Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 8; Help Me!



Kepalaku sakit sekali...


Aku berusaha keras membuka mataku, ada yang tidak beres di sini.


Aku tidak tahu kapan aku tak sadarkan diri.


Aku tak mengenal ruangan ini.


Dan aku tak mengenal lelaki ini.


“Kau sudah sadar?” katanya, membuatku bergidik ngeri. Aku segera mengumpulkan kesadaranku dan berhasil melihat laki-laki itu dengan jelas. Aku benar-benar tak mengenalinya.


“Siapa kau?” tanyaku jeri.


“Tidak penting siapa aku...” laki-laki itu mendekatiku dan mengengkam bahuku. Aku terdesak di atas tempat tidur. Kepalaku terus saja berdenyut dan pandanganku kabur karena pengaruh alkohol. Situasi ini tidak menguntungkanku. Aku mencoba berontak namun laki-laki ini terlalu kuat mencengkramku.


“Kau cantik, beruntungnya aku...” aku bisa dengan jelas mencium bau alkohol dari mulutnya saat ia mengatakannya di telingaku. Aku tergagap saat ia mulai mencium leherku. Aku berusaha berontak dan berhasil menendang perutnya.


Nafasku tersengal saat aku turun dari tempat tidur, kakiku terbelit oleh gaunku sendiri. Sial! Aku jatuh dan tersungkur di lantai kamar. Aku mengeram pelan sambil berusaha berdiri lagi.


“Mau kemana kau, Sayang...” laki-laki itu juga berdiri dan meraih lenganku. Dengan tenaganya yang lebih kuat dariku, ia memojokkanku di tembok.


“Hentikan...” tubuhku mulai gemetar menolak sensasi mengerikan saat ia menyentuh bagian tubuhku.


“Tolong...” tangannya membekap mulutku saat aku hendak berteriak. Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi. Tanganku mencoba meraih apapun yang bisa aku gunakan untuk menyerangnya sambil terus memberontak.


“Percuma kau berteriak, ruangan ini kedap suara. Lebih baik kau nikmati saja malam ini Sayang...” perkataannya membuatku muak. Aku mengumpulkan sisa tenagaku dan mendorongnya sekencang mungkin. Saat ia terdorong beberapa meter didepanku, aku meraih kotak tisu yang terbuat dari kayu dan menghantamkannya ke kepala laki-laki biadap itu. Aku berlari ke arah pintu sebelum ia kembali sadar.


“Beraninya kau!” ia menggeram marah dan meraih tanganku tepat sebelum aku memegang ganggang pintu. Ia memukul wajahku hingga tubuhku menabrak daun pintu. Ia menarik rambutku dan menciumku dengan kasar.


Tuhan, ujian apa yang akan Engkau berikan lagi padaku?


Aku tak sadar bagaimana aku bisa ada di ruangan ini bersama laki-laki ini. Terakhir yang aku ingat aku masih berada di beranda ballrom hotel untuk pesta tidak penting itu. Aku mengutukki diriku sendiri. Situasi ini sangat tidak adil. Aku bisa bela diri, tapi apa gunanya sekarang kalau aku dalam keadaan setengah sadar seperti ini?


“Ku..mo..hon...” aku tetap berusaha mendorong tubuhnya. Air mataku mulai mengalir. Aku sudah lama sekali tidak merasakan air mataku sendiri. Ia mengalir hangat dari mataku tapi hatiku terasa begitu dingin, aku merasa kotor dan hina.


Aku mengigit bibirnya sekuat tenaga saat ia kembali menciumku.


“Kurang ajar!” laki-laki itu kembali memukulku. Pukulan yang semakin lama justru membuatku sadar. Aku kemudian mengepalkan tanganku, memusatkan seluruh tenagaku di sana dan memukul rahangnya sekuat tenaga. Satu serangan yang fatal jika aku dalam kondisi sadar.


Laki-laki itu terkapar, memberiku waktu untuk melarikan diri. Aku keluar kamar dan menyadari bahwa aku berada di hotel. Hanya ada pintu-pintu kayu di sepanjang lorong. Aku melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari pintu keluar. Aku melihat lift di ujung kanan lorong ini dan mulai berlari ke arahnya. Aku beberapa kali merapatkan tubuhku di tembok hotel untuk menjaga keseimbanganku.


“Kau pikir kau bisa kabur!” aku kembali mendengar suara laki-laki itu berteriak marah.


Ayolah Zoey, selamatkan dirimu, kuatkan dirimu. Aku tak henti-hentinya berdoa seolah ini kesempatan terakhirku untuk hidup. Aku meraih tombol lift dan menekannya berulang-ulang sambil terus berharap keberuntunganku belum berakhir.


Ding


Aku mendengar suara lift bersamaan dengan munculnya laki-laki itu dari balik pintu. Ia mulai berlari mengejarku. Pintu lift belum juga terbuka. Aku semakin panik menekannya.


“Kumohon...” begitu pintu terbuka aku masuk ke dalam lift dan menekan tombolnya lagi. Berulang-ulang agar pintunya segera tertutup, "tolong aku..."


“Aku mohon...” aku mulai menangis saat melihat laki-laki itu mulai mendekat.


Pintu lift mulai tertutup.


Aku hampir saja menghela nafas lega.


BANG!


