
Aku menarik nafasku dalam untuk mengembalikan kesadaranku. Aku coba merasakan tubuhku masih terbaring di jalanan, tidak ada yang salah. Aku perlahan bangun dan melihat ke arah mobil yang menabrakku.
Pengemudi mobil itu masih termangu di belakang kemudi. Ia terlihat begitu terkejut dan belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi. Aku mengedarkan pandanganku dan melihat beberapa orang yang mulai datang mendekati lokasi kejadian. Orang-orang yang semula mengejarku masih diam membaca situasi. Salah satu di antara mereka menatapku sambil tersenyum. Wajah itu, aku mengenalinya. Ia adalah laki-laki yang berada di dalam kamar hotel bersamaku.
Tubuhku gemetar melihat senyumannya. Perasaan mengerikan itu perlahan mengaliri hatiku.
Aku mencoba berdiri, aku mengangkat tanganku ketika seseorang hendak membantuku. Memberikan tanda bahwa aku baik-baik saja, aku berjalan sempoyongan ke arah pengemudi mobil yang menabrakku tadi. Aku memberinya kode untuk membuka pintu. Ia buru-buru membuka pintu begitu melihat wajahku dan aku langsung masuk ke kursi penumpang sebelahnya.
“Zoey-ssi, apa kau baik-baik saja?” tanyanya panik.
“Cepat, pergi dari sini...” kataku dengan susah payah, nafasku terasa begitu pendek ketika berbicara, “lebih cepat kita pergi...lebih baik...Seo Jin-ssi”
Ya, aku melihatnya. Pengemudi mobil itu tak lain adalah Han Seo Jin. Lagi-lagi kebetulan yang sangat tidak menyenangkan. Aku memutuskan untuk berdiri dengan sisa tenagaku sebelum laki-laki itu keluar dari mobil. Keadaan ini sangat tidak menguntungkannya dan ini juga kesempatanku untuk bisa lari dari orang-orang yang mengejarku tadi.
Seo Jin menarik sabuk pengaman untukku dengan cepat kemudian menginjak pedal gas meninggalkan tempat itu. Aku bisa melihat tangan laki-laki itu gemetar, ia masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi ada apa yang akan terjadi.
“Aku baik-baik saja, maafkan aku...” kataku lirih sambil meraih tangannya untuk menenangkannya.
Seo Jin menepikan mobilnya, ia mengatur nafasnya sendiri sebelum melihat ke arahku, “apa kau baik-baik saja, ada rasa sakit yang kau rasakan?”
“Maafkan aku karena menimbulkan masalah untukmu...” kataku dengan sisa tenagaku.
“Apakah itu penting sekarang! Kenapa kau malah yang meminta maaf? Aku yang menabrakmu di sini...” Seo Jin terlihat kesal saat melihatku seperti itu.
“Tentu saja penting... sebentar lagi kau comeback, kau tidak boleh melakukan kesalahan apapun... kalau kau terlibat masalah, semua tim produksi akan kehilangan pekerjaannya, karirmu, teman-temanmu, dan juga karirku... maka dari itu... hanya satu-satunya yang aku pikirkan adalah bangun secepatnya, dan pergi secepatnya sebelum ada yang melihatmu...” aku mengatakannya sambil memejamkan mataku, dadaku tiba-tiba terasa sesak.
“Bukan kau yang menabrakku, tapi aku... maafkan aku... maaf juga karena membuat mobilmu kotor...dan kau tidak terlalu kecang saat menabrakku...” aku sekarang bisa merasakan rasa sakit di pinggangku.
“Bisa-bisanya kau memikirkan semua itu dalam kondisi seperti itu. Apa yang kau gila? Lihatlah dirimu...Zoey-ssi? Zoey-ssi!” Seo Jin menyadari sesuatu. Ia melihat *b*louse-ku berubah warna semerah blazer yang aku kenakan. Aku bisa merasakan tangan Seo Jin yang menyentuh pinggangku.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu!” ia menyadari bahwa lukaku bukan karena ia menabrakku. Luka itu jelas karena tusukkan benda tajam, “kita harus hubungi polisi... ah rumah sakit!” ia meraih ponselnya dengan terburu-buru.
“Jangan, kau tidak mengerti apa yang aku katakan tadi? Hubungi orang lain...kau jangan terlibat...” aku tidak ingin semuanya sia-sia. Aku menatapnya dengan penuh permohonan. Jangan kau yang membawaku ke rumah sakit atau ke kantor polisi. Siapa saja asal jangan dirimu.
“Baiklah, jangan khawatir, baik aku akan menghubungi orang lain...tenangkan dirimu...” Seo Jin paham maksudku. Ia lalu mengubungi seseorang.
“Halo, kau di mana? Aku bersama Zoey-ssi. Kau harus menolongnya... ia terluka. Temui kami di depan Rumah Sakit Umum Korea. Sekarang...” ia lalu mematikan sambungannya dan mengambil kain dari belakang kursi pengemudinya.
