Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 37; Apa Dany Oppa tidak Menyayangiku?



“Aku pikir masalah perjodohan dengan keluarga Hwang sudah selesai, tapi ternyata anak itu memilih untuk kabur...” aku mendengar seklias ucapan Dany Oppa saat aku hendak masuk ke kamar Juna. Mereka berdua terlibat pembicaraan yang cukup serius. Raut wajah mereka menujukkan adanya masalah yang mereka hadapi.


Aku mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan. Aku tidak akan menguping pembicaraan mereka dan gegabah memutuskan sesuatu. Lebih baik aku menunggu mereka sendiri yang bercerita atau aku bertanya terlebih dahulu daripada aku membuat kesimpulan yang tidak berguna lagi.


“Zoey...” Oppa sedikit terkejut melihatku. Aku masuk begitu mereka berdua menyilakanku masuk. Aku duduk di salah satu kursi yang ada di dekat beranda.


“Apa yang kalian bicarakan?”


“Apa yang ingin kau tanyakan?” kali ini Oppa yang bertanya balik, “aku akan menjawab apapun yang kau ingin ketahui, Zoey.”


Aku menatap  mereka berdua bergantian. Apa yang ingin aku ketahui? Banyak sekali tentunya. Saking banyaknya pertanyaan yang ingin aku tanyakan, aku jadi tidak tahu harus memulainya dari mana. Aku hanya tersenyum sambil menunduk. Masih tidak percaya bahwa kami akan duduk bersama lagi seperti ini, ini adalah gambaran yang dulu terasa begitu mustahil ada di hidupku.


“Kau kenapa? Gila lagi?” celetuk Juna sambil mengangkat daguku.


Aku menepis tangannya, “Aku hanya belum bisa mempercayai bahwa ini semua bukan mimpi. Tidak bisakah kau tidak menganggu imajinasiku?”


“Ini bukan imajinasi, bodoh!” kini tangan Juna secepat kilat menepuk dahiku, membuatku berteriak, bukan karena sakit tapi karena kaget.


“Juna!” aku memukul lengannya sekeras mungkin.


“Sial. Ini bisa memar seminggu!” Juna mengusap lengannya sambil meringis kesakitan. Aku diam-diam juga mengusap tanganku yang kebas. Sakit juga ternyata.


“Apa kalian tidak bisa berhenti bertengkar?” Dany Oppa menghela nafas lalu menyesap kopi dari cangkir yang sedari tadi dipegangnya. Aku dan Juna saling melotot tanpa berniat menghentikan pertengkaran kecil kami.


“Oppa...” aku menunda pertengkaranku dengan Juna dan mulai bertanya, “kenapa Oppa melakukannya? Aku pikir kita cukup dekat waktu itu, apa Oppa tidak menyayangiku?” dari semua pertanyaan, hal inilah yang membuatku merasa paling kecewa. Bukan masalah Ayah yang tidak menyukaiku atau tidak menganggapku anaknya. Tapi perubahan sikap Oppa yang paling membuatku merasa sedih dan berat menghadapi semuanya.


Dany Oppa adalah orang yang sangat aku hormati dan aku cintai. Walaupun Ayah dan Ibu adalah orang tuaku, tapi orang yang membesarkanku adalah Oppa. Ia yang selalu ada di sana, ia yang menguatkanku, ia yang menegurku bila aku melakukan kesalahan. Ketidakhadiran Oppa yang begitu tiba-tiba membuatku kehilangan kemudi atas diriku sendiri. Oppa lalu pergi menjalani wajib militer pada waktu itu. Ia bahkan tidak mau menemuiku yang jauh-jauh datang ke camp militernya. Kesepian itu membuatku begitu rapuh.


“Tentu saja Oppa menyayangimu, Zoey...” Oppa meletakkan cangkirnya di sisi tempat duduknya. Ia lalu menatapku, “Oppa tidak punya pilihan lain Zoey...”


Kami semua terdiam menunggu apa yang akan dikatakan Dany Oppa. Juna pun memilih diam dan  ikut mendengarkan dengan seksama. Aku melihat Oppa meremas jemarinya, ia terlihat kesulitan memilih kalimat apa yang akan ia katakan padaku.


“Oppa yang menyebabkanmu dalam bahaya, Zoey. Bisa dikatakan Oppalah yang menyebabkan iblis itu menginginkanmu...” Oppa menatapku yang kebingungan mencerna kata-katanya.


“Oppalah yang menyebabkan dendam Keluarga Mo membara, karena Ayah Mo Tae Dong, Mo Tae Sik pernah menyakitu Oppa, Ayah lalu menggunakan segala cara untuk memenjarakan Mo Tae Sik...” aku menelan ludahku mendengarkan fakta baru ini.


