
“Hyung...” Manajer Jo menyadarkan Seo Jin yang termenung mendengar berita itu.
“Hubungi perusahaan...”
“Pergilah...” aku mendorong lengannya. Menahannya di sini hanya akan memperkeruh keadaan.
“Pergi ke mana?” bukannya pergi, Soe Jin justru berjalan ke arah sofa dan menarikku agar duduk di sana. Manajer Jo ikut duduk di hadapannya sementara Hye Sung pergi membuka pintu karena pesanan makannya sudah datang.
“Sebaiknya Oppa kembali ke Seoul...”
“Berikan padaku...” Seo Jin sengaja mengabaikan ucapanku dan meminta ponsel Manajer Jo begitu terhubung dengan perusahaan. Aku memilih diam sambil menatap tangan kiri Seo Jin yang masih menggenggam tanganku.
Manajer Jo diam-diam juga ikut melirik ke arah tangan kami yang masih bertutan satu sama lain. Aku sudah berusaha untuk melepasnya tapi laki-laki ini benar-benar keras kepala dan justru mengeratkan genggamannya. Aku menatap Manajer Jo serba salah. Aku akan menyebabkan banyak masalah untuknya.
“Iya, dia bukan artis, dia juga pernah menjadi desainer untuk comeback SG kemarin...” Seo Jin terus menjelaskan keadaannya ke seseorang di seberang telpon, “kami memang dekat, terserah jika perusahaan mau mengiyakan atau menentang rumor itu. Tapi harus Hyung ketahui, dia adalah putri satu-satunya Keluarga Park...”
“APA!” saking kerasnya suara orang itu, aku bisa mendengarkan teriakannya, “sebenarnya apa yang kau lakukan sih?”
“Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Lakukan tugas Hyung dengan benar. Ini baru kali pertama aku terlibat skandal kan? Aku tidak peduli bagaimana perusahaan akan menghandle semua ini tapi aku bukan anak remaja yang harus dibatasi hubungan asmaranya...”
“Tidak ada yang membatasimu, Jin! Kenapa kau jadi gegabah dan sesitif seperti ini!” aku bisa mendengar suara teriakan orang itu. Aku takut-takut melirik wajah Seo Jin yang memerah. Ia seolah sedang mempertimbangkan banyak hal dalam waktu sesingkat itu.
“Aku juga tidak tahu! Aku tidak peduli jika orang itu adalah Zoey!” aku bisa mendengar ketegasan dari suara Seo Jin. Ia sudah membuat keputusan dan aku tidak tahu apa itu. Aku melirik Manajer Jo, menyuruhnya melakukan sesuatu.
“Hyung...” Manajer Jo berinisiatif untuk mengambil ponselnya dari Seo Jin sebelum laki-laki itu menghancurkannya, “Hyung di sini dulu, aku akan menyelesaikan semuanya...”
“Oppa...” aku hati-hati saat memanggilnya, “maafkan aku, karena aku semuanya jadi rumit...”
“Bukan itu masalahnya Zoey...” Seo Jin menatapku penuh arti. Ia mencoba mencari-cari sesuatu di dalam diriku.
Tanpa aku sadari aku menahan nafasku, “la..lu ke...kenapa?” aku mengalihkan wajahku darinya.
“Cuma ada dua jawaban. Ya dan Tidak. Tapi aku tidak tahu jawabannya...”
“Apa?” aku tak paham sepenuhnya maksud ucapannya.
“Jika aku jawab Ya. Aku berbohong karena kita tidak pacaran. Tapi jika aku jawab tidak, aku juga berbohong karena aku barharap kita bisa bersama...” ia menunggu reaksiku, sedangkan aku terlalu terkejut mendengar pernyataannya. Kami sama-sama terdiam cukup lama sampai Seo Jin bertanya padaku, “menurutmu aku harus bagaimana?”
“Ha? Ehm... aku...” aku tidak tahu apa yang harus aku pilih dan kenapa aku yang harus menjawabnya?
“Aku akan memastikannya...” aku tidak tahu apa maksud Seo Jin sampai dia menarik leherku ke arahnya. Aku lalu merasakan bibirnya mengusap lembut bibirku. Mengirimkan sensasi yang membuat syarafku menegang dan...
BRAAKK!!
Prang!!
Seo Jin terlempar dan menabrak meja, menyebabkan vas bunga yang ada di atasnya menggelinding jatuh dan pecah beratakan di lantai. Tanpa aku sadari aku mengangkat kakiku dan menggunakannya untuk mendorong dada Seo Jin sekuat tenangaku.
Nafasku tersengal membayangkan hal mengerikan itu. Ingatan menyakitkan itu tiba-tiba saja kembali dan tanpa aku sadari aku sudah menyakiti orang lain.
“Penolakan yang sangat luar biasa, sangat berkesan dari wanita yang istimewa...” Seo Jin mengusap dadanya sambil berusaha untuk berdiri. Aku melihatnya menenangkan dirinya sendiri dengan menarik nafas dalam-dalam sebelum berjalan ke arah pintu.
"Aku sudah mendapatkan jawabnnya..." kata Seo Jin pergi meninggalkanku.
