
“Bisakah Oppa membantuku untuk memilih artis wanita yang akan menjadi salah satu model untuk brand kami?” aku meletakkan beberapa resume milik kandidat-kandidiat yang telah diberikan padaku sebelumnya.
“Kau tidak akan cemburu kan?” Seo Jin mengambil dokumen itu dari tanganku dengan wajah menggoda. Aku memukul lengannya dengan dokumen itu, “akh, sakit...” ia mengusap lengannya sendiri lalu menarik tanganku sebelum aku menjauh dari jangkauannya.
“Duduk sini...” Seo Jin menarikku duduk dipangkuannya.
“Ya! Ini di kantor!” aku menegurnya dan berusaha untuk bangkit namun Seo Jin mengeratkan pegangannya.
“Gimme little kiss...” bisiknya pelan sambil memberikan wajahnya padaku.
“Apa Oppa sudah gila?” tanyaku sambil menjauhkan wajahnya dariku.
“Ehm, aku sudah gila karena merindukanmu...” aku menatapnya dengan kagum. Sejujurnya pengalaman ini semuanya baru untukku. Sikap yang ditunjukkan Seo Jin padaku selalu di luar bayanganku sebelumnya. Ia kandang bersikap dewasa namun juga tidak lupa untuk menunjukkan sifat kekanakannya.
“Lebih cepat kau melakukannya, lebih cepat pula aku melepaskanmu...” bujuknya lagi. Aku sempat ragu untuk melakukannya namun setelah memastikan tidak ada siapa pun yang melihat kami aku memberinya kecupan ringan di bibir. Tapi begitu aku selesai melakukanya, Seo Jin menarik kepalaku lagi dan menciumku lebih dalam.
“Kau pikir itu cukup? Hehe...” dia tersenyum jahil lalu melepaskanku dan menyuruhku duduk di sampingnya.
“Oppa benar-benar membuatku bersikap di luar kebiasaanku. Ini kantor dan tidak seharusnya aku memanfaatkan posisiku untuk mendapatkan keuntungan pribadi seperti ini...” gerutuku begitu aku berhasil melepaskan diri darinya.
“Ternyata kau diuntungkan...” Seo Jin mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar gerutuanku.
“Bukan begitu...” tanpa aku sadari aku mengerucutkan bibirku.
“Tidak kusangka kau juga bisa bersikap manis...” Seo Jin kembali memberiku kecupan di pipi.
“Oppa, fokuslah...” aku benar-benar gemas dibuatnya. Aku mencubit pinggangnya keras hingga membuat Seo Jin meringis kesakitan.
“Baiklah...baiklah...” Seo Jin lalu mulai membaca resume tiga kandidat tersebut dengan seksama, “aku pernah bekerja dengan Lim, dia profesional dalam perkejaannya, hanya saja sifatnya sedikit sulit diatur karena dia masih muda. Untuk Lee, dia termasuk tenang dalam pembawaannya, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali untuk acara pemotretan bersama dan ia cukup terkenal rendah hati di luar pekerjaannya, sedangkan untuk Kwon, aku kurang tahu bagaimana sifatnya, aku tidak menyangka timmu bisa mengajukannya sebagai salah satu kandidat karena dia idol yang tergolong muda dan tentu saja ia baru terkenal saat ini...”
“Lalu menurut Oppa siapa yang paling bagus?” tanyaku sambil memperhatikan foto ketiga wanita yang sangat cantik-cantik itu.
“Kau...” Seo Jin sekali lagi menggodaku. Aku terkejut saat tiba-tiba dia mengecup pipiku untuk kesekian kalinya, “kau sangat menawan saat bekerja...”
“Ehm, maaf. Bisakah kalian melakukannya di rumah?” suara Hye Sung mengagetkanku. Aku otomatis berdiri sedangkan Seo Jin hanya tersenyum melihatnya.
“Apa itu berarti aku boleh membawanya pulang saat ini?” tanya Seo Jin dengan semangat.
“Oppa!”
“Kalian masih ada di jam kerja!” jawab Hye Sung dingin.
“Ah kalian sama-sama kejam...” Seo Jin tidak melanjutkan kalimatanya karena mengetahui tatapan dingin Hye Sung. Wanita itu seolah memberitahu bahwa ada orang lain yang akan masuk ke ruangan ini dalam waktu dekat.
Aku segera mengambil berkas-berkas dari atas meja dan menghampiri Seo Jin yang berpindah duduk di sofa yang berada di paling ujung. Aku mengusap sudut bibirnya untuk menghapus sisa lipstik yang ada menempel di sana. Walau Seo Jin menggunakan make up layaknya idol pada umumnya, namun warna lipstiku yang lebih merah tertinggal jelas di bibirnya.
“Thanks...”
