Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 26; Berdamai



“Kau benar tidak akan menemuinya lagi?” Juna bertanya sambil menyilangkan tangannya di hadapanku. Ia baru saja keluar dari membeli makanan dan bertemu dengan Hoon di depan kamar inapku.


“Iya...”


“Dia tahu kan apa yang terjadi padamu?” Juna menghela nafas kesal, “kalau  dia tahu dan dia masih datang ke sini bukannya itu pertanda baik?”


“...”


“Otakmu ikut tumpul ya?”


“Aku merasa sangat kecewa dengan diriku sendiri...bagaimana aku bisa menemuinya dalam kondisi seperti itu?” jawabku lirih.


“Kau tidak seharusnya memperlakukan laki-laki yang menyukaimu seperti itu...”


“Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini...”


“Tidak! Bagaimana aku tahu, bagaimana dia tahu kalau kau tidak membicarakannya. Kau pikir kami ini Tuhan?” Juna benar-benar kesal kali ini. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


“Kau mau ke mana?”


“Nanya sama Tuhan!”


“Juna!”


“Masuklah...” Juna menyuruh Hoon masuk. Mendengarnya berbicara dengan Hoonku membuat hatiku ciut. Aku kembali meringkuk di dalam selimutku.


“Tidak aku menunggu dari sini saja, sebentar lagi aku pergi...” jawab Hoon pasrah.


“Aku butuh udara segar, tidak ada yang menjaganya. Masuklah, jangan sampai ada orang gila yang masuk lagi melalui jendelanya...” perkataan Juna membuat Hoon terkejut. Ia hanya tahu apa yang terjadi tapi tidak tahu bagaimana orang itu bisa menyelinap ke kamar Zoey. Benar-benar tidak masuk akal, kamar Zoey kemarin ada di lantai delapan dan orang itu masuk melalui jendela!


“Bukannya lebih baik kalian bertengkar dan meredakan kegelisahan hati kalian dari pada sama-sama diam dan menunggu tanpa kejelasan kan?” Hoon lalu pergi begitu saja tanpa meminta jawaban. Bagi Juna, kamilah yang paling membutuhkan jawaban itu.


Aku mendengar langkah kaki Hoon semakin mendekat, ia lalu menghela nafas panjang setelah duduk di atas pinggiran tempat tidurku. Kami terdiam cukup lama. Sama-sama ragu ingin memulai percakapan dari mana.


“Maafkan aku...” kata Hoon lirih, “seharusnya aku tidak meninggalkanmu, aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri, kau berhak kecewa dan marah padaku Zoey.”


“Tidak...” reflek aku bangun dari tempat tidurku. Aku tidak menyangka Hoon memiliki pemikiran seperti itu.


“Zoey-ya...” Hoon terkejut saat melihat wajahku. Mata melebar, aku bisa melihat kilat kemarahannya yang  terpancar dari mata yang biasanya terlihat begitu lembut itu.


Aku mengalihkan pandanganku, “aku tidak apa-apa...”


Tangan Hoon terulur untuk menyentuh wajahku namun secara mengejutkan aku menghindar. Tidak hanya Hoon yang terkejut dengan sikapku, tapi aku juga merasakan hal yang sama. Kenapa aku menghindar seperti itu?


Aku meremas tanganku yang anehnya juga gemetar, “maaf...”


“Tak apa, pelan-pelan...” Hoon berusaha dengan keras untuk menyembunyikan perasaannya. Ia tidak menyangka aku akan ketakutan dengannya.


“Tidak...aku tidak bermaksud seperti itu...” aku menunduk dan menarik lengan bajunya.


“Tak apa Zoey...” Hoon mengatakannya dengan sepenuh hati.


“Aku...” aku menempelkan dahiku di lengannya, “aku merasa sangat muak dengan diriku, aku kecewa, aku begitu kotor...”


“Zoey!”


“...”


“Apa yang kau bicarakan!” Hoon meraihku dalam pelukannya, “kau tidak boleh memilki pemikiran sepert itu. Kau sudah berusaha keras untuk dirimu sendiri selama ini, jangan hancurkan dirimu dengan pimikiran yang tidak perlu seperti ini...”


“Aku lelah Hoon...” kataku putus aja.


“Kalau begitu kau hanya perlu istirahat...” Hoon mendekapku lebih erat.


“Aku takut...”


“Kau sekarang tidak sendirian...” Hoon lalu melepasakan pelukkannya, kedua tangannya memegang pipiku, membuatku bisa melihat dengan jelas ke dalam matanya, “keluargamu akan selalu menjagamu, kalaupun tidak, aku akan menjagamu...”


“Ya, tentu saja, kami tidak akan membiarkannya sendiri...” Juna tiba-tiba masuk. Membuat Hoon melepaskan tangannya, “jangan pedulikan aku, anggap saja aku tidak ada, lanjutkan lanjutkan...” ia lalu duduk di sofa dan menyalakan TV.


“Kau pikir aku akan melanjutkan apa?” aku turun dari tempat tidurku dan ikut duduk di sofa. Hoon mau tak mau juga ikut duduk bersama kami.


