
“Kenapa Anda tiba-tiba menyuruh saya untuk mengantarkan Anda ke stasiun TV?” Hye Sung langsung bertanya padaku begitu aku masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa. Aku melirik jam tanganku, sudah pukul tiga sore, aku sudah terlambat untuk datang ke acara itu. Rapat siang hari ini ternyata selesai jauh lebih lama dari yang aku perkirakan.
“Aku harus bertemu dengan Seo Jin Oppa...” aku menjawabnya sambil meraih jaket jeans-ku yang aku letakkan di belakang kursi penumpang. Aku melepaskan atasan *bolero-*ku dan menggantinya dengan jaket jeans yang telihat lebih modis dan santai. Aku tidak ingin terlihat seperti wanita dingin dengan setelan baju kantoran. Hari ini aku sengaja menggunakan rok tulle abu-abu sebetis dan kaos v neck putih polos untuk ke kantor. Tidak ribet dan cukup manis.
“Apa Anda memiliki hubungan pribadi dengan idol itu?”
“Menurutmu?” aku hanya mengedikan bahuku. Mobil yang kami kendarai sudah sampai di stasiun TV. Hye Sung memarkirkan mobilnya kemudian berjalan bersamaku menuju pintu masuk. Ia memastikan keamanan di sekitar studio sebelum meninggalkanku sendiri. Lagi-lagi ia menolak untuk menemaniku ke dalam.
Aku berjalan menelusuri lorong yang ditunjukkan oleh petugas security dan menyuruhku untuk berbelok kanan di ujung lorong. Hanya ada pintu di kanan kirinya, dan di sana terdapat tulisan ruang tunggu artis dan idol-idol yang akan tampil hari ini. Aku sampai di ujung lorong dan melihat pintu yang bertuliskan SG Idol sedikit terbuka. Aku bisa mendengar keramaian di sana, ragu-ragu aku membuka pintu. Kini semua orang yang melihatku berdiri di sana ,terdiam.
“Selamat sore...” sapaku lirih.
“Desainer Park! Apa yang Anda lakukan di sini?” Manajer Jo langsung menghampiriku begitu ia mengenali diriku.
“Annyeonghaseo...” beberapa member SG Idol yang masih mengingatku bergantian menyapaku. Walau sambutan mereka hangat, aku merasa tatapan para staff terasa tidak nyaman dengan keberadaanku. Aku menolak untuk masuk dan begitu mengetahui bahwa Seo Jin sedang ada di toilet, aku memutuskan untuk pergi ke studio saja. Lebih baik aku melihat idol lain tampil daripada menjadi orang asing di ruangan itu.
“Zoey!” ada seseorang yang memanggilku ketika aku hendak membuka pintu studio. Seo Jin mengatur nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Kenapa harus lari-lari sih?” aku melepaskan pengangan tanganku di handle pintu.
“Kau mau ke mana?”
“Aku? Aku akan melihat idol lain tampil. Mumpung aku di sini, pengalaman yang sangat langka kan?” aku menujuk pintu studio.
“Bukankah kau ke sini untuk mendukung kami?”
“Yes, off course. Tapi itu tidak berarti aku tidak boleh melihat idol lain tampil kan?”
“Ya, tapi apa kau tidak ingin memastikan kostum kami sekali lagi?”
“No! You look so fine and handsome, another members too. They look so cool...” pujiku sungguh-sungguh. Tanganku meraih ujung kerah Seo Jin yang terlipat ke dalam dan merapikannya. Kenapa kerah lehernya selalu terlipat sih? Aku menelitinya lagi dan aku tidak bisa untuk tidak tersenyum bangga. Kostum yang butikku buat telihat sangat luar biasa saat dipadukan dengan make up mereka yang keren. Aku hampir tidak mengenali wajah mereka karena hal itu.
“Nice scene, I see...” kalimat seseorang membuatku menaik tanganku dari leher Seo Jin. Aku kemudian memalingkan wajahku agar orang itu tidak bisa melihatnya.
“Eomma!” berbeda dengan diriku, Seo Jin justru berjalan menghampiri orang itu sambil memanggilnya Eomma. Ibunya! Aku sedikit lega saat mengetahuinya. Setidaknya ibunya tidak akan membuat gosip yang merugikan anaknya.
“Ini Desainer Park, Eomma. Dia yang merancang kostum kami kali ini...” Seo Jin sudah menyeret ibunya ke arahku. Mau tidak mau aku harus menyapanya.
“Kau mengenal putraku, Zoey?”
Aku menoleh begitu ibu Seo Jin memanggil namaku. Aku terkejut melihat wajah wanita yang sangat aku kenali ini. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Nyonya Ahn di sini, dan lebih tidak percaya lagi kalau Seo Jin adalah putranya. Otakku masih berusaha mencerna semua detail ini dan mengolahnya menjadi fakta yang mau tidak mau harus aku percayai.