“Oppa benar-benar gila...” bisikku yang hanya dibalas dengan kedipan matanya. Aku segera keluar dari ruangan dan pergi ke toilet sebelum menemui klienku yang lainnya.
Saat aku hendak masuk ke kamar mandi aku mendengar perdebatan yang terjadi di dalam toilet. Aku sempat ragu namun aku melanjutkan langkahku tapi aku memilih mengabaikannya. Aku melihat artis Lim dan Kwon yang sedang mencuci tangan sambil berbincang dengan nada yang cukup intens.
“Apa menurutmu mereka tidak keterlaluan? Kenapa mereka mengumpulkan kita bertiga jika hanya salah satu dari kita yang akan dikontraknya. Apa mereka tidak tahu bahwa kita juga sibuk?”
“Memang benar kita semua sibuk, mungkin ada alasan lain kenapa mereka menyuruh kita datang bersama...” jawab yang lainnya. Aku tidak tahu mana suara Lim atau Kwon saat berada di dalam toilet.
“Aku merasa kita sedang diaudisi...benar-benar menyebalkan...” wanita lalu itu lalu keluar dengan langkah yang terkesan angkuh. Aku hanya menghela nafas pelan lalu keluar dari dalam toilet.
“Maaf karena kami membuat keributan...” Artis Kwon yang masih ada di dalam toilet meminta maaf padaku.
Aku menggeleng dan ikut mencuci tanganku, “tak masalah, setiap orang memiliki pendapat masing-masing...” aku tersenyum menjawabnya.
“Saya duluan...” ia berpamit padaku dan mendahuluiku keluar dari toilet. Saat aku berjalan kembali ke kantor aku bertemu dengan Artis Lee bersama dengan manajernya. Benar kata Seo Jin, wanita itu terlihat tenang dan menyenangkan auranya. Ia terlihat begitu dewasa dan menawan.
“Jin Oppa!” Artis Lim yang masuk dulu ke ruanganku langsung berlari begitu melihat Seo Jin. Ia dengan tenangnya memeluk Seo Jin seolah ia sudah mengenalnya dengan dekat. Aku mengernyitkan dahiku saat melihat adegan itu dari ujung pintu.
“Ya! Lim Jia. Tidak bisakah kau melepasakan ku?” Seo Jin mendorong tubuh Artis Lim menjauh darinya.
“Jin-ah, haruskah kau mengajak kekasihmu kemari? Aku benar-benar tidak menyangka. Apa lebih baik aku mundur saja?” Artis Lee yang baru saja masuk memberikan komentar yang diam-diam aku benarkan. Kenapa Seo Jin tidak mengatakannya dari awal kalau mereka sedekat itu.
Aku bisa dengan jelas melihat Seo Jin salah tingkah. Ini baru kali pertamanya aku melihat wajahnya yang begitu pucat. Apa ada salah satu dari mereka yang menjadi mantannya? Yang jelas bukan Artis Kwon karena ia memilih diam saja dan memperhatikan kami semua.
“Ada yang bisa menjelaskan padaku apa yang sedang terjadi? Kalian berdua sepasang kekasih?” tanyaku sambil menatap Artis Lim dan Seo Jin bergantian. Wanita itu bahkan tidak melepaskan tangannya dari lengan Seo Jin walau aku sudah masuk ke dalam ruangan.
“Tidak ada hubungannya denganmu...” jawab Artis Lim dingin. Aku memejamkan mataku untuk menenangkan diriku sendiri. Aku merasakan sensasi aneh itu muncul dari dalam dadaku dan membuat kepalaku serasa mendidih. Tenang, kau jauh lebih dewasa di sini. Jangan terpancing emosi.
“Jia!” handrik Seo Jin. Ia lalu melepaskan tangan wanita itu dari lengannya.
“Kenapa sih Oppa?” wanita itu terlihat kesal melihat ke arahku, “Oppa takut wanita itu akan menyebarkan rumor tentang kita? Kalau sampai ada berita tentang kita, kita bisa dengan mudah menuntutnya karena tidak mungkin sesama orang yang berkerja di dunia hiburan akan membocorkannya!”
“Membocorkan apa?” tanyaku dingin.
“Kedekatan kami...” wanita itu kembali meraih lengan Seo Jin. Aku menarik nafasku dalam-dalam, inikah yang dinamakan rasa cemburu? Ingin rasanya aku memanfaatkan semua kewenanganku untuk menghancurkannya.
“Zoey-ya, jangan dengarkan dia...” aku mengabaikan dan memotong ucapan Seo Jin. Aku menatapnya jengkel.
