Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 6; Juna Park yang Tidak Aku Kenal



“Besok akan ada makan malam bersama dewan direksi dan pemegang saham Mirae Grup, aku akan mengenalkan Zoey dalam acara itu...” Ayah menutup makan malam keluarga itu dengan perintah. Aku menghela nafas. Ini pasti bukan sekedar makan malam.


“Aku bahkan tak memiliki gaun yang pantas untuk acara seperti itu. Aku tidak usah ikut...” kataku tegas. Ibu menatapku dengan khawatir. Tak ada yang berani melawan perintah Ayah selama ini.


“Percuma kalau kau seorang desainer kalau mengurus hal sepele seperti itu saja tidak becus!” Ayah tak kalah tajam menatapku.


“Apa sekarang Ayah mengakui kalau aku seorang desainer?” aku tersenyum sinis, “Ayah mengurungku selama seminggu di rumah ini, tak memberiku akses terhadap dunia luar. Walau aku seorang desainer, Ayah pikir aku juga memelihara ulat untuk memital benangnya sendiri?”


“Zoey!” Kak Dany menegurku tegas, “jaga bicaramu! Kau tidak melihat tidak hanya kau dan Ayah yang ada di sini?” aku menatap Kak Dany tak peduli. Ia lalu menyuruh istri dan anak-anaknya untuk pergi ke kamar.


“Besok aku akan berbelanja dengan Nuna, aku akan menjaganya...” Juna menyela pembicaraan yang sudah mulai panas itu. Ia mengedipkan matanya, seolah memberikan kode untukku. Tanpa mengatakan apapun aku berdiri dan meninggalkan ruang makan. Suasana di sana sangat sesak, ingin rasanya aku memutahkan makananku kembali.


Aku meringkuk di tempat tidurku, berusaha mengusir jauh-jauh semua pemikiran buruk yang dapat menghancurkan kewarasanku. Aku harus menemukan ide secepat mungkin untuk menolak perjodohan ini.


“Nuna...” suara Juna menganggetkanku. Aku menyibak selimutku dengan kasar, membuat Juna berdiri dari tempat tidurku.


“Sebenarnya apa maumu!” handrikku. Aku benar-benar tak bisa memahami perubahan sikap Juna yang begitu drastis ini. Aku mengenalnya, dia memang orang yang paling dekat denganku setelah Ibu, tapi aku tak pernah melihatnya begitu perhatian dan hangat seperti ini. Ia adalah sosok yang mementingkan dirinya sendiri dan juga egois, ia juga sangat tidak peduli dengan urusan orang lain.


“Nuna dengarkan aku...” Juna duduk di sofa kamar sambil memandangku dengan serius. Aku memutuskan untuk berbicara dengannya karena aku tak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya.


“Banyak hal yang terjadi selama Nuna ada di luar negeri...” ia berhenti dan memandangku untuk melihat reaksiku. Aku beranjak duduk di sampingnya dan memutuskan untuk mendengarnya.


“Pertama, Eomma semakin tua dan rapuh. Sering sekali ia masuk rumah sakit...” fakta ini mengejutkan aku. Aku tak pernah tahu itu.


“Eomma memang tidak sakit secara fisik, tapi batin, ia mulai lelah dengan pertengkaran dalam keluarga ini. Hal ini salah satu alasan aku berubah, Nuna...” Juna menyentuh lenganku, “aku memutuskan untuk menjaga Eomma, jika aku juga harus menjagamu, itu tidaklah masalah...” kalimat Juna membuat hatiku terenyuh.


“Nuna tau aku tidak lah tertarik dengan perusahaan, aku memang tidak tertarik karena aku juga sama-sama dengan Nuna...”


“Jangan bilang padaku, kalau selama ini kau berpura-pura bodoh agar Ayah tidak memperdulikanmu...” aku menatapnya tak percaya. Tapi setelah melihat sorot mata Juna, aku mulai menyadari sesuatu, “kau tak bercanda kan?”


“Setidaknya aku bebas dari perusahaan itu...” Juna tersenyum tulus menatapku, “kedua...”


“Perusahaan kita sedang tidak baik-baik saja. Sudah lebih dari 60% saham milik kita dimiliki oleh orang luar. Oleh karena itu Ayah dan Hyung berusaha mati-matian untuk mempertahankan keluarga kita. Jadi mereka memiliki ide untuk menjodohkan kembali kau dengan keluarga Hwang. Dengan begitu, keluarga Hwang akan tetap berada dipihak kita untuk mempertahankan perusahaan...” perkataan Juna membuatku tersadar.


“Bagaimana kau tahu kalau kau tidak ada di perusahaan itu? Bukankan cabang kita di Paris berkembang dengan baik? Bagimana bisa perusahaan pusat menurun?”


“Perusahaan kita yang ada di sana adalah plan B jika kita bangkrut. Hotel dan poperti yang kau kembangkan di sana menggunakan modal dari keluarga Ibu dan beberapa investor asing. Perusahaan kita di sini tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Bisnis itu sebenarnya sangat beresiko karena modal kita sangat terbatas. Jika bukan karena kau, tidak mungkin poperti kita berkembang di sana. Ayah sebenarnya memberikan ujian padamu dan kau lulus. Kau sangat hebat Nuna...” kenyataan ini juga membuatku terkejut. Bagaimana bisa?


