Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 60; Darah Keluarga Cohen



Saat aku masuk ke dalam rumah, tidak ada siapapun yang menyambut kepulanganku. Tidak seperti biasanya ketika Ibu selalu tersenyum menyambut kedatanganku. Hye Sung tiba-tiba mendahului langkahku masuk ke dalam rumah dan membimbingku masuk ke dalam kamar Juna.


Di sana juga tidak ada siapa-siapa. Hye Sung terus masuk dan berjalan ke arah rumah kaca yang ada di ujung kamar Juna. Di samping rumah kaca itu terdapat pintu lain, Hye Sung membuka pintu itu dan aku melihat adanya satu ruangan lain di sana. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Desain ruangan ini tak jauh berbeda dari ruangan milik Toby di rumah Mo Tae Dong. Penuh dengan monitor besar. Bedanya, ruangan ini berlantai dua, ada semacam ruang yang didesain khusus untuk mengamati semua pergerakan monitor-monitor ini. Juna dan Ibu memperhatikanku dari sana lalu melambaikan tangannya, menyuruhku mendekat.


“Selamat datang, Putri...” Nada yang dikeluarkan Juna terdengar sangat menjengkelkan.


“Apa kau pikir ini semua lucu?” aku mendengus kesal sambil menyilangkan tanganku di depan dada. Aku memandang kedua orang ini dengan tatapan menyelidik. Aku tidak akan dibohongi lagi.


“Sangat lucu sekali!” Juna berjalan mendekatiku dan memelukku, “Kau sudah berusaha keras, Putri!”


“Berhenti memanggilku Putri!” aku diam saja saat Juna memelukku. Ingin sekali aku memukulnya tapi mengingat apa yang terjadi padanya membuatku tidak tega. Aku tidak akan menyakitinya, sekecil apapun itu.


“Maafkan kami Zoey.” Ibu ikut berdiri dan menghampiriku. Aku kini bisa melihat bayangan diriku sendiri di dalam mata ibuku. Sorot matanya berubah, bukan lagi mata yang lembut dan rapuh tapi mata tajam dan tegas. Aku bisa merasakan aura yang mendominasi yang keluar dari dalam dirinya.


“Aku sudah bilang kan kalau Nuna sangat mirip denganmu Eomma?” Juna melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat duduknya. Tanpa sadar aku mengamati caranya berjalan dan juga kakinya. Aku menelan ludahku sendiri menahan rasa penasaran itu.


“Kau juga sudah mengetahuinya kan? Kalau adikmu ini cacat?”


“Diam, jangan pernah bilang seperti itu!” aku memotong ucapannya. Hatiku ngilu mendengar pengakuan dari Juna langsung. Tapi ia mengabaikan ucapanku dan justru menarik celananya dan memperlihatkan kaki palsunya.


“Kau harus menerimanya Nuna. Begitulah kenyataannya dan kau tidak boleh mengabaikan faktanya...”


“Siapa yang melakukannya padamu?”


“Kita akan tahu nanti. Jika kami sudah menemukannya ia tidak akan bisa hidup dengan tenang...” Ibu menarikku duduk.


Aku menatap ibuku dengan perasaan yang sangat aneh. Ya walaupun aku senang dengan perubahan sikapnya tapi sosok ibuku yang ini terlihat begitu asing di depanku. Bagiamana ia bisa berpura-pura lemah dan tidak berdaya sementara ia adalah sosok yang begitu tegap dan memiliki aura sekuat ini.


“Apa Eomma tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanyaku sangsi dengan apa yang aku lihat saat ini.


“Tidak ada yang perlu Eomma katakan, begitulah kenyataannya. Rumit!” Aku hanya bisa membuka mulutku saking terkejutnya dengan kata-kata ibuku. Kemarin dia menangis seperti orang tak berdaya. Tapi lihatlah siapa yang ada di hadapanku sekarang.


“Apa kalian tidak berfikir jika aku bisa saja marah dan mengatakan semua sandirwara ini pada Appa?”


“Lucu sekali, itu berarti kau setuju menikah dengan Hwang Joon!” celetuk Juna.


“JUNA!”


“Jangan teriak-teriak, kau mau membuatku tuli juga!”


