Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 79; FIN



“Aku merindukanmu...”


Aku mengulangi kalimatku, kali ini tidak semantap sebelumnya. Suaraku sudah serak saat mengatakannya. Aku tidak tahu mana lagi yang benar, nyaliku tiba-tiba ciut seperti seorang bocah yang baru saja tertangkap tangan mencuri.


Aku bisa melihat Seo Jin terkejut karena matanya itu bergetar menahan luapan emosinya. Ia menatapku tajam, “kau benar-benar wanita kejam rupanya...”


Tanpa aku duga, Seo Jin menarik tanganku hingga membuatku berdiri sementara tangan kirinya sudah menangkap bagian belakang leherku. Ia menyapukan bibirnya di bibirku dengan hati-hati, ia hanya mengecupnya pelan kemudian memberikan jarak di antara wajah kami. Kami bertukar nafas dalam satu helaan yang sama. Aku bisa merasakan hebusan nafasnya di wajahku.


Aku benar-benar menghargai usahanya untuk menahan semua gejolak dirinya saat menciumku. Ia masih menunggu jawaban, ia masih menahan segala emosinya karena aku tinggalkan selama setahun tanpa kejelasan.


“Ehm... mohon maaf menganggu sarapan kalian. Tapi Eomma harus lewat...”


Aku mendorong tubuh Seo Jin dan membuang pandanganku. Aku bisa merasakan semua darahku dipompa ke kepalaku hingga seluruh wajahku terasa panas. Aku sampai tidak bisa menjawab kata-kata Eomma karena aku sangat terkejut. Bukan karena Eomoni menangkap basah kami tapi karena aku lupa bahwa kami masih ada di ruang makan keluarga. Bisa-bisanya kami melakukan hal itu di sini!


“Lebih baik kalian bicarakan pernikahan kalian. Eomma tahu, negara telah mengakui kalian sebagai pasangan suami istri. Tapi alangkah lebih baiknya jika kalian mengadakan pesta minimal untuk keluarga dan kerabat. Eomma berangkat!” Eomma lalu pergi meninggalkan kami. Sarannya tadi lebih terdengar seperti perintah yang mau tidak mau harus kami bicarakan setelah ini.


“Hati-hati Eomma...” Seo Jin mengantar ibunya keluar dari rumah dengan perasaan serba salah. Aku berdiri dan memilih keluar untuk mencari udara segar. Aku duduk di tangga kayu ke arah taman belakang. Aku harus sesegera mungkin mengembalikan kesadaranku. Tanpa terasa aku ikut terbuai oleh perasaanku sendiri.


Seo Jin menghampiriku dan duduk tepat di sebalahku. Ia memeluk kedua lututnya dan menyandarkan kepalanya di sana agar bisa melihat wajahku dengan lebih jelas. Aku mengamati wajahnya dengan seksama dan tanganku tanpa sadar sudah terangkat dan menyentuh luka di wajahnya.


“Kenapa kau tidak menghilangkannya?” tanyaku lirih. Jemariku menelusuri luka bekas jahitan yang memanjang dari pipinya sampai dengan bawah telinganya. Walau tidak terlihat dengan jelas, tapi luka itu masih ada di sana. Sangat mudah sekali menghilangkan luka ini dengan kemampuan dokter bedah pastik atau dokter kecantikan saat ini. Ia seorang artis, dan itu sah-sah saja menurutku.


Seo Jin menggenggam tanganku yang menyentuh wajahnya kemudian mencium telapak tanganku lembut, “aku harus menagih kompensasinya pada seseorang terlebih dahulu...aku akan membuatnya bertanggungjawab seumur hidupnya...”


Entah kenapa perkataan Seo Jin justru membuat hatiku tenang. Hal tersebut seolah telah menjadi pernyataan atas keteguhan hatinya selama ini untuk menanti kepulanganku.


“Kau ke mana saja? Apa yang kau kerjakan hingga kau tidak bisa menemuiku setahun ini?” cercanya sebelum ia melupakan alasan kemarahannya selama ini.


