Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 69; Yang Datang



“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Hye Sung begitu kami sampai di homestay. Ia meletakan secangkir lemon teh hangat di atas mejaku, “kau juga perlu istirahat yang cukup Zoey-ssi. Kau harus dalam kondisi terbaikmu besok. Lupakan semua dokumen ini dan beristirahatlah. Semua persiapan kita sudah lebih dari cukup...”


“Aku pikir kau sekarang begitu menyebalkan Hye Sung-ah.” Aku meraih cangkir yang Hye Sung berikan dan menyesapnya pelan. Aku memijat pelipisku pelan. Hye Sung benar-benar pandai dalam hal menilai orang. Ia tahu kapan aku harus beristirahat dan kapan aku harus bekerja. Tapi, sebanyak apapun dokumen yang aku baca, aku merasa masih memiliki banyak kekurangan di berbagai hal.


“Apa Uncle besok akan datang?” tanyaku.


“Ya, Tuan Suthley akan tiba di Korea malam ini. Tenangkan dirimu, Nona. Kau berhak beristirahat hari ini...” Hye Sung tersenyum dengan aneh saat mengatakannya. Tak lama kemudian suara bel rumah berbunyi.


“Apa kau memesan makanan?”  tanyaku heran. Hal ini wajar karena kami jarang sekali memesan makanan dan asisten rumah tangga kami selalu menyiapkan kami makanan. Jika Juna ataupun Ibu yang datang kemari pun mereka tidak akan memecet bel rumah.


Hye Sung sudah terlebih dahulu bangun dan berjalan ke arah pintu utama sambil meraih kunci mobil yang ada di atas meja.


“Kau mau ke mana?”


“Aku ada urusan sebentar...Asisten rumah tangga kita juga sudah menyiapkan makan malam kalau kau lapar. Dia juga ijin malam ini...”


Aku ikut berdiri dan menyusul Hye Sung. Tidak biasanya ia pergi dan meninggalkanku sendirian seperti ini . Aku curiga dia akan pergi keluar dengan seseorang. Aku berlari mendahuluinya dan membuka pintu rumah terlebih dahulu untuk melihat siapa yang menjemputnya.


“A...a...pa yang Oppa lakukan di di sini?”


Tanpa aku sadari aku melangkah mundur mendapati sosok yang berdiri di hadapanku ini. Walau ia mengunakan topi dan masker hitam, aku langsung bisa mengenalinya dari sorot matanya. Apa yang Seo Jin lakukan di sini? Siapa yang memberitahunya kalau aku ada di sini?


Aku sengaja mengabaikan panggilannya setelah kejadian itu. Aku ingin fokus pada pekerjaanku dan menyelesaikan semuanya secepat mungkin sehingga aku sengaja menghindarinya. Aku menoleh pada  Hye Sung yang kini sudah siap pergi.


“Ini pasti kerjaanmu kan?” tuduhku padanya.


“Ya, Tuan Seo Jin menghubungiku beberapa kali namun aku hanya bisa menjanjikan hari ini karena kita sedang sibuk...” jawabnya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.


“Kalian berdua memang hebat, bisa-bisa melakukan ini padaku...” Seo Jin tidak percaya ia di nomor sekiankan oleh dua wanita yang ada di hadapannya, “apa kau akan pergi?”


“Tentu saja! Apa Tuan membutuhkan seorang penonton?” Hye Sung berjalan melewati Seo Jin, “tolong pastikan Nona kami istirahat dengan cukup. Kami memiliki hal penting yang harus kami lakukan besok...”


“YA! HYE SUNG-AH!” aku ingin memberikan pelajaran pada asisten yang sudah mulai kurang ajar dengan atasannya itu namun Seo Jin merentangkan tangannya dihadapanku untuk menghalangi jalanku.


“Bukankah banyak yang harus kita bicarakan, Nona?” bisiknya pelan namun tegas.


Aku menelan ludahku dan menatapnya dari sudut mataku. Tiba-tiba suasana di antara kami menjadi canggung. Dadaku mulai berdebar dan pikrianku kembali mengingat sesuatu yang sudah terjadi antara kami berdua.  Cepat-cepat aku membalikkan badanku dan masuk ke dalam rumah.


Seo Jin mengikutiku masuk setelah memastikan pintu rumah tertutup. Ia melepas topinya dan masker yang menutupi wajahnya. Aku sampai tidak sadar kalau ia sudah tidak menggunakan vest di tangannya sampai ia menarikku dan merengkuhku dalam pelukannya.


“Oppa...”


“Kau tau? Aku sangat marah padamu...”


“Aku bisa menjelaskannya... tapi tolong...” aku berusaha melepaskan pelukannya dengan mendorong tubuhnya pelan. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak berniat melepaskanku, “Oppa...” mau tidak mau aku merengek padanya.


“Why?” Seo Jin memang mengendorkan pelukannya namun ia mendaratkan ciuman dibibirku sambil melirikku dengan tajam, “aku pikir kau mencampakkanku setelah berhasil mendapatkanku malam itu...”


“Itu tidak mungkin kan!” Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa ia punya pikiran seperti itu? Bukannya pikiranan seperti itu biasa dimiliki oleh seorang wanita?


“Tentu saja mungkin, karena saat aku bangun aku hanya sendirian di atas tempat tidurku. Aku pikir aku hanya mimpi...” Seo Jin kembali menarikku ke dalam pelukannya, “itu bukan mimpi kan?”


