
“Kau sebenarnya ada di mana Zoey?” Lucas terdengar khawatir saat ia tidak menemukanku di studio selama dua hari ini. Aku belum sempat memberinya kabar bahwa aku mengalami musibah. Banyak sekali yang aku pikirkan hingga aku melupakannya.
“Aku di rumah sakit...”
“APA!” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Lucas sudah memotongnya saking terkejutnya, “ada apa denganmu? Kau kenapa?”
“Aku sedikit mengalami kecelakaan, tapi aku tidak apa-apa, aku hanya perlu beristirahat seminggu ini...” begitu aku mengatakan seminggu, Hoon menatapku tajam. Ia tidak percaya aku mengatakan hal itu. Dokter saja belum memutuskan kapan aku boleh pulang.
“Apa kau benar-benar tak apa-apa?” nada Lucas lebih tenang, seolah-olah ia sadar dengan kebiasaanku mengatakan aku baik-baik saja.
“Ya, bisa kau selesaikan jahitannya?” aku sedikit tidak enak saat mengatakannya, namun kami tidak memiliki pilihan lain.
“Tentu saja, nanti setelah kau sehat, kau tinggal menambahkan detail yang diperlukan...”
“Terima kasih...”
“Tidak-tidak, kau sudah berusaha keras untuk desain-desain itu, ini tinggal penyelesaiannya... pikirkan dulu kesembuhanmu...”
“Maaf kan aku...” Lucas kemudian mengakhiri sambungan telpon setelah menghiburku. Aku menghela nafas penuh penyesalan. Merasa tidak enak karena merepotkannya dalam kondisi sibuk seperti ini.
“Seminggu katamu?” Hoon langsung mendekat begitu melihatku meletakkan ponselku.
“Ya, aku harus kembali ke studio, biaya sewa kamar ini tidak murah dan aku sudah baik-baik saja...” kataku yakin.
“Dokter bahkan belum melepas jahitanmu...” Hoon terlihat tidak menyukai ideku, “aku yang akan membayar semua perawatannya, kau jangan pikirkan itu...”
“Aku berterimakasih kau melakukannya, tapi apa kau tidak bekerja dan mengawasiku terus seperti itu?” aku serius menanyakannya. Hoon selalu ada di rumah sakit ini. Walaupun ia mengatakan kalau ia mengambil cuti, aku tetap menghawatirkannya, “aku tak apa-apa sendiri...”
“Aku tidak percaya padamu...”
“Aku kenapa?”
“Dengan kepribadianmu seperti itu, aku yakin kau akan memikirkan cara untuk kabur...”
Tepat sasaran. Aku mendecakkan lidah mendengarnya. Lama-lama Hoon mulai hapal dengan cara berfikirku.
Tok Tok Tok!
Seseorang mengetuk pintu, membuat pertengkaran kami terhenti. Begitu Hoon membuka pintu terlihat dua orang masuk ke dalam ruangan. Aku tak bisa melihat wajahnya karena ia mengenakan topi dan masker, mata coklatnya terbingkai kacamata bening. Aku tersenyum melihatnya, dengan mudah aku mengenalinya dari postur tubuhnya. Han Seo Jin.
“Bagaimana kau bisa ke sini?” Hoon berjalan keluar pintu dan menengok ke kanan dan kiri. Ia memastikan tidak ada wartawan atau fans yang mengikuti.
“Aman, kami hari ini ada jadwal ke dokter gigi, jadi sekalian mampir...” kata Manajer Jo yang menyertai Seo Jin ke rumah sakit.
“Maaf aku tak membawa apapun...” kata Seo Jin sambil melepas topi dan maskernya, “Aku benar-benar tidak tahu malu ya?”
“Tidak... tidak apa-apa...” aku mengangkat tanganku dan melambaikannya, “terima kasih karena menyempatkan waktu untuk menjengukku...”
