Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 54; Pembohong



“Antarkan aku ke Presdir sekarang...” aku langsung memberikan tujuanku selanjutnya begitu masuk ke dalam mobil. Hye Sung menatapku dengan tatapan curiga.


“Apa yang terjadi dengan Anda, Zoey-ssi?” ia bertanya padaku dengan hati-hati, “apa yang dikatakan orang itu padamu?”


“Tidak ada, dan bukan urusanmu...” kataku dingin.


“Orang yang berbicara dengan saya kemarin jelas-jelas adalah Mo Tae Dong dan Anda pergi dengannya setelah dia mencelakakan Han Seo Jin!” kata Hye Sung tajam.


“Sejak kapan kau banyak bicara? Bukannya tugasmu hanya menjagaku bukan menceramahiku?” aku tidak tahu dipihak mana Hye Sung berdiri. Biar bagaimanapun juga ia adalah orang yang direkrut khusus oleh ayahku. Kemungkinan besar ia juga menjadi bagian dari rencana Ayah untuk memata-mataiku.


"Lihatlah, sekarang saja Anda sudah meragukan saya", Hye Sung menyadari kecurigaanku dan mulai menjalankan mobilnya sambil mengalihkan padangannya dariku, “jangan biarkan orang itu menghasut Anda, Nona...” Hye Sung menutup pembicaraan itu dengan formal. Aku bisa merasakan garis yang kembali ia perjelas. Tak masalah, aku belum sepenuhnya bisa percaya dengannya.


Hye Sung mengantarku langsung ke kantor pusat. Kami sampai di Mirae Center Grup saat jam makan siang. Banyak karyawan yang berlalu-lalang untuk beristirahat dan makan siang. Hye Sung membimbing langkahku dalam kebisuannya.


“Apa Anda sudah punya janji?” tanya pertugas security begitu kami berdua masuk ke dalam kantor. Hye Sung mengeluarkan kartu berwarna merah dan petugas itu langsung menundukkan kepalanya memberikan salam padaku. Ia melihatku dengan hati-hati dan langsung  berbicara pada rekannya menggunakan earphone yang terpasang di telinganya.


Aku dan Hye Sung naik menggunakan lift khusus menuju lantai teratas gedung ini. Di sanalah Presiden Direktur dan kantor Dewan Direksi berada. Ini kali pertama aku masuk ke dalam gedung yang menjadi pusat semua cabang dari Mirae Grup.


Sekretaris utama langsung menyambut kami begitu pintu lift terbuka. Ia langsung membungkukkan badannya dengan sopan ke arahku. Aku membalasnya dengan canggung mengingat orang itu jauh lebih tua daripada aku.


“Nona Zoey.” Jong Sik menghampiriku dan menahanku masuk ke dalam ruangan Presdir, “Presdir sedang meeting dengan Tuan Hwang, sebentar lagi selesai. Anda bisa menunggu di sini...”


“Kebetulan sekali. Saya juga ada perlu dengan Hwang Joon-ssi.” Aku mengetuk pintu di depanku dan masuk tanpa menunggu mereka mempersilakanku masuk.


Ayah dan Hwang Joon terkejut melihatku masuk ke dalam ruangan. Mereka tidak menyangka aku akan muncul di kantor pusat.


“Kenapa kau di sini Zoey?” Ayah menyuruhku untuk duduk begitu aku masuk.


“Aku hanya berkunjung, tapi kebetulan sekali ada Hwang Joon-ssi di sini...” aku tersenyum pada laki-laki yang menatap bingung ke arahku.


"Lama tidak berjumpa, Jooney-ssi?" sapaku sengaja dengan panggilan yang dulu sering aku gunakan untuknya.


"Akhirnya kau mengingatku, Zoey." Aku hanya tersenyum menanggapinya lalu beralih pada Ayah.


“Aku ingin kembali ke Paris dan aku tidak akan menikah dengan Hwang Joon-ssi.” Aku mengatakannya dengan tegas dalam satu tarikan nafas.


“Kenapa tiba-tiba?”Ayah menatapku tajam.


“Itu tidak tiba-tiba. Dari awal aku memang tidak berencana tinggal di Korea. Aku juga tidak menginginkan pernikahan bisnis ini.” Aku menoleh pada Hwang Joon, “Anda juga tidak berniat untuk menelantarkan istri dan anak Anda kan Joon-ssi?”


Saat mereka terdiam mendengar perkataanku, aku menambahkan lagi. “Presdir juga sudah mengatakan padaku kalau aku boleh menikah setelah aku menginginkannya kan?”


“Kau tidak akan menikah denganku Zoey.” Hwang Joon menyela perkataanku sambil tersenyum meyakinkanku, “Kau akan menikah dengan Hwang Yi Hoon.”


“Aku dan Hoon TIDAK akan pernah melakukannya...”


“APA!” aku terkejut ketika Ayah tiba-tiba berteriak. Ia menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum hilang kendali.


“Hoon tidak menginginkan pernikahan itu. Ia sudah kembali ke Paris.”


“Apa katamu?” kali ini Ayah menoleh pada Hwang Joon yang terlihat sedikit salah tingkah.


“Aku akan mengurusnya, Presdir. Jangan khawatirkan itu!”


“Kau sudah berniat menjual istrimu, kini kau berniat menjual adikmu?” tanyaku sinis.