Aku menatap Seo Jin lekat-lekat, “aku beralih profesi menjadi seorang fan girl kaya raya yang keliling dunia...”


“Apa?”


“Lihat...” aku mengeluarkan ponselku dan membuka sosial mediaku dan memberikan pada Seo Jin.


“APA KAU GILA!” walau Seo Jin berteriak saat ia melihat semua foto tiket dan hall konser yang diadakan oleh SG Idol, namun ia tidak bisa menyembunyikan kelegaannya.


“Tentu saja, aku harus gila untuk bisa mencintaimu dengan seutuhnya...” aku melakukan perjalanan panjang yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Aku mengikuti tur dunia SG Idol. Kemanapun konser itu dilangsungkan aku akan terbang langsung ke sana dari negara terakhir mereka konser. Aku bisa tinggal dalam satu negara selama dua sampai tiga minggu sambil menunggu jadwal konser mereka muncul. Waktu tunggu itu aku habiskan dengan berkeliling kota sambil berkenalan dengan teman-teman baru yang aku temui saat melihat konser mereka.


“Saat konser pertama Oppa, saat aku di dalam stadion itu. Aku merasakan dunia baru yang muncul dalam hidupku. Aku sangat tersentuh dengan pemohonan Oppa kepada fans Oppa pada waktu itu dan itu membuatku sadar bahwa aku juga harus memahami mereka. Bagaimana berada dalam kondisi jatuh cinta tapi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan apapun. Bagaimana frustasinya melihatmu dari jauh, bagaimana bisa gelombang kerinduan bisa dikirimkan ribuan kilometer jauhnya dan bagaimana caranya untuk bisa merasa puas dan cukup hanya dengan melihat Oppa bahagia...”


“...semua itu tidak akan aku pahami jika aku hanya berada di samping Oppa. Aku harus bisa menghargai cinta yang Oppa berikan di atas semua luka dan juga suka cita dari para fans yang telah membesarkan nama Oppa...” aku bisa ikut merasakan seluruh cinta itu ada bersamaku saat mendengar berbagai pendapat mereka tentang skandal yang dialami oleh Seo Jin. Mereka sedih tapi juga bersyukur karena Seo Jin sudah menemukan orang yang tepat untuk mendampinginya.


“Aku tidak bisa mempercayai kau bisa bertindak sejauh itu...” Seo Jin masih takjub dengan penjelasanku.


“Aku bahagia. Selama setahun ini aku bisa mencintai diriku sendiri, melihat banyak hal dan juga memahami dunia Oppa...” semua ragu yang aku rasakan tadi pagi terusir sudah saat melihat Seo Jin. Aku tidak lagi ragu bahwa dialah orang yang benar-benar membuatku ingin pulang. Dari semua perjalanan panjang itulah ia tujuanku untuk berpulang.


“Lalu, apa kau sudah yakin akan mendampingiku seumur hidupku?” Seo Jin tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia akan mengerahkan segala kemungkinan untuk bisa menahanku di sisinya selamanya. Aku bisa merasakan kuatnya tekad miliknya.


“Ya, tentu saja!” jawabanku membuat senyum di wajahnya merekah. Ia lalu menarik tubuhku dan memeluknya dengan erat, “Aku pulang, Oppa...”


***


Tidak banyak tamu yang diundang. Hanya sebatas keluarga dan kerabat dekat. Kami sengaja melakukannya agar acara ini lebih sakral dan juga berkesan.


Dany Oppa yang mengenggam tanganku saat melalui aisle.


Awalnya aku akan berjalan bersama dengan Seo Jin, namun saat aku pergi ke kediaman Dany Oppa, ia meminta ijin padaku untuk bisa mengenggam tanganku saat upacara itu. Tanpa berfikir panjang aku langsung mengiyakan hal itu dengan penuh tangis air mata. Biar bagaimanapun juga aku masih merasa bersalah padanya. Aku masih ingat aku tidak datang dalam pernikahannya. Aku bahkan tidak berani untuk mengatakannya, namun Oppa lebih dahulu memintanya. Aku benar-benar menghargai dan mengormati itu.


