
“Wow...” gumam Hye Sung begitu ia melihatku keluar dari salon.
“Kenapa? Aneh?” aku memegang tengkukku yang kini bisa merasakan semilir angin. Aku kembali memotong pendek rambutku dan mengecatnya sedikit kecolekatan.
“Tidak, Anda terlihat sudah siap untuk berperang...” Hye Sung membukakan pintu penumpang sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
“Memang sudah saatnya kan?” jawabku sambil menghela nafas pelan.
“Apa Anda kini benar-benar akan serius menghadapinya?”
“Ya, tapi bukan untuk menguasi segalanya...” aku menoleh dan menatap Hye Sung dengan yakin, “aku hanya ingin mengakhirinya, aku lelah Hye Sung-ah.”
“Kalau begitu istirahatlah selama perjalanan, saya akan membawa Anda ke homestay saya. Ada beberapa hal yang sudah Juna-ssi persiapkan. Saya tidak membawannya bersama saya karena saya terburu-buru menjemput Anda...”
“Hmm...” aku memejamkan mataku sebentar. Kepalaku masih berdenyut karena luka yang aku dapatkan. Walau memar diwajahku sudah ditutup make up oleh make up artist di salon, tapi sakitnya masih bisa dengan jelas aku rasakan.
Aku berlari masuk ke dalam homestay karena udara dingin sudah terasa mengigit kulit sedangkan aku tidak mengenakan baju yang cukup tebal. Homestay yang ditinggali Hye Sung kini terlihat sepi karena beberapa karyawan La Red de Alice sudah pindah ke tempat lain. Hanya tinggal Hye Sung dan seorang asisten rumah tangga yang membersihakan rumah.
Hye Sung membawaku ke ruang tamu yang sudah ia ubah menjadi ruang kerja. Beberapa meja ia tata menjadi satu dan berkas-berkas sudah ia kumpulkan berdasarkan rumus tertentu yang hanya di ketahuinya. Aku mengernyitkan dahiku bingung. Bagaimana bisa Hye Sung memiliki banyak sekali kemampuan seperti ini?
“Apa kau kuliah? Di mana?”
“Saya?”
“Tentu saja! Kau pikir ada orang lain di sini?” aku melihat berkas-berkas itu dengan seksama, Hye Sung jelas-jelas memahami bagaimana perusahaan beroperasi dilihat dari cara dia membuat timeline dan historigrafis beberapa saham milik pemegang saham yang ia susun.
“Saya kuliah bisnis di Toronto. Tuan Suthley sendiri yang membimbing saya selama saya bekerja di sana”, aku hanya bisa mengangga mendengar jawaban Hye Sung. Ia lalu menambahkan bahwa dirinya awalnya hanya seorang gelandangan di Jepang sebelum ibunya menemukan Hye Sung. Hye Sung lalu dijaga oleh seseorang yang mengelola dojo sebelum ia dikirim ke Kanada untuk kuliah bisnisnya.
“Saya pernah mengunjungi Anda bersama Nyonya Leona di Paris beberapa kali sambil belajar tentang Emerland Crop di sana...” ini berita yang mengejutkan lagi. Aku tidak menyangka Ibu mengunjungku diam-diam.
“Nyonya menggunakan alasan berobat ke luar negeri untuk mengunjungi Anda dan beberapa poperti...” jelas Hye Sung begitu melihat kebingunganku. Aku benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi. Keluargaku penuh dengan misteri yang kini sudah tidak lagi mengejutkanku jika apa yang dianggap tidak mungkin kini bisa jadi saja terjadi.
“Apa Anda benar-benar baik-baik saja?” Hye Sung memastikan kondisiku.
“Tentu saja...” jawabku pelan sambil menarik kursi yang ada di sudut meja.
“Skenario yang kami susun adalah ini...” Hye Sung menyelakan LCD proyektor yang ia hubungankan dengan notebook yang ada di hadapannya, “Anda kembali ke Yayasan terlebih dahulu untuk mengurus mutasi Anda. Kita masuk dengan cara baik-baik begitu juga keluarnya. Setelah itu, Anda akan menduduki posisi Direktur bagian Departemen Luar Negeri di Kantor Utama Mirae Grup. Anda tahu kan kalau Departemen ini yang mengurus segala investasi, saham dan juga kerja sama dengan pihak luar?”
“Tuan Suthley sudah menarik karywannya dan menggantikannya dengan Anda. Dari sinilah Anda akan mulai berkerja sebelum dilakukan rapat pemengang saham untuk membahas pergantian Presiden Mirae...” Hye Sung kemudian menampilkan bagan dan juga presentase saham yang dimiliki Mirae saat ini. Aku bisa dengan jelas melihat kemungkinan perubahan kepemimpinan ini sangat kuat dengan porsi yang dimiliki investor asing dan juga beberapa perusahaan lainnya.