“Itu keharusan kan? Kamu pikir aku bisa tenang setelah meninggalkanmu seperti itu, Zoey-ssi?” aku tak bisa mengatakan apapun selain tersenyum maklum. Kejadian malam itu benar-benar akan membuat sesorang putus asa. Terlebih lagi ia ada di sana pada waktu itu tapi tidak bisa melakukan apapun. Aku bisa melihat dengan jelas kekhawatiran di wajah Seo Jin.
“Saya merasa sangat menyesal telah melibatkan Anda dalam masalah ini. Kalau sampai hal ini sampai ke public saya siap membantu Anda kapanpun...” kataku tulus. Aku tidak tahu apakah malam itu ada yang melihat Seo Jin atau tidak. Masih ada kemungkinan rumor beredar.
“Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun...”
“Jujur saya merasa sangat bersyukur Anda yang lewat malam itu, saya dalam posisi sulit dan Anda menyelamatkan saya...” kataku jujur.
“Menyelamatkan katamu? Aku menabrakmu Zoey-ssi”, ia terlihat bingung dengan situasinya.
“Tidak, saya yang menabrak mobil Anda tapi saya berhasil menghindar dan luka di bahu saya ini karena saya jatuh saat menghindarinya...” Seo Jin semakin tidak percaya dengan penjelasanku. Ia masih tidak percaya, bagiamana aku bisa mengindarinya dan menurutku itu hal yang wajar jika ia tidak mempercayainya.
“Kalau Anda tidak percaya, Anda bisa mengecek mobil Anda...” kataku yakin.
“Baiklah, apa kamu sudah baikan?” Seo Jin memilih untuk percaya dan menanyakan hal lain.
“Seperti yang Anda lihat, saya baik-baik saja...” aku tak berbohong saat mengatakannya. Keadaanku memang lebih baik hari ini.
“Syukurlah...”
“Silahkan duduk, Manajer Jo juga...” aku memberi salam pada manajernya yang masih berdiri di samping pintu. Ia hanya terseyum sambil mengangguk, wajahnya terlihat siaga jika ada orang yang mengikuti mereka sampai sini.
“Apa kau tidak sibuk?” kata Hoon sambil memberikan kaleng minuman dingin ke arah Seo Jin.
“Sibuk, tentu saja. Aku masih ada jadwal sampai nanti tengah malam...” wajah Seo Jin terlihat begitu lelah, namun ia seolah sudah memakluminya. Tentu saja, ia sudah lama di dunia entertainment.
“Lalu kenapa kau malah ada di sini?” Hoon terlihat kesal. Aku bisa dengan jelas mengkhawatirkan Seo Jin.
“Manajer Jo sudah menjelaskannya kan?” Seo Jin terkekeh melihat tingkah Hoon.
“Saya penasaran, bagaimana kalian bisa bertemu? Saya pikir kalian berada di dunia yang berbeda...” tanyaku memecah perdebatan mereka berdua.
“Aku punya kafe, dulu Hoon kerja part-time di sana. Setelah Hoon lulus kuliah di Paris, ia sempat menjadi manajer di kafeku selama beberapa tahun sebelum ia menjadi sombong sepeti ini...” Seo Jin mengatakannya sambil tersenyum. Ia terlihat bangga melihat Hoon saat ini.
“Tidak, aku Hyungnya...” jawab Seo Jin.
“Seharusnya saya juga Nunanya!” kataku tak terima, aku menatap Hoon. Mulutnya memang kurang ajar.
“Berarti dia juga menyukaimu, ia akan mengunakan banmal pada orang-orang yang disukainya...”
“YA!” Hoon berteriak, tapi aku bisa melihat pipinya merona.
“Benarkan?” Seo Jin melirik ke arahku dan Hoon bergantian.
“Iya, saya lebih tua tiga tahun dari Hoon, tapi dia terus saja kurang ajar...”
“Kalau begitu, kamu boleh memanggilku Oppa...” kata Seo Jin, kali ini dengan bahasa yang tidak formal.
