Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 68; Kantor Mo Tae Dong



Aku menemui Mo Tae Dong di kantornya. Ini kali pertama aku pergi ke tempatnya bekerja. Perusahaan JM termasuk perusahaan baru yang sedang naik daun. Perusahaan ini bergerak dibidang kesehatan tradisional dan herbal. Prodaknya berupa obat-obatan tradisional, ramuan-ramuan obat, bahkan kosmetik alami. Akar utama dari perusahaan adalah klinik pengobatan dan kecantikan yang berkembang seperti halnya toko waralaba. Banyak sekali franchise yang dibuka di Korea bahkan mancanegara.


“Hai Zoey!” Mo Tae Dong menyambutku begitu aku sampai di ruangannya bersama dengan Hye Sung, “silahkan duduk!” ia membimbingku dan Hye Sung untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.


“Aku tidak menyangka aku akan kemari dengan kakiku sendiri...” aku melihat sekeliling, dan jika mengingat apa yang Mo Tae Dong lakukan padaku, suasana kantor ini sangat tidak cocok dengannya. Ini terlalu asri, hangat dan bersahabat.


“Aku mungkin orang brengsek, tapi tidak dengan Perusahaanku...” Tae Dong terkekeh sendiri mendengar pengakuannya. Ia lalu memberikanku teh herbal dan juga beberapa camilan. Kami berempat duduk sambil membicarakan tentang rapat pemegang saham dan juga proyek yang akan di kerjakannya.


Perusahaan JM berniat untuk mendirikan rumah sakit herbal terbesar di Korea. Untuk mendukung berbagai perisapan itu, JM berusahan menggandeng Mirae yang telah lama berkecimpung di dunia medis untuk mendukung dan menginfestasikan beberapa won di proyek ini. kesepakatan yang tertera dalam kontrak yang digarap sebesar 40% 60%. Aku sudah membaca rancangan dan desain investasi yang memang sudah dirinci dengan penuh pertimbangan bahkan dalam masalah bagi hasil.


Ayah masih menunda program ini karena berbagai alasan pribadi dan ketakutan secara emosional terhadap Mo Tae Dong. Padahal, ide untuk mengkolaborasikan dua jenis pengobatan ini sangat menarik dan memiliki masa depan yang baik untuk kesehatan masyarakat korea maupun untuk perkembangan dunia medis.


“Sebenarnya tak perlu kau kemari, Zoey. Aku bahkan sudah mendukungmu dari awal dan aku yakin kau sangat setuju dengan tawaranku...” Tae Dong menatapku dari sudut matanya, “kau sudah siap untuk bertarung, kucing kecil?”


“Berhenti memanggilku seperti itu!”


“Ah iya, aku lupa! Kau adalah macan betina yang kini sedang berusahan menerkam mangsamu. Tapi aku penasaran, apa yang akan kau lakukan jika kau berasil mengalahkan Ayahmu?” aku sebenarnya sudah memimilki gambaran yang pasti tentang apa yang akan aku lakukan kedepannya. Posisi itu bukanlah sesuatu yang aku inginkan tapi aku memilih untuk tidak menjawabnya.


“Lalu apa yang akan kau lakukan dengan Ayahku?” belum sempat Tae Dong menjawab pertanyaanku, sekretarisnya mengetuk pintu ruangannya dengan tergesa-gesa.


“Ada apa?” tanya Tae Dong seraya berdiri dari tempat duduknya.


“Maaf Direktur, Tuan Park sedang dalam perjalan ke mari!”


“Kau, jangan beritahu kalau aku sedang memilki tamu, tahan mereka terlebih dahulu dan jangan biarkan masuk sebelum aku keluar dari ruangan ini sendiri!” sekretaris Tae Dong segera keluar tanpa menunggu lagi.


“Kenapa ayahku kemari?”


“Tentu saja untuk memintaku bergabung bersamanya. Bawa barang-barangmu, masuk ke dalam ruang istirahatku dan jangan keluar sebelum aku menyuruhmu keluar...” Tae Dong membukakan sebuah pintu yang ada di samping mejanya.


“Kau selalu membangun kotak rahasia di mana pun kau berada...” gumamku saat melihat kamar seluas dua belas meter persegi itu.


“Aku senang tidur di kantor...” ia lalu segera menutup pintu begitu aku dan Hye Sung masuk ke dalam ruangan bersama dengan barang-barang kami dan juga makan minum yang disajikan tadi.


“Bukankan ini hal yang sangat lucu?” aku bertanya pada Hye Sung, “kita tidak sedang melakukan kesalahan apapun namun kita bersembuyi seperti tikus seperti ini?”


“Kita perlu mengetahui apa yang tidak kita ketahui agar bisa melihat situasinya dengan baik. Aku pikir ini not bad lah...” Hye Sung lalu mengambil kursi dan duduk di samping pintu. Ia ingin mendengarkan percakapan di luar dengan lebih jelas.


Aku juga melakukan hal sama. Aku memejamkan mataku dan menajamkan pendengaranku agar bisa mendengarkan pembicaraan antara Ayah dan Mo Tae Dong. Aku ingin tahu seberapa kuat keinginan ayahku untuk mempertahankan perusahaannya.


***


“Saya merasa terhormat kedatangan tamu seperti Anda, Presdir. Saya tidak menyangka Anda mau menginjakkan kaki di kantor saya ini...” ucap Tae Dong.