Ternyata keberuntunganku selesai. Laki-laki itu berhasil memasukkan tangannya di detik terakhir sebelum  pintu tertutup. Aku melihat tangan itu dengan tatapan putus asa, sudah pasti pintu ini akan terbuka. Aku melangkah mundur dan jatuh terduduk di sudut lift saat kaki-kakiku juga ikut menyerah.


Aku melihat pintu lift terbuka, “kau sial sekali Nona...” kata laki-laki itu sambil melangkahkan kakinya ke dalam  lift. Aku meringkuk dalam sambil memeluk lututku. Tubuhku menggigil, aku merasakan ketakutan yang tak pernah aku alami seumur hidupku. Air mataku tak henti mengalir dan aku mulai terisak.


“Tenang Nona, semuanya sudah selesai...” aku tertegun. Bukan suara kasar laki-laki itu yang aku dengar. Suaranya begitu hangat dan femiliar, seolah aku pernah mendengarnya. Aku pasti bermimpi saat ini.


Tapi hening, hanya ada suara laki-laki itu.


Aku memberanikan diri mengangkat kepalaku dan melihat laki-laki yang tadi mengerjarku sudah terkapar di dalam lift. Ada seorang lagi yang berdiri sambil berbicara dengan teleponnya. Begitu paniknya aku hingga aku tak menyadari kehadirannya tadi di dalam lift.


“Kau lihat CCTV? Bawa laki-laki ini ke ruang keamanan. Selediki dia, kalau dianggap perlu hubungi polisi. Cek CCTV di lantai 53!” perintah laki-laki itu lagi.


Aku menyentuh ujung mantel hitamnya. Ia menoleh dan menatap ke arahku. Perlahan matanya melebar saat melihatku. Seolah menyadari sesuatu. Begitu juga denganku.


“Ya Tuhan! Zoey!” ia berteriak tertahan lalu melepas mantelnya dan segera menutupi tubuhku. Perasaan lega itu membuatku kembali menangis. Aku beruntung sekali bertemu dengan orang yang aku kenali walau dalam kondisi seperti ini.


“Aku hampir tidak mengenalimu...” laki-laki itu memelukku sambil mengusap kepalaku lembut.


“Apa yang terjadi padamu...” ia bertanya tanpa berkeinginan meminta jawaban, “semuanya akan baik-baik saja Zoey, aku ada disini...” katanya terus menenangkanku yang entah kenapa justru membuatku semakin menangis. Perasaan lega membuncah di dalam dadaku, membuatku tak bisa mengatakan apapun.


“Hoon-ah” aku memanggil namanya pelan di sela tangisku.


“Iya, aku di sini Zoey...” Hoon mengusap kepalaku lagi agar aku lebih tenang.


Ponselnya kembali berdering.


“Halo, Kepala Jang... jangan laporkan kasus ini ke polisi!” perintahnya.


“Anda mengenal wanita itu Tuan?” aku ikut mendengarnya.


“Ya, dia kenalanku. Bawa laki-laki ini ke ruanganmu. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Aku bahkan tak peduli jika kau menghajarnya...” aku bisa merasakan gemuruh di dada Hoon saat menahan amarahnya.


“Baik Tuan...”


“Satu lagi, hapus rekaman CCTV saat di lift dari data server dan berikan padaku file aslinya...”


“Baik!”


Ia mematikan teleponnya, “sebentar Zoey, tenangkan dirimu...” katanya lalu kembali menghubungi seseorang, “maaf Bu, aku tidak bisa pulang malam ini. Iya.. aku masih di hotel, aku akan tidur di sini malam ini, iya, jangan khawatirkan aku...” ia lalu mematikan teleponnya dan berbalik ke arahku.


“Kau bisa berdiri?” tanya Hoon dengan tatapan terluka saat memandangku. Apa tampilanku begitu kacau?


Aku mengangguk dan mencoba berdiri dibantu bimbingannya. Begitu aku berdiri ia membantuku mengenakan mantelnya agar sempurna menutup tubuh bagian atasku.


Ding


Pintu lift terbuka dan aku melihat beberapa orang berpakaian hitam telah berdiri mununggu di sana.  Hoon merengkuhku dalam pelukkannya. Menyembunyikan wajaku dari orang-orang itu.


“Bawa dia. Aku akan ke sana setelah memastikan temanku ini tenang...” begitu orang-orang itu pergi, Hoon memencet tombol lift sekali lagi dan pintu lift tertutup.


“Kenapa hal ini bisa terjadi padamu Zoey? Ya Tuhan...” katanya sambil menahan pinggangku lebih kuat. Sama sepertiku, ia juga menyadari bahwa kakiku mulai lemas menahan tubuhku.


Ding


Pintu lift kembali terbuka di lantai 63. Tanpa memberikan aba-aba sebelumnya, Hoon langsung mengangkatku dan merengkuhku dalam pelukkannya. Walau aku tergagap dengan perlukannya, aku memilih diam dan merangkul lehernya. Aroma kopi yang aku cium dari tubuhnya membuatku tenang. Aku semakin merapatkan pelukanku. Berharap semua ini segera berlalu dan aku terbangun dari mimpi burukku.


Aku benar-benar beruntung bisa bertemu Hoon malam ini. Kalau bukan karenannya.


Aku...


 


***