Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 30; Mirae Foundation



Hallo saya kembali!


Ada sedikit perubahan terkait dengan beberapa alur dan detil cerita, tapi secara garis bersar tidak mengubah cerita secara umum.


Semoga kalian suka dengan ceritanya nanti.


Saya hanya berharap cerita ini berkembang dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hehehe


Selamat Membaca!


Salam,


AIANA


***


Aku berbaring gelisah di atas tempat tidur. Sudah lebih dari satu jam aku mencoba memejamkan mata tapi aku tetap tidak bisa tidur. Mataku sudah terasa berat namun pikiranku tidak bisa tenang. Ada sesuatu yang mengusik pikiranku setelah pulang dari acara inagurasi tadi siang.


Hari ini, untuk pertama kalinya aku diperkenalkan di depan karyawan, manajer, dan direktur Mirae Foundation sebagai putri dari Park Young Nam, Presiden Direktur dari Mirae Foundation. Mirae Foundation adalah salah satu cabang dari Perusahaan Mirae Grup yang bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial. Sekolah, universitas, panti asuhan, dan beberapa sub cabang yang berkerja dibidang layanan sosial lainnya. Mirae Foundation berbasis non profit oriented yang kegiatannya berkaitan dengan masyarakat luas.


Aku sudah membaca beberapa dokumen terkait dengan yayasan sebelum datang ke acara ini. Tentu saja aku bukan kepompong tanpa isi. Aku tidak akan turun ke medan perang tanpa persiapan apapun. Reputasi yayasan ini cukup bagus di Korea. Tapi saat mengetahui bahwa Ayah sendiri yang mendampingiku di acara inagurasi ini membuatku sadar betapa pentingnya yayasan ini untuk kelangsungan citra perusahaan.


Aku sempat terkejut ketika melihat Ayah ikut turun dari mobil yang sudah berhenti terlebih dahulu di depanku. Aku langsung berjalan mendekatinya dan tersenyum ketika melihat beberapa orang wartawan yang meliput acara ini. Tak lama setelahnya, aku melihat rombongan dari Mirae Foundation keluar dari gedung. Rombongan itu dipimpin oleh seorang wanita yang cukup lanjut usia dengan raut wajah yang teduh namun masih memancarkan kesan elegan. Ia tersenyum lebar saat melihat kami datang.


“Tuan Park...selamat datang...” uluran tangan wanita itu disambut dengan hangat oleh Ayah.


“Apa kabar Nyonya Ahn?” ini kali pertama aku melihat Ayah tersenyum begitu ramah dengan orang lain, “ah perkenalkan, Zoey-ya kemarilah...” Ayah melambaikan tangannya padaku.


“Apa ini direktur baru kita?” Nyonya Ahn mengulurkan tangannya padaku.


“Kenalkan ini putri kami, Park Zoey, tolong bimbing dia selama di sini, Nyonya...” aku menyambut uluran tangan itu dengan ari mata yang hampir jatuh ke pipiku.


Kalimat Ayah lagi-lagi bagaikan sebuah keajaiban untukku. Ini untuk pertama kalinya beliau menyebut namaku dengan lembut dan ia menyebutku sebagai putrinya dengan nada penuh kasih sayang seperti itu. Aku bahkan tidak peduli kalimat ini bagian dari aktingnya tau bukan, tapi aku merasa diakui sebagai anaknya.


“Ada apa denganmu Zoey-ssi? Kau sakit?” tanya Nyonya Ahn begitu beliau menyadari ada yang salah denganku.


“Tidak, saya baik-baik saja...” aku menggeleng cepat untuk mengusir perasaanku. Bukan saatnya aku bersikap seperti ini.


“Saya akan merepotkan Anda, Nyonya. Tapi bimbinglah Zoey selama dia ada di sini. Anda boleh menganggapnya sebagai anak Anda sendiri dan memarahinya jika ia berbuat salah. Dia memang terlihat seperti gadis manja, tapi berkat anak ini, kita bisa membangun panti dan galeri seni-budaya  yang ada di Andong...” penyataan Ayah membuatku kembali terkejut.


“Benarkah? Kenapa Anda tidak mengatakannya dari awal kalau orang itu adalah putri Anda sendiri? Ia begitu cantik, cerdas, dan berhati lembut seperti itu tapi kenapa Anda menyembunyikannya?” Nonya Ahn sama terkejutnya denganku sehingga kami berdua sama-sama memandang Ayah dengan penuh tanda tanya.