“Aku tidak menyangka kau bisa memanipulasi putriku seperti itu.”


“Putri Anda? Mungkin Anda salah paham. Saya tidak pernah memanipulasi putri Anda sedikit pun. Saya hanya berusaha memecahkan kaca palsu yang ia gunakan untuk bercermin.  Tidak berarti seekor harimau yang Anda kurung berpuluh-puluh tahun berubah menjadi seekor kucing...” aku tidak mengerti kenapa Tae Dong suka sekali mengambarkan diriku dengan kucing dan juga harimau. Perumpamaan yang sangat menyebalkan, aku merasa aku begitu dungu sehingga benar-benar dibodohi selama ini.


“Dia hanya lupa siapa majikannya...”


“Zoey adalah majikan untuk dirinya sendiri. Anda tidak berhak mengaturnya jika mengingat apa yang tidak Anda lakukan untuknya...”


“Apa maksudmu TIDAK aku lakukan untuknya! Aku membesarkannya dengan susah payah, menyekolahkannya tinggi-tinggi. Seharusnya ia membalas kebaikan yang aku berikan, bukan menusukku dari belakang seperti ini!”


“Kau tau apa!”


“Saya tidak tahu apa-apa Presdir. Bukan tentang keluarga Anda, tapi kenapa Anda bisa sampai disini. Anda tidak akan kemari hanya untuk membicarakan Zoey daengan saya kan?”


“Aku akan memberikan keuntungan 60-70% dari proyekmu jika kau mendunkungku dalam rapat pemegang saham nanti...” itulah tujuan Ayah ke sini. Ia berusaha mendapatkan dukungan Mo Tae Dong dalam rapat nanti dengan begitu, setidaknya posisinya akan lebih aman daripada sebelumnya.


“Tawaran yang sangat menarik...” aku terkejut dengan ucapan Tae Dong. Apa  ia akan menerimanya?


“Benar sekali. Aku jamin kau tidak akan dirugikan dalam kerja sama ini. Image dunia medis herbal Korea akan membaik dan kau akan mendapatkan banyak pelanggan...”


“Sayangnya saya lebih senang melihat mereka sehat daripada sakit...” jawaban Tae Dong membuatku terkejut. Apa ia benar-benar tulus saat mengatakannya?


“Apa kau semunafik itu?” suara Ayah benar-benar terdengar penuh dengan hinaan.


“Kalau begitu, saya akan setuju jika Anda mau memberikan Zoey pada saya...” aku lebih terkejut lagi dengan ucapan Tae Dong, “apa Anda bersedia menjual Zoey pada saya?”


“Kau sendiri yang membuatnya lepas kendali. Bagaimana bisa aku memberikannya padamu! Jika kau tidak melakukannya, aku akan senang hati memberikannya...” hatiku getir mendengarnya.


Nilai saham yang dimiliki Mo Tae Dong memang lebih besar daripada milik Keluarga Hwang. Selama perjalanan karirnya, Tae Dong fokus untuk membeli saham Mirae sebanyak-banyaknya. Setelah itu ia baru fokus menjalankan misinya.


“Kalau seperti itu, kenapa Anda tidak melakukannya dari dulu? Apa karena saya miskin?Apa saat ini Anda merasa saya sudah cukup kaya untuk menyelamatkan Anda?”


“Apa sebegitu pentingnya Zoey?”


“Ya tentu saja! Saya dari awal sudah melihatnya sebagai harimau dan menginginkannya. Anda  saja menutup mata atas apa yang selama ini terjadi pada Zoey!”


“Lalu intinya, kau memintaku memberikan Zoey padamu?”


“Ya, apa Anda bisa melakukannya?”


“Tentu saja...dia purtriku...”


“Anda benar-benar munafik!” aku mendengar langkah kaki Tae Dong, “Saya akan memastikannya...” dan tiba-tiba pintu terbuka. Aku sempat terkejut, tak menyangka Tae Dong akan membuka pintu ruangan persembunyiannya, “Ayahmu berencana menjualmu padaku, apa kau bersedia?”


“Apa kau sudah gila?” tanyaku dengan wajah datar, “jangan pernah memimpikannya!”


“See? Zoey sudah menjawabnya Presdir, jadi saya pastikan bahwa saya tidak akan ikut ke barisan orang-orang yang akan mendukung Anda...”


Ayah sangat terkejut saat melihatku keluar ruangan dan muncul di kantor Tae Dong. Ia tidak menyangka akan bertemu denganku di sini. Aku menyapa Ayah dengan membungkukkan badanku. Biar bagiamanapun ia masih ayahku, masih ada sedikit rasa respek terhadapnya tapi selebihnya, no coment.


“Kau! Kenapa kau ada di sini!”


“Tentu saja sama seperti apa yang sedang Presdir lakukan. Kami sedang melakukan tawar menawar.”


“Apa kau kini sudah menjual tubuhmu sendiri? Sangat hebat sekali kau!” ayahku mengacungkan telunjuknya padaku. Hatiku semakin ngilu mendengarnya. Kenapa ia bisa mengatakannya padaku?


“Anda seharusnya menghormati kami agar penawaran ini bisa berjalan dengan lancar. Bukan dengan menyulut api di antara kami.” Kataku pelan.


“Ka..kalian akan membayarnya nanti!” ancam Ayah dengan dinginnya.


***