma yang memperkenalkanku terlebih dahulu pada mereka, dan mereka sangat senang mendengar kabar hubungan kami. Hal ini justru sangat mereka nantikan terlebih lagi banyak dari member SD Idol yang sudah memasukki usia menikah dan Seo Jin adalah member tertua.
“Tidak papa. Kau sudah dari tadi?” Seo Jin menyisir rambutku dengan jemarinya lalu memanggil seseorang, “tolong fotokan kami bedua.”
“Aku tidak memakai make up sama sekali!” tolakku.
“Eomma!” Seo Jin memanggil ibunya lalu meminta lipstik ,”nih...” katanya sambil mengulurkan lipstik itu padaku, “apa kau memintaku untuk...” aku langsung merebutnya dari tangan Seo Jin dan mengenakannya sebelum ia melakukan hal yang membuatku malu.
“Sudah kan? Kau tidak tahu kalau kau selalu cantik bahkan tanpa make up sekalipun...” Seo Jin mengatakannya sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.
“Sangat menggelikan...”
“Senyum, dan buat mereka semua iri...” bisiknya di telingaku. Aku mau tidak mau tersenyum karena merasa tingkah Seo Jin ini sangatlah kekanak-kanakan.
1 2 3! KLIK!
***
KYAAAAAA....
Teriakan riuh penonton langsung memenuhi seluruh dome begitu musik pembuka mulai terdengar. Bahkan tubuhku meremang mendapatkan energi yang begitu dasyat dari suasana panggung dan juga fans yang meneriakkan nama member SG Idol satu persatu. Ini benar-benar dunia baru untukku. Mataku tidak bisa lepas dari atas panggung dan jatungku ikut berdetak keras menunggu kemunculan sang bintang malam ini.
Tiba-tiba hening dan suara seseorang yang sudah tidak asing memecah keheningan itu dengan suaranya yang lantang. Suara fans pecah dan musik mulai terdengar bercampur dengan suara para bintang itu yang saling mengisi satu sama lain menciptakan harmoni yang sangat luar biasa.
Aku hanya bisa terdiam sambil menutup mulutku yang tak henti-hentinya terkejut dengan performance mereka di atas panggung dan juga energi postitif yang menguar menyebar di seluruh arena. Air mataku bahkan menetes saat mereka membawakan lagu-lagu balad yang begitu menyayat hati.
“Kau baik-baik sayang?” tanya Eomma begitu melihatku tak hentinya menangis. Aku hanya mengangguk cepat.
“Sangat luar biasa kan? Eomma selalu ingin merasakan energi ini sampai Eomma mati nanti. Ini adalah hasil keringat dan kerja keras mereka selama ini. Kau bisa merasakannya dan memahaminya nanti ketika kau merasa putus asa dengan ketidakhadiran Seo Jin di sampingmu. Inilah dunia yang membesarkannya. Aku harap kau bisa mengerti dan memahami itu...” Eomma mengusap rambutku pelan dan memastikan aku mendengarkannya. Aku kembali mengangguk dan mengusap air mataku yang lagi-lagi mengalir.
“Saya mohon maaf pada para fans karena saya sempat membuat kalian semua khawatir dengan apa yang terjadi dengan saya sekaligus berita yang belum lama ini kalian semua dengar...”
“Tidaakkk...” teriakan fans menggema di seluruh arena.
“Saya sengaja tidak mengadakan konferensi apapun untuk menyampaikan kepada publik tentang rencana pernikahan saya. Saya ingin orang-orang yang mencintai saya di sini tahu pertama kali tentang berita ini. Apa kalian semua kecewa dengan pernikahan saya?”
“TIDAAAAKKK!”
“Syukurlah. Saya tidak menutup mata bahwa mungkin ada sebagian dari kalian yang meyayangkan keputusan saya ataupun terluka oleh saya. Tapi saya menjamin bahwa saya benar-benar menemukan orang yang sangat tepat yang bisa mengerti bahwa selain saya mencintainya, kalianlah yang pertama kali saya cintai dalam kehidupan saya dan seterusnya akan seperti itu. Apa kalian juga akan sama pengertiannya dengan dia sehingga merelakan saya untuk berbagi cinta kalian bersamanya?”
“YAAAA....!”
Air mataku tak hentinya mengalir mendengar permohonan Seo Jin kepada fansnya. Keinginannya untuk bisa benar-benar mengakuiku membuat hatiku tersentuh. Ini kali pertamanya aku merasa aku benar-benar di terima di dalam kehidupanku setelah sekian tahun aku hidup dalam penolakan.
“Terima kasih...” Seo Jin menundukkan badannya 90 derajat di atas panggung yang langsung di sambut pelukan oleh teman-temannya.
“Aku juga mau. Bukankah sudah saatnya aku juga menikah?”
“Aku juga!”
Teriakan penonton kembali memenuhi arena melihat kekonyolan mereka di atas panggung. Aku dalam kondisi yang sangat lucu, antara menangis sekaligus tertawa melihat cara mereka berkomunikasi dengan penggemarnya. Dengan dua lagu penutup. Konser tiga jam itu berakhir dengan sukses.
Malam ini, aku merasa aku adalah wanita paling di berkati di dunia.
Aku kembali mendapatkan alasan untuk kembali dan menikmati hidupku yang tersisa.
Dunia yang aku miliki sebelumnya begitu gelap dan tanpa arah.
Tapi malam ini, aku merasa dunia yang aku tempati begitu gemerlap dan menciptakan candu.
Aku kembali menyesap kopi dari cangkirku sambil memandang Sungai Han yang kali ini terlihat berbeda dari biasanya. Bukan sungainya yang berubah, tapi sudut padangku yang berubah. Aku bisa merasakan energi yang dibawa olehnya hingga aku bisa merasakan alasan kenapa banyak orang yang menginkan pemandangan ini dari rumahnya. Sungai itulah yang memberikan energi pada rakyat Korea. Ia adalah simbol kehidupan, simbol kemakmuran Korea. Geliatnya tanpa henti. Gemerlapnya semakin menjadi.
“Kau belum tidur?” aku langsung meletakkan cangkir kopiku dan berlari menghampiri Seo Jin yang baru saja pulang setelah menyelesaikan pesta setelah konsernya.
“Oppa melakukan yang terbaik hari ini. Oppa benar-benar telah bekerja keras. Terima kasih...” Aku memelukknya dengan erat.
“Ada apa ini? Tidak biasanya?” ia melepas pelukanku agar bisa melihat wajahku. Aku langsung menarik lehernya dan menyatukan bibirku dengan bibirnya. Tidak ada kata-kata yang bisa mewakili rasa syukurku telah dipertemukan dengannya. Aku merasa benar-benar disayangi dan diakui di dunia ini.
“Kau yang memulainya...” bisik Seo Jin lembut di telingaku. Ia menatapku sekilas lalu kembali mencium bibirku dengan penuh gairah. Aku membiarkan diriku kembali tenggelam dalam kenikmatan dunia yang fana ini. Aku biarkan ia mengambil semua atas kendali diriku karena aku tahu bahwa kebahagiaan yang aku rasakan saat ini bisa datang dan pergi kapan saja. Tanpa peringatan dan tanpa aba-aba.
Tidak selamanya kita bahagia begitu pula tidak selamanya kita menderita. Kita harus mengalami keduanya untuk bisa tahu bagaimana rasanya bersyukur sekaligus menikmatinya.
***