
Aku mengikuti Elsa menuruni tangga. Kami kemudian berbelok dan aku takjub dengan pemandangan di atasku. Ada aquarium besar di atas kepalaku. Ruangan yang berukuran enam meter persegi ini tepat berada di bawah kolam ikan yang aku lihat sebelum masuk ke dalam rumah Tae Dong.
Elsa lalu membuka pintu samping dan terdapat tangga naik dari ujungnya. Aku kembali mengikuti langkahnya dan terkejut ketika kami tiba di halaman rumah tepat di sebelah rumah Tae Dong. Rumah ini lebih kecil dari rumah Tae Dong dan memiliki suasana yang jauh lebih asri.
Kadang tempat persembunyian yang paling aman adalah tempat yang di rasa paling berbahaya. Tae Dong seolah sengaja membuat rumah ini dan rumah yang ada di sebelah adalah milik orang yang berbeda, tapi tempat ini justru menjadi tempat persembunyian yang paling dekat dan aman.
“Kemarilah...” Elsa membuka pintu dan masuk ke dalam rumah itu. Begitu kami masuk, seseorang langsung menyambut kami.
“Elsa, dengan siapa kau datang?” tanya wanita yang sudah cukup tua itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Elsa.
“Teman, Bu...” Elsa melambaikan tangannya, menyuruhku untuk mendekat, “namanya Zoey...”
“Halo cantik, perkenalkan orang tua ini adalah Ibu dari Tae Dong. Namaku Bae Ji Sook tapi kau bisa memanggilku ibu seperti anak-anak lain memanggilku.” Wanita itu tersenyum dengan hangat dan mengulurkan tangannya padaku.
“Maaf merepotkan Anda, Bu.” Lidahku terasa canggung saat memanggilnya seperti itu. Aku tidak menyangka akan memanggil ibu pada ibu orang yang satu jam lalu masih aku anggap sebagai musuh besarku.
“Apa kau sudah makan?”
“Belum...” tanpa sadar aku berkata jujur, wanita itu tersenyum bahagia lalu mengajakku ke dapur untuk menemaninya makan.
“Makan yang banyak...” Ibu Bae mengambilkan nasi untukku dan untuk Elsa. Ia lalu duduk di ujung meja, di antara aku dan Elsa, “kau harus makan yang banyak agar kau kuat untuk menghadapi masalahmu...”
Ucapan Ibu Bae membuatku tertegun. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan bingung.
“Semua orang punya masalah masing-masing kan?” ia tersenyum dan kembali menyuruhku untuk makan. Aku mengangguk lalu menghabiskan nasiku dengan lahap.
***
“Sampai kapan aku harus menunggu di sini?” aku bertanya untuk kesekian kalinya. Sudah lebih dari dua jam aku ada di rumah Ibu Bae dan Elsa hanya memberitahuku lewat telepon genggamnya jika Tae Dong tidak ingin bertemu denganku hari ini.
“Aku hanya menyampaikan perintahnya.”
“Apa kau pikir aku adalah orang yang bisa ia perintah?” aku berdiri dan memandang Elsa tajam, “kau ingin aku kabur dari sini atau kau ingin aku kabur ke rumah itu?” aku menunjuk rumah Tae Dong yang ada di balik pagar. Karena Elsa tidak menjawab aku berlari terlebih dahulu menuju pintu di mana kami muncul sebelumnya. Ia ikut berlari mengikutiku dan kami tiba di ujung pintu dalam waktu yang bersamaan.
“Zoey-ssi...” Elsa menangkap tanganku yang hendak membuka paksa pintu itu.
“Apa?” aku menjawab sambil mengabaikannya dan mencari cara untuk membuka pintu ini dengan lebih manusiawi.
Tiba-tiba pintu terbuka. Aku menyipitkan mataku melihat cahaya terang yang begitu tiba-tiba. Saat aku mendapatkan kembali penglihatanku aku melihat Tae Dong berdiri di hadapanku. Aku sedikit terkejut saat melihat wajahnya yang terluka. Ia seperti baru saja berkelahi dengan seseorang.
“Apa yang terjadi padamu?”
“Itu gara-gara kau, Nuna...” Ren menimpali kata-kataku.
“Diam kau dan tinggalkan kami berdua!” Tae Dong menatap tajam ke arah Ren dan juga Elsa. Elsa yang paham akan situasinya lalu menarik Ren keluar dari ruangannya.
“Ada apa?”
“Hmm, apa aku harus menceritakannya?” Tae Dong kembali duduk di sofanya.
“Tidak perlu!” aku mendengus dan ikut duduk di seberangnya.
“Ini harga yang harus aku bayar setelah berhasil membawamu kemari”, aku menatapnya dengan tanya, “acara amal hari ini. Ayahku murka saat mengetahui perusahanku mendonasikan beberpa won melalui Mirae Grup.”
“Ayahmu?”
“Ya, Ayahku bebas dari penjara beberapa bulan sebelum kau kembali ke Korea.” Penjelasan Tae Dong tiba-tiba membuatku menyadari situasinya. Itulah kenapa Mirae Grup harus mengepakkan sayapnya lebih lebar lagi karena pesaing bisnisnya sudah kembali ke medan perang.
“Aku harus pulang!”, aku menatap Tae Dong tajam.
“Kenapa tiba-tiba, aku pikir kau sudah setuju dengan rencanaku.”
“Bawa ini...” Tae Dong mengulurkan ponsel ke arahku, “telpon ini tidak bisa dilacak oleh adikmu, kau akan aman jika kau menghubungiku lewat itu.”
“Juna?”