“Berhentilah bertengkar kalian berdua!” Ibu mengatakannya dengan tegas dan dingin. Aku sampai menelan ludahku untuk kesekian kalinya.


“Eomma, jangan berubah dengan drastis. Aku takut...” aku kembali duduk di samping beliau dengan tenang.


“Aku tidak menyangka anak itu berhasi membobol dataku hanya dengan waktu 35 detik.” Juna menatapku dengan rasa penasaran, “Apa dia benar-benar hebat?”


“Ren maksudmu?”


“Iya, tentu saja. Anak Mo Tae Dong itu sangat menarik...”


“APA!” aku menajamkan telingaku sekali lagi, takut salah dengar.


“Dia anak Mo Tae Dong”, Juna memperhatikan perubahan ekspresiku dengan seksama, “jangan bilang kau merasa terkhianati?” Juna tertawa dengan keras sedangkan aku hanya tertawa pahit mengakui tebakan Juna. Ya, aku tidak menyangka akan seperti ini. Tae Dong mengatakan bahwa ia menginginkanku, mencintaiku, tapi apa-apaan ini?


“Dia bisa saja cinta mati padamu, tapi itu tidak berarti ia tidak bisa tidur dengan wanita lain. Dia sudah berkepala empat Nuna. Sangat aneh sekali jika ia belum pernah melakukannya dengan wanita lain. Kenapa kau picik sekali jadi orang?”


“Apa kau juga seperti itu?” kali ini aku menatap Juna dengan tatapan membunuh.


“Istriku akan membunuhku sebelum aku melakukannya. Aku mengenalnya sejak kami SMA...” sangat aneh saat Juna menyebut kata-kata ‘istriku’. Aku tertegun mendengarnya sehingga aku tidak bisa mengatakan apapun kecuali kata selamat.


“Selamat apanya? Kami berdua hampir celaka!”


“Maafkan aku...”


“Sudah sudah...” ibu yang sedari tadi memperhatikan kami dari samping akhirnya ikut berbicara saat melihat suasana kami menjadi buruk. “ Zoey apa kau berniat mengikuti rencana Ayahmu atau rencana Tae Dong?” Ibu bahkan tidak perlu menjelaskan darimana ia memperoleh informasi itu.


“Tidak jauh berbeda dengan Tae Dong. Awalnya Ibu berencana akan menempatkan Juna di ujung tombak kami. Tapi aku pikir kau lebih siap dan matang untuk berada di sana. Pengalamanmu memimpin perwakilan Emerland Corp. untuk Paris sudah tidak diragukan lagi.”  Aku menatap Juna untuk melihat reaksinya. Ia diam saja dan menganggukkan kepalanya dengan mantap. Emerland Corp. adalah perusahaan yang menaungi usahaku di Paris.


“Tidak bisakah kalian memberiku kata pengantar dulu? Kalian tidak lihat ada seseorang yang kebingungan di sini?” aku menatap keduanya bergantian.


“Apa kau pikir kita sedang menulis novel hingga  perlu membuat kata pengantar?” aku menarik kata-kataku bahwa aku tidak akan menyakiti Juna. Aku sudah melempar sepatuku ke arahnya.


“Ibu menikah dengan ayahmu karena bisnis. Kau tahu itu. Pernah suatu ketika keluarga Cohen hampir bangkrut, Keluarga Park-lah yang menyelamatkan perusahaan. Namun roda itu ternyata berputar. Mirae Grup mengalami titik terendahnya ketika Park Da In meninggal. Sebagai balas budi, kakekmu menikahkan Ibu dan Ayahmu yang pada waktu itu masih berduka atas meninggalnya istrinya untuk mengukuhkan ikatan dari bisnis ke ikatan keluarga.”


“Ibu sadar sepenuhnya bahwa Ayahmu hanya mencintai wanita itu. Tapi Ibu juga tidak akan membiarkan diri Ibu mati dan tua sendirian di dalam sarangnya ini. Ibu memiliki kalian berdua dan membersarkan kalian bertiga tanpa perbedaan. Ibu pikir semuanya akan baik-baik saja, sampai ayahmu menarikmu dan Juna ke dalam masalah balas dendam dan juga persaingan perusahan dengan keluarga Mo. Saat itulah Ibu pikir Ibu tidak boleh tinggal diam.”


