Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 65; My Story



Aku mengangkat kepalaku saat seseorang membelai rambutku dengan lembut. Mataku langsung bertemu dengan tatapan teduh Seo Jin. Aku menggigit bibirku menahan semua perasaan yang siap meluap dari dalam diriku. Ingin rasanya aku berlari padanya, melimpahkan segala keluh kesah dan kegundahan hatiku.


“Cepat pergi dari sini! Ganti juga bajumu! Apa kau sudah menghubungi manajermu?” tiba-tiba kakak perempuan Seo Jin sambil melemparkan kaos putih ke arah Seo Jin. Aku baru sadar bahwa kemeja Seo Jin sudah terkena noda darahku.


“Kau ini kan dokter, bagaimana bisa kau mengusir pasienmu seperti itu?” walau Seo Jin mendebat ucapan kakaknya, ia sudah berdiri dan berjalan ke balik tirai untuk mengganti atasannya.


“Aku memang dokter tapi aku tidak mau menerimamu di sini. Kehadiranmu hanya membuat klinik ini  berisik!” Dokter Han duduk di tempat tidur pasien yang ada di sampingku, “siapa namamu Nona?”


“Zoey, panggil saya Zoey...” jawabku cepat.


Tidak lama kemudian Hye Sung masuk sambil membawa paper bag yang berisi pakaian yang tadi aku gunakan. Ia kemudian membantuku untuk mengganti bajuku dibalik tirai yang tadi digunakan Seo Jin untuk mengganti bajunya.


“Apa kau puas hanya melihat bayangannya saja?”


“NUNA!” teriakan Seo Jin hanya ditertawai oleh kakaknya.


Pertanyaan Dokter Han membuatku sadar bahwa jarak kami hanya dipisahkan oleh sehelai kain. Aku buru-buru mengganti bajuku dan keluar dari balik tirai tanpa berani menatap Seo Jin.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Dokter Han padaku, “aku akan memberikan obat penahan rasa sakit untuk berjaga-jaga kalau kau tidak bisa tidur nanti malam...”


“Aku sudah kesulitan tidur awal...” aku berkata jujur. Semenjak aku pulang ke Korea aku tidak bisa tidur dengan nyenyak dan ini membuat kepalaku sering sakit.


“Kalau begitu aku akan menyiapkan resep lain...” Dokter Han keluar dari ruangan. Saat Dokter Han pergi, Aku bisa melihat Hoon berdiri dibalik pintu. Ia lalu masuk ke dalam ruang IGD.


“Lebih baik aku pergi sekarang...” katanya lirih.


“Kau berhutang penjelasan pada kami!” kata Seo Jin tegas, menahan kepergian Hoon.


“Saat ini, aku tidak bisa memikirkan kata lain selain kata maaf...” Hoon berusaha meyakinkan Seo Jin, “nanti, aku akan menjawab pertanyaan apapun dari kalian.”


“Kau tinggal di mana?” tanya Seo Jin akhirnya.


“Aku tinggal di hotel tak jauh dari apartemenmu. Kita bertemu lagi nanti. Aku janji aku tidak akan kabur...” Hoon menatap aku dan Seo Jin bergantian, “aku benar-benar minta maaf.”


“Apa Anda bisa menjaga Nona Zoey, Tuan?” tanya Hye Sung tiba-tiba.


“Ya! Apa yang akan kau lakukan!” tegurku tajam saat menyadari apa yang dipikirkan oleh Hye Sung.


“Anda tidak bisa pulang malam ini dan jika kita tinggal di hotel, saya tidak bisa menjaga Anda karena banyak hal yang harus saya kerjakan...” kata Hye Sung. Aku menatapnya heran. Kenapa ia yang kini memberiku perintah? Bukannya aku atasannya?


“Saya akan memastikan Tuan Hoon juga kembali ke hotelnya. Apa Anda bisa saya percayai Tuan Seo Jin-ssi?” tambah Hye Sung.


“Tentu saja, terima kasih...”


“Ya, sama-sama. Saya melihat ada banyak hal yang perlu kalian berdua bicarakan dan Zoey-ssi juga membutuhkan tempat untuk beristirahat sementara saya menyiapkan beberapa hal...” Hye Sung kemudian memasukkan dressku ke dalam paper bag dan membawanya, “mari Tuan Hoon, saya akan mengantarkan Anda...”


“Aku akan menghubungimu nanti Hyung...” tak perlu waktu lama bagi Hoon untuk menerima tawaran dari Hye Sung. Keduanya kini sudah pergi, meninggalkan aku dan Seo Jin dalam suasana yang tiba-tiba canggung.


Seo Jin berdeham pelan sebelum kembali duduk di atas tempat tidur, “wajahmu benar-benar berantakan...” jemari Seo Jin hanya tinggal beberapa senti dari lukaku, ia tahu bahwa ia tidak boleh menyentuhnya sehingga tangan Seo Jin terhenti di sana, “ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi aku tahu ini bukan saat yang tepatkan?”


Aku meraih jemari Seo Jin dan menggenggamnya, aku berusaha untuk menarik sebanyak mungkin energi postif dari dalam dirinya. Berdua dengannya seperti ini membuatku merasa rapuh.


Dokter Han masuk bersama Manajer Jo yang terlihat sangat kelelahan. Begitu ia melihat Seo Jin tidak apa-apa, ia menghembuskan nafas lega. Aku lagi-lagi merasa bersalah dengan manajer Seo Jin satu ini. Lagi-lagi secara tidak langsung aku merepotkannya lagi.


“Ini obatmu, kalian cepat pergi dari sini...” aku tidak menyangka Dokter Han menebus obatnya sendiri.


