
Nafasku tersengal, sekeras apapun aku berlari, aku masih bisa melihat bayangan laki-laki itu mengejarku. Lorong ini seolah tak berujung, hanya ada aku dan dirinya.
“Kau pikir kau bisa kabur?” suaranya begitu kasar hingga terasa meyakitkan untuk di dengar.
Tangannya mencengkram lenganku, ia berhasil mengejarku. Aku berontak berusaha melarikan diri. Dadaku bergemuruh merasakan ketakutan yang serasa membunuhku.
“Kumohon...” aku berusaha melepaskan diri dan mencoba untuk berlari. Namun tenaganya berkali lipat lebih kuat daripada aku.
“Tolong aku...” aku menangis putus asa. Lebih baik aku mati dari pada merasakan ketakutan seperti ini.
“Zoey...” aku mendongak, menyadari ada orang yang yang memanggilku.
“Kumohon...” aku berusaha berteriak, “tolong aku...”
“Zoey!” suara itu lagi.
“Zoey, buka matamu!”
“Hmmheehh...” aku tesengal merasakan udara yang tiba-tiba memenuhi ruangan yang begitu terang, “haaahh...” aku serasa tercekik, dadaku begitu sakit.
“Tarik nafas dalam-dalam Zoey! Tenangkan dirimu...” suara itu lagi-lagi membimbingku. Aku mengikuti instruksinya dengan sekuat tenaga, dadaku masih terasa sakit dan mataku terasa pedih, air mata mengalir dari kedua ujungnya.
“To...lo..ng...”
“Jangan berbicara dulu, tarik nafas dalam-dalam...” suara itu perlahan-lahan membuat kesadaranku kembali. Seseorang sedang memelukku sambil mengusap punggungku pelan. Aku kembali panik saat menyadari aku berada di kamar yang lagi-lagi terasa asing bagiku.
“Ku..mo..hon.. to..long aku...” aku mendorongnya dengan sisa tenagaku.
“Zoey...” laki-laki itu melepas pelukannya, kedua tangannya mencengkram bahuku, membuatku kembali tergugu.
“Hey...lihat aku, buka matamu...” suaranya melembut seolah menyadari kepanikanku, “lihat aku, lihat baik-baik, Zoey...”
Aku perlahan membuka mataku.
“Bagus, buka matamu, lihat baik-baik..” aku memberanikan diri menatap sepasang manik mata berwarna coklat itu. Ia menatapku dengan tatapan lembut, ia mencoba mengirim gelombang yang menenangkan.
“Ini aku, hmm?” ia berusaha meyakinkan aku, “kau ingat siapa aku?” tanyanya lagi.
“Hoon... Hoon-ah...” perlahan kesadaranku kembali.
“Ya, benar...” Hoon menyentuh ke dua pipiku dengan tangannya. Ia mengusap air mata di wajahku, “semuanya akan baik-baik saja, Zoey...” ia mengatakan hal yang paling ingin aku dengar.
“Hoon-ah...” wajahnya terlihat buram saat aku menatapnya, “aku takut...aku...” aku kembali terisak, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan lega.
“Aku tahu...” ia menarikku dalam pelukkannya, “aku di sini dan semuanya akan baik-baik saja...” aku bisa merasakan nafasnya yang begitu berat oleh emosi yang dipendamnya. Aku kembali menangis, mencengkeram kausnya erat-erat.
“Tenangkan dirimu, kau aman di rumahku...” katanya lagi. Hoon merapatkan selimut untuk menutupi diriku. Ia menepuk punggungku perlahan, aku mengangguk dan aku kembali menghirup aroma kopi dari tubuh Hoon, yang anehnya mengirimkan ketenangan padaku.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku...aku...” kalimat itu terhenti di tenggorokanku. Tak kuasa untuk mengatakan dan mengingat kejadian itu.
“Aku tak akan bertanya kalau kau tak ingin menceritakannya...” Hoon ikut menghela nafas, “kau juga mabuk, Zoey...”
Hoon melepaskan pelukannya. Ia lalu mengangkat daguku agar ia bisa melihat wajahku, “apa kau sudah lebih baik?” tanyanya lembut sambil merapikan rambut dan mengusap sisa air mataku. Aku mengangguk mengiyakan.
“Kau ingin membersihkan dirimu?” tanyanya lagi. Aku menimbang sesuatu sebelum akhirnya mengangguk. Hoon tersenyum kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Aku juga duduk sambil memegang erat mantel yang diberikan Hoon padaku.
Hoon berjalan keluar kamar dan tak lama kemudian ia memberikanku baju ganti yang telihat lebih nyaman, “kamar mandinya di sana...” ia menunjuk satu pintu.
