
“Apa kau sudah selesai berkemas?” Hoon berdiri si bingkai pintu sambil menyilangkan tangannya.
“Ehm…” aku mengiyakan sambil mengecek kembali bawaanku. Tidak terlalu banyak sebenarnya yang aku kemas, hanya beberapa baju dan keperluan lainnya yang dibelikan Hoon ataupun Ibu Kim selama aku di sini, “cuma dikit kok, aku kan kabur…” aku nyengir.
“Bawa ini…” Hoon mengambil tab yang aku gunakan selama di rumahnya, “kau akan membutuhkannya…”
“Serius?”
“Ya, aku sudah tidak memakainya…”
“Terima kasih…” aku menerimanya dengan senang hati.
“Kau benar-benar ingin tinggal di sana?”
“Kenapa?” aku bertanya balik.
“Icheon cukup jauh dari Seoul, kau juga belum pernah ke sana kan sebelumnya?”
“Apa kau ingin menampungku selamanya di sini? Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau tidak bisa menampungku selamanya? Kenapa jadi plinplan seperti ini?” sikapnya membuatku bingung.
“Adikku di sana sangat manja dan menyebalkan…” katanya lirih.
“Tak masalah, aku tidak lagi terkejut…” ia melotot saat mendengarnya, menyadari bahwa aku sedang mengejeknya.
“Kenapa kau jadi seperti itu?”
“Tidak tahu…” aku mengedikkan bahuku, “apa kau akan mengantar kami? Kau tidak kerja?”
“Aku kerja, tapi setelah mengantar kalian ke rumah…” Hoon meraih tasku dan membawanya ke ruang depan.
“Kami bisa ke sana sendiri…”
“Aku tahu, tapi pikiranku tidak tenang membiarkan kalian pergi sendiri!”
“Kau pikir aku masih anak-anak kan?”
“Eo…” aku memukul bahunya begitu ia mengiyakan, ia meringis sakit, “kau belasan tahun di luar negeri kan? Lebih mudah melepasmu ke luar dari pada di sini.”
“Benar-benar menyebalkan!”
“Apa kalian suka sekali bertengkar seperti itu?” Ibu Kim menatap kami dengan heran. Ia menghela nafas tak percaya, “kalian malah seperti kakak adik daripada sepasang kekasih...”
“Eomoni!” teriakku dan Hoon bersamaan
“Wae!” Ibu Kim meninggikan suaranya, gemas.
“Eomoni, hubungan kami tidak seperti itu...” Hoon berniat menjelaskan.
“Baiklah, baiklah, aku mengerti...” Ibu Kim menepis penjelasan Hoon dan mengangakt tas berisi toples banchan yang sudah kosong. Hoon buru-buru meraihnya dan mendahului Ibu Kim keluar dari rumah. Ia menyuruh kami keluar lima menit kemudian.
Aku hendak protes namun urung saat melihat keseriusan di wajahnya. Apa dia malu jalan bersamaku?
“Kenapa cemberut?” tanyanya begitu aku masuk dan duduk di samping kemudi.
“Tidak!”
“Kau jangan memikirkan hal macam-macam. Aku ingin kita jalan terpisah untuk keamananmu. Aku kerja di sini, akan banyak mata yang melihat...”
“Pembohong...”
“Kau kenapa sih? Segitu pengennya ya kau bersamaku? Mumpung masih di sini, mau turun?”
“Mulai lagi...” Ibu Kim mengeluh dan memandang kami dengan tatapan tak percaya. Awalnya memang beliau sangat tenang dan hanya tersenyum melihat perdebatan kami, namun lama-lama ia juga lelah.
Aku mengatupkan bibirku dan menahan untuk tidak bicara lagi. Aku memanfaatkan perjalanan ini untuk meningat lokasi, tempat dan berbagai fasilitas umum yang mungkin kedepannya akan bermanfaat bagiku. Biar bagaimanapun aku juga harus hidup di Korea karena aku yakin aku tidak bisa pergi keluar negeri.
Parahnya, nama dan wajahku terpampang di beberapa berita dengan berbagai judul.
*“Anak Perempuan Presedir Park akan bertunangan dengan Keluarga Hwang?”
“Kisah Cinta Keluarga Hwang dan Tunangannya Putri keluarga Park?”*
“Meroketnya saham Keluarga Park dan Hwang karena perjodohan”
Dan masih banyak yang lainnya. Aku hanya membaca judul berita itu dengan malas. Beberapa minggu ini isu perjodohan ini melejit di halaman berita bisnis dan ekonomi. Aku mulai mengkhawatrikan informasi pribadiku mulai bermunculan di media massa. Komentar-komentar jahat mulai bermunculan, spekulasi-spekulasi tentang kisah cinta segi tiga, aku yang dikabarkan berfoya-foya di luar negeri dan kembali untuk menghancurkan rumah tangga Hwang muda. Aku terkejut namun tak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya keluargaku sengaja agar banyak orang yang mengenaliku.
Tiba-tiba pemandangan di hadapanku berubah menjadi hamparan padi yang sudah menguning. Paparan sinar matahari membuat kilauan padi menjadi keemasan. Aku menegakkan badanku dan mengedarkan pandanganku.
“Uwaaa...”
“Iya, keren...”
“Padi daerah ini sangat terkenal, dulu para raja khusus menjadikan wilayah ini sebagai lumbung padi...”
“Uwaaa...” tanpa sadar aku bersorak lagi saat mobil yang kami kendarai belok ke kiri ke jalan yang lebih kecil, masuk ke wilayah Sindun-myeong. Tertulis Icheon Ceramics Villages.
