
“Aku baru tahu kalau Nuna-ku ini sangat cengeng...” Juna masih menepuk-nepuk kepalaku untuk menenangkan isak tangisku.
Aku masih tidak bisa menjawab guruannya. Rasa sesak di dadaku seolah mencekik leherku, membuatku tidak bisa berbicara. Aku tahu ini baru awal, tapi kenapa dari awal sudah terasa begitu menyakitkan seperti ini?
Juna membimbingku masuk ke kamarnya. Ia menyuruhku untuk duduk di beranda rumah yang ada di ujung kamarnya. Juna menyulap beranda seluas delapan meter persegi itu menjadi taman dengan satu kursi gantung yang cukup untuk tiga orang. Juna adalah orang yang senang dengan pemandangan alam. Satu-satunya kamar yang memiliki rumah kaca di dalamnya adalah kamar milik Juna.
Aku masih ingat ketika ia selesai mendesain ulang kamarnya dan memamerkan hasilnya padaku waktu aku masih tinggal di Jerman. Ini kali pertama aku masuk dan melihatnya secara langsung. Aku duduk di kursi gantung sambil mengelap ingusku dengan tisu yang ada di atas meja. Aku mengedarkan pandanganku dan merasa ruangan ini seperti healing room yang sempurna, aroma segar dari dedaunan yang tumbuh subur membuat pikiran dan hatiku terasa lebih tenang.
“Mau minum?” Juna menempelkan kaleng bir dingin di pipiku, membuatku kaget.
“Thanks...”
“Sudah baikan?” tanyanya sambil menyusul duduk di sampingku. Juna menggeser duduknya ke samping, menaikkan kakinya ke kursi hingga ia bisa duduk sambil menatapku. Aku ikut menaikkan kakiku dan duduk berhadapan dengannya.
“Sudah jika kau memberikan kamar ini untukku...” aku tidak bercanda saat mengatakan.
“Gak sudi...” Juna melengos dan menganggap ucapanku tidak lucu. Aku terkekeh melihat wajah jengkelnya.
“Kau benar-benar gila!” Juna menginjak ujung jari kakiku ketika melihatku menangis dan tertawa dalam selang waktu yang tidak lebih dari satu menit. Aku sendiri juga terkejut. Selama ini aku cenderung tertutup dan jarang sekali menunjukkan emosiku pada orang. Tapi setelah aku pulang ke Korea, hatiku tidak lagi menaiki kereta yang dingin dan lurus tapi berubah menjadi roller coaster yang ritmenya bisa berubah kapan saja dalam hitungan detik. Aku lebih banyak menangis tapi juga sering sekali tertawa dengan hal-hal kecil.
“Kenapa?” tanya Juna lagi saat melihatku hanya diam saja sambil memainkan ujung jariku yang masih dalam pijakan Juna.
“Apa alasan sebenarnya Ayah menjodohkanku? Wasiat itu hanya bualan kan?”
“Tidak, warisan itu benar-benar ada...” Juna menyesap kaleng birnya, “dan isinya memang tentang warisan keluarga Park dan keluarga Hwang...”
“Bukan harta yang diincar keluarga ini!” kataku protes.
“Terus?” jawab Juna dengan entengnya.
“Kalaupun harta warisan itu didonasikan, perusaahaan kita juga memiliki yayasan untuk penyalurannya. Warisan itu tidak akan kemana-mana dan justru menjadi aset utama untuk meningkatkan citra perusahaan kita dan keluarga Hwang yang merintis yayasan itu!” pikiranku tercerahkan oleh kenyataan ini. Tiba-tiba sebuah penjelasan itu muncul di kepalaku.
“BINGO!” Juna bertepuk tangan dengan hipotesisku, “masalah itu sudah diselesaikan jauh-jauh hari dan dibangunlah yayasan itu sebagai solusi yang solutif. Ya walau beberapa panti dan sekolah memang sudah eksis dari lama tapi seponsor mereka bisa berubah kapan saja. Ternyata kau memang cerdas. Ke mana saja otakmu selama ini?” mau tidak mau aku menendang betisnya. Bisa-bisanya ia bercanda di saat-saat sepeti ini.