“Apa...”


“Mo Tae Sik telah mengambil nyawa orang yang Hyung cintai...” tiba-tiba Juna memotong kalimatku. Aku menoleh pada Juna.


“Orang itu bahkan tidak perlu berpikir banyak untuk mengambil nyawa orang lain Zoey...” Juna menambahkan.


“Awalnya Mo Tae Dong berniat membalaskan dendam ayahnya dengan menghancurkan keluarga kita melalui bisnis gelapnya. Tapi Tae Dong jatuh cinta padamu...” Oppa menatapku dengan penuh penyesalan.


“Kami tidak menyalahkan Mo Tae Dong atas apa yang dilakukan oleh ayahnya, tapi mengingat bagaimana keluarganya menyakiti hati kami, kami tidak menginginkanmu untuk ia miliki...” suara Oppa tercekat ditenggorokannya saat membayangkan aku jatuh ke tangan laki-laki itu, “walau aku salut dengan usahanya untuk menunjukkan diri bahwa dia berbeda dengan ayahnya, tapi bagaimana bisa kami menyerahkanmu padanya?”


Aku hanya temangu diam dan mendengarkan semuanya. Ternyata Mo Tae Dong juga harus menanggung akibat dari apa yang ayahnya lakukan. Walau aku membencinya tapi aku merasa sedikit bersimpati padanya.


“Maafkan Oppa, Zoey, tidak seharusnya menerima semua penderitaan ini. Aku akhirnya menyetujui keputusan Ayah untuk melakukan semua kebohongan ini. Kau boleh percaya atau tidak tapi menyakitmu tidak ubahnya seperti menusukkan pisau ke hati Oppa sendiri setiap kali melakukannya...” Dany Oppa mencengkeram kedua lengannya agar ia bisa menahan luapan emosi dari dalam dirinya agar tidak meledak saat ini juga.


Aku bisa melihat pantulan cahaya dari mata Oppa yang tergenangi air mata. Aku memalingkan wajahku menghindari tatapannya. Aku buru-buru menghapus sebulir air mata jatuh dari pipiku. Menyadari orang yang selama ini kau pikir membencimu tapi ternyata ia sangat menyayangimu merupakan kenyataan pahit. Kita tidak bisa mengulang masa-masa itu, kita tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memaafkan diri kita sendiri karena pernah membencinya.


“Maafkan kami, karena keegoisan kami lah yang membuatmu sengara. Kami tidak memikirkan bagaimana perasaanmu. Kami hanya memikirkan bagaimana kau bisa terbebas dari orang itu. Kami bahkan rela untuk menyuruhmu pergi hanya demi ketentaraman hati kami...” tanpa aku sadari Oppa sudah berada di depanku, tangan Dany Oppa meraih kedua tanganku. Ia menggenggamnya erat dan tanpa aku duga, Oppa duduk di hadapanku dan mencium tanganku.


“Jangan lakukan itu...” aku berdiri dan menarik tangan Oppa agar ia tidak berlutut di hadapanku. Pemintaan maafnya saja sudah menghancurkan hatiku, membuatnya berlutut seperti ini hanya akan membuatku merasa lebih bersalah lagi padanya. Oppa juga mengalami hari-hari yang berat saat dirinya harus bersikap tegas dan kejam pada orang yang selama ini ia sayangi.


“Kumohon...” aku memeluk Oppa dan membenamkan wajahku di dadanya, “kita masih hidup kan? Karena kita masih hidup, mulai saat ini kita cukup saling memiliki satu sama lain. Kedepannya kita akan bersama, saling memaafkan dan saling menjaga. Aku juga meminta maaf karena aku juga keras kepala...”


“Aku jadi pengen nangis...” lagi-lagi celetukan Juna membuatku ingin tertawa karena adik laki-lakiku itu kini sedang berkacak pinggang sambil mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak keluar. Walau aku terisak setelah menangis lagi, aku masih terkikik geli melihat tingkahnya.


Aku pikir aku akan baik-baik saja. Dulu dan saat ini sudah jauh berbeda keadaannya. Aku bukan lagi anak belasan tahun yang tidak tahu apa-apa, Juna juga sudah dewasa. Oppa sudah tidak perlu mengorbankan dirinya lagi untuk melindungi kami. Kami bisa saling melindungi, saling menjaga, dan menghadapi semuanya ini bersama.


Begitu leganya perasaanku, membuatku kembali lupa bertanya dan mengingat setiap detailnya. Malam itu hanya aku yang tidur dengan tenang dan tanpa beban, sementara Dany Oppa kembali merasa kehilangan yang begitu mendalam atas orang yang dia cintai. Juna? Juna merasa kembali bersalah padaku karena ia tidak menceritakan bagiannya.


***