Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 31; PR Pertama Juna



“Juna... Juna-ya... bangun...” aku menggoyang-goyangkan tubuh Juna begitu sampai di kamarnya.


“Apa yang kau lakukan? Jangan katakan kalau kau tidak bisa tidur sendiri lagi...” gumam Juna tanpa berniat membuka matanya.


Aku jadi ingat kalau dulu aku juga sering sekali berlari ke kamarnya di tengah malam hanya untuk membangunkannya atau menyuruhnya untuk tidak tidur sebelum aku tidur. Juna selalu saja marah-marah namun ia pasti melakukan apapun permintaanku. Mengingatnya membuatku sadar bahwa ia peduli padaku meskipun kami selalu bertengkar.


“Bangun, kumohon...”


Juna lalu duduk dengan mata setengah terpejam dan menatapku dengan jengkel. Ia menggeser duduknya, memberikan ruang agar aku bisa duduk di sana.


“Apa kau menutup semua akses pencarian tentang diriku?” aku langsung bertanya, tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengan Juna.


“Oh, apa Nuna-ku sudah mulai tertarik dengan dirinya sendiri?” pertanyaan Juna tiba-tiba membuat otot tubuhku yang sebelumnya tegang dengan rasa penasaran menjadi lemas. Aku menyadari sesuatu hal. Aku tidak pernah peduli dengan semua itu sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah membaca berita tentangku, tentang perusahaan yang ada di Korea, dan aku tidak tertarik dengan media sosial sehingga aku terkesan tertutup dari semua hal itu.


“Beritahu aku, beritahu aku apa yang selama ini tidak aku ketahui...” begitu aku selesai bertanya, Juna menghela nafas panjang lalu kembali berbaring. Aku menarik lagi selimutnya. Ada sesuatu yang tidak beres di sini, “Juna....” rengekku.


Juna tidak mengatakan apapun. Ia berbaring sambil memunggungiku.


“Aku tak akan pergi sebelum kau mengatakan sesuatu...” aku ikut berbaring di samping  Juna.


“Kami sangat mencintaimu...” jantungku terasa begitu ngilu saat Juna mengatakan hal itu, “itu yang tidak kau ketahui, Nuna...”


Kalimat Juna bagai sebuah belati yang menyobek keheningan malam. Bagaimana aku bisa mempercayainya? Apa yang aku rasakan dan apa yang Juna katakan seperti dua sisi mata koin yang tidak akan bisa bertemu satu sama lain. Bertahun-tahun aku hidup dalam penolakan dan dalam pelarian. Bagaimana bisa semua rasa sakit itu adalah wujud cinta keluarga ini?


“Kau tidak percaya kan?”


“Bagaimana aku bisa mempercayainya? Aku tidak merasakan cinta dari keluarga ini seperti yang kau katakan itu!” aku menarik bahu Juna agar ia menghadap ke arahku. Aku tidak mau dipermainkan atau ditipu lagi olehnya.


“Kau tidak akan mempercayai apapun karena kau memilih tidak percaya dan menutup mata...” tatapan mata Juna terasa begitu menghinaku saat mengatakannya, “kau tidak sadarkan? Kenapa kau bertanya padaku jika dari awal kau sudah tidak percaya dengan apa yang aku katakan? Kenapa bertanya jika kau tak akan percaya?”


Aku hanya terdiam, aku kembali ditampar oleh kata-katanya, ia tidak salah. Aku memang selalu membantah dan melarikan diri dari semua yang dikatakan Juna. Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja sehingga dari awal aku selalu menolak apapun yang dikataknya.


“Aku ingin mengatakannya padamu, tapi tidak saat ini, terlalu panjang dan kau bukan tipe orang yang percaya begitu saja dengan apa yang aku katakan kan?” Juna menarik selimutnya sebal.


“Jawab satu saja pertanyaanku...” aku menyerah dan berdiri bersiap untuk meninggalkan kamarnya, “aku harus memulai dari mana?”


Ya, jika aku ingin membuktikan apa yang dikatakan Juna, aku harus mencari tahu semuanya sendiri. Banyak hal yang terjadi ketika aku kembali ke Korea. Kejadian akhir-akhir ini seperti sebuah lubang hitam yang muncul  mengacaukan semua hal yang aku percayai, membuatku tersedot kedalamnya tanpa tahu ujung dari lubang itu. Aku menjadi tidak yakin dengan diriku sendiri jika aku tidak menutup lubang itu satu persatu.


“Lakukan apa yang Ayah katakan dengan baik. Aku rasa ia menempatkanmu di yayasan dengan alasan itu...” Juna menatapku tajam.


“Yang kau percayai selama hidupmu adalah Ayah tidak pernah menyayangimu kan? Tidak pernah menganggapmu sebagai anaknya kan?” aku memilih diam saat Juna menaburkan garam di atas luka lamaku, “PR pertamamu dimulai dari yayasan itu. Yayasan memiliki banyak kegiatan yang melibatkan banyak orang dan media, lalu kenapa Ayah menempatkanmu di sana jika kau pikir Ayah tidak menganggapmu sebagai anaknya?”


Kami sama-sama terdiam sambil membaca ekspresi wajah masing-masing. Juna seolah memberikan dua pilihan padaku. Jika aku melarikan diri dari pekerjaan ini, aku akan kembali dengan apa yang aku percayai dan tidak pernah mengetahui jawabannya.