“Lalu kenapa kalian membohongiku?” hal ini yang membuatku bingung. Mereka semua, Ayah, Dany Oppa, Juna, bahkan Hwang Joon juga mengatakan semua ini karena uang, uang dan uang. Masalah perjodohan ini tidak ubahnya seperti pernikahan bisnis antar keluarga.
“Karena itu yang lebih kau percayai...”
“Katakan dengan jelas!”
“Appa tidak menyangka kau akan mendengarkan pertengkarannya dengan Eomma waktu itu. Pertengkaran yang membangun sebuah sekrenario besar dalam keluarga kita. Aku juga baru mengetahuinya untuk pertama kali saat aku sudah kuliah dan karena itulah aku langsung mengunjungimu ke Jerman...” Juna menyandarkan kepalanya di bingkai kursi sambil menatapku dengan tatapan bersalah karena ia juga tidak mampu mengatakannya dulu saat menemuiku.
Aku masih ingat dengan jelas, saat Ayah bertengkar dengan Ibu. Entah dari mana mereka memulainya, ketika aku pulang dari sekolah, Ayah mengatakan kalimat laknat itu. Kenapa aku harus dilahirkan sebagai seorang perempuan. Kenapa di rumah ini harus ada anak perempuan, kenapa aku tidak lahir saja seperti layaknya Dany Oppa ataupun Juna.
Walau kata-kata Ayah waktu itu tetap membuat hatiku sakit, aku masih bisa dengan polosnya menerima kemarahan Ayah dan hanya perlu berjuang lebih keras agar aku bisa bersaing dengan Dany Oppa atau Juna. Tapi semakin aku dewasa, aku menyadari bahwa bukan usahaku yang dibutuhkan oleh Ayah.
“Terakhir kali Ayah membawamu ke pesta, ada seseorang yang tiba-tiba menginginkanmu untuk dijadikan sebagai istrinya. Kau masih duabelas tahun Zoey, dan laki-laki itu meinginkanmu bagaikan sebuah mainan yang ingin dibawa pulang...” fakta baru yang mucul ini membuatku terkejut setengah mati.
“Mo Tae Dong?” tanyaku dengan lirih.
“Dia sendiri yang mengatakannya...” aku menelan ludahku jeri.
“Dari awal Appa sudah mengetahui bahwa ada yang tidak wajar dari Mo Tae Dong. Appa tidak ingin menyerahkanmu padanya. Tapi keluarga Mo terus saja mendesak perjodohan itu. Appa mendapat tekanan dari banyak pihak termasuk dari Ibu yang tidak menginginkanmu jatuh ke tangan srigala itu. Sampai akhirnya kemarahan Appa mencapai puncaknya dan hanya bagian itu yang kau dengar...”
Aku tidak tahu harus berkata apa, sehingga aku hanya menatap Juna tak percaya. Tapi jika aku tidak percaya, apa Juna sehebat itu bisa mengarang ceritanya?
“Kau mendengar bagian terburuknya dan Appa tahu itu...”
“Jadi bukan karena aku tidak berguna sebagai anak perempuan tapi karena aku anak perempuan, aku diincar oleh Mo Tae Dong dan Appa sangat menyesal dengan hal itu?” Juna mengangguk mengiyakan.
Tiba-tiba semua fakta itu memiliki benang merah satu sama lainnya. Karena hal itu aku menjadi lebih banyak belajar, usahaku untuk menunjukkan bahwa aku tidak kalah dengan anak laki-laki membuatku belajar banyak seni bela diri. Aku yang dulu merupakan anak manja dan lembut berubah menjadi sosok yang kuat dan gigih untuk belajar banyak hal. Ayah melihat ini sebagai sesuatu yang mungkin bisa menolongku suatu saat nanti.
“Tapi kenapa tiba-tiba aku dijodohkan?”
