
Aku mencengkram buku-buku jariku hingga memutih. Sudah sejak pagi aku mondar-mandir dengan gelisah di ruanganku. Masih ada waktu sekitar 20 menit sebelum rapat dimulai. Apa yang harus aku lakukan? Sekeras apapun aku mengusir semua ingatan mengerikan itu, sekeras itu pulalah kenyataan menyakitkan itu menghantam kesadaranku. Tubuhku gemetar membayangkan wajah iblis yang hidup di dalam sosok manusia bernama Mo Tae Dong.
“Kau bisa melakukannya, Zoey...” aku terus saja memantrai diriku sendiri agar keberanian itu muncul di dalam diriku.
“Anda baik-baik saja?” tanya Jong Sik yang berdiri di sudut ruangan, matanya mengekoriku bergerak ke kanan-kiri.
“Apa kau lihat aku terlihat baik-baik saja?” tanpa aku sadari aku meninggikan suaraku padanya. Aku masih ingat bagaimana cara ia mengalahkanku dulu di Paris. Ia menggunakan ilmunya untuk menotokku dan membawaku pulang ke Korea dengan cara yang sangat licik itu.
“Ya, saya pikir Anda luar biasa. Anda masih punya tenaga untuk membuat lantai ini mengkilap dengan gesekan sepatu Anda...” aku melempar bolpoin yang ada di atas meja padanya. Tentu saja ia menghindarinya dengan mudah,
“Aku ingin sekali menghajarmu dan mengirimu ke neraka!”
“Lain kali kita melakukannya, Nona. Saya bisa menjadi teman berlatih Anda atau bertarung dengan Anda, tentunya dengan cara yang sportif...” aku mendengus dan mengiyakan tawarannya. Ia cukup hebat untuk dijadikan lawan tanding. Apa lagi jika ia mau mengajarkan ilmu bela dirinya padaku.
“Call...” jawabku mantap, “kau tidak boleh menghindar...”
“Tentu saja...”
“Direktur Park...” aku menoleh saat mendengar suara Sekretaris Kwon. Ia mengajakku untuk pergi ke ruang meeting. Aku mengikutinya dengan cemas, keringatku saja sudah mulai bercucuran.
“Tenangkan diri Anda, ia tak akan melakukan apapun di depan umum...” bisik Jong Sik di sampingku. Sedari tadi aku sudah meyakinkan diriku seperti itu, tapi hasilnya tidak memuaskan sama sekali. Tubuhku masih saja mengingat perbuatannya.
Aku masuk ke ruangan ditemani oleh Jong Sik, Sekretaris Kwon, dan Direktur Jang dari bagaian keuangan. Aku membuka pintu perlahan dan aku tidak mendapati sosok Mo Tae Dong. Ada sedikit rasa lega yang dapatkan, tapi di sisi lain aku juga penasaran kenapa ia tidak hadir dalam rapat yang sudah direncanakan sesuai dengan permintaannya. Hanya ada beberapa orang didalam ruang meeting yang belum aku kenal semuannya.
“Perkenalkan saya Direktur Park dan ini Direktur Jang...” aku mulai memperkenalkan diriku.
Tiga orang ini adalah utusan dari Perusahaan JM yang menduduki jabatan direktur keuangan dan direktur public relation serta asistennya. Aku memimpin rapat itu dan menjelaskan beberapa opsi proposal kegiatan pada Perusahaan JM tanpa masalah apapun. Mereka tidak banyak menuntut proposal kami dan memilih kegiatan bakti sosial dan mini garden party di retirement home yang berlokasi di Namyangju-si, Gyeonggi-do.
“Kita bertemu dua minggu lagi, semoga kegiatan ini berjalan dengan lancar Direktur Park...” Direktur Im Yeong Suk dari bagian public relation menyalamiku begitu kami selesai rapat.
“Hubungi kami jika ada hal yang ingin disampaikan atau ditambahkan sebelum acara dilaksanakan...” aku menyambut uluran tangan direktur yang terbilang masih cukup muda itu.
“Ah iya...” Direktur Im buru-buru mengeluarkan amplop dan memberikannya padaku.
“Apa ini?” aku memastikan dulu sebelum menerimanya.
“Oh ini surat dari Direktur Mo, sebagai permohonan maafnya karena tidak bisa bertemu dengan Anda secara langsung. Anda boleh membukanya terlebih dahulu di depan rekan-rekan Anda untuk memastikan isinya...” ia seolah-olah mengerti apa yang aku khawatirkan. Kami tidak boleh menerima apapun dari klien kami di luar perjanjian yang sudah dibuat dan ditandatangani.
Aku menerima amplop itu dan membukanya di depan semua orang. Hanya selembar kartu dengan satu kalimat di sana. Orang-orang yang ada di sana tertawa dan takjub melihat ketulusan Diketur Mo dari caranya mengirim kartu itu. Tapi aku bisa merasakan keringat mengalir dari punggungku seketika itu juga. Jong Sik yang melihat perubahan wajahku berjalan mendekat dan meraih kartu itu dari tanganku.
“Maaf bukan maksud saya untuk tidak menghargai perisapan yang telah Anda lakukan Direktur Park, kita bertemu lain kali, saya berjanji...”
-Mo Tae Dong-
“Saya tidak tahu Anda dan Direktur Mo sudah saling mengenal. Saya berharap hubungan baik ini akan terus berlanjut, kami pamit...” Direktur Im berkata sambil tersenyum penuh arti padaku. Ia dan rekan-rekannya kemudian pergi meninggalkanku di selasar gedung. Hanya tinggal Jong Sik dan aku yang ada di sana.
