Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 62; Zirah Merah



“Apa Anda akan mencobanya dulu, Nona?” aku menatap Soo Ah dari balik cermin besar yang ada di hadapanku. Ia membawa sebuah maxi dress berwarna merah cerah yang sangat mencolok. Aku berbalik dan meraih gaun itu dengan penuh kekaguman.


“Perfect sekali!” aku mengambil gaun itu dari tangan Soo Ah untuk mencobanya, “bisa kau bantu aku?”


“Tentu saja...”


Aku sengaja memesan gaun ini seminggu sebelum pesta sekaligus pertemuan penting nanti malam. Juna menyuruhku untuk tampil semencolok mungkin dalam acara itu agar menarik perhatian semua orang ke padaku. Walau aku tidak tahu peruntukan tepatnya, aku buru-buru mendesain sebuah gaun yang simpel namun elegan dan memasukkannya ke studio La Red de Alice agar Soo Ah bisa mengerjakannya langsung.


“Bagaimana menurutmu?” tanyaku begitu gaun itu menempel sempurna di tubuhku. Aku mengangkat sedikit bagian ekor gaun yang sengaja aku buat jatuh memanjang ke belakang dan berputar agar Soo Ah bisa melihatnya.


“Anda sangat luar biasa, Nona!” Soo Ah menatapku dengan takjub, “saya tidak menyangka Anda memberikan kepercayaan sebesar itu pada saya...”


“Aku memilihmu karena memang kau memiliki bakat Soo Ah-ssi.”


Hye Sung yang melihatnya sepertinya juga menyutujui apa yang dikatakan oleh Soo Ah, “Anda akan menjadi pusat perhatian seperti yang Anda inginkan...”


“Apa kau yakin kau tidak ingin mengenakan gaun juga Hye Sung-ah? Aku yakin akan banyak laki-laki yang menoleh padamu dengan tampilan itu.” Aku menggoda Hye Sung. Selama aku mengenalnya ia selalu menggunakan baju yang sangat biasa dan terkesan formal.


“Akan lebih baik jika saya sebisa mungkin tidak terlihat banyak orang. Saya bukannya mencari jodoh tapi saya sedang bekerja”, katanya tegas.


“Kau sama sekali tidak asik...” aku mencebikkan bibirku kesal dan kembali melihat pantulan di cermin kaca, “apa aku perlu ke salon untuk memperbaiki rambutku? Hair extension mungkin?” rambutku sudah lebih panjang namun potongannya terkesan berantakan. Aku tidak pernah kesalon setelah kejadian itu.


“Jika kita berangkat sekarang kita masih punya cukup waktu...” Hye Sung sudah dengan gesit mengemasi barangku sementara Soo Ah membantuku berganti baju.


Seminggu yang lalu, tanpa memberitahuku terlebih dahulu lagi-lagi Ayah telah mengundang orang-orang penting di perusahaan dan juga investor dalam sebuah pesta. Ia berencana untuk mengenalkanku ke jajaran dewan direksi sekaligus mengumumkan pertunangan Keluarga Park dan Keluarga Hwang.


“Apa Appa sudah menanyakan pada Eomma tentang perjanjian kita?” tanyaku begitu ia mengatakan rencananya padaku. Aku menatap Ibu yang juga ada di dalam ruang kerja Ayah. Beliau menekuk wajahnya dengan penuh kekhawatiran. Ibu sempat mengedipkan matanya memberikan aku kode yang entah apa artinya.


“Eomma-mu tidak bisa berpisah dengan Appa.”


“Itu benar Zoey, apa yang akan Ibu lakukan? Ibu tidak pernah bekerja sebelum ini dan akan sulit bagi ibumu yang sudah tua ini untuk hidup sendiri.” Aku harus berusaha menahan rasa takjubku dengan akting ibuku yang sangat meyakinkan itu. Sosoknya kini terlihat begitu lemah dan juga rapuh. Sorot matanya juga terlihat redup dan lembut. Benar-benar tidak masuk akal.


“Apa...apa Eomma akan membiarkanku menikah dengan Keluarga Hwang?” aku sempat tergagap mendapati akting ibuku yang sempurna itu, “Eomma hanya perlu meinggalkan keluarga ini dan pergi bersamaku!”


“Tapi Eommamu menolaknya...”


“Kalau begitu aku tidak akan menikah dengan Hwang Joon! Apa Appa benar-benar ingin menjualku?”


"Jaga bicaramu Zoey! Setahun itu bukan waktu yang lama. Tidak bisakan kau membantu keluarga ini sebentar saja?" Aku menatap wajah ayahku tidak percaya. Bisa-bisanya ia berkata hal itu, yang ia gadaikan di sini adalah masa depanku.