“Anda harus menemui beberapa pemegang saham untuk melakukan tawaran dengan mereka. Anda bisa mempelajari berkas yang ada di sana.” Berkas yang ditunjuk oleh Hye Sung merupakan berkas kontrak dan proyek yang sedang dikerjakan Mirae Grup bersama dengan rekanan.
“Mo Tae Dong...” aku bergumam melihat nama perusahaan yang tertera di salah satu berkas yang ditunjukkan Hye Sung.
“Ya, walau Mo Tae Dong sudah memberikan lampu hijau pada Anda, sebaiknya Anda pelajari lagi berkasnya dan melakukan pertemuan dengannya sebelum rapat pemegang saham di mulai.” Hye Sung kemdian mengakhiri presentasinya sementara untuk menyiapkan sarapan bersama dengan asisten rumah tangganya. Aku membaca beberapa berkas lagi sebelum bergabung dengan mereka di ruang makan.
Kami berangkat ke Mirae Foundation selepas makan siang. Hye Sung dan aku cukup kelelahan sehingga kami memutuskan untuk tidur kurang lebih tiga jam untuk memulihkan kondisi kami. Hatiku tiba-tiba berdebar saat gedung kantor mulai terlihat. Tiba-tiba saja aku ingat kepada Seo Jin saat bersiap untuk bertemu Direktur Ahn. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya.
“Zoey!” Direktur Ahn terkejut saat melihatku muncul dari pintu ruangannya. Beliau menyosong langkahku dan langsung memelukku begitu sampai dihadapanku, “aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi rumor itu sudah beredar dengan cepat. Apa benar kau akan menduduki jabatan ayahmu?”
Ini adalah jawaban kenapa beberapa Direktur bagian melihatku dengan tatapan aneh. Mereka memang sudah menduga aku hanya menjadikan Mirae Foundation sebagai batu pijakan. Tapi mereka tidak menyangka bahwa batu yang aku pijak akan membawaku ke puncak Miare Grup.
“Belum ada yang pasti Direktur Ahn...” aku menjawabnya dengan jujur, “tidak mudah kan untuk meraih posisi itu?”
“Aku hanya tidak percaya kau memiliki ambisi sebesar itu dengan tampilanmu yang begitu tenang dan lembut...” beliau menatapku dengan tatapan penuh kekaguman namun sekaligus...sedih? Kenapa ada gurat kekecewaan di sana?
“Mungkin orang tua ini benar-benar egois, tapi Eomma benar-benar berharap kau akan bersama dengan Seo Jin. Dengan dirimu menjadi orang nomor satu di Mirae tentu saja membuatmu tidak puas dengan anak eomma...” aku terkekeh mendengar pernyataan ibu Seo Jin. Aku pikir beliau tidak yakin dengan kemampuanku atau beliau memiliki niat tersendiri untuk menduduki Miae Grup. Biar bagaimanapun Direktur Ahn juga memegang saham Mirae walau hanya beberapa persen.
“Jika Eomma bisa membantumu, Eomma akan dengan senang hati mengulurkan tangan Zoey. Walaupun tidak banyak, namun Eomma sudah lama bekerja di Mirae, setidaknya dengan mendukungmu akan menambah kepercayaan beberapa orang yang bisa membantumu...” ini adalah bantuan yang datang tanpa direncanakan. Aku tidak berani untuk meminta bantuan Direktur Ahn mengingat statusku dengan Seo Jin. Aku tidak ingin memanfaatkan status ini untuk meminta bantuannya.
“Terima kasih, Eomoni...” aku kembali memeluk Direktur Ahn. Setelah berbicara terkait dengan beberapa informasi dari yayasan, aku menyempatkan diri bertemu dengan beberapa karyawan yang sempat bekerja sama denganku. Beberapa Direktur bagian juga memberikan salamnya sebelum aku meninggalkan Mirae Foundation.
“Aku tahu kau akan sibuk, tapi sempatkanlah untuk membuat dirimu nyaman. Anak itu sudah beberapa kali menghubungiku untuk menanyakan kabarmu. Kalian tidak saling bertengkar kan?” Direktur Ahn membisikkan perihal Seo Jin sebelum menyuruhku untuk segera berangkat. Aku hanya mengangguk walau aku tidak tahu kapan aku akan menemuinya. Aku sengaja mengabaikan panggilan Seo Jin ke ponselku.
Aku membutuhkan waktu untuk menyiapkan diriku.
Aku mengusir bayangan Seo Jin dan kembali fokus ke dalam pekerjaanku.
Rekanan selanjutnya yang harus aku temui adalah Mo Tae Dong.
***