“Astaga, jangan-jangan kau tidak tahu lagi? Park Juna adalah Direktur bagian IT di Mirae Grup?” Tae Dong menatapku dengan tatapan tidak percaya. Apalagi aku, aku lebih tidak percaya lagi dengan apa yang aku dengar.
“Elsa akan mengantarmu...” kata Tae Dong sebelum aku keluar dari ruangannya.
Elsa sudah menunggu di dasar tangga. Aku bisa melihat ada alat komunikasi yang terpasang di telinganya. Itulah alasannya kenapa semua orang di sini memiliki sistem informasi yang cepat. Aku mengikuti Elsa ke garasi dan kami menggunakan mobil SUV saat meninggalkan rumah Tae Dong.
“Kita perlu ke Cheongdam-dong dulu.” Elsa hanya mengangguk dan memasang GPSnya ke arah yang aku tunjukkan.
“Siapa namamu? Asal? Umur?” aku mulai menanyakan informasi pribadinya untuk mengarang cerita. Aku harus memiliki alibi yang bagus untuk menghilangkan jejak pertemuanku dengan Tae Dong. Aku juga menjelaskan informasiku kepada Elsa agar ia juga memiliki satu alibi yang sama. Aku dan Elsa adalah teman lama yang pernah bertemu di Jerman. Kebetulan Elsa berdarah Korea-Jerman dan ia tinggal di Korea sejak ia kecil. Kami bertemu lagi secara tidak sengaja dan keluar menghabiskan waktu bersama hari ini.
Aku mengajaknya untuk membeli ponsel terlebih daluhu. Setelah selesai kami pergi ke butik dan meninggalkan jejak dari catatan kartu kredit untuk membeli beberapa baju. Kebetulan aku tidak memiliki banyak baju musim dingin, kami membeli makan malam dan terakhir kami pergi ke La Red De Alice.
“Nona!” Asisten Kim berteriak begitu melihatku membuka pintu butik. Walaupun ia menjadi Head Manajer di sini, aku masih memanggilnya Asisten Kim karena dia tetaplah asistenku selama aku tidak di sini.
“Kanapa kau teriak-teriak?” mau tidak mau aku menegurnya dengan tajam karena beberapa pengunjung merasa terganggu dengan sikapnya.
“Nona tahu? Han Seo Jin kecelakaan!” aku bisa melihat bola mata Asisten Kim bergetar saat mengatakannya. Aku yakin dia sangat syok dengan berita yang ia dengar ini.
“APA!” aku terkejut. Bukan karena kabar kecelakaan itu melainkan karena informasi ini sudah sampai ke telinga karyawanku ini.
“Fansite kami kacau siang ini! Aku berusaha menghungi Anda tapi tidak bisa. Anda pasti tahu sesuatu karena Anda ada bersamanya pagi tadi...” harapan di mata Asisten kim terlihat dengan jelas. Aku menelan ludahku kelu.
“Aku tidak tahu...” aku terpaksa berbohong, “tadi memang seperti itu, tapi siangnya aku bertemu dengan temanku dan aku pergi lebih dulu daripada dia.”
“Aku tidak menyangka akan seperti ini...”
“Apa lukanya parah?” kali ini aku bertanya dengan sungguh-sungguh.
“Kami juga tidak tahu, kami hanya mendengar bahwa Seo Jin Oppa jatuh dari lereng dan dibawa ke rumah sakit.”
“Aku akan mencoba menghubunginya, tenanglah...” aku menepuk bahu Asisten Kim dengan rasa bersalah. Akulah orang yang menyebabkan semua hal ini terjadi. Jika bukan karena aku, Seo Jin tidak akan terluka seperti itu.
Aku kemudian meninggalkan butik setelah mengecek semua yang diperlukan di sana. Kedatanganku sudah cukup untuk membuat sedikit pelarianku terdengar masuk akal. Aku hanya tinggal pulang ke pintu utama.
“Rumah Sakit Korea, kamar no 9012”, Elsa yang sejak tadi hanya diam tiba-tiba berkata hal-hal yang aneh, “Han Seo Jin, dia ada di sana. Setelah diperiksa, Han Seo Jin mengalami tiga retak tulang iga, satu sayatan di wajahnya dan tangan kirinya juga retak.”
“Dari mana kau mendapatkan informasi itu?”
“Itu mudah, dengan sedikit kegigihan. Anda ingin ke sana?” tawar Elsa.
“Ya!” jawabku mantap. Aku juga tidak akan fokus untuk mengejar tujuanku jika aku tidak memastikan kabarnya. Kekhawatiranku terharapnya sudah membuat pikiranku terbagi sejak tadi.
“Halo, Juna...” aku langsung menjauhkan ponselku dari telinga begitu Juna berteriak di ujung telpon.
“KAU ADA DI MANA! KAU MEMBUAT SEMUA ORANG GILA! CEPAT KEMBALI SEKARANG JUGA!”
“Itulah mengapa aku mengubungimu, aku belum tahu akan pulang kapan. Aku ada di rumah sakit, kau tahu? Seo Jin kecelakaan!” aku menunggu reaksi Juna tapi adik laki-lakiku itu justru terdiam.
“Aku akan menghubungimu atau Hye Sung lagi nanti...”aku langsung mematikan sambungan kami sebelum Juna curiga.
Tidak lama kemudian mobil yang Elsa kendarai sudah masuk ke halaman depan rumah sakit. Aku menyuruh Elsa untuk pergi dan jangan menungguku. Walau sempat ragu meninggalkanku sendirian, ia akhirnya pergi dari rumah sakit. Aku mentap mobil itu dengan prihatin lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
***