Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 17; Kesalahpahaman?



Hallo...


Perkenalkan saya Aiana,


Terima kasih telah mampir dan membaca karya saya. Mohon maaf bila dalam beberapa hari ini update yang rencananya dua hari sekali menjadi mundur tidak terjadwal. Saya sempat sakit dan masih dalam pemulihan.


Mohon doanya, semoga secepatnya bisa kembali ke rutinitas seperti biasanya. Semoga pembaca di luar sana selalu sehat!


Salam hangat


***


Aku duduk di samping pagar yang memanjang di atas gunung Nam, atau orang lebih sering menyebutnya Namsan. Sudah sejak tadi sore aku mendaki gunung ini, menikmati pemandangan senja yang begitu menawan, dan mengamati ribuan pengunjung yang datang ke salah satu landmark Korea. N Seoul tower.


Ini juga kali pertama aku ke sini. Tempat yang walau baru pertama kali aku kunjungi terasa sangat familiar layaknya aku melihat Eiffel tower setiap hari.  Aku memandang menara itu dari tempatku duduk, perasaanku berkecamuk. Ada rasa di mana aku bisa merasa bahwa aku benar-benar ada di rumah tapi di sisi lain semuanya juga terasa begitu asing. Entah bagaimana caranya aku mengurai benang kusut ini.


Aku melihat jam di tanganku, masih ada waktu 10 menit sebelum aku bertemu Juna. Aku asal saja memilih lokasi ini karena aku tidak tahu tempat lain di Korea. Aku juga belum pernah kemari sahingga aku memutuskan untuk jalan-jalan sebelum bertemu dengannya.


“Halo...” aku mengangkat telponku pada dering pertama.


“Nuna ada di mana?”


“Di sebelah utara tower, ada di jalur pendakian sebelah utara...”


“Kau jalan kaki?” suara Juna terdengar kaget.


“Ya...”


“Benar-benar! Aku turun sekarang!” ia lalu mematikan telponnya. Aku menyimpan ponselku dan kembali mengamati suasana sekitar. Hari sudah semakin gelap, namun masih banyak orang yang berlalu lalang dan menikmati pemandangan kota Seoul pada malam hari. Aku menghela nafas panjang, lampu kota yang terlihat semakin gemerlap itu seolah-olah menggambarkan kehidupanku saat ini. Dari sini, lampu-lampu itu menjanjikan banyak sekali keindahan namun kenyataannya gerlap lampu itu justru hidup bersamaan dengan orang-orang yang masih bekerja keras untuk hidup. Penuh dengan persaingan dan tekanan yang tinggi.


“Nuna...” tiba-tiba saja Juna sudah meraihku dalam pelukkannya. Ia mendekapku erat, membuatku tak bisa bernafas.


“Ju..Juna...” kau menepuk bahunya agar mau melonggarkan pelukannya, “nafasku...”


“Rambutmu...” Juna menyentuh ujung rambutku, ia terkejut melihatnya.


“Tenang, itu akan panjang lagi nanti...” aku melepaskan tangannya dari ujung rambutku. Walau ia adikku sendiri, aku masih tidak terbiasa dengan sikapnya yang terlalu perhatian seperti ini.  Matanya terlihat jelas begitu khawatir saat aku merapikan rambutku.


“Kita duduk di sana?” aku menunjuk gazebo yang kosong di dekat tempat kami berdiri. Aku berjalan mendahuluinya dan duduk bersandar di salah satu tiangnya.


“Kau baik-baik saja?” tanyanya.


“Tentu saja, kau lihat sendiri kan?” aku mengamati wajahnya, “bagaimana keadaan eomma?”


“Buruk, beliau sangat mengkhawatirkanmu...”


“Bilang kalau aku baik-baik saja...”


“Tidak bisakah kau ikut pulang bersamaku?” Juna memohon.


“Tidak, aku tidak mau di kurung di rumah lagi. Ada yang harus aku lakukan...” jawabku tegas.


“Aku bisa mengantarmu kemana pun kau mau Nuna...”


“Tidak...”


“Dany Hyung menyesal atas apa yang terjadi padamu...”


“Menyesal dengan apa yang terjadi padaku?” aku memotong kata-kata Juna, “dia pikir karena siapa semua itu bisa terjadi padaku?”


“Nuna, ini semua terjadi di luar rencananya...”


“Katakan padaku, rencana bagus apa yang disusun oleh Dany Oppa dengan memberiku obat dan meninggalkanku di kamar hotel dengan seorang laki-laki?” Juna hanya diam mendengar pertanyaanku, ia menatapku dengan perasaan bersalah. AKu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua, namun yang membuatku bingung adalah tatapan Juna, ia menatapku dengan rasa...kasihan?


“Tidak bisakan dia meninggalkanku sendiri?”


“Dany Hyung sangat menyayangimu Nuna...”


“Sejak kapan kau memihak padanya?”


“Aku tidak memihak siapapun, aku mohon Nuna,  biar Hyung sendiri yang menjelaskannya pada Nuna...”Juna meraih tanganku, “aku tidak ingin keluarga kita hidup dengan kesalahpahaman seperti ini...”


“Kesalahpahaman?”


“Ya...”


“...”


“Aku tanya padamu, apa Ayah masih ingin menjodohkanku dengan keluarga Hwang?”


“Kalau hanya pernikahan itu yang Ayah mau, aku bahkan rela menggantikanmu Nuna! Tapi aku tak bisa menggantikanmu...”