“Aku tahu dari pasar saham, aku bermain dengan saham tanpa sepengetahuan Ayah dan Dany Hyung. Nuna tahu? Semua uang yang mengalir kepadaku masuk di sana, aku memiliki sedikit saham di beberapa perusahaan termasuk hotel kita yang di Paris...” seolah menjawab pertanyaanku, Juna menjelaskan semuanya. Selama ini aku hanya mendengar bahwa Juna menghamburkan uang untuk komputer-komputer keluaran terbaru, game dan bersenang-senang di luar negeri. Ayah sudah muak dan menyerah dengan kelakuan Juna.


“Aku bahkan tahu kalau kau memiliki sejumlah uang di bank swasta tanpa sepengetahuan Ayah atas nama orang lain”, aku cepat-cepat menimipuk Juna dengan bantal. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?


“Apa kau hacker?” tanyaku terkejut, “jangan-jangan...”


“Aku tidak segila yang kau pikirkan...” Juna tertawa, tawa pertama yang aku dengar darinya. Kami kemudian sama-sama terdiam untuk waktu yang lama.


“Terakhir...” Juna menatapku lekat-lekat, “Hwang Joon sangat mencintai istrinya, rencana mereka untuk bercerai bukan karena keinginan mereka, tapi karena perjanjian keluarga yang dimiliki keluarga Park dan keluarga Hwang...”


“Bagaimana kau bisa tahu informasi seperti ini?”


“Lalu bagaimana bisa Hwang Joon mau bercerai jika ia begitu mencintai istrinya?”


“Aku tidak tahu...” Juna lalu menatapku, “sebenarnya bisa saja aku yang menikah dengan keluarga Hwang, Ayah pernah membahasnya karena keluarga Hwang juga memiliki anak perempuan. Tapi kau tahu kan kalau aku tak layak menjadi bagian dari keluarga ini ataupun keluarga Hwang?” aku mencerna kalimat Juna dengan hati-hati. Aku tak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara kami berdua.


“Maafkan aku...” kata Juna lirih.


“Ada apa denganmu?” aku bertanya karena benar-benar penasaran dengan apa yang dipikirkannya.


“Entahlah...” Juna menyandarkan dirinya sendiri di sofa sambil melemaskan otot-ototnya, “aku hanya ingin kau bahagia Nuna...”


“Apa mimpimu Juna?” tanyaku untuk pertama kalinya. Aku tak pernah bertanya atau peduli padanya selama ini. Aku jadi penasaran dengan apa yang adikku inginkan.


“Aku ingin jadi seorang programer atau artis? Aku cukup tampan bukan?” Juna lagi-lagi tersenyum senang saat aku menanyakan keinginannya. Aku juga seperti itu dulu ketika ada orang yang bertanya apa yang aku inginkan.


“Kau bukan hanya cukup, tapi kau memang tampan Juna...” kataku tulus.


“Aku tahu...” Juna mengela nafas sambil memejamkan matanya, “seharusnya dengan apa yang telah kau lakukan di Paris, Ayah memberimu kebebasan untuk menentukan siapa pendampingmu...” Juna tiba-tiba membuka matanya dan menatapku dengan matanya yang tajam itu, “kau sangat cantik Nuna. Apa aku pernah mengatakannya?”


“Kau benar-benar sudah gila rupanya...” aku kembali memukulnya, menyadari sesuatu, “apa kau sedang jatuh cinta?”


“Kau tahu kan? Hal yang paling sulit di rumah ini adalah cinta?” Juna menghela nafas pelan, ia terlihat putus asa. Ya adik laki-lakiku ini pasti memiliki kekasih namun ceritanya juga sama peliknya.


“Apa orang rumah tahu?” tanyaku bersimpati.


“Tentu saja tidak...” Juna tertawa, kali ini tawanya menyimpan kesedihan, “dia orang yang baik, tapi dia tidak memiliki keluarga yang beruntung...”


“Oh iya, simpan ini...” Juna mengeluarkan sebuah kartu, “simpan baik-baik, kartu ini tidak akan terlacak oleh keluarga kita. Passwordnya adalah tanggal lahirmu...” Juna memberikannya padaku.


“Apa kau berniat menyuruhku kabur?” tanyaku pada Juna.


“Kita tidak tahu rencana apa yang sedang di susun Ayah atau Hyung agar kau menerima pernikahan itu. Selalu bawa itu dan satu lagi, jangan hubungi siapapun. Kalau kau membutuhkan sesuatu gunakan kartu itu, aku bisa dengan mudah melacakmu...”


“Kenapa hidupku jadi mengerikan seperti ini?” aku tersenyum sinis sambil menerima kartu kredit itu dengan hati-hati.


“Setidaknya besok kita jalan-jalan, Seoul empat belas tahun lalu sudah sangat berbeda dengan saat ini. Aku akan mengajarkanmu banyak hal besok...” Juna lalu berdiri hendak kembali ke kamarnya.


“Kau mengetahui sesuatu kan?” aku meraih tangannya.


“Aku tidak tahu pastinya, tapi firasatku tidak baik tentang ini. Hati-hati...” ia menepuk bahuku dan meninggalkanku setelah mengucapkan selamat malam.


Aku kembali termangu di kamarku dan menatap kartu itu dengan nanar. Apa jika aku kabur aku bisa dengan mudahnya lari dari keluarga ini? Dan hal yang memperburuk situasi adalah aku sudah lama tidak berada di Korea. Aku tidak tahu seberapa canggih negara ini berkembang.


Apa yang harus aku lakukan?


***