
Aku menarik nafasku dalam-dalam sambil menikmati nikmat yang sedang aku rasakan. Aku sedang berjalan-jalan di tengah hutan pinus yang lebat. Gas fitonsida yang dihasilkan oleh hutan pinus mensterilkan udara di sekitarnya,membuat kulaitas udara di sekitar menjadi lebuh bersih. Aku bisa merasakan pikiranku menjadi lebih tenang hanya dengan menghirup aromanya saja. Andai saja aku bisa tinggal di tempat ini selamanya.
Ah, aku pasti bermimpi. Aku bisa merasakan kesedihan ini dengan nyata. Ingin selamanya aku di sini. Alangkah lebih indah jika hidupku setenang hutan pinus ini. Harapan-harapan itu membuatku sadar akan kenyataan bahwa dunia yang aku tinggali saat ini tidaklah nyata.
Aku membuka mataku.
Aroma hutan pinus itu masih ada.
Namun yang aku lihat bukanlah hutan pinus lebat tapi wajah Seo Jin yang sedang terlelap. Aku mengerjapkan mataku berulang kali untuk memastikan lagi apakah aku masih bermimpi atau tidak.
Aku merapatkan wajahku di bahunya. Aku tidak sedang bermimpi. Aku juga sudah ingat kenapa aku bisa berakhir di sini dan dalam keadaan seperti ini. Duniaku yang sesungguhnya adalah mimpi buruk itu sendiri. Aku harus menikmati sebanyak mungkin kebahagiaan yang masih bisa aku rasakan saat ini.
Entah sejak kapan berada di dekatnya membuatku merasa tenang dan nyaman. Ia bagikan pohon besar yang mampu menaungiku dari hujan, mengayomiku dari sengatan matahari, dan menghalau semua angin yang menerpaku. Tapi, aku juga sadar, ia bisa terluka kapan saja saat aku bersembunyi padanya karena pohon yang besar dan tinggi memiliki resiko terbesar untuk tersambar petir. Air mataku mengalir dalam kebisuan. Ia merembes pelan dalam keputusasaan.
“Ehm...Zoey...” gumam Seo Jin pelan. Tangan kanannya yang melingkari pundakku semakin erat menariku ke arahnya. Aku bergerak dengan hati-hati, takut jika bangun karena kesakitan.
Aku melirik jam yang ada di dinding ruangan yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Itu berarti aku sudah tidur lebih dari enam jam, bahkan infusku sudah di lepas. Perlahan aku memutuskan untuk bangun dan pindah dari tempat tidur Seo Jin agar ia lebih nyaman beristirahat.
“Kau mau ke mana?” Seo Jin membuka matanya begitu aku berhasil duduk di tepi tempat tidur. Tangan Seo Jin meraih pergelangan tanganku, melarangku untuk pergi.
“Aku ingin ke toilet.” Begitu aku mengatakan alasanku, Seo Jin melepaskan tanganku dan membiarkanku pergi.
Aku keluar dari toilet setelah selesai mencuci wajahku di washtafel. Aku duduk di kursi samping tempat tidur Seo Jin, “Aku boleh makan pisangnya?”
“Tentu saja...”
Rasa laparku membuktikan bahwa keadaanku sudah lebih baik. Sebelumnya aku bahkan tidak bisa merasa lapar atau justru lupa makan. Tanpa sadar aku sudah menghabiskan dua buah pisang, satu apel, dan satu gelas susu.
“Aku yakin kau lapar...” Seo Jin tidak berhenti tersenyum sambil memperhatikanku, “kau akan tinggal di sini kan malam ini?”
“Apa sebaiknya aku pulang?” ini belum terlalu malam jika aku menghubungi Hye Sung untuk menjemputku.
“Kau tidak boleh pergi kecuali dokter mengijinkanmu pulang. Kau pasien sekarang...” Seo Jin melambai-lambaikan tangannya dengan manja, “kau lupa kau harus menjagaku?” aku meraih tangannya dan berpindah duduk di tepi tempat tidur.