“Ayah mengatakan aku bisa menikah setelah aku menginginkannya karena kalian berpikir aku dekat dengan Hoon kan? Yang paling penting adalah pernikahan itu tetap berlangsung dan kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan kan? Warisan itu?” aku menatap keduanya bergantian. Ini kali pertama aku mengatakan apa yang aku inginkan.


“Biar aku perjelas sekali lagi, aku tidak akan menikah seperti yang kalian inginkan. Lagi pula, aku bukan anak langsung dari keluarga Park. Darah Keluarga Park tidak pernah mengalir dalam diriku, kalian hanya menjadikan aku alat untuk...”


PLAK!


Aku tidak bisa berkata apapun lagi. Aku terlalu terkejut saat menyadari ayahku menamparku di hadapan orang lain seperti ini.


“APA YANG KAU BICARAKAN!” aku bisa melihat Ayahku murka. Sama seperti saat ia dulu bertengkar dengan Ibu.


“Itu kenyataannya kan?” aku memberanikan diriku untuk berbicara, “aku dan Juna adalah adik tiri Dany Oppa? Apa aku salah?”


Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Ini semakin membuatku merasa bahwa apa yang dikatakan Mo Tae Dong sepenuhnya benar. Darah keluarga Park tidak mengalir di dalam diriku dan aku hanya dijadikan alat oleh ayahku sendiri.


“Park Da In. Ibu dari Park Dany...” aku menelan ludahku ketika mengatakannya. Walau kejelasan itu kini aku dapatkan, aku bisa merasakan adanya luka lain yang aku torehkan di dalam diriku. Tapi perkataan ayah membuatku semakin terluka.


“Baguslah, kalau kau sudah tahu tentang hal itu, kau paham kan tentang balas budi? Kau dilahirkan dalam Keluarga Park tanpa kekurangan apapun. Anggaplah pernikahanmu ini sebagai balas budi kepada kakakmu. Kau bisa mengembalikan apa yang sudah kau nikmati selama ini!” Ayah mengatakanya tanpa mempertimbangkan perasaanku sedikit pun. Aku menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa ia mengatakan semua iitu padaku? Bukankah aku juga anaknya?


“Setidaknya kau berguna untuk Keluarga Park!”


“Jadi hanya sebatas itu kah artiku dalam keluarga ini?” aku tertawa pedih mendengarnya. Akhirnya aku tahu di mana posisiku sekarang. Aku menyadari, kasih sayang yang aku terima selama ini tidaklah gratis.


“Kau sudah tahu berarti kalau ayahmu ini cuma anak angkat dari Keluarga Park? Tidakkah kau mengerti bahwa apa yang Ayah lakukan adalah untuk mengembalikan apa yang menjadi hak Dany? Ayah tidak bisa menjaga ibunya, setidaknya Ayah harus menjaga Dany dengan baik!”


“AKU! Lalu apa Ayah juga telah menjagaku dengan baik?”


“Apa pernikahan itu melukaimu Zoey?” tanya Ayah dengan sinis. Aku benar-benar tidak bisa mempercayainya. "Jika Hoon memang tidak mau, kita bisa kembali ke rencana awal. Kau bisa menikah dengan Joon."


“Ya Zoey, kau hanya perlu menandatangani surat pernikahan dan setelah setahun kita bisa bercerai...” Hwang Joon yang dari tadi melihat perdebatan kami akhirnya ikut bicara.


“Lihat Hwang Joon saja mau melakukannya walau ia mencintai istri dan anaknya...” Ayah lantas berdiri dan berjalan menuju mejanya. Ia mengambil satu map dan meletakkan tepat di depanku, ”cukup tanda tangani itu dan kau bebas. Ayah akan membiarkanmu kembali ke Paris kapanpun kau mau.”


Aku menatap surat nikah itu dengan rasa jijik. Hwang Joon bahkan sudah membubuhkan tanda tangannya di sana. Entah sejak kapan mereka mempersiapkan semua ini.


“Aku sudah menyetujui rencana ini dari awal. Kedekatanmu dengan Hoon sempat membuatku berharap kalian bisa bersama. Aku juga menginginkan pernikahan ini menjadi pernikahan tanpa paksaan. Tapi anak itu memilih kabur ke luar negeri dan meninggalkanmu di sini sendiri.” Hwang Joon mengatakannya seolah-olah menyayangkan apa yang terjadi padaku dan Hoon.


“Apa Appa mencintai Eomma?”


“Kenapa tiba-tiba bertanya?”


“Jawab saja! Apa Appa benar-benar mencintai Eomma!” aku bertanya namun jauh di dalam hatiku aku takut mendengar jawabannya.


“Tentu saja...”


“Pembohong...” aku bisa dengan jelas melihat kebohongan ayahku, “kini aku tahu kebohongan Ayah selama ini.” Hanya ada Park Da In dalam hati laki-laki yang aku sebut sebagai ayahhku itu. Hatinya penuh dengan Park Da In dan niat balas dendam pada Keluarga Mo yang telah mengambil Park Da In dari kehidupannya. Ayah juga memanfaatkan ibuku.


“Aku akan menandatangani itu jika Appa melepaskan Eomma. Aku akan membawa Eomma ke Paris atau ke Kanada...” aku berdiri dan pergi dari ruangan itu.


“Ibumu tidak akan melakukannya...”


“Eomma pasti akan melakukannya, aku akan memastikannya. Anda hanya perlu mengurus semuanya...” aku pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku akan membebaskan ibuku terlebih dahulu. Wanita itu, ibuku, kini aku tahu ia sudah telalu lama menderita.


***