
“Ya Tuhan...” Seo Hin meraih bahuku dan mencengkramnya, “Zoey-ya, sadarlah...tenangkan dirimu...”
“Seo Jin-ssi...” aku mendengar suara Hye Sung di sela nafasnya yang masih memburu. Aku yakin dia juga bertemu dengan Tae Dong dan ia langsung mencariku.
“Cottage kalian yang mana?” tanya Seo Jin begitu melihat Hye Sung.
“Mari saya tunjukkan jalannya...”
Seo Jin menarik tubuhku agar aku berdiri, tenagaku yang belum pulih membuat tubuhku terhuyung ke depan. Tanpa meminta persetujuanku, ia lalu mengangkat tubuhku dan membawaku pergi. Aku tidak sempat protes ataupun menghindar saking terkejutnya dan hanya bisa mengeratkan peganganku di lehernya. Aku mulai meruntuk pada diriku sendiri. Ingin rasanya aku menghilang saja saat ini.
“Kamarnya sebelah sini...” aku mendengar Hye Sung membukakan pintu cottage dan Seo Jin membawaku masuk ke kamar.
Seo Jin belum sempat menurunkanku ketika Hye Sung bertanya padanya, “kami memesan makan malam untuk diantar ke kamar. Apa Anda sudah makan?”
Tanpa menghiraukanku, terjadilah perdebatan antara Seo Jin dan Hye Sung.
“Apa kau pikir kita bisa makan dalam keadaan seperti ini?” Seo Jin berbalik menghadap Hye Sung.
“Tentu saja, kita harus membuat Zoey-ssi makan...”
“Aku sudah makan...”
“Baiklah kalau begitu saya pesankan sandwich dan salad untuk Anda...”
“Aku bilang...”
“Saya akan meninggalkan kalian berdua...”
“Ya! bukannya kau bertugas untuk menjaganya! Kenpa kau meninggalkannya bersamaku seperti ini?” aku terkejut saat Seo Jin meninggikan suaranya.
“Apa Anda berniat mencelakakannya?”
“Biar bagaimanapun juga, aku ini laki-laki...”
“Tentu saja, siapa yang bilang anda seorang wanita?”
“Apa kau tidak takut aku melakukan sesuatu padanya?”
“Oh baiklah jika Anda memaksa...”
Cekrek...cekrek
“Kalau Anda macam-macam saya akan mengirimkan foto ini ke seluruh dunia agar karir Anda hancur...”
Seo Jin hanya bisa mematung melihat ketenangan dan wajah datar Hye Sung.
“Sudah kan? Saya pergi dulu...”
“Zoey, kau dengar itu? Apa kau tidak salah memilih pengawal?” Seo Jin menurunkanku begitu Hye Sung keluar.
“Te...rima ka...sih, kau boleh...pergi...” aku merangkak naik ke atas tempat tidur dan meringkuk di bawah selimut.
“Apa kau bercanda!” tanpa aku duga Seo Jin menyingkirkan selimut yang menutupiku dan menarikku bangun. Ia mencengkeram kedua pergelangan tanganku, “apa yang membuatmu berpikir aku akan pergi begitu saja setelah melihatmu seperti ini?”
“A..ku.. ingin sen...diri...” aku ingin menenangkan diriku terlebih dahulu agar aku bisa mencerna dengan baik apa maksud ucapan Tae Dong. Tubuhku lagi-lagi bereaksi terlebih dulu sebelum logikaku. Bisa-bisanya aku terbawa emosi dan mempercayai ucapannya.
“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu sendiri...” Seo Jin kemudian memegang bahuku dengan kuat, “tarik nafas dalam-dalam, angkat kepalamu dan lihat aku...” katanya pelan, “ayo, tarik nafas dalam-dalam...”
Aku mengikuti intruksinya dan mengambil nafas dalam beberapa kali. Tapi begitu aku mengangkat wajahku dan tatapan kami bertemu, aku justru kembali menangis. Ada apa denganku? Aku menepuk wajahku berulang-ulang sampai Seo Jin menghentikannya dengan menangkap kedua pipiku.
“Siapa dia? Apa yang dia lakukan padamu?” tanyanya.
Aku hanya menggeleng, aku tidak tahu darimana aku harus bercerita atau Seo Jin pantas mendengar ceritaku ini. Aku sendiri mulai meragukan diriku, aku mulai takut jika apa yang aku lalui ini hanya imajinasi apalagi fana. Padahal rasa sakitnya benar-benar ada.
“...dan aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini. Aku bisa saja memelukmu dan memberimu ketenangan, tapi itu hanya sesaatkan? Aku bisa melihat dengan jelas bahwa yang kau butuhkan saat ini adalah orang yang bisa membantumu...”
Apa yang dikatakan Seo Jin sepenuhnya benar. Ia bisa saja melakukan itu saat ini, tapi ia tahu bukan itu yang aku butuhkan. Aku tidak dalam kondisi di mana aku harus dikasihani tapi aku butuh cara agar aku sadar dan bangkit.
“Orang itu...orang itu yang menusukku dulu...”
