
Aku mengira perjalananku ke Paris kali ini akan tenang seperti biasanya. Aku tidak menyangka aku akan memungut seseorang di jalan seperti ini. Berulang kali aku mencubit dan menepuk pipiku, memastikan kalau dia tidak sedang menghipnotis atau melakukan trik semacamnya padaku.
Kami kembali berjalan bersebelahan menelusuri Boulevard Raspail, kemudian belok ke kanan menuju Boulevard du Montparnasse. Aku kembali mengangkat lensa kameraku, ia tak banyak bicara setelah kami meninggalkan kafe, seolah memberikanku kebebasan untuk menikmati perjalananku. Aku mengatupkan mulutku dan kembali fokus pada lensa kameraku, mengabaikan kehadirannya.
Klap!
Aku kembali menekan shutter kamera untuk kesekian kalinya. Aku menatap bangunan gereja di hadapanku dengan tatapan kagum. Tidak hanya gereja ini sebenarnya, tapi Paris secara keseluruhan. Bangunan-bangunan di sini sangat eksotis, baik dari segi aristeknya ataupun sejarahnya. Hampir seluruh sudut kota ini sendiri adalah monumen.
“Norte-Dame-des-Champs Chruch, 1867”, aku menoleh dan melihat Lee Hoon juga menatap ke arah apa yang aku lihat. Kalimat pertama yang ia ucapkan setelah lebih dari setengah jam kami berjalan, “tahu Gustave Eiffel? Orang itu juga arsitek bangunan ini...” aku membulatkan mataku. Benarkah?
Aku kembali menatap bangunan di hadapanku ini. Bisakah kita hidup dan memberi manfaat pada orang lain lintas jaman seperti ini? Aku geli sendiri dengan pikiranku, aku bahkan tidak tahu akan menjadi apa besok, hidupku saja bukan miliku sendiri bagaimana bisa aku akan memberikan manfaat pada orang lain?
“Bukankah menakjubkan jika manusia itu juga tidak berubah seperti ini?” kataku tanpa sadar.
“Tidak juga...” Lee Hoon menatapku, “aku lebih menyukai dirimu saat ini daripada Zoey yang aku temui pertama kali dulu...” kalimatnya membuatku mematung.
“Kau tidak sedang merayuku kan?”
“Awas...” ia tak menjawab pertanyaanku dan menarik lenganku ke arahnya. Aku tak sadar melangkah mundur dan hampir menabark orang di belakangku, “aku lapar...”
Tanpa melepaskan tangannya yang menarik lengan blazerku, ia mengajakku menyebrangi jalan dan masuk ke resto yang ada di seberang gereja. Ia memesan tempat duduk untuk dua orang dalam bahasa Prancis.
“Kau?” hal itu menyadarkanku.
“Ada apa?” tanpa menghiraukan keterkejutanku, ia mengambil tempat duduk di sudut ruangan yang dibatasi dengan kaca sehingga kami bisa melihat pemandangan di luar sana.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku setelah kami berdua duduk dan selesai memesan makan malam kami.
“Kau sudah mulai penasaran rupanya...” ia kembali tersenyum dengan jahil.
“Bisa tidak sih kau tidak menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?”, kataku jengkel.
“Sama sepertimu, aku juga liburan di sini...”
“Kau bisa berbicara bahasa Prancis...” sanggahku heran, tak mungkin kalau dia hanya liburan tapi bisa berbahasa lokal.
“Aku bisa belajar. Kita juga tidak harus ke Inggirs atau Amerika untuk bisa bahasanya...” oke, Lee Hoon mendapat poinnya. Perkataannya tidak salah.
“Kau menginap di mana?” tanyanya.
“Ehm hmmm mmm...” aku menutup mulutku. Aku baru saja memasukkan sepotong roti ke dalam mulutku saat menjawab pertanyaannya.
“Benar-benar ceroboh...” ia memberikan segelas air putih padaku sambil tertawa. Pertama kali aku melihat tawa lepasnya, gigi atasnya terlihat semua, membuat siapa saja yang melihatnya merasakan ketulusannya. Layaknya happy virus, tanpa sadar aku juga tertawa menyadari kecerobohanku. Aku mencomot tisu dan menutupi mulutku malu.
“Maaf, uhuk...” aku berhasil menelan rotiku dan menengguk air itu hingga kandas.
“Aku pikir kotak tertawamu sudah rusak...” katanya sambil sibuk menuangkan air lagi ke dalam gelasku.
“Aku pikir juga begitu...” aku setuju dengan ucapannya. Aku bahkan tidak tahu kapan terakhir kali aku tertawa seperti ini, atau bahkan tidak pernah?
"Aku menyewa hotel di dekat ujung jalan ini, lalu belok kanan sedikit, aku lupa namanya. Tidak jauh kok...” aku menjawab pertanyaannya tadi. Ia hanya mengangguk dan mulai menikmati makanannya.
“Zoey-ya, apa kau masih tidak memiliki teman?” aku mendongak mendengar pertanyaannya.
“Mungkin?” jawabku tidak yakin. Aku kembali mengalihkan perhatian pada kameraku, tak ingin menganggap dalam pertanyaan itu.
“Apa kau masih percaya kalau semua orang hanya akan memanfaatkanmu? Menyalahgunakan kepercayaanmu?” tanyanya serius. Aku menunggunya melanjutkan kalimatnya, ia jelas tahu aku masih ada pada pendirianku.
