Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 78; Azaela



Aku menuang kopi yang aku bawa di termos kecil dari dalam tasku. Aroma khas kopi Asia menyapu indera penciumanku begitu aku menuangkannya. Aku duduk di atas batu di puncak Gunung Bukhan sambil menikmati mentari pagi. Tidak banyak orang di sini karena aku adalah orang yang pertama sampai di pucak.


Tadi malam aku memasukkan keperluan pendakian dalam dayback 25 liter. Setelah tidur selama kurang lebih 4 jam, aku pergi ke arah Taman Nasional Gunung Bukhan. Aku memakir mobilku di Malbawi Rest Area dan melakukan pemanasan sambil menunggu pintu masuk dibuka.


Tidak sampai lima belas menit, aku sudah berjalan di jalan utama menyelusuri tembok-tembok benteng lama yang menjadi daya tarik utama dari gunung ini. Benteng yang di bangun tahun 1369, pada masa kerajan Joseon ini direkontruksi ulang untuk mempertahankan sejarah dan juga kejayaannya. Pendakian ini termasuk tidak sulit dan hanya dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk mendaki gunung ini. Aku bahkan setengah berlari saat mendakinya agar aku bisa mendapatkan momen terbaik di pucaknya.


Aku meluruskan kakiku sambil menikmati aroma bunga segar yang terbawa angin musim semi. Ketenangan ini sangat menentramkan hati. Setelah ini aku berencana akan mendaki beberapa gunung lagi di bagian selatan. Gunung-gunung ini menjadi bucket listku selama aku cuti dan berlibur ke Korea.


Cuti dan libur?


Kalian pasti bertanya kenapa demikian. Aku meninggalkan Korea setahun yang lalu, setelah konser SG Idol itu selesai dilaksanakan. Aku mengemasi barang-barangku untuk pulang kembali ke Paris. Selama setahun lebih aku berada di luar Korea dan belum pernah menginjakkan kaki lagi di Korea setelahnya.


Salah jika kalian pikir aku membenci Korea. Aku sangat menghargai negaraku di atas semua kenangan dan pengalaman pahit yang berharga itu. Lagi pula aku masih meninggalkan setengah hatiku di sana. Setahun ini, aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri dan menikmati hidup yang sudah hampir tigapuluh tahun aku siakan untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti. Berat memang, namun berkat perjalananku ini aku berhasil berdamai dengan semua penyesalan itu lebih cepat dari yang aku bayangkan. Ternyata menerima kenyataan itu tidak sesulit yang kita bayangkan jika kita mau memulainya.


Aku sudah memutusakan untuk menerimanya dan kini aku kembali ke sini.


Aku mulai mengemasi barang-barangku dan bersiap untuk turun begitu pendaki-pendaki lain mulai berdatangan. Setelah sampai parkiran, aku langsung pergi meninggalkan area taman nasional dan mengendarai mobilku menelusuri jalan raya yang masih sepi.


Perhatianku teralihkan pada taman bunga Azaela yang bermekaran memenuhi sisi kanan jalan. Aku teringat sesuatu ketika melihat satu pohon cherry blossom besar yang mekar sempurna di puncak bukit taman yang penuh dengan Azalea itu.


Aku menepikan mobilku dan keluar untuk memastikan apa yang aku lihat saat ini. Aku pernah ke sini, suatu malam saat musim gugur dan seseorang mengatakan padaku betapa indahnya taman ini saat musim semi.


Aku naik ke atas kap mobil Rubicon merahku untuk menikmati nostalgia ini sebentar saja. Apa orang itu akan memaafkanku? Apa dia ada di sini sekarang? Apa Eomma sehat-sehat saja?


Aku belum bertemu dengannya setelah kembali ke Korea. Aku belum berani menemui Seo Jin. Dua hari yang lalu aku membeli dan menghadiri konser yang diadakan oleh grup boybandnya. Konser penutup mereka dari tour keliling dunia yang telah sukses dilebih dari duapuluh negara. Setelah satu tahun ini mereka melakukan tur dunia, mereka mengakhiri konsernya di tempat mereka mengawali konser mereka, Korea.


