Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 63; Tamu yang Tidak di Harapkan



Aku menggengam erat ujung dressku sambil berdiri di depan pintu hallroom. Aku mengisi paru-paruku dengan oksigen sebanyak mungkin untuk menenangkan jantungku yang tak hentinya berdebar keras.


“Anda sudah sangat sempurna malam ini Nona. Berikan senyum terbaik Anda...” bisik Hye Sung sambil menggengam handel pintu, “Are you ready?”


Aku menarik nafasku dalam-dalam sekali lagi sebelum mengangguk yakin. Hye Sung tersenyum lalu membuka pintu itu dengan sekali hentakan. Aku berjalan masuk ke dalam medan perang dengan penuh kepercayaan diri.


Aku bisa dengan jelas melihat semua mata memandang ke arahku. Aku menyapukan pandanganku ke seluruh ruangan sambil tersenyum lembut tanpa mengurangi aura ketegasan di wajahku. Aku sesekali menyempatkan menyapa rekanan yang kebetulan mengenalku.


“Apa yang kau lakukan Zoey?” Ayah bertanya padaku begitu aku sampai di tempatnya berdiri menyambut tamu-tamunya.


“Aku kira aku tokoh utama malam ini? Bukan begitu?” aku kembali terseyum memberi salam pada kakakku yang juga terkejut melihat kedatanganku.


“Hai Oppa? Bagaimana princess-mu malam ini?” aku menghampirinya dan memberikanya pelukan, “I miss you...”


“You look so beautiful...” Dany Oppa membalas pelukanku dan mengusap pipiku pelan. Aku mengamati wajahnya dengan seksama. Wajah Dany Oppa memang tegas, dibandingkan dengan aku dan Juna, Oppa memiliki karakter wajah yang lebih tegas dan kuat daripada kami. Namun dibalik karakternya itu, aku bisa merasakan aura yang terpancar dari dalam dirinya begitu lembut. Susah sekali menebak wajahnya ini. Aku sudah tahu di mana posisi Ibu dan Juna, tapi aku belum tahu di mana posisi Oppa. Ia lawan atau kawan?


“Are you okay?” aku bisa melihat rasa lelah yang tergambar jelas dari matanya yang terlihat sayu.


“Yes I am.” Aku memilih percaya saja dengan ucapannya. Aku kembali mengedarkan pandanganku dan mataku bertemu dengan mata seseorang yang begitu tajam melihatku dari tengah hallroom. Aku melemparkan senyuman yang tak dihiraukannya. Laki-laki itu terlihat marah. Aku sempat berpikir apa yang dilakukannya di sini sampai aku ingat bahwa Seo Jin adalah brand ambassador untuk Mirae Grup. Tentu saja ia diundang dalam acara malam ini. Aku hendak menghampirinya namun Dany Oppa meraih lenganku terlebih dahulu.


“Apa kau benar-benar menginginkan pernikahan ini?”


“Tentu saja tidak mungkin kan?” aku balik bertanya tanpa memperhatikannya, mataku sibuk mencari Seo Jin. Apa yang harus aku lakukan? Aku belum mengatakan tentang rencana pertunangan itu padanya.


“Lalu apa yang kau lakukan di sini?” aku mendengar pertanyaan itu dengan sangat aneh.


“Bukannya sudah jelas? Aku ingin membantu keluarga kita, ah bukan, keluarga Oppa...” aku menekan kalimat terakhirku.


“Apa maksudmu?” wajah Oppa terlihat sangat bingung.


“Aku sudah tahu segalanya, kita hanya saudara tirikan? Jadi tidak masalah jika aku menikah dengan siapapun asal pernikahanku ini bisa untuk membalas kebaikan keluarga Oppa...”


“Zoey jaga bicaramu!” Aku merasakan cengkraman di tanganku mengeras, “apa maksudmu dengan membalas kebaikan?”