“Keluarga kita masih bisa beralasan kalau kau masih di bawah umur, sehingga Ayah masih memiliki waktu untuk mendidikmu. Tapi begitu kau dewasa, Ayah tidak memiliki alasan lain untuk menolak lamaran keluarga Mo. Satu-satunya cara adalah dengan menikahkanmu dengan orang lain dan ingatlah Ayah dengan Keluarga Hwang...”
“Sebentar...sebentar...” kepalaku tiba-tiba berdenyut saat mendengar semua ini. Terlalu banyak informasi yang harus aku olah di dalam otakku. Apa semua ini masuk akal?
Aku mencoba mengatur nafas dan pikiranku agar lebih tenang. Aku harus mengingat semuanya dengan detail. Tidak boleh ada lagi yang aku lewatkan sehingga aku bisa mengingat dengan jelas apa yang aku lakukan waktu itu.
“Aku sudah cukup dewasa untuk memahami semua itu, kenapa tidak ada yang berusaha untuk menjelaskan semuanya padaku?” gumamku pelan. Kenapa tidak ada yang memberitahuku?
“Kau yang menolak untuk mendengarkan penjelasan apapun...” kata-kata Juna membuatku mendongak, “kau bahkan mengamuk, kau mati-matian mencari beasiswa dengan mendaftarkan dirimu sendiri di universitas luar negeri. Kau berniat pergi dari kami..." Juna lalu melihatku, meningat bagian terburuk dari semua penolakan itu, "kau bahkan melukai hati kami dengan mengancam kami..."
Aku tertegun, semua ingatan itu kini berputar dengan jelas di memori otakku. Aku bahkan mengancam akan membunuh diriku sendiri jika mereka tetap menjodohkanku dengan orang itu. Aku begitu putus asa karena aku memiliki mimpi besar waktu itu, aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangi dan menghancurkan diriku.
“Aku takut pernikahan itu akan menghancurkanku...”
“Bullsht! Kenapa kau bisa memiliki pemikiran seperti itu? Kau bahkan belum bertemu dan berkenalan langsung dengan Hwang Joon. Padahal sewaktu kecil kita selalu mengekorinya kemana-mana saat ia bersama Hyung*. Jooney kita...” kaleng Bir yang aku pegang terjatuh begitu aku mendengar kalimat Juna. Apa yang ia katakan? Jooney? Apa hubungan Jooney dengan Hwang Joon?
Bagai tersambar petir di tengah terik matahari, aku menyadari ada sesuatu yang salah di sini. Jika aku tahu bahwa Hwang Joon adalah Jooney, aku akan dengan senang hati menerima perjodohan itu. Aku sangat menyukai sosok Jooney yang lembut sekaligus tegas itu. Ia selalu memberikan penjelasan yang masuk akal dan mudah dimengerti jika kami memiliki pertanyaan aneh di masa kecil kami. Kami selalu menyukai sosoknya yang begitu sabar dan pengertian. Jooney yang selalu membela Juna di hadapan Oppa.
“Kenapa kau keras kepala sekali sih menolaknya?” tanya Juna lagi.
“Aku hanya mengingatkanmu, jangan kau terima perjodohan itu atau kau akan menderita seumur hidupmu!”
“Kaget aku, kenapa tiba-tiba berdiri!” Juna protes saat aku berdiri dari dudukku. Suara itu kembali terdengar jelas ditelingaku.
“Hei! Kau mau ke mana! Nuna!” teriak Juna ketika aku hendak melangkah pergi.
Aku meninggalkan Juna yang masih bingung dengan perubahan sikapku. Aku mengabaikannya dan pergi ke kamar untuk mengambil barang-barangku. Aku harus ke suatu tempat sekarang. Aku harus menemukan seseorang.
***
Note:
Joon, jika orang Korea memangilnya dengan akrab akan menjadi Joon-ie. ie juga imbuhan akhir seperti -ssi, -ya, -a namun ie ini lebih terkesan penuh dengan afeksi/kasih sayang. Akan tetapi karena Juna dan Zoey setengah Korea dan belum paham benar bagaimana pelafalan dalam bahasa Korea, mereka memiliki pemikiran nama sendiri sehingga menganggap nama Joon-ie ini jika ditulis akan menjadi Jooney.