“Aku harus mengurus beberapa hal terkait dengan kejadian tadi malam...” Hoon meletakkan sebuah kartu nama di atas nakas tempat tidur, “hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu...” ia menunjuk telpon yang ada di bawah lampu tidur.
“Aku ingin memastikan sesuatu Zoey...” ia kembali duduk di samping tempat tidur, menatapku dengan serius, “apa kau ingin melaporkannya ke polisi?”
Aku mengangguk namun tak beberapa lama kemudian aku menggeleng. Jika melapor ke polisi akan ada penyelidikan dan itu berarti aku akan bertemu dengan banyak orang dan identitasku akan dibutuhkan. Hoon seolah menyadari benar situasiku saat ini. Posisiku sangat tidak menguntungkan.
“Aku sudah menyuruh petugas security untuk memberinya pelajaran dan mencari informasi sebanyak mungkin darinya...” ia menatapku, mencoba mencari jalan tengah dari semua ini, “tapi semuanya aku kembalikan sepenuhnya padamu Zoey...”
“Aku harus bagaimana?” tanyaku pasrah.
“Aku tahu, seharusnya dia di hukum karena perbuatannya, tapi aku juga tidak mau kau menjadi konsumsi publik...” Hoon menggengam tanganku, “serahkan semua padaku... percayalah padaku...” ia meyakinkanku. Aku tak memiliki pilihan lain selain mengangguk.
Hoon menatapku lama kali ini. Ia terlihat ragu mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Ia mengigit bibir bawahnya sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, “Apa laki-laki berengs*k itu melakukannya?”
Aku buru-buru menggeleng, aku tahu arah pertanyaannya. Kilat matanya berubah saat menanyakannya, seolah ia siap membunuh laki-laki itu jika ia berhasil melakukan hal terkutuk itu padaku. Aku menggeleng, aku yakin dia belum melakukannya padaku.
Hoon menghela nafas lega sambil menaruh dahinya di atas gengaman tangan kami. Ia seolah bisa merasakan ketakutan yang aku takutkan, “aku benar-benar akan membunuhnya jika ia sampai melakukannya...”
“Terima kasih...” ucapku tulus. Aku benar-benar berterima kasih pada Hoon. Jika bukan karenanya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku tadi malam. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku akan membalas budinya nanti.
“Aku tidak berharap kau mengalami hal seperti ini agar aku bisa mendengar ucapan terima kasihmu Zoey...” Hoon mengangkat kepalanya dan menatapku dengan matanya yang sangat aku sukai itu. Tanpa sadar aku tersenyum.
Hoon mengulurkan tangannya dan menyentuh ujung bibirku, tiba-tiba aku merasakan nyeri di sekitarnya, “aku tidak akan memaafkan siapapun yang melakukan ini padamu Zoey, melihatmu seperti ini membuatku gila...”
“Katanya kau mau pergi?” aku mengingatkannya. Aku ingin menangis lagi saat mendapat perlakuan Hoon yang begitu perhatian seperti ini.
“Aku sebenarnya tak ingin meninggalkanmu sendiri...”
“Aku tak akan kemana-mana...” kataku jujur, “aku tak punya tempat tujuan lain...” aku mengatakannya dengan penuh kesadaran. Aku ada di Korea, namun tempat ini terasa lebih asing daripada Jerman atau Prancis. Aku tak punya tujuan lain selain rumah di sini. Rumah? Hatiku pilu mendengarnya, apa rumah itu masih bisa aku anggap sebagai rumah? Aku bahkan kini curiga bahwa yang ada dibalik semua ini adalah orang rumahku sendiri.
Dadaku tiba-tiba nyeri saat membayangkan kemungkinan itu. Hal yang menjadi pertmbanganku untuk tidak melaporkannya ke polisi, keluargaku.
“Aku akan kembali secepat mungkin...” perkataan Hoon membuatku kembali tersadar. Aku mengangguk dan menyuruhnya untuk pergi. Hoon berdiri dan menghilang di balik pintu kamarnya.
Aku kembali menghela nafas dan mengusir jauh-jauh pikiran buruk itu. Aku mengalihkan tatapanku ke luar jendela, hari belum sepenuhnya di mulai, di luar masih gelap, semburat orange masih terlihat begitu tipis. Aku mengumpulkan tenagaku untuk berdiri dan berjalan mendekati jendela.
Aku tersenyum saat melihat bayanganku sekilas di kaca jendela itu. Walau tidak begitu jelas, aku bisa melihat seekor singa di sana. Bagaimana bisa Hoon melihatku dengan tatapan begitu lembut padahal wajahku sangat kacau begini?
Apa yang harus aku lakukan setelah ini?
***
Note : saya menggunakan latar dan budaya negeri gingseng itu ya readers, jadi terkesan budayanya lebih terbuka dan beda dengan Indonesia.