“Kau bilang padaku kau mencintai orang lain...” tanyaku tak percaya.


“Demi dirimu, aku rela Nuna. Tapi yang ayah ingini bukan pernikahan keluarga Park dan Hwang. Tapi pernikahanmu...” aku tak tahu apa yang terjadi di rumah keluarga besar hingga membuat Juna berubah pikiran seperti ini. Ia tidak seperti ini sebelumnya.


“Kita bicara lain kali...” aku berdiri.


“Nuna, aku mohon, kau harus pulang bersamaku...”


“Kenapa harus!”


“Laki-laki itu sedang mengejarmu! Setelah mengetahui perbuatan laki-laki itu padamu, Dany Hyung berniat menghancurkan perusahaannya. Tapi...” ucapan Juna membuatku melotot tak percaya. Kenapa aku lagi yang harus jadi korban?


“Nuna...” aku mundur satu langkah, ada beberapa orang yang mendekat dengan mencurigakan.


“Kau membawa orang untuk memaksaku pulang?” aku menatap Juna tak percaya. Bisa-bisanya dia membawa pengawal untuk membawaku.


“Kenapa keluarga kita sulit sekali sih untuk mengatakan aku menyayangimu, aku mencintaimu?” Juna menghela nafas pasrah.  Ia terlihat sangat lelah saat mengatakannya. Aku menaikkan sebelah alisku bingung, tak mengerti apa maksud perkataannya.


“Aku akan pulang, tapi nanti dengan kakiku sendiri...” aku menjauhi Juna. Beberapa pengawal keluarga itu menyadari bahwa aku hendak kabur. Mereka mempercepat langkahnya untuk mendekatiku. Saat aku berbalik dan hendak berlari turun, aku juga melihat dua orang lainnya berjalan dari arah yang berlawananan.


“Nuna...” Juna berdiri dan menghampiriku, ia berusaha meyakinkanku sekali lagi. Tapi aku tetap harus pergi. Aku menepis tangan Juna.


“Tidak kah kau mengerti, di luar sana lebih berbahaya!” Juna meninggikan suaranya, membuat beberapa orang menoleh pada kami.


“Ya, aku mengerti...” kataku sambil melepasakan pengangan tangan Juna. Juna terkejut, ia tidak tahu aku bisa melepas tangannya begitu mudah. Apa dia tidak tahu kalau aku belajar beberapa seni bela diri?


Aku berjalan menjauhinya dan bertemu dengan dua orang yang mendekatiku dari arah utara. Aku tidak tahu mereka pengawal tingkat berapa jika aku tak menjajal kekuatannya, yang jelas tidak ada orang yang menotokku waktu itu. Aku menghindari mereka dengan gerakan yang sifatnya perlindungan diri, aku berhasil melepaskan diri dari mereka, membuat dua orang itu bingung. Tiga orang yang menyadari aku bisa melawan temannya dengan mudah mulai berlari untuk memberi bantuan.


Salah satu dari mereka berhasil memukul bahuku, membuatku tersungkur dan menabrak tembok pembatas jalan. Aku mengerang kesakitan dan menendang salah satu dari mereka yang paling dekat denganku, memberikan jeda yang cukup untuk melarikan diri.


“Nuna!” aku bisa mendengar teriakan Juna.


Begitu ada celah, aku mengambil kuda-kuda dan berlari meloncati tembok yang hampir dua meter itu. Aku meloncat turun menuruni tebing yang curam itu sambil berusaha membiasakan mataku dengan gelapnya hutan. Walau terlihat seperti terjun bebas tanpa arah, sejatinya aku masih mengikuti tembok pembatas. Hanya itulah satu-satuny pentunjuk agar aku tidak tersesat di hutan. Aku berlari turun sejajar dengan tembok itu dan berlari secepat mungkin. Tidak ada yang mengikutiku sebenarnya, tapi lebih cepat aku pergi akan semakin baik.


Aku sampai di pintu masuk Taman Namsan kurang lebih setelah berjalan satu jam di hutan.  Aku menaiki taksi begitu memastikan tidak ada orang mencurigakan yang mengikutiku.


“Apa Anda baik-baik saja?” tanya sopir taksi itu begitu melihatku masuk.


“Ya...” aku mengatur nafasku, “tolong antarkan saya ke Bukchon...” kataku setelah meyakinkan pada supir itu bahwa aku baik-baik saja.


“ Terima kasih...” sopir itu memberikan tisu padaku. Aku megambilnya dan segera membersihkan diri.


Ponselku kembli berdering untuk ke seklian kalinya. Aku melihat nama Juna di sana. Aku menghela nafas.


“Aku baik-baik saja, berhenti menghubungiku”, aku mengangkat panggilanya dan tanpa memberikan waktu untuk mejawab aku langsung mematikan sambungan.


Ponselku kembali berdering. Aku hendak mematikannya ketika yang tertera di layar bukan nomor Juna. Hoon.


“Halo...”


“Kau di mana? Katanya kau menginap di rumah temanmu? Teman yang mana?”


“Apa aku harus memberitahumu segalanya?”


“Ya, kau lupa kalau aku walimu?”


“Cih...”


“Kau ada di mana?”


“Apa kau akan menemuiku jika aku mengatakannya?” ia terdiam, “aku tahu kau sibuk, aku juga sibuk... aku tutup ya...” tanpa menunggu jawabannya, aku langsung menutup telpon.


Tiba-tiba aku merasa jadi orang paling sibuk sedunia.