Konser yang sangat luar biasa. Aku bisa dengan jelas merasakan luapan energi dan dedikasi dari semua orang yang mengambil bagian dari konser itu. Aku sebenarnya lega melihatnya kembali berdiri di atas panggung, diantara kilatan cahaya dan diantara orang-orang yang menyayanginya. Aku masih ingat bagaimana aku hampir saja menghancurkan karirnya. Melihatnya ada di sana dengan dunianya sudah cukup bagiku.


Tapi  Tuhan, ijinkanlah aku kembali menikmati detik-detik ini, ijinkan aku memeluk lengkap semua kenangan ini sekali lagi. Senyumnya yang begitu lembut, suaranya yang menggetarkan hati, dan aroma musim semi yang melengkapi aroma musim gugur kala itu. Ijinkan aku bersikap egois untuk membawa semua kenangan itu bersamaku.


Sungguh aneh. Hanya dengan mengingatnya saja sudah cukup untuk menghangatkan hatiku yang beku. Aku bahkan tidak menyangka aku bisa tersenyum hanya dengan mengenangnya. Sihirnya memang luar biasa. Seo Jin telah benar-benar mengambil kendali hidupku selamanya. Aku mengangkat kamera ponselku dan mengambil beberpa gambar, membingkainya dalam sosial media yang mulai aku gunakan setahun terakhir ini.


Aku memutuskan untuk pergi dan meloncat turun dari mobilku. Aku menatap pohon chery blossom itu sekali lagi sebelum pergi. Belum saat ini, aku belum siap bertemu denganmu.


“Zoey...”


Seketika tubuhku meremang. Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri. Suaranya merambat pelan dari gendang telingaku ke seluruh tubuhku. Membuatku membeku di tempatku berdiri saat ini. Aku bahkan tidak berani menoleh saat mendengar suara familiar itu. Suara yang entah sejak kapan memberikan desiran berbeda di dalam hatiku.


“Kau Zoey kan?” aku memberanikan diriku menoleh dan kini orang itu sudah berdiri di hadapanku. Ia membuka hoodie yang menutupi kepalanya dan kini aku bisa dengan jelas melihat wajahnya. Wajahnya telihat lebih rileks dengan kumis tipis yang tumbuh di sekitar dagunya. Mataku tidak bisa beralih dari luka tipis yang masih membekas di bawah telinganya.


“A...pa ka...bar?” aku terkejut sendiri dengan suara berdecit aneh yang keluar dari mulutku. Aku sampai menelan ludahku sendiri berulang kali hanya untuk menanyakan kabarnya. Pertanyaan yang bodoh.


“Buruk sekali, amat sangat...” katanya tegas. Ia kini mencengkeram tanganku erat, “kalau aku harus mati kali ini pun tak masalah, aku tidak akan melepaskannya...”


“Seo Jin-ssi...” aku memegang lengannya untuk menahannya.


“Panggilanmu itu menyakitiku...” ia tidak menoleh sama sekali dan menarikku masuk ke dalam rumahnya. Ia telah membulatkan tekadnya, tangannya begitu kuat menggenggam pergelangan tanganku, aku bahkan bisa merasakan buku-buku jariku yang kebas.


“Oppa! Mobilku! Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja kan?”


Akhirnya ia berhenti. Ia menoleh dan menatap mobil merah dan aku secara bergantian tapi lagi-lagi ia kembali menyeretku ke dalam, “biar sopir Eomma yang mengurusnya, kita bukan orang yang tidak punya pendidikan hingga sampai bertengkar di jalan...”


“Pak tolong urus mobil itu...” begitu Seo Jin bertemu dengan supir Eommanya, aku mengulurkan kunci yang aku kantongi tanpa banyak berkomentar.


“Zoey! Ya Tuhan! Aku tidak salah lihatkan?!” Eomma setengah berlari menghampiriku. Ia lalu memelukku dengan erat, “aku tidak menyangka akan melihatmu di sini Nak...”