“Maafkan aku...” ia menekan lukaku dengan tangannya dan mulai mengemudikan mobilnya. Rumah sakit sudah tidak jauh dari sini. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan medium dan memakirnya di depan rumah sakit.
“Zoey-ssi, apa kau mendengarku?” tanyanya.
“Ya...” jawabku pelan.
“Apa kau masih kuat?” ia kembali menekan lukaku, mencoba mengurangi darah yang keluar dari sana, “seharusnya aku bertanggungjawab, tapi bisa-bisanya kau berpikir seperti itu dalam kondisi seperti ini...”
“Kau tidak boleh egois, aku tahu kau sudah berniat baik, tapi melibatkanmu tidak akan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan untuk semua orang...aku akan benar-benar merasa bersalah jika menghancurkan karirmu atau teman-temanmu...” aku menyadari benar bagaimana beratnya menjadi public figure di negeri ini. Persaingan mereka sama ketatnya dengan dunia bisnis. Tidak segan-segan mereka saling serang untuk menjatuhkan. Aku tidak mau karir orang ini berakhir karenaku. Aku hanya rakyat biasa sedangkan dia adalah rakyat Korea yang dicintai di seluruh penjuru dunia.
“Maafkan aku...” kataku lagi.
“Hoon!” Seo Jin memanggil namanya, membuatku membuka mata.
“Apa yang terjadi!” katanya panik.
“Aku menabraknya...aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi seseorang menusuknya...” Seo Jin menjelaskan dengan singkat.
“APA?!” Hoon melihat ke arah tangan Seo Jin dan cepat-cepat ia membuka sabuk pengaman. Ia melepas jaketnya dan membukus tubuhku. Hoon mengangkatku dari kursi penumpang.
“Kau pergi secepatnya dari sini, aku akan mengubungimu nanti, serahkan semuanya padaku!” Hoon ikut menyuruhnya pergi. Aku yakin dia juga paham dengan situasi Seo Jin saat ini. Hoon memastikan mobil Seo Jin pergi dan bergegas membawaku masuk ke dalam rumah sakit.
“Terima kasih, kau juga menyuruhnya pergi...” bisiku pelan.
“Kau tahu? Aku benar-benar hampir gila saat ini, tapi bisa-bisanya aku tahu apa yang kau pikirkan...” Hoon mempercepat langkahnya.
“Ada orang yang menusukku, aku lari dan menabrak mobil Seo Jin... itu bukan kesalahannya...”
“Aku tahu, aku tahu jadi diamlah...kau tidak sadar kondisimu saat ini?” begitu kami masuk lobby rumah sakit aku bisa melihat wajah Hoon yang terlihat pucat. Ia mulai berteriak ke perawat yang melihat kami, mereka mengarahkan kami ke ruang UGD.
“Apa yang terjadi?” tanya perawat itu.
“Seseorang menusuknya...” ia menarik jaketnya dan menunjukkan luka tusukkan itu, “dan tolong cek lainnya, ia juga sempat mengalami kecelakaan...”
“Kita harus melapor polisi...”
“Tidak, kami yang akan mengurusnya... cepat lakukan sesuatu...” perawat itu menatap Hoon dengan pandangan tidak percaya.
“Anda keluarganya? Silahkan keluar dan urus administrasinya...” kata perawat itu akhirnya.
“Zoey-ya...” Hoon mendekatiku dan mengusap rambutku pelan, ia menatapku sebentar sebelum keluar dari ruangan.
Aku menatap punggungnya yang keluar dari ruangan. Sekali lagi aku membuatnya melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Sekali lagi aku membuatnya menderita dengan kondisiku yang menyedihkan seperti ini. Sampai kapan?
Air mataku mengalir dari sudut mataku dan sekali lagi aku menangis. Kenapa aku jadi mudah menangis semenjak pulang ke Korea?
“Apa Anda merasakan sakit di tempat lain?” tanya perawat itu saat melihatku menangis.
“Bahuku...sakit...” kataku lirih, aku hanya diam menahan rasa sakit di bahuku yang membuat dadaku sesak. Itu bagian yang pertama kali terantuk aspal saat aku melompat menghindari mobil Seo Jin.
Saat dokter datang, perawat itu segera menjelaskan kondisiku, semakin lama aku mulai tidak sadarkan diri. Entah karena obat atau karena aku begitu lelah. Entahlah....
Aku ingin istirahat sebentar saja...
***
Comeback : Comeback, sama seperti artinya yaitu 'kembali', dalam dunia permusikan Korea, comeback ini adalah kembali ke hadapan penggemarnya dengan album baru. Biasanya pengeluaran album ini diikuti dengan promosi baik dalam acara musik ataupun dalam berbagai acara ragam di TV. Oleh karena itu, mereka akan sering terlihat di TV yang menandakan 'kembalinya' mereka setelah lama tidak muncul karena promosi album sebelumnya yang sudah berakhir.