Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 76; Devastated



Harga yang harus aku bayar untuk sebuah kebebasan ternyata begitu mahal.


Aku merasakan tenggorokanku terasa begitu kering seolah tidak ada air yang mengalirinya setelah sekian lama.


“Air...”


“Zoey?” aku mendengar suara Seo Jin. Tapi di mana? Aku perlahan membuka mataku dan melihat wajah Seo Jin begitu dekat denganku. Ah aku tidak sedang bermimpi. Aku bisa merasakan silaunya matahari menerpa kedua bola mataku.


“Oppa...” suaraku tercekat di tenggorokanku. Aku haus, “air...”


“Sebentar, Sayang...” Seo Jin mengusap rambutku dengan lembut. Tak beberapa lama kemudian beberapa orang dengan menggunakan pakaian serba putih datang mendekatiku. Aku menajamkan mataku untuk memastikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi.


Aku baru sadar bahwa aku sedang berada di rumah sakit ketika menyadari bahwa orang-orang ini adalah dokter dan perawat. Mereka melepas beberapa alat medis yang menempel di tubuhku. Aku mulai mengingat apa yang terjadi padaku.


“OPPA! DANY OPPA!” aku berteriak dan hendak bangun dari tempat tidurku saat menyadari tidak hanya aku yang tertembak malam itu.


“Nona!” cegah dokter yang paling dekat denganku.


“Zoey...” Seo Jin langsung meraihku dan berjanji akan menjagaku sehingga mereka bisa keluar dengan tenang.


“Dany Oppa...” aku hendak bangun namun Seo Jin menahanku dengan tegas.


“Dany Hyung juga sudah melewati masa kritisnya. Tenanglah...” Ia menatapku dengan tatapan aneh. Ada rasa sakit lain yang aku rasakan namun aku baru menyadarinya sekarang. Aku menyentuh bagian bawah perutku dan perasaanku mulai tidak enak.


“Kenapa? Kenapa Oppa memandangku seperti itu?” tanpa aku sadari mataku berkaca-kaca. Aku secara tidak langsung menyadari sesuatu. Aku hanya ingin memastikannya.


“Maafkan aku Zoey, aku melepaskan anak kita...”


DEG


Serasa ada yang mencerabut jantungku dari dalam sana. Aku bahkan belum mengetahuinya, tapi aku harus kehilangannya.


“Dia baru berusia enam minggu. Kau mungkin terlalu sibuk untuk menyadari bahwa kau terlambat mendapat periode bulananmu. Aku tidak memiliki pilihan lain karena kalian berdua sekarat. Aku sudah meminta dokter untuk menyelamatkan kalian berdua tapi dia tidak mampu bertahan...” aku hanya bisa terdiam saat mendengar penjelasan Seo Jin. Aku belum bisa mempercayai apa yang sedang terjadi padaku.


“Kau tidak sadarkan diri selama dua hari Zoey...” aku menoleh mendengarkan penjelasan Seo Jin. Dua hari?


“Sungguh maafkan aku...” Seo Jin juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Aku bisa melihat kantong matanya yang menghitam. Aku yakin di tidak bisa tidur tenang selama menungguku di sini.


“Just hug me, please...” rintihku pelan. Aku sudah tidak kuasa menahan rasa dingin yang tiba-tiba menyelimuti seluruh tubuhku. Aku ingin berlindung saat ini dari siapapun. Aku ingin...


Seo Jin ikut berbaring di sampingku dan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Tanganku mencengkeram erat bajunya dan seketika tangisanku memecah keheningan ruang rawat inapku. Aku menangis dengan sekuat tenaga. Aku tidak peduli jika orang lain mendengarnya. Aku hanya ingin melepaskan semuanya tanpa penyesalan. Aku tidak ingin berada di sini. Aku ingin...aku ingin bahagia...


Aku merasakan tangan Seo Jin yang tak hentinya mengusap punggungku. Tubuhnya juga gemetar saat memelukku. Ia juga merasakan kehilangan sama seperti yang aku rasakan. Kami melepas pergi calon anak kami dengan tangis air mata.


Pergilah, Nak. Saat ini dunia Appa dan Eommamu sedang tidak baik-baik saja.  Kembalilah nanti, ketika kami benar-benar siap membahagiakanmu selamanya.


***


Kesedihanku ternyata tidak hilang begitu saja. Setelah aku pulang dari rumah sakit, Hye Sung memberikan surat dari pengadilan. Aku tidak tahu untuk apa aku menerimnya namun begitu aku membaca surat itu, aku merasakan duniaku runtuh untuk kedua kalinya.


Surat itu tidak lain adalah panggilan untuk menghadiri putusan pengadilan untuk ayahku. Ia melakukan percobaan pembunuhan terhadap anaknya sendiri yaitu aku. Kertas yang aku pegang jatuh di atas lantai.


“Apa Nona akan hadir?” pertanyaan Hye Sung membuat bulu kudukku meremang.


“Apa kau pikir aku akan mampu berdiri di sana sebagai korban atau saksi? Biar bagaimanapun orang itu telah membunuh calon cucunya! Apa kau memintaku untuk memaafkannya!” aku tahu tidak seharusnya aku meluapkan segala emosiku kepada Hye Sung. Tapi asistenku itu hanya diam seolah mengerti bahwa reaksi yang aku berikan adalah sesuatu yang sangat wajar. Ia memilih maklum dan mengambil ponselnya untuk menghubungi pengacara kami.


Aku berjalan masuk ke dalam kamarku dan mulai mengemasi barang-barangku. Aku tidak kuasa untuk tinggal di sini. Aku tersiksa dan tidak bisa bernafas dengan semua kebohongan dan sandirwara yang terus saja harus aku hadapi. Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku jika aku tetap di sini.