“APA! Kenapa dia ada di sini? Dia mengikutimu? Kita harus melaporkannya ke polisi!” aku meraih tangan Seo Jin yang sibuk mencari ponselnya.
“Kita tidak punya bukti dan dia adalah orang yang akan menjadi tuan rumah untuk acara kita besok...”
“Lelucon macam apa ini!”
Ya aku juga berpikir bahwa ini sangat lucu. Selucu hidupku yang berantakan ini. Aku tidak menyangka bahwa ujung dari semua permasalah ini adalah status keluargaku. Identitasku. Apa yang salah dariku?
“Lebih baik kita pulang sekarang! Biar Eomma yang mengurus acaranya besok!” Seo Jin berdiri dan kembali mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Aku tidak akan ke mana pun...”
“Ia bisa mencelakanmu kapan saja Zoey! Sadarlah!”
“Apa kau menyuruhku untuk melarikan diri? Aku sudah melarikan diri selama separuh dari usiaku. Aku lebih baik mati dari pada mundur saat ini!” aku menatap Seo Jin yakin, "tenanglah, aku hanya butuh waktu untuk menerimanya..."
Aku bisa melihat sorot mata Seo Jin yang meredup saat aku mengatakannya, “sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa ini bisa terjadi pada orang seperti mu?”
“Dia menyukaiku dan orang tuaku menginjak-injak harga dirinya saat ia membuktikan cintanya padaku...” aku mengatakannya sambil mengalikan pandanganku dari Seo Jin, “Tapi kali ini dia datang untuk memperingatkanku. Aku bersamanya atau aku harus pergi dari Korea meninggalkan segalanya. Jika tidak, aku akan mati...”
“Apa itu masuk akal? Kalau dia mencintaimu mana mungkin dia ingin mencelakakanmu seperti itu? Apa dia sudah tidak waras!” Seo Jin mengacak rambutnya frustasi.
“Aku tidak tahu, hidupku juga sudah tidak masuk akal dari awal...” aku memandang kosong keluar jendela, air mataku mengalir saat mengatakan kalimat menyakitkan itu, “aku kira aku bagian dari Keluarga Park, aku sempat bahagia menjadi bagian dari keluarga itu sampai akhirnya aku membencinya setengah mati, aku bahkan melarikan diri dan tidak mengakui darah keluarga Park dalam diriku. Aku mencoba berdamai dengan semuanya. Tapi setelah semua penderitaan itu aku terima, tiba-tiba doaku terkabulkan...”
Aku menoleh dan menatap Seo Jin, aku mengapai perlindungan terakhirku, “seharusnya aku senang saat aku bukanlah anggota keluarga Park. Seharusnya aku tertawa ketika aku punya kesempatan untuk terbebas dari semuanya. Tapi, kau bisa lihat aku? Aku merasa bumi yang aku pijak runtuh ke lubang tak berujung. Kosong, gelap, dan sendiri...”
Aku benar-benar mendapatkan pelajaran berharga, bahwa tidak semua hal yang kita inginkan itu akan membuat kita bahagia saat kita berhasil mendapatkannya. Bahwa tidak semua yang kita inginkan akan selalu menjadi yang terbaik.
“Zoey...” Seo Jin mengusap air mata yang mengalir di pipiku dengan punggung tangannya, “dia mengatakan padamu jika kau bukan bagian dari keluargamu dan kau mempercayainya?”
“Bagaimana aku tidak percaya ketika ucapannya terdengar begitu masuk akal? Aku selama ini merasa bahwa aku memang dianak-tirikan di keluargaku! Satu-satunya alasan mereka membutuhkanku hanya karena mereka ingin memperalatku!”
“Zoey!” suara Seo Jin mengejutkanku, “itu hanya asumsimu kan?” ia menarikku berdiri dan mengajakku untuk keluar kamar.
“Kita mau ke mana?” aku menarik tangannya menahan langkahnya.
“Pulang, kita kembali ke Seoul dan tanyakan langsung pada keluargamu...” Seo Jin kembali menarikku.
“Aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan kemanapun!”
“Apa kau pikir acara ini lebih penting dari hidupmu?” aku tidak sempat menolak tarikan tangan Seo Jin dan mengikuti langkahnya sampai Hye Sung dan Manajer Jo mengejutkan kami. Mereka membuka pintu cottage dengan tergesa-gesa.
“Zoey-ssi?” mata Manajer Jo melebar saat melihatku. Aku langsung bersembunyi di belakang Seo Jin. Aku yakin wajahku sangat berantakan, air mataku bahkan belum kering saat Seo Jin menarikku keluar kamar.
“Ada apa?” tanya Seo Jin bingung melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba.
“Ah iya! Gawat Hyung, ada yang menyebarkan fotomu dan Zoey-ssi di internet. Sekarang kau menjadi trending utama pencarian di berbagai media...” jelas Manajer Jo dengan wajah memucat.
“Bukan aku...” Hye Sung buru-buru berdalih sebelum Seo Jin menuduhnya.
Seo Jin hanya mematung di tempatnya.
***