Aku termenung beberapa detik sambil memikirkan apa yang harus aku katakan. Hal ini baru bagiku, aku tdiak terbiasa akrab dengan orang lain sehingga sifat lembutnya ini membuatku berfikir apa aku harus menerimanya atau tidak. Tapi tidak ada alasan juga untuk menolaknya. Ia juga Oppa bagi semua orang, jadi aku pikir tak masalah juga aku memanggilnya demikian.
“Baiklah Oppa...” aku ikut menurunkan bahasaku dari formal ke nonformal
“Aku merinding mendengarnya...” Hoon menggelengkan kepalanya, “cepat pergi sana!” usirnya.
“Aku mengunjungi Zoey, bukan kau...” walau Soe Jin mengatakan hal tersebut, ia berdiri dari duduknya dan mengenakan topinya.
“Boleh aku minta nomormu, Zoey?” tanyanya padaku.
“Tentu saja...” aku mengambil ponselku dan memberikan nomorku.
“Oh, ini nomor lama Hoon...” kata Seo Jin begitu ia melihat contact ponselnya, “kau menggunakan nomor Hoon?”
“Iya, situasinya rumit...” aku hanya tersenyum tanpa menjelaskan apapun.
“Boleh kita foto bersama?” walau aku terkejut dengan permintaannya, namun aku tanggap dengan situasinya. Ia mungkin perlu bukti bila sewaktu-waktu ada masalah dengan kasus ini.
“Tentu saja!” jawabku cepat. Ia lalu mengangkat ponselnya dan kami berfoto bersama. Hoon sempat terkejut namun terlambat menyadarinya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungimu nanti...” Seo Jin mengulurkan tangannya.
“Sampai ketemu lagi...” katanya setelah aku menyambut tangannya.
“Hati-hati, pastikan kau tidak terlibat masalah apapun...” kata Hoon sambil mendorongnya keluar.
“Aku tahu, berhentilah merengek...” Seo Jin mengacak rambut Hoon.
“Berhenti memperlakukanku seperti anak-anak!” Hoon protes namun di wajahnya terlihat sekali bahwa ia menyukai perlakuan Seo Jin.
“Ya...ya...” Seo Jin kemudian menghilang setelah melambaikan tangannya padaku. Hoon kembali masuk ke dalam kamar dan menghampiriku.
“Hati-hati saat menghubunginya...” kata Hoon singkat.
“Apa kau cemburu?” aku menggodanya.
“Bukan seperti itu, kau tahu kan dia bukan orang biasa...”
“Ya aku tahu...” aku menatap jemariku, “tangannya begitu halus dan lembut, aku baru pertama kali bersalaman dengan artis...”
“Tentu saja!” Hoon menyambar tanganku dan menggengamnya. Melihat wajahnya yang cemberut membuatku tertawa.
“Aduh...aduh...perutku....” aku harus menahan tawaku karena luka di pinggangku.
“Rasakan...” Hoon duduk di sampingku tanpa melepaskan pegangan tangannya. Aku mengamatinya, ia seperti sedang berdoa.
“Apa yang kau lakukan?”
“Melakukan ritual pengusir setan!”
“Ih apaan sih?”
“Serius, barusan aku melihat setan yang mencoba menganggumu...” sorot mata Hoon tidak dibuat-buat saat mengatakannya. Aku menoleh ke sana kemari, mengedarkan pandanganku di setiap sudut kamar.
“Kita pulang aja, yuk...” aku merasa ngeri sendiri.
“Kau takut hantu? Kau? Seorang Zoey?” Hoon tertawa, ini informasi baru untuknya.
“Kita tidak bisa menghajar hantu kan?” aku yakin ia bisa dengan jelas melihat raut ketakutan di wajahku.
“Tak tahu, aku belum pernah melakukannya. Tapi untuk hantu yang satu ini, aku bisa saja melakukannya tapi aku tidak mau...” sorot mata Hoon tiba-tiba redup saat mengatakannya. Aku tidak tahu apa maksudnya. Ia terlihat kembali memikirkan sesuatu, dan lagi-lagi Hoon memilih untuk diam.
Hoon adalah laki-laki dengan sejuta rahasia.
***