“Aku sudah cukup merepotkan Oppa. Apa Oppa bisa tidur dengan nyaman saat berbagi tempat tidur denganku?” aku merasa bersalah karena bersikap egois yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi Seo Jin.
“Aku justru merasa bahagia bisa melihatmu sepuasnya. Kemarilah, kalau perlu kau di sini terus...” baru kali ini aku melihat sikap manja dari Seo Jin. Aku kembali membaringkan diri di atas tempat tidur dengan posisi miring agar Seo Jin memiliki tempat yang lebih luas untuk bergerak.
“Apa aku menyakitimu tadi?” tanyaku khawatir. Biar bagaimanapun juga aku dalam kondisi tidak sadar. Bisa saja aku tidak sengaja memukul atau menyenggolnya.
“Tidak ada, kau tidur dengan sangat tenang namun kau tak hentinya bergeming. Apa hari-harimu sangat berat, Sayang?” Seo Jin menolehkkan wajahnya ke arahku.
“Tidak. Tidak seperti itu...” aku menaruh daguku di pundaknya. Bau segar dari hutan pinus itu kembali terhirup di hidungku. Ya, stimulus aroma itu adalah Seo Jin. Kali pertama aku mengenalnya, aroma inilah yang selalu ada bersamanya. Aroma yang senantiasa memberikan ketenangan dan kenyamanan.
“Tadi Juna-ssi meneleponmu dan aku mengakatnya”, aku menunggu kalimat Seo Jin berikutnya, “bukan maksudku untuk lancang. Hanya saja Juna menghubungimu belasan kali dan aku pikir itu panggilan penting.”
“Tak masalah...” bisikku pelan.
“Dia menghawatirkanmu begitu ia mendengar kabar kau di rawat di rumah sakit.” Tentu saja Juna tahu apa yang terjadi padaku. Itu bukalah infomasi yang sulit di dapatkan oleh Juna.
“Aku tidak menyangka Juna-ssi adalah adik yang sangat protektif dengan kakaknya.” Aku juga tidak menyangka Juna akan menjadi pribadi yang seperti itu. Selain ia memata-mataiku, tujuan lainnya adalah untuk memastikan lokasi dan keselamatanku.
“Aku juga tidak menyangka. Ada yang lain yang ia sampaikan?”
“Apaan coba, menggelikan sekali...” tiba-tiba aku merindukan anak itu. Aku tidak tahu seberapa besar beban yang harus dipikulnya selama ini. Sejujurnya, aku merasa tidak yakin dengan petarungan ini. Rencana terkahirku adalah membawa ibu pergi setelah menandatangani surat pernikahan itu dan setelah kami bercerai aku bisa menemukan kembali hidupku. Tapi ternyata aku tidak bisa melakukannya. Lalu apa aku menandatangani surat pernikahan itu begitu saja?
“Kau menangis lagi, Sayang.” Seo Jin terkejut saat mendapati air mataku kembali mengalir tanpa aku sadari. Aku menggeleng pelan dan menyembunyikan wajahku di bahunya. Sejak kapan laki-laki ini menjadi begitu berharga? Apa pantas jika aku menyuruhnya untuk menungguku?
“Tuhanku...” Seo Jin mengeluh pelan, “cobaan ini sangat berat!” ia lalu tertawa dengan terpaksa.
Aku mengangkat kepalaku agar bisa melihat wajahnya, “cobaan apa?”
“Coba letakkan tanganmu di dadaku...” aku menuruti perintah Seo Jin dan meletakkan tanganku di atas dadanya dengan hati-hati. Aku bisa merasakan detak jantunnya yang kecang.
“Apa Oppa baik-baik saja?” aku segera duduk dan mencoba untuk mencari dokter namun Seo Jin menghentikanku.
“Tentu saja aku tidak baik-baik saja, kau tak lihat aku terbaring di sini sekarang? Lebih parahnya, aku tidak bisa melakukan apapun walau hanya untuk sekedar memelukmu. Aku begitu menyukaimu hingga jantungku ingin meledak seperti ini tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Apa kau pikir itu tidak menyiksaku?” Seo Jin menatapku dengan frustasi.