“Karena itulah Nyonya, saya ingin sekali menyembunyikannya untuk kami sendiri, tapi saya pikir sangat disayangkan kalau kita mengurungnya terlalu lama. Anda tahu kan, walau kita merasa anak-anak kita itu seperti macan kecil, seberapa lamapun kita mengurungnya waktu tetap akan membuatnya menjadi singa dewasa yang buas jika tidak dituruti kemauannya?” Nyonya Ahn tertawa dan membenarkan gurauan Ayah.


Acara inagurasi itu kemudian dimulai. Aku pikir acara ini akan terkesan formal seperti acara-acara di yayasan pada umumnya, tapi acara ini lebih tepat dikatakan acara ramah tamah. Tempat pertemuan kami bukan di dalam ruangan tapi ternyata outdoor di taman belakang. Tidak hanya karyawan yang ada di sana tapi juga kepala panti, kepala sekolah, beberpa profesor dari univeristas, dan seniman-seniman dari berbagai galeri yang dinaungi oleh yayasan.


“Zoey-ssi...” Nyonya Ahn memanggilku dan menyuruhku duduk di sampinya. Ia lalu memberiku sepasang sepatu kets berwarna putih, aku menatapnya bingung. Nyonya Ahn hanya tersenyum dan menatap kakiku. Hari ini, aku  memakai *a*ngkle strap heel berwarna mocca yang senada dengan one piece dress yang aku kenakan. Memang terlihat formal namun Nyonya Ahn bisa melihat ketidaknyamananku memakai sepatu itu di area taman yang berumput.


“Terima kasih...” aku menerima sepatu itu dan mengenakannya. Aku tidak menyangka sepatu itu pas sekali di kakiku.


“Itu tidak mahal, tapi cukup nyaman dipakai. Ada banyak sepatu seperti itu di gudang penyimpanan”, aku langsung mengangguk paham mendengar penjelasannya, “kedepannya, kau boleh memakai apapun yang kau rasa nyaman Zoey-ssi, kegiatan kita akan sering sekali ke lapangan dan orang tua ini tidak menyuruhmu untuk memakai sepatu seperti itu...”


Aku hanya terkekeh kecil. Beliau seolah mengerti benar bahwa tidak nyaman memakai sepatu dengan hak setinggi itu. Aku memakainya hari ini karena aku belum pernah melihat situasi dan atmosfir kantor tempatku bekerja. Nyonya Ahn adalah Direktur Utama yayasan, aku akan ada dalam bimbingannya sebagai Direktur Operasional. Kami berbincang banyak hal sore itu, baik dalam segi profesional ataupun pribadi.


“Aku tahu kalau Tuan Park memiliki seorang putri yang berada di luar negeri. Tapi sebagaian besar karyawan di Mirae tidak ada yang tahu tentang hal ini sebelum berita perjodohan itu dimuat di media kabar. Beliau sangat hati-hati sekali dengan dirimu. Aku tidak tahu apa yang beliau mengubah sikapnya seperti ini”, aku ikut terdiam mendengar ucapan Nyonya Ahn. Tidak tahu harus menanggapi apa karena aku juga sama bingungnya dengan Nyonya Ahn.


Sesampainya aku di rumah, aku langsung mandi dan duduk dibelakang laptopku. Aku menuliskan namaku sendiri dalam kolom pencarian, selain berita perjodohan itu, tidak ada hal lain yang bisa aku temukan. Bahkan informasi pribadiku, dimana aku sekolah dan bekerja sebelumnya pun tidak ada. Seolah-olah ada orang yang sengaja untuk membatasinya. Juna?


Aku kembali menuliskan beberapa kata kunci untuk mencari informasi lebih mendetail lagi tentang diriku. Tapi ada beberapa artikel yang terlihat begitu janggal. Artikel itu menyebutkan tentang putri keluarga Park satu-satunya.


“Pembunuh Putri Keluarga Park sudah bebas dari penjara tahun lalu”


“Putri keluarga Park meninggal dengan mengenaskan dibunuh oleh pesaing bisnisnya sendiri”


Aku tidak bisa memahami apa yang sedang aku baca saat ini. Bukankah aku satu-satunya putri keluarga ini? Apa aku memiliki sodara perempuan lainnya? Apa yang dirahasiakan keluarga ini dariku?


Juna!


Aku lalu bergegas keluar kamar dan membuka paksa pintu kamar Juna.


***