Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 35; Menghilang



“Hye Sung-ah temani aku ke suatu tempat...” aku menghubungi Hye Sung begitu aku sampai di  kamarku, “maaf karena harus membuatmu lembur di hari Minggu...”


“Tidak apa-apa Zoey-ssi...” setelah mendapat jawaban dari Hye Sung aku langsung bersiap-siap untuk pergi. Aku buru-buru menuruni tangga dan berjalan menuju garasi. Hye Sung sudah menunggu di samping mobil. Ia tidak menggunakan pakaian formal seperti biasanya seperti permintaanku. Tubuh atletisnya yang tinggi hanya dibalut dengan celana jeans dan kaos polos berwarna putih yang senada dengan sepatu ketsnya. Asistenku ini terlihat begitu modis, kenapa ia tidak menjadi model saja sih? Ia lebih tinggi dariku, mungkin sekitar 170cm.


Aku membuka pintu samping kemudi dan duduk di sebelah Hye Sung. Setelah memastikan sabuk pengaman kami terpasang, Hye Sung menanyakan tujuanku.


“Hotel Kstar...” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar ponsel. Aku sudah menghubungi Hoon berkali-kali tapi sambunganku diabaikannya atau aku sengaja diblokirnya? Entahlah. Aku sudah mencoba menghubunginya dengan nomor baruku, tapi panggilan itu juga diabaikannya.


Ya, Hoon adalah salah satu orang yang memegang kunci dari pertanyaan ini. Hoon yang tidak aku kenali itu tiba-tiba datang padaku dan menyuruhku untuk tidak menerima lamaran Hwang Joon. Ia pasti tahu sesuatu, kenapa ia menyuruhku untuk menolak lamaran itu.


Aku tidak menyalahkan Hoon sama sekali. Keputusan yang aku ambil adalah keputusanku sendiri. Waktu itu aku akui aku sedang dalam masa pubertas yang sarat akan ketidaksatabilan emosi dan ditambah lagi dengan tekanan stress yang tinggi dari keluargaku. Sepintar apapun aku, aku tetap saja tidak bisa berfikir jernih dan terlalu gegabah menerima informasi. Oke, mungkin itu hanya alasanku saja.


Aku hanya ingin memastikan kenapa Hoon melakukannya. Selain itu aku juga penasaran kenapa Hoon sulit sekali untuk dihubungi. Ia seolah-olah menghindariku. Tapi kenapa? Kenapa ia menghilang setelah mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkanku? Apa keluargaku lagi penyebabnya?


Aku buru-buru mengusir pikiran buruk itu. Aku baru saja ingin berdamai dengan keluargaku, tidak baik jika aku menaruh kecurigaan tanpa alasan seperti itu. Aku harus terbuka dengan segala variable di sini. Sudah cukup aku menutup mata, sudah cukup aku bertindak bodoh.


Mobil yang kami kendarai sudah sampai di hotel. Aku meminta bantuan valet parkir untuk memakirkan mobil agar Hye Sung bisa menemaniku masuk ke dalam. Aku tidak ingin mengambil resiko apapun dan di manapun.


Kami langsung menuju lift hotel dan menekan angka 63 untuk lantai kamar Hoon. Kami sama-sama tidak bersuara saat di dalam lift. Hye Sung hanya mengawasiku dalam diam.


DING


Aku langsung menuju pintu apartemen Hoon, memencet belnya. Tidak ada jawaban. Aku memasukkan kode kamarnya namun kode itu ditolak. Aku melakukan hal yang sama sebanyak dua kali namun tetap tidak bisa membuka pintunya. Apa dia sudah menggantinya?


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya aku menyerah dan masuk ke dalam lift untuk naik ke sky lounge hotel yang ada di lantai 65. Mungkin dia sedang bekerja.


“Tuan Lee Hoon sudah tidak bekerja di sini sejak minggu lalu...” pelayan itu memberikan informasi di luar dugaanku.


“Apa Hoon mengambil cuti?” tanyaku sekali lagi.


“Bukan Nona, tapi Tuan Hoon sudah tidak bekerja di sini...” ototku tiba-tiba lemas menerima kenyataan itu. Hoon benar-benar pergi tanpa meninggalkan pesan apapun untukku.


“Anda baik-baik saja?” Hye Sung berjalan mendekatiku dan memegang lenganku.


Aku hanya bisa menggeleng pasrah. Langkah kakiku terasa begitu berat saat keluar dari hotel. Ke mana anak itu? Apa dia ada di Icheon?


“Apa kita bisa ke Icheon?” tanyaku pada Hye Sung.