“Maafkan ibu, Zoey!” kini ibuku mulai menangis tergugu. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku merasa ibuku punya dua kepribadian yang berbeda. Aktingya begitu sempurna hingga aku sendiri pun tidak bisa membedakan mana yang asli dan yang bukan.


“Percayalah pada Appa, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan nantinya”, aku langsung keluar dari ruang kerja sambil membanting pintu dengan keras. Aku masih bisa mendengar isak tangis ibu begitu aku keluar dari ruangan.


“Zoey akan mendapatkan kebebasannya Leona, setelah setahun jika ia mau ia bisa bercerai dan aku akan melepaskannya setelah itu. Kau hanya perlu mendukungku...” aku bisa mendengar suara ayahku dari balik pintu.


“Kau menempatkannya dalam bahaya! Aku bisa saja kehilangan dia!”


Hening. Kembali suara tangis ibuku yang aku dengar.


“Eomma sangat hebat kan?” suara Juna membuatku terkejut. Ia sudah berdiri di belakangku sambil mengenggem segelas kopi di tangannya. Ia lalu berjalan mendahuluiku, mengajakku untuk berjalan mengikutinya.


Juna membawaku masuk ke dalam kamarnya dan kami berdua duduk di kursi santai yang ada di dalam rumah kacanya. Aku duduk senyaman mungkin sambil menyesap kopi yang diberikan Juna padaku sebelum masuk ke dalam kamar.


“Apa rencanamu selanjutnya?”


“Uncle Suthley akan datang malam itu, tentunya tanpa sepengetahuan Ayah. Ia yang akan menjadi pematiknya nanti...” aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. Sejujurnya aku belum pernah bertemu langsung dengan Uncle Suthley. Selama di Emerland Crop, aku hanya berhubungan dengan Paman Embry ataupun asisten Uncle Suthley. Aku hanya tahu tentangnya dan kaitannya dengan bisnis yang ia kelola bersama Emerland Crop.


“Apa ada yang harus aku siapkan?”


“Nuna hanya perlu mempelajari beberapa dokumen dan juga tampil semewah mungkin. Curi perhatian semua orang dalam acara itu...” Juna menatapku dengan penuh keyakinan.


“Kau ingin aku dilihat semua orang?” itu tidaklah sulit sebenarnya. Agar diperhatikan banyak orang, kita tinggal memilih baju zirah yang tepat dan aku adalah pembuat zirah itu sendiri.


“Ya, aku yakin itu hal yang sangat mudah bagimu. Sisanya serahkan pada Uncle.”


Aku mengikuti rencana itu tanpa banyak berkomentar. Berkas yang Juna berikan juga cukup banyak meliputi kotrak antar perusaan dan rencana kontrak yang akan dilaksanakan. Beberapa laporan keuangan yang telah diberi tanda khusus oleh Juna. Sekali lihatpun aku sudah tahu bahwa ada penyelewengan dana perusahan yang cukup besar untuk bisnis lain di luar bisnis resmi perusahaan. Ayah dan beberpa orang dalam kelompoknya diam-diam menginvestasikan beberapa won ke perusahaan asing.


Aku kembali menatap pantulan wujud lain diriku dalam cermin besar di hadapanku. Wanita yang aku lihat itu terlihat sangat kuat sekaligus anggun. Gaun merahnya sempurna menjadi baju zirah kuat yang menutupi semua kelemahannya. Make up artist yang ia gunakan juga sempurna menutupi celah kerapuhan yang ada di wajahnya. Ia terlihat sempurna dengan aura yang mengintimidasi semua orang yang melihatnya.


“Anda sudah siap Nona?” Hye Sung masuk ke dalam ruanganku dan terkejut saat melihatku. Ia sempat terdiam beberapa detik sebelum mengajakku untuk segera pergi dari salon, “saya jatuh cinta dengan Anda Nona.”


“Apa kau sedang mengejekku?” Hye Sung membantuku memasukkan ekor gaunku ke dalam mobil agar tidak terjepit saat aku menutup pintu.


“Ya, Anda tidak seperti Zoey yang saya kenal.” Hye Sung menutup pintu penumpang dan berlari ke arah kemudi, “Anda siap Nona?”


“Tentu saja, ini baru medan perang yang pertama dan kita tidak akan tahu apa yang terjadi di sana.”


Sudah terlanjur basah.


Jika tidak berenang dengan mempertaruhkan nyawa


Maka yang terjadi sudah pasti


Tenggelam dan mati


***


Baju zirah: istilah yang digunakan untuk menyebut baju perang, semacam rompi atau armor yang digunakan di badan untuk melindungi diri.


Won: mata uang korea. Saya hendak menyebutkan "menginvestasikan beberapa rupiah" terlalu aneh karena latarnya Korea.