“Baiklah saya tidak akan membocorkannya. Anda boleh percaya kata-kata saya...” aku bertepuk tangan beberapa kali untuk menarik perhatian semua orang yang ada di sana, “perkenalkan saya Zoey, saya adalah Presdir Mirae Grup. Kalian akan menandatangin kontrak dengan kami sebagai model untuk prodak kecantikan yang akan kami release dalam waktu dekat...”
Semua orang begitu terkejut dengan pengumuman yang aku buat. Mereka tidak menyangka bahwa aku adalah presdir Mirae yang baru. Artis Jia juga sempat melotot kaget namun ia kembali memasang wajah angkuhnya. Ia tidak ingin kalah denganku rupanya.
“Mohon maaf sebelumnya karena kami tidak mengenali Anda. Tapi bukankah hanya satu yang akan menjadi model untuk brand tersebut?” tanya Artis Lee.
“Awalnya memang begitu, tapi saya punya pikiran lain. Anda dan Artis Kwon akan menjadi model untuk brand tersebut. Anda berdua memiliki perbedaan usia yang cukup banyak, dengan menjadikan kalian sebagai model, bukankah itu akan lebih baik untuk mencakup pasar di segala usia?” tawarku pada mereka berdua.
“Itu ide yang cerdas. Baiklah saya setuju, bagaimana denganmu?” tanya Artis Lee pada Artis Kwon. Artis Kwon menoleh pada manajernya kemudian mengangguk saat manajernya memberikan persetujuan.
“Kalau begitu saya persilahkan Anda untuk membicarakan pasal dari kontrak kami dengan salah satu sekretaris saya. Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk bertemu dengan saya...” mereka berdua lalu keluar bersama dengan Hye Sung. Hye Sung akan mengurus kontrak mereka berdua.
“Baiklah, karena Nona Jia cukup dekat dengan Seo Jin-ssi. Saya akan memberikan kontrak eksklusif untuk Anda, bagaimana?” tawarku pada wanita yang masih duduk di samping Seo Jin dengan penuh percaya diri itu. Seo Jin terus saja memberikan kode padaku untuk tidak terpancing oleh Lim Jia.
“Apa yang akan Anda tawarkan?”
“Jia-ya, lebih baik kau tidak menerima kontrak Presdir...” ancam Seo Jin.
“Kenapa? Oppa tidak ingin bersamaku?”
“Iya, Anda tidak ingin bersamanya? Bukannya Anda cukup dekat dengannya, Seo Jin-ssi?” aku ikut bertanya tanpa melepaskan tatapanku dari Seo Jin.
“Please...” Seo Jin menatapku putus asa. Ia sudah menyadari bahwa aku sedang marah.
“Saya akan membawakan salinan dari kontrak yang ditandatangani oleh Seo Jin jika Anda setuju...” aku membuka file kontrak dari komputerku dan mengganti nama Seo Jin dengan wanita itu lalu membawanya kepada Lim Jia.
Wanita itu terlihat sangat bahagia membaca kontrak yang aku berikan padanya. Ia lalu meletakkan kontrak itu di atas meja.
“Ada apa? Anda kurang puas dengan nilai kontarknya?” tanyaku bingung.
“Tidak ini sangat luar biasa...” jawabnya dengan penuh semangat. Aku lalu mengulurkan penaku padanya.
“Aku benar-benar tidak sabar melihat kedekatan kalian berdua. Aku ingin tahu sejauh mana Anda...”
“ZOEY!” teriakan Seo Jin membuat Lim Jia menghentikan niatnya untuk tanda tangan di atas kontrak itu.
“Ah hampir saja!” aku memasang wajah kecewa.
“Kenapa Oppa memanggilnya seperti itu?” tanya wanita itu bingung.
“Sudah aku katakan kan untuk tidak menerimanya?” seolah mengerti maksud tatapan dari Seo Jin, kesadaran itu membuat tangan Lim Jia gemetar. Ia menjatuhkan penaku di atas kontrak itu.
“Oppa benar-benar tidak menyenangkan!” gerutuku pada Seo Jin, “Saya benar-benar tulus menawari Anda kontrak itu Nona Lim. Saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri kedekatan Anda dengan laki-laki saya, dengan begitu saya bisa mempertimbangkan apa yang akan saya lakukan pada Anda.”
Lim Jia berdiri dari duduknya kemudian bergegas hendak keluar dari runganku, “Kalau sampai rumor itu beredar di luar sana. Itu adalah ulah Anda dan saya siap mengeluarkan seluruh wewanang saya untuk menghancurkan hidup Anda...” mau tidak mau aku memberikanya ancaman serupa agar ia berhati-hati dengan ucapannya lain kali.
“Zoey...” panggil Soe Jin pelan.
“Oppa juga keluar, sekarang!” aku juga ikut mengusir Seo Jin. Jika ia tetap ada di sini aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan padanya. Saat ini seluruh air di dalam diriku sedang mendidih.
***