“Baiklah...” aku kemudian keluar dari kamarnya dan kembali ke kamarku. Aku berbaring dan kembali memaksakan diriku untuk tidur. Banyak yang harus aku lakukan besok, aku harus tidur untuk membuat pikiranku kembali jernih.


***


Aku berlari dari kamar mandi begitu mendengar dering telpon dari ponsel yang diberikan oleh Hoon. Tidak banyak orang yang tahu tentang nomor itu hingga aku menganggap orang-orang yang meneleponnya adalah orang-orang yang benar-benar aku kenal.


“Halo...” tanpa tahu siapa yang ada di ujung telpon, aku langsung mengangkat panggilan itu.


“Zoey-ya...” aku melipat dahiku karena tidak mengenali suara itu. Aku menjauhkan telpon itu dari telingaku untuk melihat siapa yang menelepon. Terlihat nama Seo Jin di sana.


“Kau lupa ya dengan Oppamu ini?” aku mendengar nada kekecewaan darinya.


“Bukan begitu Oppa...” aku langsung merevisi nama panggilannya. Kenapa ia terdengar begitu kekanak-kanakan begini hanya gara-gara nama?


“Bagaimana kabarmu? Kalau aku baik-baik saja, hanya sangat sibuk...”


Tiba-tiba aku terkekeh mendengar ocehannya. Tanpa aku tanya ia sudah memberikan informasi tentang dirinya terlebih dahulu. Prolog yang aneh.


“Aku juga, baik-baik saja dan sibuk”, aku berdeham sebelum menjawabnya, “apa yang membuat idol star yang sangat sibuk  ini meluangkan waktunya yang berharga untuk menelponku?”


“Seperti biasa, tanpa basa-basi. Kau janji padaku kan kalau kau akan datang ke panggung comeback pertama kami besok?”


Aku menelan ludahku gugup. Aku benar-benar melupakannya. Apa ini sudah dua minggu? Pekerjaan baruku di yayasan membuatku benar-benar sibuk. Walau aku masih dalam masa penyesuian, namun banyak hal yang harus aku pelajari secepat mungkin. Aku berpindah halauan dari bisnis yang berbasis profit oriented  (mencari keuntungan) ke bidang yang lebih menekankan pelayanan sosial dan donasi amal. Banyak sekali kegiatan dan event yang melibatkan banyak orang dengan berbagai macam kebutuhan yang berbeda. Belum lagi mengurus berbagai aset dan juga donasi dari donatur-donatur yang harus difasilitasi  dan juga harus diriset terlebih dahulu agar tujuannya tepat sasaran.


Tanpa aku sadari, aku benar-benar hanyut dalam ritme pekerjaan ini. Aku menyukainya sampai kadang aku lupa kalau aku masih punya tanggungan lain di luar pekerjaan ini. Aku masih harus merintis cabang butikku di Korea. La Red De Alice kini sudah memiliki lima karyawan termasuk Kim Soo Ah, ia yang selama dua minggu ini bolak balik dari yayasan ke studioku yang lama untuk persiapan launching brand di Korea.


“Aku tak ingat kalau aku berjanji padamu...” aku mengulur waktuku sambil beranjak ke meja kerjaku. Aku harus melihat jadwal kegiatanku besok pagi sebelum mengiyakan janji itu.


“Ah kau lupa ternyata...” katanya kecewa.


“Bukan seperti itu, Oppa. Aku baru tahu kau tipe orang yang seperti itu?” aku berhasil menemukan notes ku dan membukanya, “besok jam berapa?”


“Jam tiga sore!” katanya sedikit menaikkan suaranya karena terlalu bersemangat. Aku mendengus konyol.


“Aku tidak bisa janji datang tepat waktu...” hanya itu yang bisa aku janjikan. Aku masih memiliki jadwal meeting setelah makan siang dan aku belum tahu jam berapa meeting itu akan selesai.


“Yang penting kau datang...” Seo Jin terdengar lega di seberang sana, “aku akan mengirimkan free pass-nya setelah ini agar kau bisa masuk besok...”


“Oppa tidak sedang taruhan atau bersaing dengan teman-teman Oppa kan?” tanyaku curiga. Aku bisa mendengar Seo Jin tertawa keras.


“Uh, bagaimana kau tahu?”


“Kurang ajar! Aku tak sudi datang!” tanpa sadar aku mengumpat. Aku kelepasan, tapi orang itu justru semakin tertawa ketika mendengarku mengatakan hal yang cukup kasar itu. Aku menghela nafas lega.


“Aku kira kau tidak bisa berkata seperti itu!”


“Cih... aku juga manusia...”


“Apa yang kau lakukan saat ini?”


“Aku?” aku menatap keluar jendela dan mulai menjawab setiap pertanyaannya. Kami berbicara selama kurang lebih duapuluh menit. Ia mengakhiri panggilannya ketika ada seseorang yang memanggilnya dan mengatakan bahwa waktu istirahat sudah selesai. Aku melirik jam dindingku, ini sudah jam sepuluh malam dan Seo Jin masih latihan. Ternyata menjadi seorang idol itu tidak semudah yang orang pikirkan.


Aku melihat ponsel itu berkedip dan sebuah file masuk berisi free pass yang dijanjikan Seo Jin. Aku hanya menatapnya tanpa berniat membukanya.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu.


Apa kalian juga memikirkan apa yang aku pikirkan?


Di mana Hoon?


***