“Urusan rumah tangga?” tanya Juna sambil menaikkan sebelah alisnya.


“Urusan rumah tangga kepalamu!” aku menjitaknya.


“Serius aku tidak akan menganggu, hanya cukup mengawasi...” Juna masih saja menggodaku, atau tepatnya menggoda Hoon.


“Kau benar-benar menyebalkan!” aku menyerah mendebatnya, “kalian sudah kenal?”


“Sudah kenalan tadi...”jawab Hoon.


“Aku sebenarnya rela saja menyerahkan Nuna padanya, tapi masalahnya. Bagaimana nanti aku memanggilnya?” Juna terlihat berpikir keras sambil menelangkan kepalanya.


“Apa maksdmu?”


“Kau pikir akan semudah itu, HAH?”


“Jadi kalian beneran sepasang kekasih?” tidak seperti sebelumnya, kini Juna menatap kami dengan serius. Ia mendapatkan poinnya dengan kalimat jebakan. Tanpa sadar aku mengikuti permainannya.


“Tidak...” aku menatap Hoon saat mengatakannya. Kami belum pernah secara resmi mengakuinya, dan entah kenapa aku masih tidak yakin dengan Hoon.


“Kenapa?”


“Apa keluarga kita akan diam saja?” kataku akhirnya membawa lagi masalah keluargaku, perjodohanku.


“Nuna belum pernah menyobanya kan?” Juna lalu beralih menatap Hoon, “dan kau juga belum benar-benar memperjuangkannya...”


Aku memperhatikan wajah Hoon yang berubah. Pupil matanya bergetar saat ditatap seperti itu oleh Juna. Mereka berdua telihat sedang berbicara dengan matanya. Aku tidak tahu apa maksud kalimat dari Juna, apa dia berencana menguji Hoon?


“Aku akan membawanya pulang setelah ini. Zoey akan tinggal bersama kami...” kata Juna tegas.


“Kau belum meminta persetujuanku...”


“Ini perintah...”


“Aku harus bekerja! Aku punya pekerjaan!”


“Tidak ada yang berhenti menyuruhmu bekerja, kau akan tetap melakukan pekerjaanmu hanya saja akan ada yang selalu menemanimu...”


“Apa kau pikir aku anak-anak!”


“Ya, tepat sekali”, Juna beralih ke Hoon untuk meminta pendapatnya, “bukankah itu pilihan terbaik?”


“Ya, akan lebih aman jika kau bersama mereka Zoey...” Hoon tersenyum namun tidak benar-benar tersenyum.


“Menyebalkan...”


“Begitu juga dengan dirimu...” Juna menjulukan lidahnya dan meraih remot TV. Ia sengaja mengeraskan suaranya, menandakan ia tak ingin lagi memperdebatkan hal ini.


“Kapan kau akan kembali bekerja?” Hoon mengajakku bicara setelah sekian lama ia juga sibuk dengan pikirannya.


“Dua atau tiga hari lagi...”


“Hubungi aku, aku bisa mengantar dan menjemputmu...”


“Tidak perlu, mendengar kalimat Juna tadi, aku sudah menyangka akan ada seseorang yang bersamaku selama 24 jam”, aku membayangkannya saja sudah lelah. Apalagi yang menjalaninya.


“Tetap saja, aku ingin melakukannya...”


“Baiklah, aku akan menghubungimu...” aku tersenyum penuh rasa terima kasih. Ternyata begini rasanya memiliki orang yang sangat mempedulikanmu.


Plak!


Aku dan Hoon terkejut, Juna menampar pipiku, “ada nyamuk!”


“Kau berbohong kan! Mana ada nyamuk di sini!” aku bersiap memukulnya.


“Tidak, lihat, lihaat ini!” Juna menunjukkan tangannya dan memang ada nyamuk di sana, “benar kan!”


Aku tidak bisa mengelak, ia benar dengan nyamuk itu, tapi aku yakin Juna sengaja melakukannya.  Ia kini melirikku sambil terkikik geli.


“Kalian berdua sangat mirip...”


“Kami!?” kataku dan Juna bersamaan. Kami tidak pernah terima jika ada yang menyebut kami sepeti itu. Dari mana kami miripnya?


“Iya...” Hoon lalu berdiri dan pamit. Aku mengantarnya hingga pintu keluar.


“Hubungi aku saat kau boleh pulang dari sini...” pesannya sebelum pergi.


“Kau tidak akan ke sini sebelumnya?” tanyaku tanpa sadar.


“Kalau kau menginginkannya...” Hoon tersenyum, kali ini aku bisa melihat binar kebahagiaan dari matanya.


“Hati-hati...” aku melambaikan tanganku saat ia pergi.


“Hmm...” Juna kembali menggelengkan kepalanya, “bagaimana mungkin kalian tidak pacaran jika dari mata kalian saling mengirimkan sinyal cinta? Aneh...”


“Kau bisa diam tidak?”


“Apa Nuna tidak curiga?”


“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan!”


“Tidak ada!” Juna mengangkat kedua bahunya dan kembali mengabaikanku dengan TV-nya.


Apa yang ingin di katakan Juna sebenarnya?


***