“Ibu tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh ayahmu dan Mo Tae Sik hingga mereka lupa terhadap anak-anak mereka...” Ibu menyilangan tangannya di depan dada dengan kesal. Aku bisa melihat dadanya naik turun karena nafasnya yang memburu.


“Apa Eomma pernah bertemu dengan Mo Tae Dong?”


“Ah Ibu tidak tega saat melihatnya dihina di depan umum oleh Ayahmu...” aku ingat cerita itu. Tae Dong sendiri yang mengatakannya, “cintanya bisa berubah menjadi benci setelah dipupuk oleh kejahatan yang sayangnya ditanam sendiri oleh ayahmu...”


“Kenapa Ibu tidak pergi saja dari sini jika Eomma membenci Appa?”


“Tidak mudah untuk melindungi banyak orang dengan keterbatasan tangan manusia yang hanya sepasang, Zoey...” Ibu menatap tangannya sendiri yang sudah berkeriput, “Kalau sekiranya kita tidak bisa menang dari musuh kita, akan lebih baik jika kita bersamanya selama mungkin untuk mengetahui kelemahannya...”


“Lalu kenapa Eomma bertarung sendiri? Kenapa membiarkan ku pergi? Kenapa tidak memberitahuku?”


“Karena kau telah memilih jalanmu Zoey. Ibu bangga ketika kau berani mengambil keputusan itu. Ah, Ibu mendaftarkan namamu sebagai Zoey Cohen begitu kau pergi dari rumah ini. Aku memasukkan nama kalian di akta keluarga paman kalian.”


“APA? Bagaimana mungkin??”


“Mungkin saja, kau dan Juna dari awal memang punya dwi-kewarganegaraan.” Ibu menjawabnya dengan tenang. Sedangkan aku kembali tidak bisa mempercayai ucapan ibuku.


“Kau tak bisa pergi dari sini dengan menggunkan nama Zoey Park tapi kau bisa pergi dari sini dengan menggunakan identitas Zoey Cohen, Nuna.” Juna hanya bisa tertawa konyol melihat ekspresiku.


“Apa itu bukan kriminal?”aku menghandriknya.


"Memang, tapi Appa tidak tahu itu. Aku membuatnya tidak tahu..." kata Juna lirih.


"Benar-benar tidak ada yang tidak masuk akal di sini. Bahkan kebohonganpun terlihat seperti fakta." Aku memijat pelipisku pelan.


“Aku menikah dengan Ae Ryung di Kanada, dan saat ini ia sudah berganti kewarganegaraan. Begitu juga dengan keponakanmu. Kami juga berencana untuk pergi...” kata-kata Juna terdengar sangat sedih bagiku. Aku belum tahu banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Juna sehingga aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh saat ini.


“Apa rencana terbaiknya?” kataku mengakhiri sesi cerita menyedihkan ini.


“Kita ikuti rencana Tae Dong. Walau ia cukup berbahaya, ia adalah orang yang sangat berdedikasi pada tujuannya...” kata Ibu memutuskan dengan cepat, “ini akan cukup membuat ayahmu geram dan memanggil keluar Mo Tae Sik dari persembunyiannya.”


“Aku sempat mengetahui Mo Tae Sik datang ke rumah Tae Dong.” Kalimat ini membuat Ibu dan Juna terkejut.


“Kapan?”


“Setelah kejadian yang terjadi di retirement home itu...”


Juna langsung mengecek semua layar monitor dan bertarung dengan keyboardnya. Ratusan potongan CCTV langsung keluar dari layar kaca yang terpasang di seluruh dinding.


“Sangat sulit menemukan perembunyian orang ini...”


“Tentu saja kau tidak menemukannya, aku tidak ke rumah Tae Dong yang ada di sini...”


“Apa maksudmu?”


Aku beralih ke samping Juna dan menarik tampilan peta yang ada di monitornya. Aku langsung menunjuk satu wilayah tempat Tae Dong tinggal. Aku tidak tahu bagaimana sistem kerja para hacker, namun melihat wajah Juna, aku bisa tahu bahwa ia merasa tertipu oleh jebakan yang dibuat Tae Dong.


“Benar-benar tidak bisa dimaafkan!” mendengar Juna kesal membuatku tertawa senang.


***