“Anda mau kemana?” tanya Hye Sung begitu melihat aku keluar dari kamarku membawa koper.


“Baiklah, tapi biarkan saya mengantarkan Anda...” Hye Sung meraih tabletnya kemudian setelah selesai memesan tiket pesawat ia menarik koperku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Aku hanya diam saja di dalam mobil. Pikiranku kacau dan rasa marah itu membuat perutku keram. Aku tidak habis pikir bagaimana ayahku tega melakukan ini semua kepadaku. Apa aku sebegitu tidak berartinya bagi dirinya. Kejadian ini menjadi penanda bahwa hubunganku dengan dia telah berakhir.


“Kita ada di mana?” aku baru sadar bahwa Hye Sung tidak membawaku ke bandara saat mobil kami terparkir di dalam basement sebuah apartemen.


“Tuan Seo Jin menunggu Anda. Saya sudah memesankan tiket ke Paris untuk Anda, tapi tidak hari ini. Saya tidak bisa membiarkan Anda pergi dengan kondisi seperti ini!” ujar Hye Sung tegas.


“Kau pikir kau siapa! Aku sudah tidak membayarmu! Kau tidak berhak mengaturku!” teriakku tanpa sadar.


“Ya, tapi Anda tanggungjawab Tuan Seo Jin dan saya memang tidak dibayar Anda lagi namun Emerland bersedia membayar saya jika saya menemani Anda ke Paris. Kita akan ke Paris Nona. Tapi tidak saat ini...” pembicaraan Hye Sung berhenti begitu Seo Jin membuka pintu penumpang dan meraih tanganku.


“Terima kasih, untuk kesekian kalinya...” kata Seo Jin pada Hye Sung.


“Tidak masalah. Saya akan menjemputnya dua minggu lagi Tuan...” Hye Sung lalu turun dari mobil dan mengeluarkan koperku.


“Apa maksudnya semua ini?” tanyaku saat Seo Jin menyeretku masuk ke dalam apatemennya.


“Apa?” tanyanya seolah ia tidak tahu apa-apa.


“Jangan berpura-pura bodoh!” handrikku kesal.


“Aku memang bodoh karena tidak tidak tahu cara untuk melepaskanmu...” Seo Jin menarikku dalam dekapannya. Itu sangat curang.


Aku menarik nafas dalam-dalam dan pikiranku menjadi lebih tenang. Seo Jin sepertinya sudah tahu bahwa aroma yang keluar dari tubuhnya membuat pikiranku menjadi lebih nyaman dan tenang. Ia sering sekali memelukku ketika aku merasa tidak nyaman dan mulai gelisah.


“Bagaimana Oppa mengetahuinya?” tanyaku tanpa sadar.


“Kau sering sekali memintaku untuk memelukmu saat kau merasa putus asa dan kau selalu saja mengambil nafas dalam-dalam seolah hanya di sanalah kau bisa bernafas, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?” Seo Jin tersenyum lembut padaku, “syukurlah, aku bisa membantu walau hanya memelukmu...”


Seo Jin membawa koperku ke dalam kamarnya lalu beralih ke dapur untuk mengambilkanku minum. Aku duduk di sofa tenah sambil menyalakan TV yang ada di sana.


“Kau boleh pergi setelah konserku minggu depan selesai...” katanya tiba-tiba.


“Kenapa?”


“Aku ingin istriku tahu apa pekerjaanku dan apa yang menjadi duniaku selama ini. aku berani bertaruh kau belum pernah menyaksikan konser sebelumnya...”


“Tunggu!” aku menatap Seo Jin dengan bingung, “istri?”


“Ah, kau tidak lupa kan kalau kau sudah menandatangani berkas pernikahan kita?” aku hanya mengangguk. Berkas itu aku bubuhi tanda tangan sebelum kejadian menyakitkan itu aku alami dan merusak semua rencana yang telah aku pikirkan.


“Aku mengambil hak untuk menjadi walimu begitu aku tahu bahwa ayah yang menjadi dalang dari penembakanmu...” aku melongo mendengar penjelasan Seo Jin. Kenapa ia melakukannya tanpa sepengetahuanku dan kenapa pula tidak memberitahuku.


“Kau masih membutuhkan waktu untuk memulihkan keadaanmu dan kita sedang tidak dalam kondisi untuk bisa berpesta. Apa kau kecewa?” tanya Seo Jin dengan hati-hati.


Aku menggeleng, tidak. Aku tidak kecewa sama sekali. Aku justru bersyukur dia melakukannya. Setidaknya aku memiliki alasan untuk lepas dari ayahku. Memikirkannya saja membuat amarahku kembali. Aku menaikkan kakiku ke atas sofa dan memeluk Seo Jin dengan erat. Aku tak ingin memikirkan apapun saat ini.


“Nanti...nanti saat kita sama-sama sudah siap, aku akan memberikanmu pesta terbaik untuk pernikahan kita...saat ini cukup seperti ini...” aku menyetujui ucapan Seo Jin. Hal seperti ini sangat umum di Korea. Kami sebenarnya hanya perlu mendaftarkan pernikahan kami dan kami sudah resmi diakui oleh negara sebagai sepasang suami istri. Pesta hanya berupa ceremony dan juga wadah untuk mempertemukan keluarga. Tidak ada yang mewajibkannya.


“Terima kasih...” aku mengeratkan pelukanku padanya. Dia memang menjadi penyelamat hidupku. Ia tidak perlu menjadi superman ataupun ironman, ia hanya selalu menjadi rumah tempatku berpulang dan tempatku berteduh saat kelelahan.


“I love you...”


***