Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 16; Bertemu Lucas



Aku berencana pergi ke Seoul pagi ini. Langit masih cukup gelap ketika aku mengetuk pintu rumah Pak Kim. Ia terkejut saat melihatku sudah berpakaian rapi dan siap meninggalkan galeri.


“Apa kau yakin kau akan pergi sendiri?” tanyanya.


“Kau bisa hilang...” sahut Seung Hee, “dan tentu saja aku akan senang...”


“Nanti kalau hilang aku akan menghubungi Seung Hee...” kataku meyakinkan, “dan aku tidak pulang hari ini...”


“Tidak bisakah kau pergi selamanya saja?”


“Seung Hee-ya!” handrik Ibu Kim.


“Dia orang kaya Eomma!”


“Aku berangkat...” aku berpamitan sekali lagi. Tidak ingin bertengar di pagi buta.


“Hati-hati, hubungi Hoon kalau kau sampai di sana...” pesan Ibu Kim. Aku mengangguk kemudian berjalan di sepanjang tortoar dengan santai. Kereta yang akan aku naiki pukul 5.51 dan aku perlu berjalan sekitar 20 menit menuju stasiun Sindun-do. Aku haru berhanti kereta tiga kali, pertama sampai di stasiun Pangyo, kemudian pindah ke Gangnam, pindah lagi ke platform Daehwa baru keluar pintu 2 di Anguk. Setelah itu aku harus berjalan lagi selama dua puluh menit.


Aku terkekeh sendiri ketika keluar dari jalur subway. Ternyata aku tidak terlalu buruk atau tidak sampai salah naik kereta. Aku kembali menelusuri jalan raya Bukchon dengan berjalan kaki. Cukup jauh memang, namun aku lebih suka berjalan sambil menikmati suasana sekitar. Tujuanku tak lain adalah Bukchon Hanok Village yang ada di Samcheong-Dong.


Lucas menghubungiku sehari yang lalu. Ia datang ke Korea lebih awal dan menyewa sebuah hanok di kawasan Bukchon. Pilihan yang sangat khas sekali untuk turis, dan aku adalah orang yang paling diuntungkan dengan pilihannya itu. Jika ia mengingap di hotel, akan lebih banyak mata yang melihatku dari pada di sini.


Aku mengetuk pintu setelah memastikan alamat yang Lucas berikan benar. Tak ada jawaban, aku masih menunggu. Sekarang masih pukul 9 pagi, aku sudah berjalan-jalan mengelilingi desa itu lebih dari satu jam untuk mengulur waktu sekaligus memanjakan mataku dengan situasi sekitar.


“Zoey!” teriak Mia begitu melihatku. Ia langsung memelukku, “ada apa dengan rambutmu!” ia makin berteriak panik melihat rambut pendekku.


“Mia, apa kabar?” aku membalas pelukannya.


“Kau sudah sampai...” Lucas keluar dan ikut memelukku, “kita masuk dulu...”


“Maafkan aku membuat kalian jauh-jauh datang kemari...” kataku begitu kami duduk di ruang tamu rumah tradisional korea itu.


“Tidak, kami bersyukur kau memberikan kabar. Kami sangat panik ketika kau tiba-tiba menghilang dan tidak hadir dalam pernikahan kami”, Lucas menatapku bingung.


“Maurel datang pada kami, wajahnya juga panik mencari keberadaanmu...” Mia menambahi.


“Sebenarnya ada apa sih Zoey?” tanya Lucas akhirnya. Selama ini ia tidak pernah bertanya apapun tertang kehidupan pribadiku. Ia selalu persikap profesional dalam melakukan pekerjaan dan pertemanannya.


“Ayahku membawaku pulang ke Korea dengan paksa...” jelasku singkat.


“Bagaimana ia melakukannya?”


“Karena dia bisa...” aku menatap Lucas dan Mia bergantian, menimbang apa aku perlu mengatakan identitas asliku atau tidak. Selama ini mereka sangat profesional sekali ketika berteman denganku. Tidak pernah sekalipun mereka bertanya tentan latar belakang keluargaku. Aku rasa mereka bisa dipercaya.


“Ayahku adalah salah satu pemilik dari tiga perusahaan besar yang ada di Korea. Hotel tempatku bekerja di Paris, adalah milik keluargaku dan aku..." aku melihat dua orang itu membuka mulutnya karena terkejut dengan apa yang aku katakan sehingga aku memutuskan untuk melanjutkan penjelasan, "aku adalah CEO di hotel itu dan Maurel itu sekretarisku..”


“APA!” Lucas berteriak tak percaya. Hal yang wajar menurutku, selama ini Lucas hanya mengenalku sebagai seorang desainer muda dari Asia dan bekerja membanting tulang untuk bisa bertahan di Paris. Ia tidak akan akan menyangka bahwa aku lahir dengan sendok perak di mulutku.


“Lalu untuk apa kau jadi desainer?” tanya Lucas bingung


“Itu cita-citaku...” jawabku tegas.


“Bagaimana mungkin kau membagi waktumu untuk semua itu? Kau gila!” Mia juga tak paham dengan diriku.


“Semua yang aku lakukan di luar desain itu karena aku harus melakukannya. Aku pikir jika perusahaan di Paris itu berkembang, aku akan memperoleh kebebasan, tapi tetap saja orang tuaku...”


“Kenapa?”


“Mereka menjodohkanku...”


“Wow”


“Dengan orang yang sudah beristri!”


“WHAT!”


