
Seminggu ini aku sibuk dengan rencana pembukaan butik La Red de Alice. Setelah timku menemukan lokasi yang pas di Cheongdam-dong, aku segera menghubungi desainer interor dan juga Lucas. Sambil menunggu ruang display dan studio dirancang, aku dan Lucas menyiapkan beberapa desain terbaru untuk menyambut musim gugur. Asistenku sudah selesai mengerjakan desain itu dua hari yang lalu bersamaan dengan selesainya ruang pamer butik.
Aku mengecek beberapa detail kebutuhan sebelum acara pembukaan dimulai pukul empat nanti. Setelah semua persiapan beres aku masuk ke ruang staff untuk istirahat sebentar dan makan siang. Aku belum sempat makan dari pagi dan aku tidak ingin pingsan di tengah-tengah acara. Sebagai gantiku, Lucas sudah standby di ruang pamer butik untuk membantu staff yang masih mondar mandir ke sana kemari. Mereka ikut bersemangat dan tidak sabar menyiapkan hari pembukaan ini.
Setelah selesai makan aku mengambil baju ganti di dalam loker. Aku mengganti kaosku dengan one-pice dress sepanjang betis berwarna mocca. Aku sedang menarik resleting di belakang leherku dengan susah payah ketika ada seseorang yang meraih ujung jariku dan membantuku menaikkan resleting itu.
Aku menarik pergelangan tangannya dan membantingnya ke samping. Tubuh jangkung lak-laki itu menabrak loker dan menimbulkan suara yang cukup keras. Aku mengunci tangan kirinya dan hendak melayangkan sikuku telak dilehernya. Satu detik tidak cukup untuk mengontrol kekuatanku itu sehingga aku hanya bisa membelokkan pukulanku ke arah loker, menimbulkan suara bedebam yang kedua.
“OPPA!” teriakku kaget bersamaan dengan suara bedebam itu. Ya Tuhan aku hampir saja mencelakakannya.
“Sakit...” keluhnya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya dipipiku. Aku menarik sikuku dari atas bahunya dan melepaskan tanganku. Seo Jin lalu merosot duduk di lantai sambil memegangi belakang kepalanya yang terantuk ujung loker. Aku menggaruk kepalaku dengan penuh rasa bersalah.
“Apa Oppa baik-baik saja?” aku ikut menyentuh kepalanya. Aku bisa merasakan belakang kepalanya yang kini terasa panas dan aku yakin sebentar lagi akan benjol, “maafkan aku...aku tidak tahu...”
“Aku pikir aku akan mati...” kata Seo Jin sambil terus menunduk dan mengusap kepalanya berkali-kali.
“Aku juga...” aku merasa bersalah namun aku juga menahan tawaku melihat wajahnya yang lucu.
“Aku benar-benar tidak tahu kalau kau bisa bela diri. Kalau aku tahu aku tidak akan pernah melakukannya...” ia mulai mengeluh. Aku melihat pergelangan tangannya yang kini mulai memerah. Kulitanya yang putih membuat bekas cengkraman itu terlihat dengan jelas.
“Ada apa?” aku menoleh ke arah pintu dan melihat Juna berdiri di sana bersama dengan Hye Sung dan beberapa staff lain.
“Seo Jin-ssi kenapa kau duduk di lantai?” Juna lebih kaget lagi saat melihat Seo Jin.
“Aku hampir mati, tolong...” aku menoleh saat mendengar suara Seo Jin yang sengaja dibuat-buat.
“Kau apakan dia?” Juna masuk dan menarik Seo Jin agar berdiri sedangkan Hye Sung menghalau beberapa orang yang mulai mendekat. Aku meminta tolong Soo Ae yang juga terlihat di sana untuk mengambilkan es untuk mengkompres kepala dan tangan Seo Jin.
“Dia tidak memberitahuku kalau ia bisa bela diri, aku berniat memberinya kejutan tapi malah aku yang terkejut...”
“Maafkan aku. Tapi Oppa juga salah kan?” aku ikut duduk di sampingnya sambil mengkompres bagian belakang kepala Seo Jin. Aku merapikan rambutnya yang ikut berantakan sambil berusaha menahan tawaku.
“Nuna benar-benar kurang ajar, bisa-bisanya tertawa setelah membuat anak orang hampir kehilangan nyawa...” Juna menatapku dengan penuh curiga. Ia lalu beralih pada bunga yang ada di atas meja.
“Kau yang membawanya, Seo Jin-ssi?” tanya Juna.
“Bukan...” begitu Seo Jin menggeleng, Juna meraih bungan itu dan melihat kartu yang ada di dalamnya. Wajah Juna berubah dan ia buru-buru melempar karangan bungan itu ke tempat sampah. Seo Jin hanya melotot saking terkejutnya sedangkan aku langsung paham dengan arti tatapan dari Juna.
Tidak salah lagi, pasti Mo Tae Dong yang mengirimnya.
“Kau jaga dia, aku harus keluar sebentar...” Juna lalu keluar dari ruangan, meninggalkan kami berdua.
“Dia overprotektif ya?” Seo Jin menoleh kepadaku. Aku hanya mengangguk, “Juna bahkan lupa kalau kau hampir membunuhku, bagaimana aku bisa melindungimu kalau kau lebih kuat dariku?” aku bisa melihat Seo Jin menghela nafas kecewa.