Semua keluargaku hadir kecuali ayah yang ada di dalam penjara. Aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk menemuinya, setidaknya untuk saat ini. Aku masih belum bisa memaafkannya.


Aku tahu aku masih belum sempurna untuk membangun keluargaku ini. Tapi aku percaya bahwa Seo Jin yang akan menyempurnakannya.


Aku tahu aku masih seorang gadis kecil saat tanganku berada dalam genggaman tangan Dany Oppa, aku masih menahan tangisku saat berjalan beriringan dengannya. Namun, seseorang yang berdiri untuk menyambut kami di sana bertekad untuk dapat mengantikan genggaman tangan Dany Oppa hingga aku menjadi dewasa. Tidak untuk dirinya sendiri tapi untuk keluarganya. Saat tanganku perpindah dari tangan Dany Oppa ke tangannya, Seo Jin berjanji bahwa ia akan membuat gadis kecil itu bahagia.


Kini aku hanya bisa menatap tangan kami yang bertautan sambil menahan air mata. Aku tidak berani mengangkat kepalaku karena aku tahu buliran air mata itu akan luruh seutuhnya jika aku melakukannya.


“Tidak masalah, karena kini aku akan yang akan membantumu menghapusnya...” bisiknya.


Aku mengangkat kepalaku perlahan dan menatap wajah Seo Jin yang tersenyum lembut.


“Benar seperti itu. Hadapi segalanya dengan penuh percaya diri. Kini ada aku yang akan mengapus air matamu, aku yang akan menutup segala kekuranganmu, aku yang akan menganti luka dengan pelajaran yang berharga, dan aku yang akan membuat kebahagiaan kita menjadi lebih bermakna. Tidak perlu ragu untuk melangkah karena setiap kau kehilangan arah aku selalu di belakangmu untuk menunjukkan jalanmu untuk berpulang. Tidak masalah jika sekeliling kita menutut banyak hal dari kita. Aku akan membuatmu tetap bersinar tanpa takut merasa tertekan....”


Ya Tuhan aku tidak memiliki jawaban lain selain aku bersedia.


Aku bersedia dan dengan penuh rasa hormat dan penghargaan padanya.


Hidupku yang awalnya seperti berada di tengah samudra kini telah menemukan dermaga pertamanya. Kapalku mungkin akan kembali berlayar, namun kini ia telah menemukan tempat berpulang.


Terima kasih kalian telah menemaniku dan mendengarkanku selama ini.


Inilah kehidupanku.


Kehidupan yang sangat diimpikan oleh banyak orang. Kehidupan orang kaya yang membuat orang silau dan berlomba-lomba untuk meraih posisi puncaknya.


Tapi kisahku ini adalah sisi lain yang merupakan konsekuensi berada dalam status sosial yang lebih tinggi. Silaunya status sosial ini menyakitiku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa semua pencitraan sosial itu tidak lantas menjadi jaminan kita untuk selamanya bahagia. Justru penuh tekanan dan kadang kita justru merindukan sebuah kesederhanaan yang harganya lebih mahal dari status sosial itu sendiri.


Berusahalah untuk kaya, namun jangan lupa dari mana asal kita.


Tidak salah untuk menjadi orang yang berkecukupan, tapi jangan lupakan bahwa cinta dan kasih sayang adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan.


Boleh kita pergi sejauh mungkin untuk meraih kejayaan tapi jangan lupa kita harus tetap pulang untuk menikmati semuanya dalam kesederhaanan.


Dan tetaplah ingat, tidak semua yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan. Tidak semua yang kita inginkan dapat kita miliki. Diri kita sendiri bahkan mungkin bukan seutuhnya milik kita.


Semoga kalian semua bahagia di luar sana dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kalian miliki.


Terima kasih.


ZOEY


FIN