“Eomma kenal dengan Zeoy?” Seo Jin juga sama kagetnya denganku. Tentu saja, ia tidak tahu siapa aku sebenarnya.
“Nyonya Ahn, selamat siang....” aku memberinya salam dengan canggung.
“Aku tahu kalau kau terburu-buru meninggalkan ruang meeting begitu rapat selesai, tapi aku tidak tahu kalau kau akan kemari. Tau gitu tadi kita bisa pergi bersama...” Nyonya Ahn menatap kami bergantian. Ia tersenyum lembut sambil meraih lenganku.
“Kalian belum menjawab pertanyaanku!” Seo Jin terlihat seperti baby boy di hadapan ibunya. Ia mencebikkan bibirnya begitu kami mengabaikannya.
“Kau bilang Zoey desainer? Yang benar saja!” Nyonya Ahn tertawa, ia menganggap anaknya sedang bergurau, “Zoey adalah Direktur Operasional di Mirae Foundation...”
“Kau tidak tahu?” Nyonya Ahn menyadari anak laki-lakinya benar-benar tidak tahu bahwa aku direktur di sana, “lalu bagaimana kalian bisa saling mengenal satu sama lain?”
“Saya desainer untuk kostum SG Idol kali ini, Nyonya Ahn...” karena semua orang masih terlihat belum memahami situasi ini.
“APA?” aku menahan tawaku ketika ekspresi Seo Jin dan ibunya sangat mirip begitu terkejut, “itu bukan gurauan?”
“Tidak Nyonya...”
“Kau, apa lagi yang bisa kau lakukan? Kau...” Nyonya Ahn kemudian memelukku dengan penuh rasa bangga, “kenapa Presdir menyembunyikan putri hebatnya selama ini?”
“Jangan katakan yang dimaksud dengan presdir itu Presdir Park?” Seo Jin meminta penjelasan dengan tatapan matanya. Tak lama setelah itu aku mengangguk dan ia menatapku dengan mata melotot. Tak percaya dengan semua kebetulan ini.
Aku juga tidak menyangka hubunganku dengan Seo Jin akan ditemukan kembali dengan cara seperti ini. Aku kira hubungan kami akan selesai begitu bisnis ini selesai. Tapi rencana Tuhan tidak seperti itu, hubungan kami yang awalnya terasa begitu jauh kini menjadi dekat. Aku tidak tahu kebetulan ini akan berlanjut ke hubungan yang lebih baik atau justru sebaliknya.
***
“Hyung!” Seo Jin memanggil Manajer Jo begitu ia dan timnya keluar dari studio. Seolah paham dengan Seo Jin, laki-laki itu langsung pergi dan kembali membawa tiga album SG Idol yang terbaru,
“Ini untuk Eomma, Zoey, dan ini titipan janjiku untuk asistenmu...” ia menyerahkan album itu padaku. Aku mengamati tiga album itu dan ketiganya memiliki tandatangan yang berbeda. Punya Nyonya Ahn berisi tanda tangan semua member, punya Soo Ah bertanda tangan salah satu member kesukaannya, dan punyaku hanya milik Seo Jin.
“Kenapa hanya tanda tangan Oppa yang ada di sini?” protesku.
“Apa kau membutuhkan yang lain?”
“Aku kan membuatkan mereka semua desain, kenapa hanya Oppa saja yang tanda-tangan?”
“Kau harus puas dengan memilikiku saja, tak perlu yang lain...” aku melongo mendengarnya. Aku tidak salah dengar kan?
“Ehem, mau tukar dengan milik Eomma?” aku melupakan kehadiran beliau di sana.
“Jangan!” Seo Jin buru-buru menghalanginya, “Eomma, please...” Nyonya Ahn terkekeh melihat tingkah anaknya itu. Ia hanya bisa menggeleng menatap kami bedua.
“Apa kalian tidak ingin berfoto bersama?” Manajer Jo memecah kecanggungan kami. Seo Jin buru-buru memberikan ponselnya, kami bertiga berfoto bersama, ada juga fotoku dengan Seo Jin, dan foto Seo Jin bersama ibunya.
Aku kemudian pamit setelah sesi foto itu. Aku masih harus ke studio La Red de Alice setelah ini karena ada rapat lain di sana. Seo Jin menarik lenganku begitu aku hendak berbalik pergi.
“Boleh aku mengubungimu lagi setelah ini?”
“Ah...” aku mengaduk tasku dan memberikan kartu nama, “hubungi aku ke sini, ini nomorku...”
“Hati-hati, maaf aku tidak bisa mengantarmu...” aku bisa melihat rasa sesal di wajah Seo Jin.
“Oppa masih memiliki banyak scedule kan? Aku bersama asistenku kemari...” aku melepaskan tangannya, “gomawo...” kataku sambil menunjukkan album pemberiannya dan pergi meninggalkan Seo Jin.
***
gomawo : terima kasih dalam bahasa nonformal