Seo Jin jelas-jelas sedang menggodaku. Ia tahu pasti bahwa yang kami lakukan malam itu bukanlah mimpi. Aku melepaskan peganganku di pinggangnya lalu meletakkan tanganku di bahunya. Aku menatap mata indah Seo Jin lalu turun ke hidungnya dan terakhir aku menatap bibirnya. Aku tidak menahan diriku lagi untuk tidak mengecupnya.


“Kita pastikan lagi kalau kita sedang tidak bermimpi...”


***


Saat aku membuka mataku, hal pertama yang aku lihat adalah Seo Jin yang masih terlelap di sampingku. Aku bergerak dengan perlahan agar tidak membangunkannya. Walau sudah hampir tengah malam, ingin rasanya aku mandi dan juga mengisi perutku dengan sesuatu. Aku lapar.


“Mau ke mana?” suara Seo Jin terdengar parau saat ia terbangun. Ia membuka matanya dan menahanku  untuk tetap bersamanya.


“Aku lapar...” kataku jujur dan kembali bergelung di atas tempat tidur.


“Kalau begitu ayo kita makan bersama...” Seo Jin bangun terlebih dahulu dan mengenakan pakainnya, “aku tunggu di luar...” katanya sambil mengecup puncak kepalaku pelan.


Aku hanya memandangnya sampai ia benar-benar menghilang dari kamar lalu bergegas mengambil pakaianku dan berlari ke kamar mandi, “Oh aku bisa gila! Aku gila kalau seperti ini terus!” aku menguyur tubuhku di bawah shower untuk mengembalikan kewarasanku.


Aku keluar dari kamar sekitar dua puluh menit kemudian. Seo Jin duduk di atas sofa sambil menyaksikan tayangan TV. Aku bergerak setenang mungkin untuk mengagetkannya tapi justru aku yang terkejut saat ia tiba-tiba menoleh.


“Kok tahu sih?”


“Kau tidak tahu bahwa aroma sabun mandimu sudah memenuhi ruangan ini?” Seo Jin lalu berdiri dan mengajakku ke dapur. Seolah rumah ini adalah miliknya sendiri ia sudah menyiapkan beberapa makanan di atas meja. Ia mendahuluiku duduk dan mengambilkan nasi untukku.


“Oppa yang menyiapkan segalanya?” tanyaku lalu ikut duduk di hadapannya.


“Tidak, semua sudah di sediakan, aku hanya perlu memanasinya tadi...” aku mengangguk dan mulai menyantap makan malamku yang super telat. Aku tidak peduli apakan berat badanku akan bertambah besok, tapi aku butuh asupan energi yang cukup saat ini.


“Pelan-pelan...” Seo Jin hanya memakan beberapa menu sambil mengamatiku menikmati makan malamku. Aku tidak banyak protes karena aku tahu Seo Jin tidak boleh makan sembarangan. Entah dari menu ataupun dari jam makannya. Aku memperhatikannya dengan iba tapi terus melanjutkan makanku tanpa mengatakan apapun karena anehnya aku sangat memahaminya.


“Zoey-ya...” panggil Seo Jin dengan lembut.


“Ya...”


“Zoey...”


“Ah , why...”


“Kau tahu, aku sangat menyukaimu. Bisakah kau menolongku untuk tidak menghilang seperti kemarin?” ekspersi wajah Seo Jin saat ini membuatku benar-benar merasa bersalah telah pergi begitu saja dan memutus hubungan dengannya.


“Maafkan aku...” aku mengambil air minum terlebih dahulu agar aku tidak tersedak makananku, “aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku baru kali ini menjalin hubungan seperti ini dengan seorang laki-laki. Aku terlalu terkejut sekaligus malu sehingga saat bangun kabur adalah perintah utama dari otakku...”


“...aku tidak pandai menjalin hubungan dengan orang lain. Tapi, aku ragu untuk mengubungi Oppa setelah ini dan begitu juga sebaliknya, aku bingung mau mengatakan apa. Dan beberapa akhir ini kebetulan aku memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan...”


“Aku memahaminya Zoey. Aku paham kalau kau sibuk. Tapi tetaplah menghubungiku atau kalau tidak membalas pesanku, apa kau pikir aku bukan orang yang sibuk?” Seo Jin mengulurkan tangannya untuk meraih tanganku, “jangan membuat diri kita sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu. Satu atau dua menit untuk saling berkabar tidaklah sulit...”


“Aku merasa bahwa banyak sekali yang harus aku lakukan. Tapi bagiku satu atau dua menit itu tidak cukup dan setiap kali aku memikirkannya, hanya rindu yang aku rasakan. Jika aku bisa memilih, aku memilih hidup seperti ini Oppa...” kataku jujur. Aku terus saja merindukannya dan itu membuatku lemah.


“Dan kau tidak memiliki pilihan kan?”


Aku mengangguk mengiyakannya, “aku hanya ingin segera mengakhirinya agar aku bisa memulai hal lainnya. Aku merasa jika aku lari lagi dari hal ini, aku tidak akan pernah bisa bahagia...”


“Kalau begitu aku akan memahaminya. Tak masalah jika aku harus datang padamu seperti saat ini. Tapi kumohon, jangan menghilang atau menghindariku lagi. Kau mungkin masih bisa melihatku kapan saja jika kau mau, semua aktivitasku terawasi oleh kamera pengemar. Tapi tidak denganku. Aku tahu aku tidak bisa bertemu denganmu sesuka hatiku...” aku tersenyum sendiri mendengar penjelasannya. Dia yang public figure namun aku yang paling susah untuk ditemui.


“Aku akan berusaha untuk melakukannya. Maafkan aku...”


“Kalau begitu lakukan apa yang ingin kau lakukan, Sayang. Aku akan menghormati keputusanmu...”


***