“Akhhhhh!!!” aku menggeram sambil berjongkok di lantai.
“Nona, apa Anda baik-baik saja?”
“Berhenti bertanya apa aku baik-baik saja. Kau tahu kan aku tidak baik-baik saja, kau sama sekali tidak terdengar mengkhawatirkanku tapi justru menertawakanku! Kau sebenarnya dibayar untuk apa sih!” aku menatap tajam Jong Sik yang kini tersenyum mengejekku.
“Berapa sih umurmu?” aku penasaran dengan umurnya. Kenapa ia bertingkah sangat tengil dan menyebalkan seperti ini seolah ia lebih tua dariku.
“Saya pantas di sebut sebagai Oppa oleh Anda...” kata Jong Sik saat berjalan mendahului langkahku meninggalkan selasar dan berjalan kembali ke ruanganku.
“Idih, mana sudi aku!” aku berjalan menyusulnya.
“Sejak kapan kau kerja dengan Presdir? Kau belajar bela diri dari siapa? Kau sudah menikah? Kau....” aku menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Laki-laki itu hanya menjawab seperlunya dan terkesan meremehkanku. Benar-benar menyebalkan.
Aku tahu cepat lambat aku akan bertemu dengan Mo Tae Dong. Mungkin bagi kalian, tidak bertemunya aku dengan Mo Tae Dong kali ini adalah sebuah keberuntungan. Tapi bagiku ini adalah malapetaka. Ia mengetahui kalau aku menyiapkan diri untuk bertemu dengannya hari ini. Aku juga setuju saat Ayah menyuruh Jong Sik untuk menemaniku hari ini. Mo Tae Dong seolah menikmati kekhawatiran yang akan aku rasakan selama dua minggu ke depan sebelum bertemu lagi dengannya. Aku berharap bahwa hari itu tidak segera datang sedangkan di sisi lain, Mo Tae Dong sangat menantikan hari itu. Pertemuan itu membuatku mau tidak mau memikirkannya, dan itu membuat Mo Tae Dong bahagia.
Bulu kudukku meremang menyadari pikiran iblis itu.
***
“Oppa...” aku melihat Dany Oppa sedang berbicara dengan Ayah di ruang tamu saat aku masuk ke dalam rumah.
“Oh, Zoey-ya...” aku tidak bisa mempercayai pemandangan yang aku lihat di depan mataku. Aku bisa melihat dan merasakan dengan jelas kehangatan yang dipancarkan oleh tatapan Dany Oppa padaku. Bukan lagi tembok dingin lagi yang aku lihat, bukan lagi tatapan benci yang aku rasakan. Aku berlari dan membenamkan wajahku di dadanya.
“Oppa...” panggilku lirih.
“Mianhae (maafkan aku)..." aku hanya mengeratkan pelukkanku saat mendengar Oppa mengatakan permintaan maafnya, “Oppa benar-benar minta maaf, Zoey...”
Aku sudah memutuskan untuk memaafkannya. Apapun penjelasan dan permintaan yang akan dikatakan oleh siapapun anggota keluarga ini, aku akan mengikutinya. Aku sudah menyerah untuk keras kepala, aku tidak akan berlari lagi tapi aku akan menghadapi semuanya satu persatu tanpa kecuali. Aku bisa merasakan kehangatan dari Oppa seperti saat ini pun sudah di luar apa yang aku bayangkan ketika aku pulang ke Korea. Aku tidak mengira aku bisa memeluknya lagi seperti ini. Jauh di dalam hatiku, ia tetap orang yang aku cintai dan aku hormati.
“Sampai kapan kau akan menangis seperti itu?” Oppa melepaskan pelukkan ku dan mengusap air mataku dengan kedua tangannya, “apa yang aku lihat ini Direktur Park Zoey? Bagaimana kau bisa memimpin bawahanmu jika kau menangis seperti ini? Aigoo...”
Aku menjauhkan diri darinya dan aku baru menyadari bahwa Ayah dan Ibu melihat kami dengan tatapan haru. Hatiku berdenyut merasakan curahan kasih sayang yang aku terima saat ini. Aku pikir aku sedang bermimpi.
“Hari ini kita makan malam bersama?” tanya Ayah pada Ibu. Ayah kemudian berdiri dan membawa Ibu ke dapur untuk melihat menu makan malam hari ini. Beliau menatapku dan Oppa bergantian, memberi waktu kami untuk berbicara.
“Kau baik-baik saja?” begitu orang tua kami pergi, Oppa langsung bertanya padaku. Aku yakin ia juga mendengar kabar meeting-ku hari ini.
“Ya, orang itu tidak datang ke sana...” jawabku.
“Apa?” Dany Oppa tercengang mendengarnya.
“Kenapa?” tanyaku bingung saat melihat ekspresi Dany Oppa yang terlihat khawatir.
“Jong Sik yang mengatakannya, ia melihat orang itu ada di sana...” kini aku yang membeku saat mengetahuinya.
“Jong Sik tidak mengatakan apapun padaku...”
“Ia tidak ditugaskan untuk membuatmu panik, tugasnya hanya melindungimu sehingga ia marasa ia tidak perlu memberitahumu jika hal itu tidak membahayakanmu...”
Dany Oppa benar, memberitahuku saat aku dalam kondisi seperti itu hanya akan memperburuk keadaan.
Apa yang sebenenarnya iblis itu rencanakan?
***