“Keramik?” tanyaku bingung.
“Ya, wilayah ini terkenal dengan kerajianan keramiknya, bahkan UNESCO mengakuinya. Hanya seniman yang boleh tinggal di sini...” aku tak membutuhkan penjelasan lagi karena begitu kami masuk, banyak sekali ditemukan berbagai kesenian dari keramik dan bangunan yang dijadikan galeri sekaligus workshop tenpat mereka memamerkan dan membuat produk mereka.
Aku menyadari sesuatu, “apa keluarga kalian juga seniman?”
Hoon diam cukup lama sebelum menjawab, “Iya, Abeoji...”
“Itulah mengapa aku mengajakmu untuk tinggal bersama kami di sini. Setidaknya banyak hal yang bisa kau lakukan di sini...” Ibu Kim menepuk bahuku, “kau seorang desainer kan? Mungkin saja kau bisa menciptakan sesuatu di sini...”
“Iya, aku tidak sabar Eomoni...” aku mengangguk antusias.
Tak lama kemudian, mobil kami memasuki sebuah rumah yang memiliki desain tak jauh dari bangunan kebanyakan di sini. Hoon memakirkan disamping bangunan. Bentuk rumah ini seperti letter L, bagian sampingnya terdapat satu bangunan yang lebih kecil dan dipisahkan oleh rumah kaca. Aku takjub dengan taman yang ditata sangat rapi dan elok di sekitarnya.
“Kau tidak ingin turun?” Hoon mengetuk kaca samping dari luar. Aku menoleh dan menyadari bahwa hanya aku yang belum turun dari mobil. Aku terlalu terpana dengan keindahan dan ketenangan kota ini.
“Aku akan mencari ayah kalian...” kata Ibu Kim setelah turun dari mobil. Ia lalu bergegas masuk ke dalam galeri.
Aku mengikuti langkah Lee Hoon yang lebih santai di belakangnya. Ini pertama kalinya aku ke daerah ini. Suasananya sangat tenang, hanya beberapa mobil yang berlalu lalang, bahkan lingkungannya pun sangat nyaman untuk pejalan kaki. Aku tersenyum tertahan.
“Kau menyukainya?” pertanyaan Hoon tidak membutuhkan jawaban. Jelas ia bisa melihat senyumku sedari tadi.
“Kau di sini tidak sedang liburan, Eomoni sepertinya berniat menjadikanmu pegawai gratis, tanpa di bayar...” Hoon kembali menggodaku.
“Tak masalah jika aku memiliki makan cukup dan tempat tidur yang nyaman”, aku tersenyum.
“Lihat apa tuan putri ini bisa bertahan...”
Bibirku mengkerucut mendengarnya. Aku tidak pernah menganggap diriku seperti itu. Aku memilih diam dan mengikutinya naik ke lantai dua bangunan yang ternyata adalah rumah mereka.
“Hoon-ah!” seorang laki-laki tua menyambut Hoon dan memeluknya, “sudah lama sekali kau tidak pulang Nak...”
“Abeoji...” Hoon membalas pelukan laki-laki paruh baya itu.
“Apa ini putri kita?” pandangan matanya tertuju padaku. Aku tersenyum mendapat sambutan yang begitu hangat itu. Ini baru satu minggu namun aku bisa merasakan kebahagiaan seumur hidupku ada di minggu itu. Bibirku tak henti tersenyum, sangat kontras dengan kejadian satu minggu yang lalu.
“Selamat siang, nama saya Zoey Park...” aku menyalami ayah Hoon.
“Saya Kim Dong Cheol, selama di sini aku yang akan menjadi ayahmu, Zoey-ya. Selamat datang...” Pak Kim tersenyum lebar membuatku juga ikut tersenyum.
Kim Dong Cheol? Tanpa sengaja aku memandang Lee Hoon. Menyadari ada yang janggal. Kalau Lee Hoon adalah putra mereka, kenapa marganya berbeda? Aku kembali menggigit bibirku, tidak berani menanyakannya.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” Hoon menyadari kegelisahanku.
“OPPA!” seseorang berteriak dari lantai bawah. Suara hentakan kakinya terdengar begitu keras sebanding dengan suaranya, “OPPA!”
“Seung Hee-ya...” Hoon menyambut gadis itu dengan pelukan. Aku memperhatikan keakraban mereka, sepertinya ini lah adik yang disebutkan oleh Hoon sebelumnya. Ia sangat cantik dan mungil, tingginya hanya setelingaku. Rata-rata tinggi badan gadis Korea pada umumnya, aku yang tidak normal.
Tatapan kami bertemu, wajahnya yang tadi ceria berubah drastis. Ia memandangku tajam.
“Kenapa wanita ini ada di sini!”
***
Eo : Iya (informal)
Wae : Kata tanya, kenapa, ada apa
Abeoji : Ayah (formal)
Icheon Ceramics Village
Merupakan suatu wilayah di Korea Selatan tepatnya di Gyeongchung-daero 3150beon-gil, Icheon-si, Gyeonggi-do. Wilayah ini dihuni oleh kurang lebih 200 seniman yang memproduksi seni kerajinan keramik tradisonal Korea. Desa/wilayah ini mulai dijadikan pusat keramik dari Dinasti Joseon (1392-1910) kemudian dilestarikan dan diakui oleh UNESCO sebagai City of Crafts and Folk Art. Terdapat banyak museum di wilayah ini.