“Tidak... bukan...” aku harus menahannya, bukan itu maksudku. Aku tidak sengaja melakukannya, aku tak punya pilihan lain. Ia tak boleh pergi begitu saja.
“Nona!” teriak Hye Sung saat melihatku berlari menyusul Seo Jin.
Aku mengabaikannya dan berlari untuk mengapai Seo JIn sebelum ia keluar. Aku berhasil menarik bagian belakang kemejanya dan membuat Seo Jin terpaksa berhenti. Laki-laki itu sengaja diam saja menunggu apa yang akan aku ucapkan, sedangkan aku sedang bertaruh dengan diriku sendiri. Katakan atau tidak?
“Bukan...bukan seperti itu...” tanganku yang mencengkeram kemejanya mulai gemetar, hatiku kembali ciut mengingat kejadian menyakitkan itu. Aku bahkan tidak tahu bahwa luka itu masih saja menghantuiku seperti ini, luka yang berubah menjadi trauma.
“Laki-laki brengsek itu...ia...ia dulu...dulu...” suaraku menghilang begitu sampai ke tenggorokanku.
“Maafkan aku...” Seo Jin terlalu pintar untuk menebak semuanya. Begitu suaraku menghilang, ia seolah tahu betapa menyakitkan hal yang akan aku katakan padanya. Ia langsung berbalik dan meraihku ke dalam pelukannya. Ia mendekapku dengan erat, berharap bahwa tubuhku melupakan mimpi buruk itu dan meningat kehangatan yang ia berikan saat ini.
“Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan. Maafkan aku...” Seo Jin mengusap kepalaku dengan penyesalan. Aku menggeleng pelan sambil mengusap air mataku yang lagi-lagi mengalir. Kenapa air mata ini tidak bosan-bosannya keluar dari mataku?
“Ehm...” Hye Sung berdeham dan begitu kami menoleh padanya, ia mengangkat kotak P3K yang ia pegangan. Aku mengernyitkan dahiku, apa yang akan dia lakukan dengan kotak itu.
Hye Sung menunjuk lantai di bawahku, “kita tak perlu mewarnai lantainya dengan warna merah kan?”
“Zoey!” reflek Seo Jin mengangkat tubuhku. Kepalaku hampir menyentuh lampu yang menggantung dari atap saat ia meraih kedua kakiku dan mengangkatnya tepat di pahaku.
“Akh!” aku merunduk memeluk kepala Seo Jin, “Oppa tidak sadar kalau setinggi tiang ya! Hampir saja kepalaku!” aku memukul punggungnya.
“Maaf...” Seo Jin lalu membawaku ke arah dapur yang bersih dari pecahan keramik dan mendudukanku di atas counter. Hye Sung langsung mengguyur kakiku dengan air infus dan mengecek dalamnya luka di kaki kananku. Aku meringis menahan perih yang perlahan mulai terasa.
Aku baru sadar bahwa aku menginjak pecahan keramik dari vas bunga yang pecah. Aku telalu fokus untuk mengejar Seo Jin hingga melupakan lantai yang ada di bawahku penuh dengan pecahan keramik.
“Saya perlu menjahit empat sampai lima jahitan...” kata Hye Sung pelan. Tanpa menunggu persetujuanku ia mengambil kursi lipat untuk meletakkan kakiku dan untuk duduk dirinya sendiri. Hye Sung mengambil obat bius, menyuntikkannya di dekat luka dan dengan cekatan ia mulai menjahit kakiku. Tangannya bergerak dengan cepat, mengabaikan ketakjubanku dan Seo Jin.
“Dia dokter?” tanya Seo Jin yang sedari tadi mengenggam tanganku untuk menguatkanku. Aku terkikik geli karena ini bukan kali pertama aku dijahit seperti ini oleh Hye Sung. Tanganku sempat robek saat berlatih tanding dengan Jong Sik di studionya dan dari sanalah aku tahu kalau Hye Sung adalah seorang bodyguard profesional dengan sertifikat medis di tangannya.
“Aku mungkin seorang penjahit profesional, tapi kalau menjahit kulit tetap aku tidak bisa melampaui kemampuan Hye Sung...” aku mendongak untuk melihat wajah Seo Jin yang jeri melihat jarum suntik.
“Maafkan aku...” kali ini Seo berbisik lirih sebelum menyapukan bibirnya ke keningku. Aku mengerjapkan mata menerima perhatian Seo Jin. Aku tidak sempat tersipu atau semacamnya karena detik berikutnya aku sudah berteriak dengan kencang.
“AW!”
Hye Sung memukul lukaku yang sudah dibungkus dengan perban. Ia sengaja menempelkan perekat dengan kuat hingga bisa dibilang sebagai tindakan pemukulan. Aku melotot padanya.
“Sudah! Sudah selesai. Sekarang aku keluar, lanjutkan!” Hye Sung berdiri dan pergi keluar dari cottage tanpa menoleh lagi. Ia bahkan sengaja membanting pintunya.
Aku dan Seo Jin perlahan mulai tertawa menyadari sesuatu.
***