“Ah kenapa Oppa bisa ada di sini?” aku baru sadar, aku tidak mengundangnya tapi kenapa ia bisa tahu kalau aku ada di sini.
“Hadiah...” tanpa menunggu persetujuanku ia memakaikan gelang di tanganku, “selamat...” katanya lalu bertepuk tangan seperti anak kecil.
“Aku akan memanfaatkanmu dengan memintamu untuk menjadi model kami...” aku tersenyum senang sambil mengusap gelang berawarna perak itu di tanganku.
“Tentu saja...” Seo Jin berdiri dan menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki, “selesaikan perisapanmu, maaf menganggu. Aku akan menunggu di depan...” Seo Jin mengusap ujung poniku pelan lalu berjalan keluar dari ruangan.
Hmmm, bukankah dia terlalu manis?
***
Acara pembukaan butik La Red De Alice itu dimulai. Seusai ucapan pembukaan dari Lucas, ia mengundangku dan mengenalkan aku sebagai Direktur sekaligus desainer utama di kantor perwakilan di Korea. Beberapa rekan bisnis, sesama desainer dan juga model turut memeriahkan acara pembukaan butik.
Flash kamera wartawan tidak ada hentinya begitu mereka melihat Han Seo Jin turut hadir di sini. Aku memperhatikannya dari kejauhan sambil menebak apa yang sedang ia bicarakan dengan awak media. Wajahnya terus tersenyum simetris seolah ia sudah lahir dengan senyum itu. Lesung pipit di sudut bibirnya membuat senyumnya begitu karismatik namun juga manis.
“Zoey-ssi...” panggilnya begitu mata kami bertemu pandang.
“Selamat sore...” sapaku pada beberapa wartawan yang berdiri mengelilingi Seo Jin.
“Malam Desainer Park...” sapa mereka sambil mengulurkan kartu nama mereka, “selamat atas pembukaan butik Anda. Saya tidak menyangka Han Seo Jin-ssi akan hadir di sini...”
“Saya juga tidak menyangka Tuan Han bersedia hadir di butik kecil kami. Saya bertemu dengannya ketika La Red De Alice mendapatkan kontrak untuk mendesain kostum comback SG Idol musim lalu...” aku otomatis tersenyum mendapat pertanyaan mereka. Walau tidak ada hubungan khusus antara aku dengan Seo Jin, tapi aku harus berhati-hati agar tidak terjebak dengan pertanyaan mereka.
“Benarkah? Saya kira Anda mengenal Han Seo Jin secara pribadi. Bukan begitu Seo Jin-ssi?”
“Tentu saja, kalau tidak saya tidak akan datang kemari. Ibu saya adalah atasan Zoey-ssi di Mirae Foundation. Anda sudah tahu kan? Ayolah Reporter Go, headline kehidupan pribadi saya tidak menarik lagi untuk dibahas kan? Tulislah tentang kualitas dari produknya. Saya beri bocoran sedikit”, Seo Jin memelankan suaranya, “saya adalah kandidat utama untuk model La Red de Alice, jadi nantikan berita baik selanjutnya...”
Aku menoleh kagum dengan kemampuannya menghadapi wartawan. Pertanyaan-pertanyaan mereka ternyata menjebak dan memiliki makna ganda yang nantinya bisa merubah fakta. Aku hanya menjawab seperlunya sedangkan Seo Jin membantuku dengan mulusnya.
Aku kembali mengedarkan pandangan sambil memastikan acara ini berakhir dengan rapi. Mataku menyapu seluruh ruangan yang mulai sepi sampai aku terpaku ke kaca besar yang langsung menuju jalan raya. Ada mobil sport berwarna kuning yang terparkir di sana dan sosok yang berdiri sambil bersandar di body mobil itu tidak lain adalah Mo Tae Dong.
Laki-laki itu menatapku dengan mata elangnya sambil tersenyum. Ia mengangkat cup coffe yang ada di tangannya sambil mengucapkan selamat. Aku membeku ditempatku. Latihan bela diriku bersama Jong Sik seolah tidak ada artinya. Aku tetap kaku hanya karena menatap matanya itu. Mo Tae Dong lalu mengedipkan matanya sebelum menghilang pergi dengan mobilnya.
“Zoey...” aku mendengar suara Juna memanggil namaku, “ada apa?”
“Dia... dia baru saja pergi... Mo Tae Dong, dia ada di sini...” Juna menatap keluar kaca dan sudah tidak mendapati laki-laki itu di sana. Ternyata Mo Tae Dong tidak hanya mengirimkan karangan bunga dan ucapan selamat tapi dia juga datang ke sini untuk melihatku. Keteguhan laki-laki itu sangat kuat dan ia berhasil membuatku takut untuk kesekian kalinya.
“Ada apa?” Seo Jin yang melihat kekhawatiran Juna ikut mendekat dan meneliti wajahku dengan seksama.
“Dia baru saja melihat hantu di seberang jalan...” Juna menjawab asal lalu mengajakku untuk segera pulang. Kami semua tidak mengatakan apapun dan pergi dari butik.
***