“Kau menyakitiku...” aku menatap lenganku yang memerah akibat cengkramannya, “sejujurnya aku juga tidak tahu berapa nilaiku di mata kalian berdua. Bukannya pernikahan ini tidak ada artinya jika aku bukan keturunan asli dari keluarga Park?”


“Kau ngomong apa sih? Aku pikir kalian benar-benar menginginkan pernikahan ini walaupun ini sangat beresiko. Kau tahu kan kalau Keluarga Mo tidak akan tinggal diam?” aku memandang wajah Dany Oppa dengan penuh tenda tanya. Kenapa aku yang tiba-tiba jadi begitu menginginkan pernikahan ini?


Penjelasan itu datang kepadaku tak lama setelahnya. Aku mendengar suara Ayahku yang keluar dari penegras suara yang ada di dalam ruangan. Ayahku berdiri dengan mic di atas podium kecil di bagain terdepan dari hallroom. Ayahku berdiri di sana bersama Hwang Joon.


“Malam ini, selain kita melakukan pertemuan rutin antara dewan direksi dan pemegangan saham Mirae Grup, Saya dengan hati yang dipenuhi dengan rasa syukur ingin mengumumkan bahwa ikatan keluarga antara Keluarga Park dan Keluarga Hwang akan diperkuat dengan pertemua anak-anak kami. Awalnya saya sungguh tidak menyangka, harapan penyatuan keluarga ini sudah ada sejak lama dan kami mengira baru akan terjadi saat cucu-cucu saya nanti besar. Tapi ternyata anak perempuan saya telah lama menjalin hubungan dengan anak lelaki keluraga Hwang. Saya sangat bahagia sekali malam ini...”


Telingaku sudah tidak bisa mendengarkan lagi pidato Ayah karena kini tepat di hadapanku telah berdiri sosok yang tidak ku sangka akan hadir di sini malam ini.  Mataku bergetar, aku serasa tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat saat ini.


“Saya perkenalkan anak-anak kami yang jauh dipertemukan di daratan Eropa, Park Zoey, Hwang Yi Hoon!” suara Ayah diiringi dengan suara tepuk tangan meriah dari orang-orang yang berdiri dipihak Ayah. Mereka sangat paham arti dari pernikahan kedua keluarga ini.


“Zoey? Hoon? Apa yang kalian lakukan? Cepat kemari!” panggil ayah lagi, “seperti mereka berdua masih sama-sama melepas rindu karena lama tidak bertemu...”


“Hai Zoey...” sapa Hoon sambil tersenyum padaku. Tanpa aku sadari aku melangkah mundur, “apa kau akan membuat orang tua itu lama menunggu?” Hoon mengulurkan tangannya padaku. Aku hanya menatap tangannya tanpa berniat untuk menyambutnya.


Hoon berubah, ia bukan Hoon yang aku kenal. Sorot matanya begitu redup, senyumnya tidak hangat dan auranya penuh dengan kemarahan.


“Apa kau pikir aku akan membiarkanmu menikah dengan kakakku?” ia menarik tanganku dengan kasar dan membimbingku naik ke atas podium.


“Aku tidak mengharapkanmu di sini saat ini!” kataku tegas.


“Lalu apa yang kau harapkan? Nyatanya kau ada di sini dan tidak melakukan apapun...”


“Siapa yang bilang aku tidak melakukan apapun! Apa kau pikir aku tidak memilki rencana apapun?” Kami terus berbisik dan saling berdebat.


Semua orang bertepuk tangan menyambut kehadiranku dan Hoon di atas podium. Mataku kembali bertemu dengan Seo Jin yang berdiri tepat di hadapanku. Aku menahan nafasku begitu kami saling bertatapan dalam kebisuan. Aku seolah bisa merasakan sakit hati yang dirasakan Seo Jin saat ini. Aku ingin turun dan menghampirinya saat itu juga sebelum aku kehilangan kendali atas air mataku.