“Terus kenapa?” ia meminta penjelasan padaku kali ini, “terus kenapa kalau memang seperti itu? Hidup ini give and take. Mungkin kalau seseorang mengambil sesuatu darimu, kau akan mendapat lebih dari orang lain dan kau juga tak perlu membalasnya...”
“Kenapa kau positif sekali jadi orang, kau tak takut orang menipumu?” tanyaku balik.
Lagi-lagi aku tertegun untuk kesekian kalinya.
“Kau jelas-jelas kesepian...” ucapnya lagi.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang diambilnya, “lihat...” ia menggeser beberapa fotoku, “matamu begitu redup, entah jiwamu hilang kemana...”
Ia menarik ponselnya saat aku hendak meraihnya dan mengapus foto-foto itu. Aku melotot ke arahnya. Sejak kapan dia mengambil fotoku?
“Ya!” teriakku tertahan. Aku merasa sedang menaiki roller coaster, dalam sekejab perasaanku berubah-ubah.
“Aku tidak marah kau mengambil fotoku, kenapa kau marah?” tanganku berhenti di udara. Laki-laki itu lagi-lagi benar, aku tak bisa berdebat dengannya. Lihat, ia dengan mudahnya kembali mengontrol emosiku.
“Aku punya nama, jangan memanggilku Ya! Ya! Ya!” ia menirukan gaya bicaraku dengan wajah yang menyebalkan.
“Kenapa kau cerewet sekali sih?” tanyaku kesal.
“Kenapa kau pendiam sekali sih?” tanyanya balik. Saat ia menyadari perubahan wajahku ia melanjutkan lagi, “karena kau pendiam aku harus banyak bicara agar kita bisa memahami satu sama lain...”
“Aku tak butuh dipahami, dan aku tak butuh teman...”
“Lihat, kau sangat jelek sekali jika berbohong...” ia menaruh ponselnya di hadapanku, membuatku bisa melihat bayanganku sendiri di layarnya, “dan aku tidak berniat menjadi temanmu...”
“Apa aku begitu menyedihkan hingga kau pun tak ingin menjadi temanku?” tiba-tiba kenyataan ini membuatku sedih.
“Kenapa pikiranmu negatif mulu sih?” ia mengusap poni rambutku tanpa seijinku. Aku melotot protes.
“Jangan sentuh kepalaku sembarangan!” aku memperingatkannya.
“Kenapa? Hatimu berdebar karenanya?” tanyanya dengan nada bercanda.
“Hoon-ah!” aku kehabisan kata-kata untuk menghentikannya.
“Aih manis sekali caramu menyebut namaku...” ia kembali tertawa menggodaku. Wajaku terasa panas mendengarnya. Aku mengalihkan pandanganku.
“Terserah...” aku berdiri dan mulai berjalan meninggalkannya. Makan malam kami sudah selesai, aku ingin kembali ke hotel dan beristirahat. Tanpa aku sadari, lagi-lagi aku memelankan langkahku untuk menunggunya, begitu ia tertangkap ujung mataku, aku kembali berjalan normal. Ia lagi-lagi tak banyak bicara dan mengikutiku dalam diam.
“Kau tinggal dengan siapa?” itulah pertanyaan pertamanya ketika masuk ke dalam hotel. Kamarku berisi kasur twin bed, membuatnya heran. Tentu saja. Aku malas menjawabnya dan aku tidak mau memberikan alasanku padanya. Aku menjatuhkan diriku di salah satu kasur dan meringkuk di sana. Mengabaikannya.
“Kau tidak mandi?” tanyanya lagi, “wanita macam apa kau?”
“Jangan buatku menyesal telah menampungmu di sini...” kataku tanpa merubah posisiku sedikitpun.
“Jangan begitu, siapa tahu suatu saat nanti aku yang akan menampungmu? Kalau kau ingin kabur misalnya...” aku melambaikan tanganku, menyuruhnya untuk melakukan apa yang dia inginkan.
“Kalau begitu aku mandi ya, aku belum mandi dari kemarin. Tak masalahkan aku menggunakan kamar mandi terlebih dahulu? Aku baru sampai sini tadi pagi dan belum sempat mandi, kau tahu kan perjalanan Korea-Prancis tidak sebentar...” ia terus mengoceh panjang lebar. Walaupun ia berbicara dengan tanda tanya, ia tak membutuhkan jawaban dariku.
Tiba-tiba duniaku yang begitu sepi berubah menjadi begitu berisik.
Tapi, anehnya, aku tidak membencinya.
***
-Ya/-ah : penggunaan akhiran ini setelah nama orang memiliki fungsi yang sama seperti akhiran -ssi. Bedanya -ya/ah ini untuk penyebutan nama yang lebih akrab, sedangkan -ssi lebih formal dan umum. -ya untuk nama yang diakhiri vokal (ex: Mina-ya, Minju-ya) sedangkan -ah untuk nama yang diakhiri dengan konsonan (ex: Jinhyuk-ah, Jin-ah). Note: untuk Zoey kenapa tidak Zoey-ah tapi Zoey-ya? Ini karena pertimbangan bahwa Zoey jika ditulis dalam hangul (tulisan Korea), maka akan di tulis Jo-e-i, sehingga saya menuliskannya dengan akhiran -ya daripada -ah.
CMIIW!
^_^