“Gomawo (terima kasih), Nuna!” Seo Jin lalu membereskan baju dan jasnya dibantu oleh Manajer Jo. Setelah semua beres, ia membimbingku turun dan mengandengku sepanjang perjalanan menuju mobil Seo Jin.


“Apartemenku.” Jawab Seo Jin singkat.


“Kau  benar-benar gila! Aku tidak akan menanggung apapun ya kalau ada media yang mencium berita tentang kalian!” Manajer Jo kembali memperingatkan tentang status kami.


“Aku lebih baik ke hotel saja...”


“Apa kau gila!” kata Seo Jin dan Manajer Jo bersamaan. Aku jadi sadar kalau mereka sebenarnya memiliki banyak kesamaan.


“Tidak ada yang akan menjaga Anda!” Manajer Jo menambahkan. Aku pikir awalnya orang ini plin plan, namun semakin lama ia berbicara semakin aku tahu bahwa di balik kata-katanya yang pedas terselip kekhawatiran dan rasa peduli yang besar.


***


“Tunggu sebentar, aku akan mengecek beberapa hal. Aku sudah hampir satu bulan tidak ke sini. Kau boleh lihat-lihat sesukamu...” aku hanya mengangguk dan mulai melakukan room tour. Ruang tamu ini cukup besar, di ujungnya terdapat pantry yang dipisahkan oleh meja makan. Desainnya termasuk sangat sederhana namun terkesan nyaman. Satu hal yang membuatku takjub adalah kaca besar di seluruh sisi luar ruangan.


Apartemen Seo Jin berada di kawasan elit yang ada di Jamsil area Shincheon-dong. Dari lantai 47 rumahnya, aku bisa melihat dengan jelas sungai Han (Hangang) yang diterangi oleh cahaya lampu warna-warni yang membuat gelapnya sungai itu menjadi pemandangan yang eksotik. Aku berdiri mematung di sisi ruangan dan menatap sungai yang menjadi maskot negeri ini dengan tatapan kosong. Indahnya pemandangan yang aku lihat saat ini justru seperti sedang menghinaku kesialanku.


Aku sudah paham ujung dari semua perkara ini hanyalah keserakahan. Mereka saling berperang memperebutkan kekuasaan tanpa menikmati kebahagiaan dengan penuh rasa syukur. Aku sendiri tidak menyangka akan menjadi sejauh ini perkaranya. Aku bahkan masih ingat beberapa bulan yang lalu aku masih sibuk mengelola hotel sekaligus menyiapkan acara fashion show di Paris. Tapi kini aku tengah berada di Seoul dengan ketidakpastian. Aku yang awalnya tidak tahu kemana akan melangkah kini harus berpijak di atas bara api peperangan perusahaan Ayah.


Aku tidak ingin melakukannya.


Tapi apa aku punya pilihan lain untuk menghindar?


Hye Sung memberitahuku bahwa rapat pemengang saham paling cepat akan dilakukan seminggu lagi. Memikirkan bahwa aku akan menjadi calon yang diusulkan sebagai presdir Mirae Grup saja membuatku ngeri. Mungkin aku pernah bekerja sebagai CEO di Paris, namun Mirae Grup lebih besar dari itu dan memiliki ratusan ribu karyawan dengan berbagai bidang keahlian. Bagiamana bisa aku berdiri di puncak piramid itu dengan penuh kepercayaan diri jika yang aku jadikan pijakan menuju puncaknya adalah keringat Ayah dan Oppaku sendiri?


“Hey...” suara Seo Jin terasa membelai telingaku. Saat aku menoleh mataku langsung bertemu dengan bahunya.


“Maafkan aku...” aku memanjangkan leherku untuk mencari Manajer Jo.


“Dia sudah pergi...” kata Seo Jin lirih. Aku hendak berballik namun Seo Jin menahan bahuku. Ia melingkarkan tangannya di bawah daguku dan memeluku dari belakang. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di samping telingaku.


“Ka...kapan?” aku tidak bisa menutupi kegugupanku. Ini juga hal baru untukku. Perasaan nyaman itu bercampur dengan debar aneh yang mulai memenuhi dadaku.


“Sejak kau diam saja di sini dan mengabaikannya...”


“Benarkah?” aku merasa tidak enak dengan Manajer Jo. Ia pasti sakit kepala berurusan denganku dan juga Seo Jin.


“Hmm...” Seo Jin mengeratkan pelukannya, “banyak yang ingin aku tanyakan, tapi bau darah ini membuatku gila. Apa begitu berat masalah yang kau hadapi sekarang?”


Aku melepaskan pelukan Seo Jin dan berbalik untuk memeluknya, “Maafkan aku...” aku tahu dia sudah banyak bersabar dengan tidak bertanya tantang apa yang sedang aku hadapi saat ini. Tapi jika aku mengatakannya, aku tidak yakin apakah aku bisa bersikap tegar menghadapi semua ini dihadapannya.


“Jujur, walau pengumuman pertunanganmu membuatku gila, tapi aku lebih murka saat melihatmu terluka seperti ini. Aku tidak akan memaafkan...” belum sempat Seo Jin menyelesaikan kalimatnya aku langsung memotongnya.


“Appa...”


“Ha?”


“Ayahku yang melakukannya...”


“WHAT!!” Seo Jin menjauhkan tubuhku darinya. Ia ingin menatap mataku lekat-lekat untuk memastikan bahwa apa yang didengarnya tidak salah. Manik matanya bergetar saat ia mendapati kenyataan itu, “Ya Tuhan...”


Ya, itulah kenyataannya Seo Jin.


Hidupku tidak secerah dan bahagia seperti yang kau pikirkan.


***