Tanpa aku duga Juna sudah berdiri dihadapan Seo Jin dan memberiku tatapan tajam yang dapat aku artikan sebagia ancaman, “aku tidak akan memaafkanmu jika kau mengacaukan acara malam ini”


Tak lama kemudian Juna membawa Seo Jin pergi menjauh dariku. Aku menatap punggung kedua laki-laki itu dengan perasaan putusa asa.


“Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang kau lakukan di sini.” Aku melirik Hoon dari sudut mataku.


“Aku di sini untuk menyelamatkanmu dari pernikahan itu...”


“Lucu sekali kalimat itu keluar dari orang yang pernah membuangku. Bukankah kau sudah menyuruh orang lain untuk memungutku?” Hoon menoleh padaku dengan wajah terkejut. Ia tidak menyangka aku akan mengetahuinya.


“Apa Seo Jin Hyung yang mengatakannya padamu?”


“Tidak, kau sendiri yang mengatakannya padaku...” rasa bersalah itu tergambar jelas di wajah Hoon. Aku kemudian membuang padanganku dari Hoon, biar bagaimanapun juga ia adalah orang yang pernah mengisi hidupku dan lebih dari itu, aku tahu ia bukanlah orang jahat. Aku yakin ia dijebak sehingga ia bisa ada di sini.


“Aku punya rencana dan aku tidak pernah berhenti untuk mencoba sesuatu untuk diriku sendiri...” aku tersenyum menatap kerumunan yang tiba-tiba masuk ke dalam Hallroom. Beberapa orang asing masuk dan berjalan lurus menghampiri Ayah yang kini memantung di tempatnya.


“Good Night Mr. Park!” laki-laki paruh baya itu merentangkan tangannya padaku, memintaku untuk membalas pelukannya, “Hi Zoey, Uncle Suthley is here...”


“Uncle...” aku langsung menyambut pelukan itu dengan hangat seolah aku telah lama mengenalnya.


“Hi Princess...” dibelakang Uncle Suthley ternyata Paman Embry juga hadir bersamanya. Aku menghampiri Paman Embry dan memeluknya.


“Im so sorry Mr. Park, Aku tidak bermaksud menghancurkan pestamu malam ini. Tapi ada laporan ke kantor utama di Montreal yang sangat menggangguku hingga aku sendiri yang harus datang kemari...” begitu Uncle Suthley menyebut Montreal, wajah ayahku berubah pucat. Ia lalu turun dari podium dan meraih tangan Uncle Suthley sambil mengenggamnya erat.


“Aku bisa jelaskan Suthley...”


“No! Dari dulu Kakak tahu kan aku lebih percaya pada data statistik daripada kata-kata yang bisa saja bohong?” Uncle Suthley kemudian meliriku, “aku pikir sudah waktunya paman untuk beristirahat dan menyerahkan bisnis ini ke orang yang lebih muda...”


Ayah menatapku dengan tatapan penuh amarah. Ia paham benar apa yang dikatakan oleh Uncle Suthley. Aku hampir tidak mempercayai pendengaranku. Jadi ini rencana utamanya? Mengambil alih Mirae Grup?


“Mari kita lakukan rapat pemegang saham dan memilih Presiden baru untuk Mirae Grup!”


Uncle Suthley memperjelas maksud dan tujuannya. Semua orang hanya terkejut termasuk diriku. Aku tidak menyangka bahwa akulah yang akan dijadikan ujung tombak peperangan ini. Aku bisa melihat dengan jelas wajah gusar dari orang-orang yang hadir dalam pesta malam ini. Mereka tidak menyangka posisi mereka yang semula ada di atas awan karena rencana pernikahan itu tiba-tiba dihempaskan begitu saja ke daratan.


Mataku tidak sengaja bertemu dengan Mo Tae Dong yang entah sejak kapan juga sudah ada di dalam ruangan ini. Ia bertepuk tangan tanpa bersuara sambil mengirimkan ucapan selamat kepadaku.


Aku tiba-tiba merasakan ada angin dingin yang berhembus menerpaku, membuat buluku meremang.


***