
Aku, Seo Jin, dan Hye Sung duduk bersama di meja makan untuk sarapan. Kami memulai hari ini dengan rasa canggung yang luar biasa. Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami bertiga dan hanya sesekali denting sendok yang mengenai piring yang memecah keheningan yag menyebalkan ini.
Sepulang Hye Sung, yang entah dari mana pagi tadi, ia tidak mengatakan apapun dan melakukan pekerjaannya dengan menyiapkan beberapa dokumen penting yang harus aku bawa dan baju yang akan aku kenakan. Aku bangun lebih dahulu dari Seo Jin sehingga aku bisa membersihkan diri dan ikut menyiapkan sarapan pagi.
“Kenapa kau tidak mengatakan apapun?” tanyaku karena melihat tingkah Hye Sung yang tiba-tiba diam.
“Lalu apakah aku harus bertanya apa yang kalian lakukan semalaman?” uh aku benci sekali nada bicaranya yang sok tahu ini. Hye Sung hanya tersenyum sekilas lalu kembali fokus ke pekerjaannya sampai waktunya sarapan tiba.
Tak beberapa lama kemudian bel berbunyi. Asisten rumah tanggaku lebih dahulu berdiri dan membukakan pintu. Terlihat Manajer Jo masuk ke dalam rumah dengan wajah yang tidak cukup menyenangkan walaupun hari masih pagi.
“Ada apa?” tanya Seo Jin begitu Manajer Jo duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya.
“Sarapan dulu Manajer Jo...” aku berinisitaif untuk berdiri dan mengambilkannya semangkuk nasi.
“Terima kasih...” katanya pelan sambil menerima mangkuk yang aku berikan, “ada fans yang mengikuti mobilmu dari tadi pagi. Aku sudah berusaha mengalihkannya namun tidak berhasil...” Manajer Jo lalu mulai memakan sarapannya dengan tenang. Hal ini sudah biasa terjadi namun kali ini urusannya lain karena Seo Jin ada di sini.
“Anda pergi bersama saya setelah sarapan. Biar Tuan yang mengantar Nona Zoey ke kantor...” Hye Sung memberikan solusi yang lagi-lagi tanpa persetujuanku.
“Kau sekarang berani Hye Sung-ah?” tegurku.
“Ingat Zoey-ssi, Anda yang diuntungkan di sini dan tentu saja Tuan Seo Jin...” Hye Sung masih tetap pada pendapatnya.
“Itu bukan ide buruk...” Seo Jin mengiyakan, “kita tukaran mobil sementara waktu. Aku masih ada waktu yang cukup banyak sebelum ke kantor.”
“Oppa sudah kembali bekerja?”
“Tentu saja, aku harus latihan lagi untuk persiapan konser musim semi nanti...” Seo Jin lalu berdiri dan mengemasi barangnya begitu melihat Manajer Jo selesai sarapan. Aku juga mengambil tasku dan bersiap untuk pergi ke kantor.
Seperti yang Hye Sung rencanakan aku pergi bersama Seo Jin setelah Hye Sung dan Manajer Jo terlebih dahulu menggunakan maserati milik Seo Jin. Tanpa aku sadari aku lebih banyak diam di dalam mobil dari pada Seo Jin yang sejak dari tadi menceritakan tentang tur dunianya.
“Kau hari ini terlihat berbeda, jujur ini kali pertama aku melihatmu menggunakan baju formal seperti itu...” Seo Jin mengalihkan pembicaraannya.
“Apa terlihat aneh?” aku ikut memperhatikan pakianku, mencari keganjilan yang mungkin saja terlewatkan olehku.
“Tidak, kau terlihat menawan, tapi aku tidak suka orang lain melihat kakimu. Apa itu tidak terlalu pendek?” Seo Jin melirik seklias ke arah kakiku.
“Aku menggunakan stoking yang cukup tebal Oppa. Kenapa Oppa tiba-tiba rewel? Bukannya Oppa sering bertemu gadis-gadis dengan kaki jenjang dan berpakain minim juga?” ledekku.
“Ya, tapi mereka bukan milikku, kau berbeda...”
DEG
Sial, ucapannya membuat seluruh organ di dalam diriku bereaksi. Orang ini berbahaya.
“Kau lupa memberikan tips pada sopirmu...” Seo Jin membuka maskernya dan memberikan pipiny padaku. Aku jelas tahu apa yang diinginkannya. Setelah memastikan tidak ada yang melihat kami, aku mengecup pipinya pelan. Tidak cukup dengan itu, Seo Jin kembali menarik leherku dan memberikan kecupan ringan dibibirku.
“Itu tidak cukup, tapi aku tidak ingin menghancurkan make up wanitaku...” ia kembali mengenakan maskernya, “see you, baby?”
Aku tersadar lalu keluar dari dalam mobil secepatnya. Begitu aku keluar, Seo Jin segera pergi dari kantorku. Aku menutup mulutku karena tidak kuasa untuk menahan senyumku. Aku lalu berjalan cepat masuk ke dalam kantor sebelum orang lain melihatku bertingkah semakin tidak wajar.