“Bisa, tapi saya menyarankan Anda untuk pulang. Anda terlihat tidak baik-baik saja saat ini...” Hye Sung menatapku dengan sungguh-sungguh. Ia mengerti jika aku mengatakan harus ke sana ia akan menuruti apapun permintaanku, tapi kali ini aku bertanya untuk meminta pendapatnya. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti sarannya.


“Baiklah...”


“Tidak adakah orang yang bisa Anda hubungi di sana?”


“Ah...” aku teringat aku menyimpan nomor Seung Hee.  Aku lalu mencari kontaknya dan segera menghubunginya. Tidak sampai dering ketiga, suara Seung Hee sudah terdengar malas saat menjawab panggilan dariku.


“Mwo? (ada apa) ” tanyanya malas.


“Oppa-mu ada di Icheon?”


“Ya, tapi Oppa pergi lagi...”


“Mana ku tahu!”


Aku mengambil nafas dalam-dalam agar tidak terpancing emosi. Seung Hee masih anak-anak dan dia tidak menyukaimu, Zoey! Aku harus membesarkan hatiku sendiri.


“Eommo-nim, Abeo-nim baik-baik saja kan?” aku mengganti topik pembicaraan. Aku teringat kepada sepasang suami istri itu. Biar bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang baik.


“Ya...” jawab Seung Hee malas.


“Kenapa kau seperti itu? Ada masalah apa?”


“Apa kau bisa membantuku kalau aku mengatakannya?”


“Apa kau pikir aku bisa menjawabnya jika kau tidak memberitahuku apa masalahnya?” tanyaku balik. Anak itu, walaupun ia tidak menyukaiku ia selalu mengatakan apapun padaku. Aku hanya berfikir dia tidak tahu bagaimana menghadapiku hingga cletukan-cletukan kejamnyalah yang dipakai untuk berkomunikasi denganku.


“Aku ingin ke kota, tapi mereka melarangku...” rengeknya.


“Hanya itu?”


“Ini masalah serius, kau tau apa!”


“Kalau begitu biar aku yang bicara pada mereka...” Seung Hee tidak menjawab dan segera memberikan telponnya ke Ibu Kim. Aku bisa dengan jelas mendengar kekhawatirannya, baik padaku ataupun pada Seung Hee yang ingin tinggal di kota. Aku hanya bisa berjanji akan mengawasinya dan menawarkan tempat tinggal bersama dengan beberapa karyawan butik. Tidak mewah tapi cukup layak.


“Apa dia tidak akan merepotkamu?”


“Tidak, tidak lebih dari saat aku merepotkan kalian dulu...” aku diam sesaat, “Eomoni, apa terjadi sesuatu dengan Hoon?”


“Ibu juga tidak tahu Nak, Hoon adalah orang yang tertutup. Ia hanya pamit akan pergi cukup lama tapi Ibu juga tidak tahu dia ke mana. Hoon sering sekali pergi dan pekerjaannya di hotel kemarin memang hanya sementara untuk membantu temannya...” jelas Ibu Kim dengan nada khawatir. Aku tidak berniat bertanya lebih lanjut dan mengakhiri panggilan.


“Zoey-ssi...” aku menoleh saat Hye Sung memanggilku. Ia memberikan ponselku yang aku taruh di samping hand rem mobil. Telihat nama Juna di sana.


“Kau ada di mana!” aku menjauhkan ponselku dari telinga. Suara Juna sampai terdengar oleh Hye Sung yang duduk di sampingku.


“Aku jalan-jalan, dengan Hye Sung!”


“Tidak bisakah kau memberitahu dulu sebelum pergi seperti itu? Aku hampir gila saat aku tidak melihatmu ada di kamar!”


“Kau pikir aku anak-anak?”


“Semua orang pasti khawatir jika kau tiba-tiba menghilang setelah pembicaraan kita...bisakah...bisakah kau sedikit memikirkan perasaanku, Nuna?” aku mendengar suara Juna yang marah sekaligus lega. Aku jadi merasa bersalah padanya.


“Maafkan aku...” aku cepat-cepat mengakui kesalahanku.


“Jangan pulang terlalu malam...” ia mematikan sambungan telponnya. Aku hanya menatap layar ponsel itu sambil tersenyum. Anak nakal itu sangat manis sekali.


“Anda terlihat jauh lebih baik dari pertama kali saya bertemu dengan Anda dulu...” aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan Hye Sung. Walapun masih banyak hal belum aku ketahui, perasaanku kini jauh lebih baik. Aku kembali memandang ke keluar jendela. Pikiranku berkelana, menebak Hoon ada di mana.


***