“Dan sekarang aku dalam masa kabur, melarikan diri...” kalimatku yang terakhir membuat kedua orang di hadapanku ini semakin tak percaya.


“Zoey...” Lucas menatapku dengan bingung, “apa tidak sebaiknya kau kembali bersama kami?”


“Hmmm...tidak bisa. Aku tidak bisa keluar dari Korea...” aku berbaring di lantai kayu yang terasa dingin. Enak sekali.


“Kenapa?”


“Keluargaku pasti punya orang di pintu imigrasi, mudah saja mereka menangkapku. Aku sedang memikirkan cara bagaimana aku bertahan, tapi tenang saja, aku masih bisa menikmati pelarian ini...” aku terkekeh, tak perlu menceritakan pengalaman burukku kan?


“Aku tahu, aku baru kali ini juga benar-benar lari. Lari sekaligus kembali memaknai untuk apa aku hidup...” aku menatap atap hanok yang terbuat seluruhnya dari kayu itu dengan takjub. Mengingat lagi dulu aku berhasil kabur dari perjodohan itu karena sebuah tawaran beasiswa di Jerman. Aku memohon untuk mengambil beasiswa itu dan anehnya mereka mengijinkanku pergi dengan mudahnya. Waktu itu aku juga masih berusia 19 tahun, dan kini sekarang aku sudah berusia 33 tahun. Situasinya menjadi lebih rumit.


“Kau bawa desain untuk proyek kita?” tanyaku begitu kesadaranku kembali. Kami sempat membicarakan tawaran bisnis dari perusahaan entertaiment di Korea. Mereka meminta kami untuk mendesain kostum panggung untuk sebuah Idol. Kami langsung mengirimkan portopolio kami dan mereka menyetujuinya. Ini juga salah satu alasan Lucas pergi ke Korea.


“Bisa-bisanya!” Lucas berdiri dan mengambil buku desainnya dan menyerahkannya kepadaku. Aku langsung mengeluarkan beberapa kombinasi dari berbagai desain yang telah dikirimkan Lucas sebelumnya.


“Kalau kalian ingin pergi jalan-jalan silahkan. Aku akan di sini menyelesaikannya. Kita masih punya waktu dua hari kan sebelum membuatnya?” Lucas tak menjawab pertanyaannku.


“Awalnya aku mengira kau adalah seorang Cinderella yang berusaha memperbaiki hidup dengan kerja keras. Ternyata aku salah...”


“Lalu?”


“Kau seorang putri yang menyedihkan... kau sudah memiliki segalanya, kehidupan yang gemerlap, tapi kau terlihat tidak bahagia dengan semua itu...”


“Bingo!” aku tersenyum pada laki-laki di hadapanku ini, “tapi aku berusaha untuk bahagia melalui cara ini, aku juga tidak perlu menunggu pangeranku itu. Karena dari awal memang tidak ada!”


“Perempuan gila!” setelah mengatakannya, Lucas berdiri dan menyusul Mia menyiapkan sarapan.


Aku kembali berkutat dengan kertas-kertas di hadapanku. Tinggal dua desain dari sebelas desain yang di minta oleh perusahan hiburan di Korea. Kami sudah melebarkan sayap sampai Korea beberapa tahun yang lalu, walau responnya masih belum terlalu besar, pasar di Korea saat ini sudah mulai  membaik. Aku berencana akan melanjutkan bisnis ini di sini jika aku masih terjebak di Korea.


Ponselku bergetar, membuatku terkejut. Nomor yang tertera dilayar adalah nomor asing. Aku mengabaikan panggilan itu.


Sekali...


Dua kali...


Nomor yang berusaha untuk menghubungku itu mengirimkan pesan singkat.


“Aku Juna!”


Dan ponselku berdering kembali.


“Bagaimana kau bisa mendapat nomor ini?” tanyaku langsung.


“Kau!” ia berteriak tertahan, “kau ada di mana?”


“Mencari nomorku begitu mudah kan? Kenapa kau tidak cari sekalian aku ada dimana?” jawabku ketus.


“Apa kau baik-baik saja?” ia mulai menurunkan intonasi suaranya.


“Apa kau pikir aku baik-baik saja?” aku menghembuskan nafas perlahan. Tiba-tiba aku merasa lelah mengingat semuanya.


“Kau dalam bahaya...” peringatannya.


“Aku tahu...apa ada yang lebih bahaya dari keluarga kita?”


“Aku serius...” Juna menekan suaranya di ujung sana.


“Aku juga...”


“Bisa kita bertemu malam ini?” tanya Juna hampir memohon.


“Apa aku bisa menolaknya?”


“Kenapa susah sekali mendapat jawaban iya darimu sih!” Juna terdengar kesal.


“Iya...” aku langsung menjawabnya. Tidak ingin berdebat lebih jauh.


“Beritahu aku lokasinya nanti... hati-hati Nuna...” tanpa menunggu jawabanku, ia segera mematikan sambungannya. Terkesan buru-buru.


Aku memandangi layar ponselku dengan ragu.


Ada apa lagi ini?


 


***


Pepatah :"orang yang lahir dengan sendok perak di mulutnya" merujuk pada ungkapan bahwa orang itu adalah orang kaya. Biasanya makanan adalah tolak ukur kemampuan finansial seseorang. Orang-orang ini makan dengan sendok perak, hal ini menujukkan bahwa peralatan makannya saja memiliki kualitas tinggi, apalagi dengan makanannya.


Hanok : Rumah Tradisonal Korea