***
Pemegang saham dan dewan direksi telah sepakat untuk melakukan pemilihan presdir baru untuk Mirae Grup. Setelah diskusi internal, mereka akhirnya memutuskan dua nama muncul sebagai kandidat utama yaitu Zoey Cohen dan juga Park Dany. Dany Oppa akan menggantikan ayah sebagai pimpinan utama grup setelah bertahun-tahun menjadi wakil ayah. Sedangkan aku adalah seseorang yang terpilih dari hasil voting termasuk nama Juna, dan Hwang Joon.
Sore ini adalah penentuan akhir dari diskusi panjang itu. Hall utama Mirae Gurp telah diubah menjadi ruang pertemuan orang-orang penting bagian dari Mirae Grup. Ada podium, tempat pemungutan suara dan juga beberapa meja yang sudah ditata sedemikian rupa. Sebelum kami masuk ke dalam lokasi, kami diberikan lembar suara yang jumlah poinnya tergantung pada nilai saham yang dimilki di Mirae Grup.
Aku sudah duduk di kursi yang ada di atas podium. Berurutan dari sebelah kiri ada Uncle Suthley, aku, Dany Oppa, Ayahku dan juga Hwang Joon. Aku meremas tanganku di bawah meja melihat orang-orang yang mulai datang ke dalam hall. Tidak ada yang tahu pasti keputusan akhir atas pemilihan ini, begitu banyak kemungkinan dan juga opsi. Apa aku sudah benar dengan berada di sini?
“Tenanglah...” tanpa aku sangka Dany Oppa ikut menggengam tanganku, “apapun keputusannya, itu tidak akan merubah kenyataan bahwa kita adalah saudara. Hal yang paling membuatku sedih dari semua ini bukanlah perusahaan ini ada di tangan siapa. Tapi, kenapa kita harus bersaing padahal kita adalah keluarga...”
Aku tidak berani mentap Oppa langsung. Ia sepenuhnya benar, pertarungan ini tidak ada artinya namun itu semua harus terjadi. Aku ikut menggengam tangan Oppa. Aku tahu aku egois dengan terjun ke medan perang dengan alasan ingin bebas dari semuanya, tapi kini aku sadar bahwa korban sesungguhnya dari semua ini adalah Oppa.
Laki-laki ini telah kehilangan sosok ibunya sejak belia, kini ia harus ada di sini untuk menjaga keutuhan kelurga besarnya. Aku hanya bisa menatap sosoknya dari samping sambil menunggu hasil pemungutan suara diumumkan.
“Zoey...Nona Zoey?” aku menoleh ke arah MC yang memanggil namaku entah untuk kesekian kalinya. Aku menatapnya bingung dan saat pandanganku kembali ke arah audience, aku bisa melihat dengan jelas beberapa orang tersenyum padaku sambil mengucapkan selamat.
“Ha?”
“Ya, Anda akan menjadi Presdir baru Mirae Grup. Selamat!” aku menoleh pada Oppa dengan tatapan tak percaya. Walau aku sudah diberitahu kemungkinannya, tapi setelah melihat hasilnya, aku masih tidak bisa mempercayainya. Bagaimana bisa Mirae bisa jatuh ketanganku?
“Congratulation my Zoey!” Uncle Suthley langsung memelukku. Ia terlihat sangat puas dengan hasilnya. Aku juga bisa melihat kegembiraan muncul di wajah Ibu dan juga Juna yang ikut memberikan suaranya padaku.
“Kau yang terbaik Zoey...” Oppa memelukku dengan erat.
“Selamat! Nikmatilah posisimu sekarang Nak, kau tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Nikmatilah selagi kau bisa!” Aku melihat Ayah pergi dari ruangan tanpa menoleh lagi padaku. Hatiku rasanya pedih teriris sembilu. Kenapa semua ini harus terjadi.
“Kau harus lebih hati-hati Zoey...” ucapan Oppa membuatku mengerutkan dahi, “akan banyak yang mengincarmu mulai dari sekarang. Aku pergi dulu...” Oppa lalu berbalik dan ikut pergi dari ruangan
“Oppa tahu?” aku menghentikan langkahnya, ia menoleh padaku, “aku tidak bahagia berada di sini, jadi mungkin, aku tidak akan lama...”
Dany Oppa hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apapun.
Satu-satu orang-orang yang ada di dalam hall mulai memberikan ucapan selamat. Entah karena memang mereka bahagia atau terpaksa aku tidak tahu. Aku sama saja seperti mereka, memasang wajah bahagiaku, tersenyum, dan menerima ucapan selamat dengan bahagia. Tapi jauh di dalam hatiku, ia menjerit, membrontak dan hanya bisa menangis dengan putus asa. Naruniku terluka oleh sebuah proses yang bernama suksesi kekuasaan.
***