“Apa kabar Eomma...” aku membalas pelukan beliau dengan haru. Sudah lama sekali sejak terakhir aku melihat beliau juga.


“Kau belum sarapan kan? Ayo sini...” kini bukan lagi Seo Jin tapi ibunya yang menarikku memasukki dapur. Asisten rumah tangganya buru-buru menyiapkan kursi, piring, dan sarapanku. Aku hanya tersenyum sambil berusaha menikmati sarapanku. Eomma menanyakan banyak hal sementara Seo Jin terus saja diam tanpa mengalihkan pandangannya dariku sedikit pun. Benar-benar tidak nyaman dan sangat canggung.


“Jin, kau bisa melubangi wajahnya jika kau memandanginya seperti itu, atau kau ingin membuatnya tersedak sarapannya?” tegur Eomma.


“Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak mempercayai apa yang aku lihat pagi ini Eomma. Aku takut kalau aku mengalihkan pandanganku, dia bisa menghilang...” Seo Jin menjawab tanpa mengalihkan pandangnnya dariku.


“Selesaikan sarapanmu dan mandi, kau bau sekali...” Eomma melempar serbetnya tepat di wajah Seo Jin.


“Eomma harus menjaganya, jangan lepaskan dia. Aku takut kalau aku mandi dia sudah menghilang lagi. Eomma harus mengawasinya ya!” Seo Jin menghabiskan makanannya dan berlari menaiki lantai dua, ia berkali-kali memastikan kalimat dan pandanganya. Aku sampai khawatir kalau ia terantuk sesuatu.


“Dasar anak itu! Kau dengar kan? Eomma tidak akan melepaskanmu?”


“Saya dengar, dengar sekali...” aku terkekeh sendiri melihat wajah Eomma yang masih takjup dengan sikap anaknya.


“Kau sekarang tinggal di mana?”


“Saya bolak-balik Prancis-Kanada. Dua minggu ini saya mengambil perjalanan bisnis sekaligus cuti ke Korea...”


“Singkat sekali...” Eomma menghela nafas dan menepuk punggungku pelan, “anak itu sangat merindukanmu Zoey...”


“Apakah saya masih pantas mendapatkan rindunya Eomma?” kataku lirih.


“Apa maksudmu! Kau istrinya, tentu saja kau satu-satunya yang berhak, Nak!” Eomma meyakinkan diriku. Aku mau tidak mau jadi terharu. Air mataku mulai merembes dari sudut mataku.


“Mengingat apa yang saya perbuat, saya sudah tidak berani berharap apapun padanya diri sendiri Eomma...” kataku jujur.


“Gunakan kesempatan ini untuk membicarakan semuanya, untuk memperbaiki apa yang harus diperbaiki, dan tentunya untuk merajut kepercayaan kalian kembali. Eomma berani bertaruh bahwa selalu ada doa-doa yang kalian ucapkan satu sama lain disela tarikan nafas kalian...” aku mengangguk pelan mengiyakan kalimatnya.


“Eomma ada urusan di luar, jangan bertengkar di luar rumah...” Eomma tiba-tiba berdiri dan aku menoleh melihat Seo Jin yang berlari menuruni tangga. Astaga, apa ia mandi dengan benar? Bahkan rambutnya pun masih basah.


“Terima kasih Eomma. Kalau bisa sih aku ingin membuatnya tidak keluar dari rumah ini sekalian...” jawab Seo Jin sambil mencengkram bahuku.


“Eomma tinggal dulu...” Eomma memukul keras bahu anaknya itu, “Kau bahkan tidak bisa menyembunyikan wajah bahagiamu!”


“Hati-hati Eomma...” kataku pelan.


“Baiklah, kita mulai dari mana? Aku tidak peduli itu alasan atau penjelasan...” Seo Jin langsung bertanya begitu Eomma sudah tidak terlihat.


Aku menatap kedua bola mata Seo Jin dengan seksama, aku mencoba mencari kata apa yang tepat untuk diucapkan. Tapi seberapa keras aku mencarinya, tidak ada kata lain yang terpikirkan selain ini.


“Aku merindukanmu...”


***