“Oppa berubah, Oppa tidak lagi ragu atau menyembunyikan apa yang oppa rasakan atau pikirkan...” semenjak Seo Jin mengatakan bahwa ia menyukaiku, ia selalu mengatakan apa yang ingin dia katakan. Ia menjadi lebih jujur dengan perasaannnya. Aku iri dengan keberanian itu.
“Karena aku takut aku tidak memilki kesempatan untuk mengatakannya kalau aku menundanya. Tidak ada yang tahu siapa yang akan pergi atau mati terlebih dulu...”
“Oppa benar...” tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya. Hidupku penuh dengan ketidakpastian sehingga aku takut kalau aku hanya bisa berjanji tapi tak bisa menepati.
“Lalu apa kau menyukaiku? Apa kau mencintaiku?” mataku membulat mendengar pertanyaannya. Aku belum pernah mengatakannya secara langsung karena aku belum mampu mempercayai diriku sendiri.
Kami bertatapan cukup lama. Kami sama-sama mencoba mencari ketulusan dari dalam diri kami. Aku menggigit bibirku saat kata-kata itu terhenti di tenggorokanku.
“Apa karena pekerjaanku membuatku begitu mudah mengatakan aku mencintaimu, kau jadi ragu untuk siapa cintaku?” Seo Jin seolah bisa melihat keraguanku. Tapi bukan karena pekerjannya. Sudah sewajarnya ia mencintai fansnya karena merekalah yang membesarkan namanya.
“Apa fansmu tidak marah?” pertanyaan yang sangat konyol.
“Zoey, aku sudah 36 tahun. Sudah seharusnya aku mulai mencari orang yang tepat untuk mendampingiku seumur hidupku. Fansku juga sudah banyak yang mulai menanyakannya.”
“Aku tidak bisa mengatakannya...” Seo Jin dibesarkan dengan penuh cinta sehingga sudah sewajarnya jika ia mudah untuk mengeksprsikan cintanya. Tapi aku tumbuh dengan kebencian, perjalananku penuh dengan pelarian, dan aku tidak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan dengan mudahnya.
“Kalau begitu ayo tidur, sudah malam...” Ah aku bisa melihat kekecewaan dari mata Seo Jin. Ia lalu merentangkan tangan kanannya agar aku bisa berbaring di lengannya dan mulai memejamkan matanya.
Aku bergerak mendekat. Tanganku meraih pipinya dan aku memberanikan diri untuk mengecup bibir Seo Jin singkat.
Laki-laki itu membuka matanya karena terkejut. Tatapan mata kami bertemu dan kami terdiam untuk beberapa detik sebelum tangan Seo Jin meraih belakang leherku dan menarikku wajahku turun. Bibir kami kembali bertautan. Tidak hanya kecupan ringan seperti yang aku lakukan namun kali ini Seo Jin benar-benar memberitahuku arti kata berciuman yang sebenarnya.
“Bernafaslah...” Seo Jin mengatakan itu sambil tersenyum. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan mengisi oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paruku. Aku jadi lupa caranya bernafas saat Seo Jin bermain dengan bibirku seolah itu semua miliknya.
“Kau tak perlu mengatakannya jika kau memang kesulitan karena aku yang akan mengatakan sebanyak yang kau mau Zoey...” Seo Jin menarikku agar kembali berbaring di sampinya.
“I love you...” bisiknya pelan di telingaku, “lain kali aku akan mengajarimu cara untuk bernafas...” Seo Jin terkekeh sendiri sebelum tertidur.
Malam itu, aku tidak bisa langsung tertidur karena jantungku terus berdebar-debar teringat apa yang Seo Jin lakukan padaku. Aku tidak bisa menepis kenyataan kalau aku menginginkanya dalam hidupku.
***
*Namoo: Dalam bahasa Korea artinya adalah 'Pohon'